Filsafat #2: Ilmu Dalam Pandangan Filsuf Yunani Kuno

Jadi, dalam postinganku sebelumnya, aku sudah menjelaskan bahwa manusia itu berpikir dengan dua cara; mitos dan logos. Cara berpikir yang benar tentu saja dengan logos, karena pemakaian akal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Nah, cara berpikir dengan logos itu punya berbagai tingkatan. Ada yang berpikir biasa saja, hanya di permukaan, seperti bagaimana caranya mendapat makanan dan kesenangan. Ada yang berpikir lebih dalam lagi seperti belajar keras untuk masuk universitas atau berpikir untuk mendapat jabatan kerja lebih tinggi. Namun ada manusia yang berpikir dengan sangat mendalam, yang terus mempertanyakan segala hal, dan itulah yang disebut filsafat. Sejarah mencatat bahwa Yunani adalah tempat munculnya orang-orang yang sangat terkenal di bidang filsafat. Di antaranya, Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Socrates, yang disebut Bapak filosofi Barat adalah anak dari seorang pemahat patung batu. Dia sering berkeliling ke masyarakat untuk berdiskusi masalah filsafat, namun tak pernah meninggalkan karya tulis apapun. Ilmu-ilmunya akhirnya ditulis oleh muridnya, Plato.

Menurutnya, pengetahuan sejati (episteme) harus berbeda dengan pendapat/keyakinan pribadi dan mesti bersifat universal. Kedua, semua hal yang ada di dunia adalah tampilan semu dari ide universal (ide universal adalah ide yang secara umum disetujui atau diketahui oleh hampir semua orang di dunia. Misal ide tentang figur ibu yang merawat anak hingga dewasa, atau matahari terbit dari timur). Proses mendapat ilmu itu ada tiga tahap; dialektika (berpikir, bertanya-jawab di kepala sendiri juga bisa dibilang dialektika), abstraksi (proses memisahkan/mendapat pengertian melalui penyaringan terhadap gelaja/peristiwa), kemudian terakhir ditemukanlah ide universal.

Socrates mengakhiri hidupnya dengan pahit. Ia dipaksa meminum racun setelah dituduh merusak generasi muda akibat pemikirannya*.

Plato, sebagai filsuf besar penerus Socrates, pernah mengeluarkan Teori Emanasi tentang ketuhanan yang menurutku menarik. Menurut dia, Tuhan itu bukan sosok, tapi mirip matahari yang memancarkan sinarnya dan menciptakan alam semesta. Jadi alam semesta itu adalah pantulan dari Dia, pancaran dari Dia, dan mengandung unsur Dia. Konsep ini terdengar begitu magis dan misterius, sehingga banyak orang yang menyukainya untuk memahami keberadaan Tuhan.

Setelah Plato, filsuf besar yang muncul adalah Aristoteles. Anak dari seorang tabib King Amyntas of Macedon** ini mengeluarkan pemikiran yang melahirkan kepastian pengetahuan, yang melahirkan inovasi IPTEK di era modern. Berbeda dengan pandangan gurunya, Plato, dia berpendapat isi/esensi realitas ada di realitas itu sendiri yang bisa dicapai melalui abstraksi. Kedua, pengetahuan bukan sekedar ‘tahu bahwa’, melainkan ‘tahu mengapa’ (explanotary power). Konsep ini melahirkan sensibilitas baru bagi sains modern di kemudian hari. Di masa dialah terjadinya sistemasi nalar umum, adanya logika formal (aneka bentuk silogisme) yang hitam-putih, anti kontradiksi, dan benar-benar memburu hal-hal yang bersifat kepastian. Namun cara ini memang tidak bisa melihat aneka bentuk misteri dalam hidup yang lebih dalam.

filsuf
Plato (left) and Aristotle (right), a detail of The School of Athens, a fresco by Raphael. Aristotle gestures to the earth, representing his belief in knowledge through empirical observation and experience, while holding a copy of his Nicomachean Ethics in his hand. Plato holds his Timaeus and gestures to the heavens, representing his belief in The Forms***

Menurut Aristoteles, untuk melihat realitas kita bisa mengidentifikasi penyebabnya. Pertama adalah penyebab material; yang menyebabkan sesuatu menjadi sesuatu adalah karena bahannya, materialnya. Kursi menjadi kursi karena bahannya kayu, atau plastik. Kedua, penyebab formal; ide ‘kursi’—sebagai tempat duduk—menyebabkan kursi menjadi kursi, bukan ‘gelas’ atau ‘meja’. Ketiga, tujuan/teleologis; karena kita membutuhkan sesuatu untuk duduk, meka lahirlah kursi. Karena kita memerlukan suatu wadah untuk minum, maka dibuatlah gelas.

Plato dan Aristoteles juga mempunyai pandangan berbeda terkait penciptaaan karya seni dan sastra. Plato menganggap bahwa karya seni berada di bawah kenyataan karena hanya merupakan tiruan dari apa yang ada di dalam benak atau pikiran manusia. Sedangkan Aristoteles menganggap karya seni justru berada di atas kenyataan.

Plato berpendapat ide yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Ide ini hanya dapat diketahui melalui rasio, dan tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan pancaindra. Segala macam upaya untuk membuat apa yang ada di “alam ide” ini menjadi sesuatu yang bersifat empiris (bisa dilihat, didengar, dibaca, dll) adalah bentuk perendahan terhadap ide itu sendiri. Ide estetis (atau imajinasi) tentang wanita yang sangat cantik, misalnya, akan menjadi rusak jika ada seniman yang mencoba membuatkan patung atas wanita cantik itu, atau ada sastrawan yang membuatkan puisi terkait kecantikan wanita yang ada di alam ide itu. Atau coba aku tanya teman-teman yang mengagumi buku Harry Potter seperti diriku. Dulu ketika membaca buku itu, imajinasi kita terhadap sihir dan tokoh-tokoh di sana pasti liar dan tanpa batas. Namun ketika menonton film-nya, mungkin ada diantara penonton yang merasa sedikit kecewa, karena penggambaran visual yang tersaji tidak sekeren imajinasi kita sebelumnya.

Karena itulah, Plato dikenal sebagai filsuf yang memandang rendah para seniman dan sastrawan. Baginya, seorang tukang pembuat meja lebih berharga dibandingkan seorang seniman pembuat patung, karena pembuat meja tidak melakukan “penjajahan estetis” terhadap ide sebuah benda bernama meja.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan tidak semata-mata menjiplak kenyataan, tetapi melakukan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Aristoteles meyakini bahwa karya sastra adalah suatu ungkapan mengenai “universalia” atau konsep yang tadinya masih bersifat umum. Dari sisi inilah maka Aristoteles dikenal sangat menghargai seniman dan sastrawan. Dia tentunya memandang seniman dan sastrawan jauh lebih berharga dibandingkan para tukang batu dan kayu.

Nah, begitulah kira-kira tulisanku untuk filsafat bagian kedua. Part berikutnya akan diposting secepatnya. Stay tuned!

* https://id.wikipedia.org/wiki/Socrates
**https://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
***https://en.wikipedia.org/wiki/Plato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s