Malam Ini Malam Selasa

Untuk kesekian kali, mata Arya berjelanak kabut pedih. Tempat tinggalku sudah ringkih, barangkali tak lama lagi runtuh,Ya Tuhan, jangan biarkan tubuhku ikut runtuh, bisiknya. Di sini, di borok tersembunyi di ibukota, sekali lagi ia ditinggal seseorang yang dicintai. Ah, aku memang tak pantas untuk mencintai, karena mereka yang kucintai malah berlayar pergi, mengabaikanku dalam sepi.

***

Saat terjaga, yang pertama kali melintas di hidung Arya adalah bau kotoran—kotoran manusia, hewan, serta sampah makanan basi. Baru setelah itu tercium aroma nasi pulen dan terasi yang dimasak Emak Ipeh. Kriuk di perutnya sungguh tak tertahankan, membuatnya segara bangkit dari ranjang—lalu bersiap dengan segala bentakan pedas Emak yang akan didengarnya.

“Baru bangun? Dasar kamu, anak nakal! Pokoknya habis makan segera ke jalan! Kalau nggak dapat lima belas ribu seperti kemarin, makan malam nggak akan kukasih!”

Tak ada yang bisa dilakukan Arya selain mengangguk. Benci ia mengaku Emak Sutinah sebagai ibunya. Di dunia ini, mana ada ibu yang suka membentak, memukul, dan memaksanya bekerja. Akhirnya, disela kunyahan makanan di mulutnya, benak Arya menjelma menjadi layar yang memperlihatkan ayah dan ibu kandungnya, yang bersimbah darah dan koyak di tengah jalan raya. Ah, mereka sudah lama pergi. Ya, pergi begitu saja. Tanpa meminta izin kepadanya yang sendirian ditemani air mata.
Sebelum dibentak Emak angkatnya itu lagi, Arya bergegas meninggalkan rumah berdinding triplek itu, yang kelihatan mau tenggelam ke kali Ciliwung karena lantainya hanya disangga batang bambu rapuh. Langkah kakinya menyusuri sampah yang berlamparan. Arya tak menghiraukan bau menyengat yang berkisar di sekelilingnya. Dilihatnya Si Rangga sedang buang air atas lantai bambu yang mengapung di kali, hanya ditutupi sekat dengan atap terbuka. Si Wita mandi dan gosok gigi dengan siraman air kali yang cokelat, cuma sarung yang menyelubungi dada hingga betisnya. Sesekali ada kotoran lewat—entah kotoran manusia atau hewan—namun mereka tak acuh sedikitpun.

Arya sampai di pinggir jalan dan menemui puluhan mobil mewah yang berjejalan. Ah, baru jam sembilan, namun matahari sudah menyengatnya begitu rupa. Di mata Arya, kota ini memang telah beralih rupa menjadi seorang wanita. Matanya yang indah serupa mal di mana barang mewah tertata. Bibirnya yang merekah diisi hotel-hotel orang kaya. Lekuk pinggangnya menjelma taman-taman lengang dan bersih. Namun ketiaknya menguarkan bau karena dijejali perkumuhan orang miskin. Kakinya busuk karena menjadi tempat mengalirnya sungai tercemar. Begitu juga jerawat-jerawat yang menyembul serupa mobil-mobil yang tersendat di mana-mana. Namun hal-hal buruk itu sudah disolek begitu rupa, hingga hampir tak ada yang meniliknya.

Arya mendesah panjang, memecah bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Mengamen akhir-aknir ini tidak mudah. Banyak polisi yang mengamati dan razia bisa kapan saja mendatangi. Perlahan ia mendekati sekumpulan ibu-ibu pegawai yang sedang bergosip. Diambilnya mik kecil yang tersambung dengan kotak musik kayu yang menggantung di pinggang. Musik instrumen dangdut menyala, dan bibirnya melantunkan lirik, mengikuti irama yang berdentam-dentam.

Ibu-ibu itu mengabaikannya, malah kelihatan terganggu. Lalu mereka menjauh bergerombol, meninggalkan Arya yang mematung di sisi jalan.

Sudah jam lima. Matahari merayap diam-diam hendak ke ranjang tidurnya. Tetapi di kantong Arya baru terhimpun 12 ribu saja.

“Kenapa buat dapat sepeser duit segitu aja susahnya minta ampun?” pikirnya disela lamunanya.

