Ciletuh Geopark : Pengalaman Off-Road yang Mendebarkan

Ceritanya, aku masih belum move on dari kekalahan lomba menulis kemarin. Tapi untung saja, Mamaku sudah jauh hari merencanakan perjalanan wisata ke  Ciletuh Geopark, Sukabumi bersama aku dan adikku. Jadi aku engga sedih-sedih amat, heheh…

Jam 10 pagi kami diantar Papa sampai ke terminal Leuwipanjang, kemudian menaiki bis AC ke Sukabumi. Perjalanan terasa lama sekali, apalagi kursi busnya berjarak sempit satu sama lain, membuat kakiku pegal-pegal. Jam 15 barulah kami sampai di terminal Sukabumi. Naik angkot sebentar, kemudian kami sampai di rumah Pak Dedi, EO tur ke Ciletuh. Rumahnya menyediakan homestay dan juga menjadi basecamp untuk komunitas anak muda backpacker.

Setelah itu, kami beristirahat sebentar di kamar di lantai atas. Sehabis maghrib, kami pergi ke sebuah restoran untuk makan malam dan ketemu rombongan dari Jakarta. Pak Dedi juga datang, beliau akan mem-briefing peserta tur dan memperkenalkan kawasan Ciletuh Geopark. Pak Dedi memperlihatkan foto-foto dahsyat Ciletuh..indaaah banget, bikin aku pingin segera ke sana. Ini salah satu fotonya (diambil dari Google+ Geopark Ciletuh)

dedi suhendra

Tempat ini ternyata sudah dikukuhkan sebagai geopark nasional. Dan sekarang ini, Pak Dedi dan timnya sedang mengupayakan tempat ini untuk terdaftar di UNESCO sebagai bagian dari Geopark internasional. Dengan begitu, jumlah turis dari luar negeri akan meningkat seperti di Bali saat ini.

Percakapannya berjalan lumayan lama, sehingga kami baru pulang jam 21.30. Adikku sudah rewel karena mengantuk. Kembali ke rumah Pak Dedi, kami langsung tertidur lelap, menyimpan energi untuk perjalanan esok yang panjang.

Sabtu, 27 Maret

Pagi-pagi kami sudah siap berangkat ke Ciletuh. Aku sudah ga sabar mencoba menaiki mobil Land Rover yang memang dikhususkan untuk perjalanan off-road. Aku, Mama, Reza dan keluarganya Tante Anna menaiki mobil yang sama. Ternyata, karena mobil ini memang sudah tua (buatan 1965, bro!) dan tidak dipasang peredam getaran, jadi sepanjang perjalanan walaupun masih beraspal, getaran mobilnya kerasa banget dan membuatku tidak nyaman. Sudah begitu, tidak ada AC lagi. Jadilah kami benar-benar menggantungkan harapan ke angin yang masuk lewat jendela yang terbuka (itu pun aku masih merasa kepanasan karena aku duduk di samping supir dan mesin mobilnya menguarkan hawa panas di kakiku :’(). Dan parahnya, kami harus bertahan di mobil ini selama 4 jam perjalanan! Kata Mamaku, pemandangan Sukabumi kota-Ciletuh,indaaaah banget.. tapi aku malah tidur, payah deh…

Jpeg

Akhirnya, setelah perjalanan penuh keringat itu, kami sampai juga di Tebing Panenjoan, sebuah tebing yang memperlihatkan panorama kawasan Ciletuh yang luaaas sekali. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah sawah-sawah pedesaan yang dibatasi pantai Palangpang di sisi luarnya. Dari sudut pandang sini, kita bisa melihat bahwa tebingnya melengkung ke kanan dan kiri, seakan sedang merengkuh keindahan alam yang terbentang. Ah, melihat keindahan ini,  terbayar sudah 4 jam di land rover yang ruarrr biasa itu 😀

panenjoan-ok3.jpg.

Di Panenjoan, kami makan siang ditemani matahari yang bersinar terik. Setelah itu, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Curug Sodong. Curug itu artinya air terjun. Sesampainya di sana, kami membeli kelapa muda sambil menikmati hawa sejuk yang diciptakan oleh seburan air terjunnya. Air terjun ini sebenarnya indah, tapi karena ada erosi tanah, jadi airnya berwarna kecoklatan. Aku harap dengan suatu cara peristiwa erosi ini bisa dihentikan, supaya airnya jernih dan enak dipandang.

Jpeg

Waktu berjalan cepat. Tak terasa sudah hari sudah beranjak sore. Awalnya kami dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Curug Awang, tapi karena mau mengejar sunset dari atas tebing Puncak Dharma, jadi panitia memutuskan untuk langsung pergi ke tebing itu, dengan janji curug Awang akan didatangi besok.

Kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Kata mas supir, jalanan akan menanjak sampai 60 derajat. Wuah… aku sudah khawatir melihat jalanan yang kelihatan sangat berbahaya di depanku.

“Nanti ketika menanjak pegangan saja, ya!” ujar mas sopir.

