What happens when we don’t care about having a career

As I finished my high school diploma and getting ready to pursue a bachelor’s degree in political science, I encounter quite a large number of people in my age being abudantly worried and confused of which college major is worth to choose and eventually choose certain major based on job prospects. While I understand where this consternation comes from, given the fact that we need to earn a decent income to live comfortably and to survive in this crazy world, I’d argue that this mindset is not best one to embrace, at least for me.

For one thing, choosing a college major based on future job outlook tends to be quite stressful. Pursuing fancy majors and therefore having ‘respected’ jobs and good money, the idea that the society dictated us to have, is what I think as one of the reason to why depression has surged to epidemic levels in recent decades as it has impacted millions of people. In the midst of complexities of modern life, with all its pressure, many people see life as a showroom, where your job and status define your worth as human being. I see this as a societal/psychological challenge we have to tackle for the better future.

Lanjutkan membaca “What happens when we don’t care about having a career”

Iklan

Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?

Aku menulis ini ketika sedang menunggu hasil SBMPTN. Ada suatu perasaan yang tipikal dalam momen-momen seperti ini: ketika kita merasa masa depan begitu redup dan kita mencoba meraba-raba apa yang terjadi kalau keinginan tidak tercapai. Apa yang terjadi jika aku tidak masuk jurusan impian padahal aku sudah kerja keras belajar? Akankah aku dianggap gagal dalam hidup, pecundang, bodoh, not good enough, ga beruntung? Perasaan seperti ini sudah sering banget kualami, terutama karena aku sering ikut lomba (dan… ga menang hehe) dan berbagai macam tes akademis, di mana aku selalu stres memikirkan hasilnya. Akankah aku menang? Akankah aku lulus? Akankah nilaiku bagus? Kalau engga gimana? Mampus gue kalau gagal! Aku yakin perasaan ini universal—semua orang hampir pasti pernah mengalaminya. Ini adalah perasaan yang berbahaya karena bisa berujung ke depresi.

Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah ide yang muncul di kepalaku yang aku kira bisa menjawab persoalan ini, yaitu tentang pentingnya membedakan mimpi dan ekspektasi. (Peringatan: definisi-definisi atas kedua kata ini adalah hasil interpretasiku; bukan definisi KBBI).

Aku menyadari bahwa sejak aku bisa membedakan keduanya dan memilih salah satu yang lebih baik, aku menjadi lebih santai dalam memikirkan masa depan, tantangan-tantangan, dan cita-citaku. Selain itu, aku bisa menghindari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. And I encourage you to give this some thought.

Lanjutkan membaca “Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?”

An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime”

There was this ineffable, weird, ambiguous, and hazy sensation that I’ve been experiencing for the past 5 years, probably it was after puberty hit me, and I definitely thought myself insane as I was quite sure that nobody would feel this particular sensation like I was. This strange temporary sensation enters my mind whenever I went traveling and having to see a row of great mountains of Alborz, the tropical landscape in Lombok, watching the vast night sky from my house’s attic window and million of stars that are moving at a million miles a day, huge skyscrapers in a city or whenever I’m watching some cinematic nature videos that’s showing the splendid and grandeur of god’s creations that beyond all the possibility of calculation or imitation. I get this feeling even more tensely when I think of the galaxies in our universe, how it can be so huge to the point where humans didn’t discover all of it yet.

It made me feel that my existence, human activities and interaction, are so insignificant as all of this big things around us would keep turning, moving, and existing even without us here.

Lanjutkan membaca “An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime””

Kirana On ‘Perempuan dan Kebebasan Berpakaian’

Belum lama ini, di medsos lagi  heboh banget tentang petisi pemboikotan iklan girlgroup Blackpink karena berpakaian seksi. Di feed Twitter-ku, ada lebih banyak orang yang mengecam petisi ini daripada yang mendukung (karena aku lebih banyak mem-follow akun-akun orang liberal haha). Aku jadi tertarik mengikuti perdebatan tentang petisi ini karena mengangkat isu lama tentang perempuan dan kebebasan berpakaian. Isu seperti ini tuh udah lama banget muncul dan selalu bikin orang-orang berantem haha. Mungkin karena isu ini mengandung pembahasan filsafat yang lumayan ribet tapi seru.

Kali ini, untuk pertama kalinya di blogku, aku ingin membahas tentang perempuan dan kebebasan berpakaian dari beberapa argumen yang sering banget muncul tentang petisi ini. Tapi, sebelumnya, aku mohon agar pembaca sekalian membaca tulisanku ini dengan pikiran yang terbuka dan bebas prasangka.

Lanjutkan membaca “Kirana On ‘Perempuan dan Kebebasan Berpakaian’”

Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?

Banyak dari kita (bahkan orang yang sudah dewasa) kebingungan tentang tujuan hidup di dunia. Buatku, tujuan hidup itu beda sama cita-cita. Cita-cita itu lebih ke profesi, sedangkan tujuan hidup adalah esensi dan motivasi dalam hidup—sesuatu yang membuat hidup kita lebih bermakna. Kadang ada orang yang sudah sukses, mapan, punya duit banyak, tapi kebingungan apa esensi dari hidupnya, dan dia pun hidup dalam kegundahan. Jadi, buat apa sih kita hidup?

Untuk memahaminya, kita harus tahu apa sifat istimewa kita sebagai manusia, seperti yang dijelaskan oleh Neuro-Semantics. Apa sih, yang membedakan kita dari binatang?

Lanjutkan membaca “Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?”

Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

Aku punya seorang teman yang memelihara kucing. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa temanku ini mengurusi kucingnya dengan dedikasi sebegitu rupa. Tiga kali sehari harus diberi makan, dibuang kotorannya, dimandikan, harus membersihkan sofa-sofa dari bulu-bulunya, dan menghabiskan uang banyak untuk perawatan. Kok dia bisa tahan dengan segala keribetan itu hanya untuk seekor kucing?

Ternyata jawabannya adalah, temanku ini sayang sama kucingnya dan memahaminya secara seutuhnya. Mereka tahu bahwa agar si kucing nyaman, harus diberi makan setiap jam sekian. Agar di kucing sehat, harus dimandikan setiap sekian hari. Agar si kucing tidak poop sembarangan, harus dilatih dengan benar sejak kecil, dan sebagainya.

Dulu, saat temanku ini memutuskan untuk memelihara kucing, di saat itu dia sudah mengizinkan dirinya untuk menghadapi konsekuensi apapun dalam pemeliharaan si kucing.

Jadi, aku pun berkaca ke diri sendiri. Aku sering sekali memutuskan untuk mencapai sesuatu, tapi aku tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memahami dan menerima konsekuensi untuk mencapai hal itu.

Semua cita-cita kita, tujuan-tujuan, target, keinginan, memiliki konsekuensinya sendiri. Mau jadi dokter? Konsekuensinya harus masuk kuliah kedokteran, belajar 4-6 tahun di sana, harus mengikuti pendidikan profesi, dapat tugas jaga malam, awalnya dapat pemasukan di bawah gaji buruh, lalu mungkin ada pengabdian masyarakat, dll.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami”