Ironi Pendidikan Indonesia

Rumahku terletak dekat sebuah SMP negeri. Karena aku ber-homeschooling, setiap pagi, dari hari Senin sampai Sabtu, aku selalu melihat puluhan siswa-siswi berseragam putih-biru dan bersepatu kets hitam yang sama, melewati rumahku. Beberapa di antara mereka ada yang tertawa sambil berjalan, mendengar gurauan konyol teman mereka. Tapi aku tahu, di balik wajah ceria mereka, ada banyak tekanan di sekolah yang menghantui.

Pikiranku sering melayang ke masa lalu, ketika aku masih terdaftar menjadi siswi sekolah dasar formal. Aku telah menjadi saksi betapa banyaknya kejanggalan dalam sistem pendidikan Indonesia. Kejanggalan yang kadang membuat sakit hati dan gemas. Puncaknya adalah saat pengumuman nilai Ujian Nasional, dan kudapati teman-teman sekelasku tengah membicarakan SD sebelah yang sekelas mendapat NEM (Nilai Ebtanas Murni) 28 sampai 29 (nilai maksimum untuk tingkatan SD adalah 30). Sedangkan sekolahku yang alhamdulillah menjunjung tinggi kejujuran, ada yang dapat NEM 18. Padahal aku sendiri merasakan betapa kami, anak-anak kelas 6 saat itu, bekerja keras dan di drill habis-bahisan oleh guru demi mendapat nilai tinggi. Aku dan teman-teman melakukan pemantapan beberapa bulan sebelum UN yang dijadwal jam setengah tujuh pagi. Sudah tak terhitung berapa kertas latihan soal yang sudah dikerjakan. Tapi akhirnya hanya bisa terdiam melihat anak-anak dari SD lain yang bebas melangkahkan kaki ke SMP-SMP favorit.

un

Kalau aku pikir-pikir,  nilai UN (dan ujian-ujian lain) tidak menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Aku sudah menerbitkan beberapa buku, tapi nilai bahasa Indonesia di UN cuma dapat 8,20. Kalau dibandingkan dengan nilai di mata pelajaran lain yang dapat 10, angka itu tidak cukup bagus. Kusimpulkan bahawa nilai-nilai yang kudapatkan hanyalah hasil dari kerja kerasku dalam ‘menghafal’ pelajaran.

Keburukan UN memang sudah banyak dikoarkan di berbagai media sosial. Jadi aku tak akan membahas terlalu dalam tentang itu.

test

Dari sejak kelas 1 SD, aku bukan anak yang selalu dianggap paling pintar di kelas. Kadang dapat ranking satu, kadang ranking dua. Padahal nilai ujian harian baik-baik saja. Wali kelasku saat itu pernah membicarakan masalah ranking ini dengan orangtuaku. Mereka bilang, aku siswa yang paling sering bolos sehingga ada banyak tugas yang tidak diselesaikan. Padahal guru-guruku tahu alasanku bolos karena sering diundang bedah buku di berbagai sekolah. Hal ini membuatku jengkel. Mengisi bedah buku itu kegiatan yang semestinya dihargai dan mengisi nilai tugas-tugas yang kulewati. Ini bukti bahwa banyak sekolah tak terlalu mementingkan kemampuan non-akademis. Yang pintar matematika dianggap jenius, yang pintar olahraga tidak dipedulikan.

Tujuan adanya pendidikan adalah agar bisa digunakan di masyarakat. Kita belajar matematika agar berhitung dengan benar saat berbelanja. Belajar PKN agar menghargai kekayaan Indonesia dan tak mudah membiarkan negara asing menjarah. Tapi aku bingung kenapa papaku yang lancar berbahasa Sunda, tidak mengerti PR bahasa Sunda yang kukerjakan? Materi-materi pelajaran di sekolah seringkali terlalu abstrak dan tak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Aku hanya bisa prihatin melihat adik sepupuku yang baru kelas 4 SD datang ke rumahku sepulang sekolah dengan tas yang beratnya gak main-main. Atau sahabatku di SD yang pintar, tapi berakhir masuk di SMP non-favorit gara-gara NEMnya terlalu kecil (dan dia frustrasi berat).

Aku hanya bisa berharap pendidikan di Indonesia semakin baik kedepannya. Untuk menteri pendidikan, aku ingin hak kami untuk tumbuh ceria sebagai anak-anak dikembalikan, bukannya dipenuhi tekanan dengan kewajiban menguasai semua mata pelajaran. Aku ingin jumlah mata pelajaran diwajarkan. Karena bagaimanapun, jika sistem pendidikan terasa berat dan menakutkan, itu adalah cermin dari pemerintahan kita yang gagal mencerdaskan bangsa.

6 respons untuk ‘Ironi Pendidikan Indonesia

  1. Luar biasa kak, atas analisis pendidikan di Indonesia. Memang benar sedikit sekali harga yang diberikan terhadap kita jika memiliki keahlian di luar bidang akademis.

    Untuk ujian nasional memang tidak dapat merepresentasikan dari kecerdasan seseorang. Untuk hal masuk ke sekolah lanjutan memang lebih baik di serahkan kepada sekolah masing – masing, dan tidak memberikan suatu hal khusus ke sekolahan favorit. Seharusnya pendidikan dimanapun sama rata. Semoga pendidikan Indonesia menjadi lebih baik di kemudian hari. Amin.

    Suka

  2. Luar biasa kak, atas analisis pendidikan di Indonesia. Memang benar sedikit sekali harga yang diberikan terhadap kita jika memiliki keahlian di luar bidang akademis.

    Untuk ujian nasional memang tidak dapat merepresentasikan dari kecerdasan seseorang. Untuk hal masuk ke sekolah lanjutan memang lebih baik di serahkan kepada sekolah masing – masing, dan tidak memberikan suatu hal khusus ke sekolahan favorit. Seharusnya pendidikan dimanapun sama rata. Semoga pendidikan Indonesia menjadi lebih baik di kemudian hari. Amin.

    Suka

  3. Sistem pendidikan yang menakutkan adalah representasi kegagalan pemerintahan untuk mencerdaskan bangsa.

    like it. // membaca tulisan ini serasa membuka luka lama. // btw. andai tanpa foto, mungkin orang2 mengira Kirana sudah dewasa (20++). lah wong sudah dipasang (foto) saja masih salah tebak. apalagi topiknya ‘berat’, bukan topik bahasan lazimnya remaja jaman sekarang.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Salut dengan pemikirannya dan di usia yg masih sangat muda sudah bisa menghasilkan buku. Memang ironis sekali pendidikan di tanah air kita ini, pendidikan tujuannya untk membentuk karakter, tp yg terjadi justru anak2 SD “dipaksa” untuk berpikir abstrak, padahal menurut Piaget, tahap perkembangan kognitif anak pada usia 7-11 tahun, anak masih membutuhkan objek yg konkret agar bisa berpikir secara logis. Contoh, anak SD kelas 1 ditanya, mana yg lebih berat bola golf atau bola pingpong? Anak2 bahkan belum tahu bentuk bola golf dan pingpong seperti apa, dan masih banyak lagi soal2 lainnya yg sejenis. Sekarang banyak orang pintar tapi etikanya rendah, bahkan tdk beretika…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s