Masin berderum kencang, lalu dengan kekuatan penuh berjalan ke atas melewati jalanan yang berbatu-batu. Mobilnya sering sekali seperti kehilangan keseimbangan dan condong dengan ekstrim ke kanan dan kiri. Yang mengerikan adalah ketika melewati jalanan yang dibatasi oleh jurang tanpa pembatas; aku hanya bisa berdoa supaya mobilnya tidak benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh ke jurang. Lalu ketika menyusuri jalanan becek dan berlubang, mobil kami sudah seperti roller coaster yang berkali-kali miring ke kanan dan kiri dengan ganasnya. Penumpang saat itu menjerit-jerit (especially ibu-ibu :p), membuat suasananya mengerikan sekaligus seru juga 😀

Akhirnya setelah menit-menit mendebarkan itu terlalui, kami sampai juga di Puncak Dharma. Ternyata bukit ini terletak di tebing sebelah kanan kalau dilihat dari Tebing Panenjoan. Di sini kami bisa melihat pesisir pantai yang melengkung mendorong persawahan di depannya. Indahnya.. Saat itu hari mendung, kami bisa menduga kalau mataharinaya tidak akan kelihatan. Tapi ternyata, syukurlah, awan-awan tebal itu tidak menutupi cakrawala. Jadi tepat ketika matahari hampir terbenam, ia memperlihatkan diri secara mendadak, memancarkan sinar jingganya di hadapan kami. Para pengunjung serentak mengeluarkan kamera, tidak mau melewati detik-detik istimewa ini.

dhatma

Kembali naik ke Land Rover, langit mulai buram. Kami semua khawatir kami harus turun dengan keadaan gelap. Mobil kami berangkat duluan. Lagi-lagi kami melewati jalanan berlubang dan sisi jurang, namun kali ini langit tanpa bisa dikompromi menggelap, lalu perlahan turun rintik hujan. Suasana makin menyeramkan. Aku hanya bisa berdoa semoga takkan ada kejadian fatal di tengah hutan seperti ini.

Akhirnya kami turun dengan selamat. Namun ternyata mobil Land Rover lain yang berisi rombongan dari Jakarta dikabarkan stak di atas sana karena mesinnya tiba-tiba mati. Jadi supir mobil kami harus naik lagi ke atas dengan motor dengan membawa alat-alat bengkel.

Syukurlah, semua rombongan selamat. Kami kemudian makan malam bersama di homestay (di rumah penduduk) dan beristirahat.

Minggu, 28 Maret

Jam 8, kami langsung mendatangi Pantai Palangpang. Aku tidak main air di sana karena airnya keruh. Jadi aku hanya bersantai di dalam warung dekat sana sambil ngemil.

Kemudian, kami meneruskan perjalanan ke Curug Cimarinjung. Di sini kami diarahkan dulu oleh petugas agar berhati-hati melewati jalan yang sempit dan licin sebelum mencapai curug.

Curung Cimarinjung ternyata lebih indah dari curug sebelumnya. Meskipun airnya tetap coklat, tapi perpaduan tebing dan bebatuan di sana membuat pemandangannya menjadi menawan. Apalagi di sana terlihat sebuah pelangi mencuat dengan manisnya di atas aliran air yang deras, membuat keelokan tempat ini sempurna sudah.

Jpeg
it’s called “Heaven”

Jpeg

Kami agak lama berfoto-foto di sini. Setelah puas melihat-lihat, kami berjalan kaki ke sebuah rumah di dekat sana yang ditinggali oleh nenek-nenek yang sudah lama tinggal di Ciletuh. Aku lupa lagi siapa namanya, namun yang pasti ia nenek yang kelihatan masih gesit dan pandai bercerita. Ia duduk di depan kami semua dan bercerita tentang mitos-mitos di tempat ini. Misalnya, legenda tentang Pulau Kunti dan Emak Haji di Curug Cimarinjung. Konon, kalau ada keinginan, datang saja ke Curug Cimarinjung dan persembahkan sesajen kepada Emak Haji, maka keinginan itu akan terkabul.

Selesai bercerita, kami pamit kepada nenek itu, kami kembali ke Tebing Panenjoan untuk makan siang. Sehabisnya, kami langsung berpisah, pulang ke rumah masing-masing.

Geopark Ciletuh ini membuatku berpikir, kenapa aku harus repot-repot ke luar Jawa atau bahkan keluar negeri untuk travelling, sedangkan di tempat sedekat Sukabumi saja ternyata tersimpan keindahan alam yang memesona. Aku yakin masih banyak sekali tempat-tempat indah di pulau Jawa yang belum tereksplorasi. Tempat-tempat wisata tersembunyi tersebut tentunya bisa menjadi sumber ekonomi yang berlimpah untuk masyarakat sekitar (kecuali kalau ada  investasi asing masuk :p *halah).

Pesan sponsor: baca juga catatan jalan-jalan ke Ciletuh di blog adikku. 🙂

Iklan

4 respons untuk ‘Ciletuh Geopark : Pengalaman Off-Road yang Mendebarkan

  1. blog yg menarik , jadi kayak dibawa offroad ke Puncak Darma nih xixixi
    geserrr kiri geeseerr kanaaan digoyaang maaangg

    saat musim kemarau nantikan juga musim mangga berlimpah di kawasan Ciwaru
    akhir tahun ini ada bbrp jalur yg nyaman utk berkunjung ke bbrp air terjun yg ada di kawasan

    terima kasih sdh berkunjung ke kawasan GNC Geopark Nasional Ciletuh

    salam

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kerennnnn!!!
    Sering2 keliling Indonesia dan tulis ya Kirana, masih banyaaaak banget tempat2 mengagumkan di negeri tercinta kita ini, apalagi di timurnya.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Boleh minta kontaknya pak dedi .. kami ke sana tapi kurang puas euy krn keburu pada kelelahan, kayanya butuh fisik yg lumayan sehat kalo ke sana lagi.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke shinta Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s