Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau

Sudah tiga bulan yang lalu Mamaku membooking tiket untuk berwisata di Bosscha, tempat peneropongan bintang yang terletak di Lembang. Kami membeli sembilan tiket. Empat untuk keluargaku, satu untuk Enin (yang aku ajak jalan-jalan juga ke Floating Market), dua untuk sepupuku, dan dua lagi buat teman-temannya. Tak lupa kami membawa makan malam sendiri-sendiri, mengingat wisata bintangnya baru berakhir sekitar jam 8 malam.

Jam dua siang, kami sudah bersiap-siap dan berangkat. Kami memang harus berada di disana jam 5 sore. Siang itu di dalam mobil cerah sekali. Tapi pas keluar dari tol, tiba-tiba hujan rontok dari langit. Kami semua sempat cemas. Kalau mendung berarti bintang-bintangnya tidak bisa kelihatan, dong? Enin-ku yang sholehah banget langsung menyuruh kami untuk membaca surat Al-Fatihah 21 kali supaya hujannya berhenti.

Sampai di tempat tujuan, langit masih mendung dan sedikit gerimis. Angin Lembang berlayar ke sekelilingku, merantai tulang-tulangku dalam kecamuk beku. Ah, kenapa aku lupa bawa jaket? Aku meringis kedinginan.

Jpeg

Di wilayah Bosscha ini, aku melihat banyak mahasiswa yang menjadi petugas yang menyiapkan teropong kecil dan yang besar. Mereka juga dengan murah hati memberitahu tempat-tempat teleskop yang ada, serta memberi penjelasan-penjelasan tentang asal-usul teleskop itu.

Teleskop pertama yang kami kunjungi adalah teleskop Bamberg untuk meneropong bulan. Kata kakak mahasiswa berjilbab, teleskop itu dipesan dari Jerman lalu dirakit di Indonesia. Sayang saat itu kami tidak bisa mengintip ke teleskop, karena awan gendut yang dengan tenangnya menghalangi bulan.

Jpeg

Teleskop kedua adalah teleskop surya. Nah, karena hari itu sudah sore dan matahari sudah tidak ada lagi, kami hanya diajak jalan-jalan melihat-lihat foto penjelasan tentang matahari di dalam ruangan teleskop itu.

Jpeg

Akhirnya waktu menunjuk angka 6. Kami langsung pergi ke teleskop ke tiga (di gedung Kupel) dan yang terbesar yaitu teleskop Zeiss. Teleskop itu berada di dalam kubah yang besar, yang terasa familiar karena sering kulihat di foto-foto. Masuk ke sana, aku bisa melihat teleskop raksasa yang menggantung di langit-langit kubah. Ada seorang bapak-bapak yang berdiri di samping teleksop itu dan berdiri di atas panggung besi berbentuk bulat yang dipagari. Para pengunjung disuruh berdiri di sisi-sisi panggung itu. Lalu bapak itu mulai menjelaskan tentang astronomi dan cara kerja teropong Zeiss secara umum.

Jpeg

So, katanya, teleskop Zeiss ini tidak membuat bintang di langit terlihat lebih besar layaknya matahari, namun labih terang sehingga lebih jelas dilihat. Dan teleskop ini tidak untuk umum, karena cara melihatnya harus dengan kamera, tidak langsung dengan mata. Di sesi tanya jawab, Mamaku bertanya apa kegunaan astronomi untuk umat manusia. Bapak itu menjawab, kegunaannya kadang-kadang tidak terduga. Misal, para ahli astronomi sekarang ini sedang penasaran dengan alien, sehingga mereka membuat radar untuk mendeteksi keberadaan alien. Nah, alat radar itu malah berguna untuk mendeteksi korban gempa di Nepal. Saking kuatnya radar itu sehingga orang yang terkubur 9 meter pun bisa dilacak.

Jpeg

Selesai di teleskop bintang, kami pergi ke ruang audio-visual. Kami duduk di barisan kursi dan ada layar di depan kami. Salah seorang kakak-kakak muda mulai menjelaskan tentang benda luar angkasa. Ada video tentang ukuran bumi dengan matahari dan bintang-bintang lainnya yang membuat kami seruangan terkekeh geli. Ternyata bumi yang menjadi tempat tinggal manusia bermilyar-milyar hanya berukuran setitik dibanding Canis Majoris, bintang terbesar yang pernah ditemukan di jagat raya.

One of the best part di sesi ini adalah, ketika tanya-jawab, ada seorang anak kecil mengacungkan tangan. Kakaknya antusias berkata, “Mau tanya apa, dik?”

Anak itu bertanya, “Kenapa bulan itu bisa masuk ke tanah?”

Kami semua tergelak. Aku juga tertawa sambil menggumam, cute bangeeet…!

Setelah itu kami keluar dan mendapati langit malam terlihat sangat jernih tanpa awan sedikit pun. Aku juga terkejut. Bintang-bintang di sini terlihat sangat terang dan jelas. Hmm… doa Al-Fatihah itu akhirnya berhasil. Hehe… Alhamdulillah.

Kami semua langsung menyerbu teleskop-teleskop yang terpasang di beberapa titik. Pertama aku melihat bulan dulu. Subhanallah, indah sekalibak kristal bercahaya yang merekat di malam gulita.

Selanjutnya aku mengantre untuk melihat planet Saturnus. Di teleskop ini, planet itu tak sejelas bulan. Mungkin karena letaknya yang lebih jauh dan ukuran teleskopnya yang kecil. Tapi aku takjub sekali bisa melihat langsung planet itu, lengkap dengan cincin yang mengelilinginya.

Aku mengantre lagi untuk melihat Jupiter. Planet itu juga terlihat kecil dan agak blur, namun aku bisa melihat garis-garis coklat mungilnya yang manis, seperti batu akik yang sedang marak saat ini. Keren banget!

Malam mulai larut. Perut kami juga sudah keroncongan. Kami makan malam bersama di dalam mobil yang meluncur meninggalkan Bosscha yang indah ini.

Iklan

2 respons untuk ‘Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s