Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery

Dengan Ka Dyta yang mengiringi piano untuk ujian ABRSM biola Grade 8. Kami hanya berlatih bersama selama sebulan, seminggu 4 jam

Setelah satu tahun yang penuh (well, not literally) dengan latihan, les, diskusi, tes di depan guru di tempat kursusku Swaraharmony, akhirnya pada bulan Maret ini aku ikut ujian ABRSM kelas akhir, yaitu grade 8. ABRSM adalah ujian musik bersertifikat internasional, dan instrumen yang kumainkan untuk ujian ini adalah biola. Aku sendiri sebelumnya tidak menyangka bahwa persiapan ujian ini akan seberat, sepusing, dan secapek ini. Karena, musik, seperti halnya ilmu-ilmu lain, butuh pemahaman dan kemampuan berpikir ‘beyond’ jika sudah menanjak ke kelas profesional.

Satu hal yang disalahpahami olehku sebelumnya (dan orang-orang awam lainnya) adalah bahwa bermain musik hanyalah soal bermain nada dan irama tertentu dengan benar. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, musik itu pada dasarnya media penyampaian cerita dan pesan lewat suara. Sama seperti penyampaian cerita di novel (lewat kata-kata), atau lukisan (lewat garis dan warna-warna).

Sepanjang sejarah, orang-orang menciptakan dan memainkan musik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dulu, para budak di Amerika menyanyikan lagu ketika mereka dipaksa bekerja di perkebunan yang panas. Lagu-lagu tersebut memberikan mereka harapan bahwa suatu hari mereka akan bangkit melawan penindasan.

Di negara tertentu, ketika terjadi krisis, para musisi daerah memainkan lagu untuk mengkritik pemerintah, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan aspirasi mereka yang tak terdengar. Ingat Iwan Fals? Yes, that’s what he did ketika negara kita terkena krisis ekonomi di era Seoharto.

Continue reading “Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery”

Iklan

Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat

Hari Minggu tanggal 10 Desember, aku mengikuti seminar berjudul “Implikasi Filosofis dalam Kultur Digital” yang diselenggarakan UNPAR. Awalnya, tujuanku ikut seminar ini karena salah satu pembicaranya Prof. Bambang Sugiharto, seorang dosen filsafat yang keren banget dan pernah aku review pengajarannya di blog ini.

Peserta seminar ini ternyata ramai. Kursi-kursi yang berjejer dan berbaris panjang penuh oleh orang-orang dengan berbagai latar belakan; laki, perempuan, tua, muda, cewek berjilbab, tidak berjilbab, guru, dan mahasiswa dari berbagai uni di dalam dan luar Bandung. Hal ini membuatku tersadar tentang banyaknya orang yang tertarik dengan ilmu filsafat.

Para pembicara yang mengisi acara ini ada 5 orang: Prof. Bambang, Stephanus Djunatan (dosen filsafat) dan istrinya, Lidya Mutiara Dewi, lalu Herman Y. Sutarto (engineer dari ITB) dan Yasraf A. Piliang (filsuf dan pemikir kebudayaan). Penjelasan mereka tentu tak bisa aku rangkum semuanya di sini, karena terlalu panjang (jadi males), atau kadang terlalu ribet sehingga aku ga mampu menjabarkannya di sini.

Prof. Bambang ternyata jadi pembicara pertama, dan aku sangat bersemangat melihat sosoknya yang hanya berjarak satu baris kursi di depanku (biasanya aku lihat dia di layar komputer). Hal yang dia sampaikan pun sangat menarik untukku.

Jadi seperti yang kita tahu, di zaman modern ini hidup kita begitu dipenuhi dengan teknologi. Apa-apa urusan dan masalah kita, larinya ke teknologi, karena begitu pintar dan hebatnya dia.

Kata Prof. Bambang, manusia menciptakan teknologi pada dasarnya untuk merekayasa mental, kesadaran, dan pikiran manusia sendiri. Di dalam kultur teknologi/digital yang kita alami sekarang, otak manusia dianggap sebagai hardware dari tubuh yang bisa diterjemahkan ke dalam kode/simbol algoritma. Makanya, semua aktivitas kita (yang berasal dari otak) bisa diformalisasi ke dalam hukum matematis yang prediktif. Sama seperti fisika yang mampu merinci hukum eksternal alam semesta, para ilmuwan pun kelak akan mampu merinci hukum internal pikiran manusia dan kemudian merekayasanya dengan cara tertentu.

Continue reading “Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat”

Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri

Oleh: Yasha Levine

Diterjemahkan bebas oleh Kirana Sulaeman

Kata-kata bijak ekonomi kita yang populer menyebutkan, kapitalisme sama dengan kebebasan dan masyarakat bebas, ya kan? Tapi, jika kamu pernah mencurigai bahwa logika itu bohong belaka, maka saya merekomendasikanmu buku berjudul The Invention of Capitalism, yang ditulis oleh sejarawan ekonomi bernama Michael Perelmen. Ia pernah dibuang ke Chico State, sebuah kampus kelas bawah di pinggiran California, karena penolakannya terhadap pasar bebas. Dan Perelman telah menghabiskan waktunya selama pembuangan itu dengan hal-hal yang luar biasa bagus, yaitu menggali lebih dalam hasil karya Adam Smith dan orang sezamannya untuk menulis sejarah pembentukan kapitalisme yang isinya melampaui dongeng buatan di buku The Wealth of Nations  and langsung ke sumbernya. Buku ini membuatmu mengetahui isi kebijakan para kapitalis, ekonom, filsuf, pendeta, dan negarawan yang asli. Dan isinya itu sama sekali tidak bagus.

