Review Buku “Bumi Manusia”

Pertama kali tahu buku ini setelah blog zenius.net memasukkannya dalam daftar buku rekomendasi. Buku berat, begitu kesanku saat membaca sinopsisnya, tapi justru membuatku makin penasaran. Buku ini ternyata susah didapat, dan akhirnya Mamaku mendapat yang bekas. Aku pun membacanya. Ternyata bahasanya susah sekali! Kata-kata yang dipilih—mungkin karena sastra jaman dulu begitu—sangat tidak biasa dan membuat dahi merengut berkali-kali. Bab pertama ceritanya membuat ngantuk, tapi semakin lama terasa semakin seru. Dan, setelah buku ini habis kubaca, kupastikan buku ini masuk salah satu buku favorit di rakku.
bumi-manusia
“Memang begitu kehidupan kolonial di mana saja; Asia, Afrika, Amerika, Australia. Semua yang tidak Eropa, lebih-lebih tidak kolonial, diinjak, ditertawakan, dihina, hanya untuk berpamer tentang keunggulan Eropa dan keperkasaan kolonial, dalam segala hal—juga kejahilannya. Kau sendiri juga jangan lupa Minke, mereka yang merintis ke Hindia ini—mereka hanya petualang dan orang tidak laku di Eropa sana. Di sini mereka berlagak seperti Eropa. Sampah itu.

Mengapa aku suka buku ini? Karena semua yang diceritakan didalamnya membuat gemas. Tentang bagaimana di jaman kolonial itu kehormatan pribumi Hindia dijatuhkan. Hukum sewenang-wenang. Mengambil gadis pribumi seenaknya untuk dinikahi, atau sekedar pemuas birahi. Semuanya membuatku gerah, seriously.

Tokoh utama dalam buku ini secara umum ada dua; Minke–anak seorang bupati pribumi yang bersekolah di sekolah Belanda, dan Nyai Ontosoroh–seorang istri totok Belanda dan pengusaha pribumi yang berkeperibadian kuat. Anak Nyai, Annelies Mellema namanya, dikisahkan jatuh cinta dan menikah dengan Minke. Namun karena suatu masalah, Annelies dipaksa pergi ke Belanda—meninggalkan ibu dan suaminya.

Bagian paling seru di buku ini adalah bagian akhir-akhir—kisah bagaimana Minke dan Nyai Ontosoroh berjuang di pengadilan untuk mencegah Annelies dibawa ke Belanda. Minke yang walaupun pribumi namun pintar, berjuang dengan menulis artikel di koran untuk melawan pengadilan Belanda. Namun apa yang dikehendaki penjajah untuk menjatuhkan pribumi tetap terjadi. Semua tuduhan kejahatan yang dilemparkan ke Minke dan Nyai dipertahankan, seberapa kali pun keduanya menyangkal dan memberikan bukti.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

(kata-kata penutup yang hangat, menurutku)

Pram dengan serunya memaparkan bagaimana sebenarnya Eropa itu sama seperti ras-ras lain; tak lebih tinggi, tak lebih rendah. Orang Eropa yang merasa totok 100 % tidak pernah tahu berapa banyak darah Asia yang mengalir dalam tubuhnya. Banyak ilmu dari Eropa yang berasal dari Asia juga. Angka-angka yang digunakan mereka berasal dari Arab. Begitu juga dengan nol, yang berasal dari filsafat India.

Bagian yang paling aku suka dari kalimat-kalimat ‘nyikut’ Pram adalah tentang pemakaian nama keluarga, ketika waktu itu Minke sering direndahkan karena tak punya nama keluarga;

“Jauh sebelum Eropa beradab, bangsa Yahudi dan Cina atelah menggunakan nama marga. Adanya hubungan dengan bangsa-bangsa lain yang menyebabkan Eropa tahu pentingnya nama keluarga…Kalau pribumi tak punya nama keluarga, memang karena mereka tidak atau belum membutuhkan, dan itu tidak berarti hina. Kalau Nederland tak punya Prambanan dan Borobudur, jelas pada jamannya Jawa lebih maju daripada Nederland….”

Meski begitu, Pram juga memberikan pendapat mengkritik perihal mengapa pribumi tidak juga merdeka dari cengkeraman Eropa. Orang pribumi jaman itu sedang membutuhkan pemimpin yang merintis perlawanan, tapi mereka hanya suka berputar-putar, menunggu, merindukan, bukan mencari dan melahirkan. Agaknya hal ini masih juga terulang di masa sekarang. Semua orang tahu Indonesia masa kini masih dijajah—meski bukan dengan senjata, namun dalam hal ekonomi. Tapi masyarakat adem-ayem saja. Ya, memang, ada perlawanan, tapi kecil-kecilan dan dalam sekejap langsung teredam gaungnya.

Dan satu hal lagi yang membuat Indonesia tak juga maju, yaitu masalah korupsi. Dan anehnya, para koruptor yang ada adalah orang-orang terpelajar. Peristiwa ini pas sekali dikaitkan dengan kalimat terkenal Pram, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Kata singkat namun berbobot. Buat teman-temanku yang masih pelajar, ilmu yang kita dapatkan seharusnya dimanfaatkan untuk membatu Tanah Air ini, bukan dibuat untuk mengelabui dan mencuri uang rakyat.

Begitulah review-ku. Semoga ada yang tertarik juga membaca buku legendaris ini.

6 respons untuk ‘Review Buku “Bumi Manusia”

  1. betul. memang banyak versi bajakan di luar sana. sementara yang bekas langka. kalaupun masih ada, mahal sekali. // saya tertarik ikut (cari dan) baca buku ini setelah baca tulisan ini. terima kasih, Kirana.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s