Namun segala kekesalan yang mengendap itu mendadak sirna. Ia tersenyum. Malam ini malam Selasa.

                                                                                                       ***

Ketukan pintu itu menjalar memasuki rumah triplek Arya, bersenandung diantara senyap yang terasa hampa. Arya berdiri tegak, matanya diisi pendar girang.

“Ayaaah!” begitu teriaknya sembari membukakan pintu berbercak air kali miliknya.

Ya, seperti yang dia harapkan, wajah pria yang tersenyum di depannya itu berkilau sejuk, seakan berbisik kepadanya bahwa semua kesusahannya akan berakhir baik-baik saja. Mata hitam gemerlap itu persis seperti pohon beringin yang menaungi Arya ketika sedang beristirahat atau sekedar menghalau ganas matahari di tengah kerjaannya mencari remehan koin.

“Mana Emak Ipeh?”

“Biasalah. Aku nggak berhasil dapat 15 rebu.”

Pria yang dipanggilnya ayah itu, Mas Ridwan namanya, menggeleng-geleng, lalu tersenyum kembali. Arya sungguh menyukai senyumnya yang tulus, juga lembut. Ia jadi ingat bapaknya yang telah pergi. Ya, Mas Ridwan adalah bapaknya, ikrar Arya. Bapak kedua baginya.

“Hari ini hotel banyak tamu, tapi banyak hidangan yang tak dihabiskan,” Ayah membuka resleting tasnya. “Hah, dasar orang kaya. Wine yang mahal saja suka bersisa setengah di gelas.”

Berbagai makanan yang menguarkan harum keluar satu persatu satu dari tas hitam lusuh itu. Arya menjilat bibir. Segera dilahapnya segala macam roti, agar-agar, dan spageti. Arya tahu makanan itu dibuat oleh koki handal, meski sekarang dibungkus plastik hitam layaknya di warung tegal.

Mas Ridwan, pria beristri namun tak beranak ini, adalah pelayan restoran di hotel dekat perkampungan kumuh ini. Perawakannya rapi dan elegan di dalam hotel, namun di luar tampak begitu sederhana. Hanya kaos oblong lusuh dan celana katun tipis yang selalu melekat di tubuhnya. Padahal Arya tahu, gaji pelayan di hotel berbintang empat itu tak kecil-kecil amat. Namun seperampat dari gajinya itu kerap ia relakan ke anak-anak sepertinya—anak-anak tanpa ayah-ibu yang terlunta-lunta.

“Nah, malam ini mau dibacakan buku apa?” tanya Mas Ridwan, bersiap menyongsong malam dengan cerita-cerita seru dan menyenangkan.

Suara jangkrik terdengar berisik di luar sana. Arya memilih-milih buku yang dibawa Ayahnya, lalu menunjuk buku setebal buku jari dengan sampul bergambar anak perempuan yang menunggang kuda.

Suara bening Mas Ridwan bergulir tenang. Kisah yang mengasyikkan itu terceritakan sahut-menyahut, lalu berakhir dengan lembut. Arya yang mendengar sambil berbaring di sampingnya perlahan hanyut dalam mimpi. Dan di dalam mimpinya itu hanya tersimpan kehangatan yang tak kuasa diusik oleh apapun, bahkan oleh ingatan-ingatan perih tentang orang tua kandungnya sendiri.

***

Mas Ridwan sudah menghilang ketika pagi menjelang, hanya ada sehelai uang lima puluh ribuan di samping ranjang. Arya berdecak. Ayah benar-benar seperti hantu. Datang pada malam hari, lalu pergi tanpa ia sadari. Padahal Arya ingin mengucap selamat tinggal, sampai ketemu lagi di malam Selasa berikutnya.

Pernah Arya bertanya, mengapa Ayah tidak datang setiap malam saja ke rumahnya. Kedatangannya akan selalu Arya tunggu. Namun Ayah berdalih bahwa banyak anak yatim piatu seperti dirinya di kampung ini. Ya, Arya tahu beberapa. Si Rangga, Wita, dan Galih—teman-teman sesama pengamen jalanan itu senasib dengannya. Ayah bilang, ia harus berkeliling setiap malam ke rumah-rumah mereka. Harus adil, katanya. Namun ia berjanji, ia akan menengoknya setiap malam Selasa.

Pagi itu, matahari yang menggeliat tampak berbeda bagi Arya. Ah, hidup tak sesusah yang dipikirkannya. Kendati ia sendiri, tetap ada seseorang yang menemani, meski hanya seminggu sekali. Ada orang yang selalu memberinya harapan tentang hidup, meski hanya semalam yang terasa lekas.

Hari itu, Arya menjalani kesehariannya dengan ceria, tanpa beban apa-apa. Uang lima puluh ribu dari Ayahnya telah disimpannya di celengan, berharap ketika isinya menggunung, ia bisa membeli baju baru, juga hadiah untuk Ayahnya sebagai balas budi. Apakah gerangan yang akan diberinya untuk Ayah nanti? Baju juga? Sepatu? Tas? Topi? Ah, Arya tak bisa berhenti tersenyum ketika memikirkannya.

Sembari berjalan santai ditemani usapan semburat mentari, siul merpati, serta rintik kecil embun di pohon Mahoni, mendadak terdengar riuh di ujung jalan.

“Ada razia! Ada razia!” jerit beberapa penjual asongan. Rangga dan Galih berbalik arah, kemudian mendesak Arya untuk lari bersama. Semua pekerja di jalanan berlari tunggang-langgang, tak peduli menghempas barang apa di depan. Mik kecil Arya mendadak jatuh bergelatuk selagi berlari, kemudian kabel yang tersambung dengan kotak musiknya terputus, terinjak orang-orang yang gaduh di sekelilingnya. Arya berhenti sejenak, menggapai miknya yang begelinding sepanjang jalan aspal.

“Arya, cepetan!” bentak Galih.

Namun petugas razia tinggal selangkah lagi dari tubuhnya. Arya ditarik dan dimasukkan dengan paksa ke mobil pick-up hitam bersama para pengamen, juga penjual asongan. Ia meronta, tetapi tak dihiraukan oleh satpol PP yang berwajah garang.

Arya berbisik nanar. Mengapa kegembiraan lama datangnya, namun lekas menguapnya?

***

Malam ini malam Selasa. Malam yang selalu ditunggunya. Minggu lalu, sehabis dia pulang dari kantor polisi dengan kotak musik rusak, Arya kenyang menelan semua cercaan pedas Emak Sutinah. Maka selama seminggu ini, Arya terpaksa mengais gelas plastik bekas di tumpukan sampah, kemudian meraih peruntungan dari tukang rongsokan yang kerap melewati rumahnya. Mengamen memang lebih mudah daripada jadi tukang sampah, tapi tak apalah, toh, malam ini, Ayahnya akan datang, lalu mendekapnya erat untuk menghilangkan segala gundah. Malam ini juga pasti datang makanan yang bisa menghentikan kecamuk lapar di perutnya.

Jam delapan beranjak datang. Namun hening.

“Apa ayah telat?” terka Arya sambil terduduk di depan pintu, menunggu ketukan.
Jam sembilan. Sepi membuncah, hanya ada suara kodok serta beberapa mobil yang melesat di belakang rumahnya. Arya berdiri tak sabar lalu membuka pintu, dilongoknya kanan-kiri, namun tak ada siapa pun. Dilihatnya sepotong bulan yang terjahit erat di naung malam. Awan menyaputnya hingga temaram, terlihat mencekam. Segera Arya menutup pintu kembali, ngeri kalau sekiranya ada kuntilanak yang muncul di hadapannya.

“Ah, tak biasanya Ayah telat,” Arya menunduk kecewa. Tangannya tak sadar memilin sapu ijuk di sampingnya tanpa arti. “Apa iya, ia tak menepati janji?”

Arya kemudian berbaring, matanya tinggal segaris, benar-benar mengantuk dan lelah. Perutnya melilit perih. Namun telinganya masih terbesit secercah harapan mendengar ketukan pintu.

Lalu hitam.

***

Ketika terbangun, kalimat yang mengembara di pikiran Arya hanyalah, aku benci orang yang tak menepati janji. Ya, Arya sungguh-sungguh benci, karena ia jadi teringat orang tuanya. Mereka berjanji akan bersama sampai akhir hayat, mengasuhnya hingga dewasa, tetapi sekarang apa? Yang ada adalah dirinya yang terkungkung kemiskinan, terpenjara di perkumuhan buruk rupa, lalu mesti bekerja keras di usia sangat muda.
Arya bergerak mandi di kali, kemudian melahap nasi dan tempe buatan Emak Ipeh tanpa gairah. Rasanya aneh, tak seperti biasanya. Hambar, tidak berasa bumbu apapun—seperti perasaannya saat ini.

Sebelum langkahnya sampai ke TPA untuk kembali mengumpulkan sampah, tiba-tiba Rangga mendatanginya dengan kotak musik berkelontang tak karuan. Mukanya pucat pasi, lekuk-lekuk dahinya serupa ranting pohon mati.

“Arya, lu udah denger? Tadi malam Mas Ridwan ditabrak motor. Kata Si Wita sih, dia mau nolong ibu-ibu yang dijambret, tapi penjambret itu malah nabrak dia.”
Dada Arya mendadak terasa didentam pukulan gong. Ia tergagap dan mematung di antara gaduh mesin mobil di pagi buta.

“Terus, terus? Sekarang gimana?”

“Katanya sih, lagi dirawat di rumah sakit. Ini juga gue mau ke sana. Barengan aja, yuk.”
Kedua anak lelaki berbaju lusuh dan beralaskan sendal jepit itu berlari bersamaan, meniti jalan beraspal menuju rumah sakit. Sampah-sampah berserakan tak menyurutkan langkah mereka yang tergesa.Tersisa tiga menit lagi untuk mencapai rumah sakit, dan Arya sungguh berharap ia menemukan ayahnya di sana dalam keadaan selamat, tanpa luka sedikit pun.

Di tengah jalan, mereka terhenti di depan rumah kecil bercat hijau muda. Merpati-merpati berkepak lamat-lamat di atapnya. Daun kuning mangga di halamannya diterpa angin pagi yang gelisah, membuatnya meranggas satu per satu seperti rintik hujan. Selusin anak kecil sebaya mereka berkumpul dan berdesakan melongok ke dalam rumah. Galih dan Wita juga menyempil di antara mereka. Semuanya berbaju kumal. Semuanya memakai sendal jepit. Seperti Arya.

“Ada apa? Ini rumah Mas Ridwan, kan?”

Rangga mengangguk, lalu berjalan melewati pagar rendah berwarna putih karatan. Arya mengikutinya dengan gerakan tersendat. Sendalnya menggesek semen tua. Mukanya menegang. Ada suara-suara riuh. Persis seperti ketika ada razia di jalanan, yang mengagetkan para pengemis, pengamen, serta penjual gorengan.
Semakin dekat Arya dengan kumpulan anak-anak itu, semakin jelas riuh apa yang bergejolak di dalam sana.

Ada isak tangis.

Ada rintihan mengiris.

Dan juga dirinya yang sekejap bersimpuh di lantai teras, merasakan tubuhnya kosong melompong, melayang tak tentu di udara terbuka. Jari-jari kecilnya bergetar, bersahutan dengan air mata yang luruh. Tak kuasa dilihatnya tubuh jangkung di depannya yang terbujur kaku, tubuh yang tak pernah menolak merengkuhnya ketika kesepian di malam kelam.

Untuk kesekian kali, mata Arya berjelanak kabut pedih. Kabut yang menyeruak tanpa batas, mengurung anak-anak yang sama-sama kehilangan belahan hati berulang kali. Kabut itu menjulang ke para pelayat lain, memaksa mereka mengerti apa yang ia dan teman-temannya rasakan saat ini.

Tempat tinggalku sudah ringkih, barangkali tak lama lagi runtuh,Ya Tuhan, jangan biarkan tubuhku ikut runtuh, bisiknya. Di sini, di borok tersembunyi di ibukota, sekali lagi ia ditinggal ayahnya. Ah, aku memang tak pantas untuk mencintai, karena mereka yang kucintai malah berlayar pergi, mengabaikanku dalam sepi.

Ya, malam tadi adalah malam Selasa. Namun ketukan pintu yang tak kunjung terdengar itu ternyata adalah kiriman kabar duka. Kabar yang ditiup oleh sepotong bulan yang terjahit erat di langit terbuka.

Malam Selasa yang istimewa itu mulai detik ini tiada.

                                                                                                                                                                 Bandung, 4 Agustus 2015

 

(*tulisan ini kalah di Lomba Menulis Cerita Remaja SMP yang diadakan oleh Kemendikbud. Kritik dan saran sangat berarti.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s