Filsafat #1: Mitos dan Logos

Alright, kali ini yang aku tuliskan agak berat. Kemarin baru saja menonton video filsafat yang diajari oleh professor Indonesia yang pernah kuliah di Italia. And it was interesting. Keinginanku untuk kuliah di filsafat makin menjadi-jadi. Tapi, seperti yang kuduga, karena filsafat yang diajarkan adalah filsafat Barat, jadi -setelah diskusi dengan papaku– aku menemukan beberapa kesalahan fatal tentang sudut pandangnya terhadap agama; agama Islam tepatnya.
filsafat
Pada abad ke 6, ketika globalisasi belum ada, di seluruh dunia (especially di Yunani) simultaneously terjadi pergantian cara berpikir dari ‘mitos’ menjadi ‘logos’.

Cara berpikir mitos mempunyai beberapa ciri, yaitu imagerial; yang bertitik tumpu pada image, citra, atau bentuk. Misalnya di legenda tangkuban perahu, orang-orang jaman dulu melihat sebuah gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik, kemudian mereka buatlah cerita yang berkorelasi dengan itu, sehingga terciptalah legenda tangkuban perahu. Ciri kedua, yaitu persepsi yang undifferentiated; semua hal diperlakukan sama dengan manusia; bisa diajak bicara, diminta pertolongan, dan sebagainya. Maka itulah jaman dahulu terdapat adat-adat seperti tarian hujan (hujan dianggap bisa mendengar manusia) atau minta rezeki dari pohon (pohon yang sebenarnya benda mati dipercayai bisa memberi). Ciri ketiga, yaitu kultur lisan (ciri favorit saya); di mana orang-orang memaknai suatu kata dari efek imajinatif/auranya, bukan makna otentik dari kata itu sendiri. Sebagai contoh, ada gedung-gedung di Indonesia yang dinamai, misalnya Manala Swanabakti. Ada artinyakah? Tidak. Namun kata itu memang punya kesan greatness dan mirip kata sansakerta yang terkesan tua dan elegan.

Manusia kemudian mulai menyadari bahwa segala sesuatu itu haruslah logis dan masuk akal, karena pemakaian akal itu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Maka terbentuklah cara berpikir logos. Ciri logos yang pertama adalah konsep yang menjadi pilar dan makna yang denotatif (dipastikan); makna haruslah tunggal, tidak seperti mitos yang mempunyai kecenderuangan bermakna banyak. Makanya dalam sains, definisi kata itu sangat penting. Ciri kedua, presisi yang spesifik (differentiated). Semua hal harus dipilah. Manusia adalah manusia. Benda mati adalah benda mati. Tidak boleh disamakan. Ciri ketiga, kultur baca-tulis. Manusia menyadari bahwa memori mereka terbatas. Maka dengan menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan, ide-ide dan ilmu mereka bisa bertahan lama.

Dari kedua penjelasan di atas, pendeknya, logos maunya ‘menjelaskan’, sedangkan mitos itu ‘melukiskan/menyentuhkan pada kesadaran’. Logos itu bentuknya pasti, sedangkan mitos itu misteri; masalah dalam mitos yang deep dan misterius tak bisa diselesaikan segampang logos yang bisa dihitung dan dipastikan. Logos dipakai dengan nalar, sedangkan mitos dengan hati. Logos itu yang menjadikan pesawat yang beratnya berton-ton bisa terbang, sedangkan mitos itu tentang mengapa manusia bisa bahagia mendengar musik yang indah dan senang melihat lukisan rupawan.

Hal yang ingin aku kritisi dari pernyataan professor itu adalah mengenai agama. Dia bilang, agama adalah mitos. Dalam arti, agama hanya bisa dirasakan oleh hati, bukan oleh akal. Benarkah begitu? Benarkah agama memang benar-benar tidak masuk nalar? Ya, kelihatannya begitu, ya kan? Tuhan, malaikat, surga, dan neraka itu tidak kelihatan. Kita percaya hal-hal karena semata-mata ‘kata orang, ustad, orangtua’. Well, harus aku tekankan di sini bahwa sesuatu yg logos itu tidak harus empiris. Kesalahan utama orang-orang Barat adalah meyakini bahwa semua hal itu ada kalau kelihatan, terdengar, tercium, teraba. Padahal tidak begitu.

Bayangkan kalau kamu sedang ada di dalam hutan, lalu kamu melihat jejak kaki harimau di jalan setapak yang kamu lalui. Apa yang kamu lakukan? Pastinya segera keluar dari hutan itu, karena kamu tahu ada harimau di hutan itu. Tapi darimana kamu tahu? Apa kamu melihat sosok harimau itu di depan mata? Tidak. Kamu melihat jejak dan tanda-tandanya.
Ilustrasi lain. Lebih sederhana dari sebelumnya. Kamu melihat ada asap membumbung tinggi dari kejauhan. Kamu tahu kalau sedang terjadi kebakaran. Bukan karena kamu melihat apinya, namun kamu melihat tandanya.

Begitu juga tentang keberadaan Tuhan. Kamu tak bisa melihat wujud-Nya (kamu tidak akan kuat, obviously.) tapi kamu bisa melihat segala jejak-jejak dan tanda-tanda-Nya di alam semesta. Pernahkah kamu membayangkan bagaiman bisa bumi, tata surya, dan milyaran galaksi yang ada bisa bergerak sendirinya dengan ketepatan yang sangat rinci, yang jika terjadi kesalahan sedikit saja, semuanya akan berantakan? Bagaimana bisa burung yang mempunyai otak sekecil itu bisa terbang, berlayar, berimigrasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa diberitahu dan diajari? Bagaimana bisa kita, manusia, bisa terbentuk di rahim ibu, dari satu sel berkembang menjadi jutaan? Sama sekali tidak logos kalau kita bilang semuanya terjadi dengan sendirinya. Harus ada tangan tak terlihat yang merancang semuanya, dan menjaga milyaran sistem yang menakjubkan ini untuk terus bekerja sampai waktu yang ditentukan.

It’s starting to make sense, isn’t it?

to be continued. Stay tuned for my next post!

3 respons untuk ‘Filsafat #1: Mitos dan Logos

  1. Semua berawal dari ketakjuban (thaumazein) akan berbagai peristiwa di sekitar kita. Mulanya, orang-orang mulai memberi jawaban akan thaumazein mereka via mitos. Namun, beberapa pihak menilai penjelasan mitos tidak memuaskan thaumazein mereka. Terlebih, mitos tdk mampu menjelaskan arche dari segala sesuatu. Akhirnya, mereka mengalihkan diri dari penjelasan mitos ke logos. Paradigmal shift inilah yang *mungkin* menjadi cikal bakal lahirnya philosophia.
    Mirip dengan peralihan paradigma dari wahyu ke akal yang membuka era modern.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s