i knew all along
this is where my heart lies
and so whatever i do
this is where i run to

and go back to

(honoring my innerchild)

ps: it’s good to be home

Iklan

An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime”

There was this ineffable, weird, ambiguous, and hazy sensation that I’ve been experiencing for the past 5 years, probably it was after puberty hit me, and I definitely thought myself insane as I was quite sure that nobody would feel this particular sensation like I was. This strange temporary sensation enters my mind whenever I went traveling and having to see a row of great mountains of Alborz, the tropical landscape in Lombok, watching the vast night sky from my house’s attic window and million of stars that are moving at a million miles a day, huge skyscrapers in a city or whenever I’m watching some cinematic nature videos that’s showing the splendid and grandeur of god’s creations that beyond all the possibility of calculation or imitation. I get this feeling even more tensely when I think of the galaxies in our universe, how it can be so huge to the point where humans didn’t discover all of it yet.

It made me feel that my existence, human activities and interaction, are so insignificant as all of this big things around us would keep turning, moving, and existing even without us here.

Continue reading “An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime””

Kirana On ‘Perempuan dan Kebebasan Berpakaian’

Belum lama ini, di medsos lagi  heboh banget tentang petisi pemboikotan iklan girlgroup Blackpink karena berpakaian seksi. Di feed Twitter-ku, ada lebih banyak orang yang mengecam petisi ini daripada yang mendukung (karena aku lebih banyak mem-follow akun-akun orang liberal haha). Aku jadi tertarik mengikuti perdebatan tentang petisi ini karena mengangkat isu lama tentang perempuan dan kebebasan berpakaian. Isu seperti ini tuh udah lama banget muncul dan selalu bikin orang-orang berantem haha. Mungkin karena isu ini mengandung pembahasan filsafat yang lumayan ribet tapi seru.

Kali ini, untuk pertama kalinya di blogku, aku ingin membahas tentang perempuan dan kebebasan berpakaian dari beberapa argumen yang sering banget muncul tentang petisi ini. Tapi, sebelumnya, aku mohon agar pembaca sekalian membaca tulisanku ini dengan pikiran yang terbuka dan bebas prasangka.

Continue reading “Kirana On ‘Perempuan dan Kebebasan Berpakaian’”

Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?

Banyak dari kita (bahkan orang yang sudah dewasa) kebingungan tentang tujuan hidup di dunia. Buatku, tujuan hidup itu beda sama cita-cita. Cita-cita itu lebih ke profesi, sedangkan tujuan hidup adalah esensi dan motivasi dalam hidup—sesuatu yang membuat hidup kita lebih bermakna. Kadang ada orang yang sudah sukses, mapan, punya duit banyak, tapi kebingungan apa esensi dari hidupnya, dan dia pun hidup dalam kegundahan. Jadi, buat apa sih kita hidup?

Untuk memahaminya, kita harus tahu apa sifat istimewa kita sebagai manusia, seperti yang dijelaskan oleh Neuro-Semantics. Apa sih, yang membedakan kita dari binatang?

Continue reading “Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?”

Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

Aku punya seorang teman yang memelihara kucing. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa temanku ini mengurusi kucingnya dengan dedikasi sebegitu rupa. Tiga kali sehari harus diberi makan, dibuang kotorannya, dimandikan, harus membersihkan sofa-sofa dari bulu-bulunya, dan menghabiskan uang banyak untuk perawatan. Kok dia bisa tahan dengan segala keribetan itu hanya untuk seekor kucing?

Ternyata jawabannya adalah, temanku ini sayang sama kucingnya dan memahaminya secara seutuhnya. Mereka tahu bahwa agar si kucing nyaman, harus diberi makan setiap jam sekian. Agar di kucing sehat, harus dimandikan setiap sekian hari. Agar si kucing tidak poop sembarangan, harus dilatih dengan benar sejak kecil, dan sebagainya.

Dulu, saat temanku ini memutuskan untuk memelihara kucing, di saat itu dia sudah mengizinkan dirinya untuk menghadapi konsekuensi apapun dalam pemeliharaan si kucing.

Jadi, aku pun berkaca ke diri sendiri. Aku sering sekali memutuskan untuk mencapai sesuatu, tapi aku tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memahami dan menerima konsekuensi untuk mencapai hal itu.

Semua cita-cita kita, tujuan-tujuan, target, keinginan, memiliki konsekuensinya sendiri. Mau jadi dokter? Konsekuensinya harus masuk kuliah kedokteran, belajar 4-6 tahun di sana, harus mengikuti pendidikan profesi, dapat tugas jaga malam, awalnya dapat pemasukan di bawah gaji buruh, lalu mungkin ada pengabdian masyarakat, dll.

Continue reading “Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami”

Food For Thought #5: Apa Nilai Eksistensi Kita?

Dalam tulisan sebelumnya, aku sudah membicarakan tentang mengubah persepsi tentang diri sendiri, yaitu melalui pertanyaan “Apakah aku orang sukses?” Nah, sekarang ada satu lagi pertanyaan menarik, “Apa nilai eksistensi kita di dunia?”

Kita mungkin pernah dengar sebuah perkataan klasik; “Saya berpikir maka saya ada”. Artinya, nilai kita di dunia/ nilai eksistensi kita bergantung dengan pikiran kita, atau sebutan lainnya; “You are what you think you are”

Jadi, kalau aku berpikir bahwa aku hanya bisa menjadi penulis dengan penjualan buku pas-pasan, ya aku akan menjadi seperti itu. Kalau aku berpikir aku orang yang biasa-biasa saja, tidak berharga di depan orang lain, ya itulah aku. Kalau aku berpikir aku hanya bisa dapat IPK 3,00 karena otakku nggak encer, ya itulah jadinya aku. Kalau aku berpikir aku tidak bisa menurunkan berat badan sampai kapanpun, ya itulah aku.

Continue reading “Food For Thought #5: Apa Nilai Eksistensi Kita?”

Food For Thought #4: Apakah Aku Orang Sukses?

Ilmu Neuro-Semantics itu selalu berputar di masalah persepsi. Dalam tulisanku sebelumnya, aku baru menjelaskan persepsi kita tentang orang lain atau dunia luar. Nah, tapi persepsi tentang dunia luar saja tidak cukup, kita juga harus memahami persepsi terhadap diri sendiri. Salah satu pertanyaan penting yang bisa memperlihatkan persepsi kita kepada diri sendiri adalah: apakah aku merasa sebagai orang sukses?

Pertanyaan tersebut aku dapatkan ketika mengikuti pelatihan Neuro-Semantics. Dengan yakin kujawab: tidak. Jelaslah, masih banyak hal yang belum kucapai dalam hidup ini dan aku belum puas.

Tapi, pertanyaan besarnya: kapan aku bisa puas? Apakah setelah tujuan-tujuanku di masa kini tercapai di masa depan, maka saat itu aku bisa puas dan mau menyatakan diri sebagai orang sukses? Engga dong. Setelah tujuan itu tercapai, akan ada tujuan baru yang lebih tinggi. Ketika yang lebih tinggi itu sudah tercapai, lagi-lagi aku tidak akan puas dan ingin mengejar tujuan yang lebih tinggi lagi. Terus saja seperti itu sampai akhir hayat.

Continue reading “Food For Thought #4: Apakah Aku Orang Sukses?”