Satu hal yang jelas menurut catatan sejarah adalah bahwa Adam Smith dan teman-teman “laissez-faire” nya merupakan sekelompok ahli statistik yang membutuhkan kebijakan pemerintah yang brutal untuk memaksa kaum petani Inggris menjadi pekerja kapitalistik yang baik dan mau menerima upah kecil seperti budak.

Continue reading “Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri”

Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

Beberapa minggu yang lalu, pemimpin redaksi KabarKampus.com, Om Furqan, menawarkan agar filmku yang berjudul “Menjadi Pandu Ibuku” tentang petani Kendeng di-screening di Kafe Kaka, Bandung dan didiskusikan dengan pelajar-pelajar SMA yang tergabung dalam Future Club. Aku jadi nervous, karena aku tahu filmku ini kalah lomba tingkat SMA dan rasanya ga layak ditonton orang banyak. Tapi, atas dorongan Mama, aku pun menyiapkan diri.

Hari Jumat lalu (29/9), pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat acara, aku ngebut selesain editing film yang masih banyak kekurangan itu. Tukang bangunan mondar-mandir ngecat rumah, mama-papa bolak-balik belanja keperluan, Reza tidur karena sakit, jadi aku sendirian di ruang tamu ngutak-ngatik laptop di atas karpet, berharap film-nya turn out good dan neat. Fiuh, lumayan bikin stres, padahal jam 1 siang aku harus sudah berangkat.

Aku dan mama berangkat pakai kereta. Sesampainya di Kafe Kaka, ternyata beberapa ortu Homeschooling teman Mama sudah datang, dan beberapa teman-teman HS.

Continue reading “Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’”

Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan

Tanggal 26 Agustus-2 September kemarin, aku dan sekeluarga akhirnya berkesempatan merayakan Idul Adha di rumah nenekku di Padang setelah sekian lama. Karena perayaan Idul Adha hanya sehari saja, maka sisa waktu kami di sana akan dihabiskan dengan menjelajahi tempat yang belum kami kunjungi sebelumnya. Mama pun sejak jauh hari sudah meriset destinasi anti-mainstream yang terlihat menarik di gugel imej. Semua rencana perjalanan aku serahkan saja ke Mama, ‘cause she’s the captain.

Keberangkatan kami dari Bandung ke Padang dipenuhi drama; ketinggalan barang penting di rumah, lalu kena marah Mama, lalu kena delay pesawat. Di bandara Seokarno-Hatta yang menyebalkan itu (karena AC-nya sejak jaman dahulu kala ga pernah ada/kerasa), kami terpaksa menunggu sejam dari jadwal semula setelah mbak-mbak informasinya dengan tenang mengumumkan keterlambatan pesawat. Semua penumpang di ruang tunggu serentak ber-huuuu seperti paduan suara. Lalu petugas bandara di sana langsung dikerubungi, diomeli, ditunjuk-tunjuk. Bule-bule mulai kelihatan resah, sampe ada yang duduk di lantai dan bengong.

Continue reading “Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan”

A Little Note from TOSS Idea

 I was actually not really interested in attending motivational events, unlike my mom. It is inspiring, of course, but somehow I thought such event was not really helpful and effective in improving my life in the long term. But then I thought maybe it was because I hadn’t found the appropriate one yet, until someday I joined a public speaking class (which is also a motivational event) that coached by Om Prasetya M. Brata and Pakde Prie GS. That was like a turning point in my life in general, eventhough the topic was simply about how to speak well in front of people and to elevate writing skill to a whole new level (and I forgot to post anything about this cuz I’m a horrible procrastinator yuhu! *high-fiving my fellow procs).

And just two days ago, I attended an event called TOSS Idea. Basically, there were 21 speakers with variety of expertises sharing ideas dan knowledges (all in english), each for 10 minutes. I wasn’t afraid that I might not understand their speaking, because as long as it’s not in british and indian accent, it’s all right (you know, I don’t understand a word in Harry Potter films without reading the sub).

The event was held in Intitut Francais Indonesia that located inside the Embassy of France. The auditorium of the event was relatively small but really nice and comfy. The audio and stage lighting system was also seem professional and fancy.

By the way, I’m not gonna review all the speeches (there were 21 of them duh). I’m just gonna write some of the ideas that I personally relate to and inspire me the most.

Continue reading “A Little Note from TOSS Idea”

Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan

Awal pekan lalu, aku diundang oleh Tante Sundari Mardjuki (penulis novel Genduk, keren lho!) untuk menghadiri media gathering dalam acara promosi lagu kolaborasi Raisa dan Isyana. Saat aku dapat kabar itu dari Mama, tentu saja, seperti sewajarnya, aku melontarkan ungkapan kebahagiaan; Alhamdulillah! Selama ini kedua penyanyi ini hanya bisa kulihat lewat layar hape, komputer, dan spanduk-spanduk yang berkibaran di pinggir jalan raya Bandung. Suara mereka pun hanya bisa kudengar lewat speaker hape, komputer, dan cafe-cafe. Aku sendiri tidak pernah mendambakan untuk dapat bertemu langsung dengan mereka, tapi ketika datang kesempatan seperti ini, kenapa tidak?

Maka pada siang hari aku dan Mama berangkat ke hotel Crowne Plaza di Jalan Lembong, karena sesuai yang tertera di poster undangan, acara dimulai jam tiga di hotel tersebut. Setibanya di sana, ternyata para tamu media belum datang. Baru sekitar jam 4, orang-orang berkumpul di ruang hotel yang setengah terbuka. Aku cepat-cepat duduk di kursi paling depan. Di sana aku berkenalan dengan salah satu wartawan dari Kompas. Dia bertanya padaku dari media apa, dan kujawab saja blogger. Selain itu, ada juga wartawan Sindo, Republika, majalah Glam, dan lain sebagainya.

Continue reading “Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan”