Surat Untuk Diriku di Umur 45 Tahun

Bandung, Indonesia, 28 Februari 2016.

Untuk aku yang telah menjadi dewasa.
Di manapun kamu berada

Salam.

Halo, dirimu yang sedang menatap cermin, melihat rambut yang satu persatu memutih dan guratan di dahi yang satu persatu terlukis. Halo, dirimu yang telah melampui 4 dekade, terbang dengan kencang tanpa tahu cara beristirahat, lalu tahu-tahu tiba di suatu titik ketika engkau terkejut, betapa banyak hal yang telah kaulewati selama bertahun-tahun namun rasanya seperti baru sekejap mata saja. Halo, dirimu yang mungkin telah berada di puncak karir, ketika impian-impian masa kecil sudah tercicip, dan telah merasakan pengalaman hidup yang membuatmu matang untuk meneruskan perjalanan.

Halo, kamu di sana, apa kabar? Semuanya berjalan baik-baik sajakah? Aku sampaikan suratku ini dari masa lalumu. Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga jika kamu kehilangan arah melewati jalan yang telah kau buat di masa lalumu; untuk mengingatkan tentang tujuan-tujuan hidupmu di masa muda. Aku khawatir kamu melupakan apa yang seharusnya kau pegang teguh sampai akhir hayatmu, karena—seperti yang kau alami selama ini—dunia ini penuh dengan bisikan-bisikan jahat. Setiap detik dalam hidupmu ada di antara dua kemungkinan; apakah mau berbuat buruk atau memilih yang tidak. Aku harap kamu tidak pernah mencoba-coba pilihan pertama, apalagi yang besar akibatnya terhadap kemanusiaan.

Ya, aku berharap begitu.

Surat ini kutulis 30 tahun lalu dari tahunmu di sana. Aku sedang membayangkan bagaimana rupa kamu dan apa saja yang kamu pikirkan dan kerjakan. Pastinya mirip dengan orangtuaku di sini, karena mereka sekarang berumur 40-an. Dan sebenarnya, ayahku baru saja memperlihatkanku sebuah puisi terkenal dari Saadi Shirazi, seorang sastrawan Persia di Abad Pertengahan. Puisi itu membuatku jadi ingin menulis surat ini untukmu.

Anak-anak Adam adalah bagian-bagian dari dari keseluruhan
Karena mereka dibuat dengan inti yang sama
Jika satu bagian tersakiti
Maka yang lain akan merasakan kesakitan yang sama.
Jika kamu tidak bersimpati terhadap kesakitan orang lain
Maka jangan sebut dirimu manusia!”

Puisi ini membuatku berkontemplasi tentang kehidupan. Manusia itu sesungguhnya adalah satu. Setiap kali aku melukai orang lain, aku melukai diriku sendiri. Itulah sebabnya aku sedih melihat peperangan yang terjadi jauh di seberang laut, karena anak-anak yang orangtuanya meninggal adalah diriku; rumah-rumah yang hancur oleh bom adalah rumahku; darah yang mengucur akibat tembakan pistol adalah darahku. Dan sebaliknya, mengapa aku bahagia setiap kali menolong orang? Karena orang yang ditolong itu adalah diriku; orang yang kuperjuangkan hak-haknya adalah aku.

Puisi itu membuatku berimajinasi ke masa tuaku, yaitu kamu. Aku bertanya-tanya apa saja yang kau lakukan di sana. Aku yakin kamu teguh untuk selalu berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain, karena itulah asas dasar yang telah kaupelajari dari agama dan orangtuamu sejak kecil. Tapi itu tidak cukup, karena seperti kata orang bijak, kita juga harus mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh orang lain dan mendorong orang lain untuk berbuat baik juga.

Di tahun ini, aku bertemu seorang jurnalis yang telah mengelilingi dunia untuk merekam ketidakadilan yang terjadi terus-menerus di setiap sudut bumi, kau ingat bukan? Jurnalis itu dengan gigih membela orang-orang kecil yang haknya telah direnggut sewenang-sewenang di Indonesia, menolong anak-anak seumurku yang kelaparan dan kehausan di Afrika, mengabarkan berbagai pembantaian di Timur Tengah, serta membela orang-orang yang suara jeritan dan tangisnya tak pernah didengar publik di banyak tempat.

Bertemu dengannya, aku menyadari bahwa orang-orang yang menderita di dunia ini jauh lebih banyak dari yang kutahu dan yang disebarkan di media. Kesengsaraan mereka lebih menyakitkan dari yang kubayangkan. Dan ada hegemoni global yang mengatur semua tindak kekerasan itu; namun tidak ada yang bisa menepisnya.

Mengetahui itu semua membuatku sakit. Mengetahui bahwa hanya segelintir orang yang peduli untuk menyuarakan jeritan tolong mereka membuatku ingin melakukan sesuatu.

Bertemu dengannya, hidupku seakan berubah. Aku yang dulu bertanya-tanya apa arti dan tujuan hidupku, pada saat itu betul-betul mengerti semuanya.

Aku percaya bahwa hidup dengan motivasi uang dan gelar adalah hidup yang kering. Aku tidak akan bahagia selamanya dengan keduanya. Maka aku percaya, satu-satunya cara untuk membuat hidupku—dan kamu di sana—bermakna adalah dengan mencegah kejahatan yang terjadi terhadap sesama manusia; dan dengan begitu kamu bisa membahagiakan orang lain, juga dirimu sendiri.

Tentu saja untuk melakukan itu kau tidak harus menjadi jurnalis, seperti jurnalis yang aku temui itu. Ketika menulis surat ini, jujur saja aku belum yakin apa itu cita-citaku, karena aku punya banyak keinginan; aku ingin menjadi penulis novel, musisi, juga politikus. Aku tidak tahu apa saja yang akan terjadi dari detik ini sampai berumur 45 tahun seperti dirimu di sana. Jadi, apapun pekerjaanmu saat ini, aku harap kamu bisa menggunakan keterampilan yang kau peroleh selama 45 tahun usiamu untuk menyuarakan kemanusiaan. Jika kamu seorang musisi, aku harap kamu rajin menulis lagu-lagu berisikan perjuangan, menggubah melodi-melodi yang menyampaikan perasaan orang-orang yang haknya diselewengkan. Kalau kamu seorang politisi, aku harap kamu membuat langkah-langkah politik yang pro orang kecil, bukan menuruti keinginan pengusaha-pengusaha elit. Jika kamu seorang penulis novel, tulislah cerita-cerita yang berpesan bagi kemanusiaan, yang menggerakkan hati para pembaca untuk peduli untuk berkontribusi bagi kedamaian dunia.

Nah, suratku mendekati akhir; tapi harapanku untukmu tak akan pernah berakhir sampai waktuku bergulir menjadi waktumu dan tubuhku yang masih bugar beralih menjadi tubuhmu yang menua. Ya, aku sedikit ngeri membayangkan diriku menjadi dirimu. Tapi apa daya, waktu akan tetap berjalan, dan satu-satunya hal yang bisa membuat detik-detik yang bergegas ini berharga adalah pesan-pesan yang telah kutulis untuk dirimu.

Semoga engkau panjang umur dan sehat selalu.

Salam sayang,

Kirana, dirimu yang masih remaja.

(*tulisan ini kalah dalam kompetisi menulis surat 2016 oleh Kominfo bekerjasama dengan UPU. Kritik dan saran sangat berarti.)

Iklan

4 respons untuk ‘Surat Untuk Diriku di Umur 45 Tahun

  1. Merinding bacanya…. anak sekecil kamu sudah punya pemikiran2 dan kemampuan menyusun kata luar biasa!! (Aku udah baca bbrp artikel di blog ini) pasti orang tuamu adalah orang tua yg hebat yg bisa membimbingmu! Kereenn… salam kenal ya Kirana…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s