Pengalaman Ujian Paket B

9-11 Mei 2016.

Hari Rabu kemarin adalah hari terakhir ujian paket B dalam rangkaian 3 hari ujian yang betul-betul melelahkan. Sudah tiga tahun aku tidak mengerjakan ujian apapun di rumah, dan demi mendapat ijazah SMP, aku terpaksa duduk di kelas di sebuah sekolah dasar di Bandung dan mengisi 90 sampai 100 soal dalam 4 jam. That was insane. Kepalaku seperti dipelintir sampai benyek. Kalau mengerjakannya sambil leyeh-leyeh di lantai dan makan snack seperti yang biasa aku lakukan kalau belajar di rumah, aku rasa keadaanya ga akan separah itu.

Hari pertama, pelajaran yang diujiankan itu Bahasa Indonesia dan PKN. Aku udah pede jadi ga belajar sama sekali sebelumnya. Dari 2 jam yang diberikan untuk mengerjakan setiap pelajaran, aku dan anak-anak lain dari komunitas HS Pewaris Bangsa sudah selesai dalam waktu hampir setengahnya. Di waktu luang, karena tidak boleh buka hape, aku menulis ide-ide cerpen untuk ARKI 2016 di kertas soal yang kosong. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat peka terhadap kejadian sekitar dan mudah mendapat ide-ide baru yang menarik. Tapi kemudian, si Ibu pengawas ujian melarang kami mencorat-coret kertas. Jadilah kami semua melamun saja sepanjang sisa waktu.

Hari kedua, perasaan horor mulai mendatangi. Matematika, coy! Ternyata soalnya lebih sulit dari soal Try Out yang aku kerjakan sebelumnya. Tapi walaupun begitu, aku masih yakin bisa dapat nilai 7 ke atas. Hari ketiga, rasa ngeri naik ke puncaknya. Pelajaran pertama Bahasa Inggris, dan aku beserta teman-teman lain bisa mengerjakannya semudah membalik telapak tangan. Namun di pelajaran Sains, pelajaran terakhir, ruangan kelas mulai berhawa panas padahal waktu itu baru turun hujan lebat. Keringat dingin mulai mengucur. Aku sama sekali tidak yakin setengahnya bisa aku jawab dengan benar. Padahal nilai minimum untuk lulus itu 5,5 😦

Fiuh! Ujian paket kemarin itu membuatku semakin tidak mau melanjutkan ke SMA formal, karena aku harus melakukan kegiatan membosankan seperti itu tiap semester!

By the way, waktu itu peserta ujian paket itu banyak yang sudah dewasa, bahkan sudah tua sampai umur 50-an. Kata ibu pengawas, mereka yang tua-tua itu rata-rata bapak-bapak memang putus sekolah setelah SMP dan ingin naik pangkat dan gaji dengan mendapat ijazah SMA. Haha… aku merasa aneh melihat mereka memakai seragam hitam-putih dan duduk di bangku kelas dan mengerjakan soal.

Dari pengalaman ujian tiga hari kemarin itu banyak yang aku renungkan. Pertama, aku jadi ingat diskusi Papa dan Mamaku (aku jadi pendengar saja) tentang mengapa UN tidak dihapuskan oleh Pak Anies Baswedan. Ya, intinya, dibalik pengadaan Ujian Nasional itu ada pengusaha-pengusaha yang diuntungkan. Pendidikan di Indonesia itu sudah jadi ‘dapur’ untuk banyak orang, jadi akan sulit untuk dihapus. Pembicaraan ini membawaku mengingat tentang diskusiku dengan Andre Vltchek bahwa Indonesia itu hampir mustahil bangkit dari keterpurukan. Karena perilaku seperti itu bukan di sektor pendidikan saja, tapi sudah menjangkiti sebagian besar sektor lain.

Kedua, aku mau mengritik soal UN kemarin. Khususnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan PKN. Seperti yang aku perkirakan,  soal dan pilihan jawabannya banyak yang ambigu–tipikal ujian nasional. Bahkan sejak jaman aku SD, soal-soal UN itu kayak dibikin asal-asalan. Aku jadi ingat pelajaran filsafat tentang mitos. Orang Indonesia itu karena masih banyak yang berpikir secara ‘mitos’ jadi masih banyak yang mementingkan ‘kesan’ dari sesuatu daripada isinya, hakikatnya. Jadi kayaknya yang bikin soal itu mau bikin sesuatu yang kelihatan keren,  dan intelek, padahal isinya tidak bersesuaian. Hahaha… gemes gue.

Di hari terakhir ujian, aku tertarik dengan pembicaraan ‘daerah hitam’ di Bandung. Jadi, setelah ujian Bahasa Inggris, karena terlalu banyak waktu yang tersisa, Ibu pengawas akhirnya menceritakan kami tentang anak-anak didiknya di sebuah sekolah swasta di Bandung yang sebagian besar adalah anak jalanan. Mereka pulang sekolah langsung menyerbu jalanan dan mengamen. Mereka banyak yang tinggal di ‘daerah hitam’; daerah-daerah miskin yang pergaulannya benar-benar tak terkendali. Beberapa anak didik ibu itu sudah merokok, ngelem, dan hamil setelah lulus. Wah, aku benar-benar tidak menyangka bisa ada daerah mengerikan seperti itu di Bandung.

Hm… lalu apa lagi ya?

Oh ya, setelah selesai ujian di hari terakhir, aku makan roti bakar keju dan lemon tea di cafe di depan sekolah. Aku suka cafe ini karena Ibu-ibu pegawainya sangat baik dan makannya enak. Selama tiga hari ujian, aku selalu makan siang di tempat ini. Jadi pas hari ketiga ujian setelah aku bilang ke Ibunya kalau hari ini hari terakhir aku ujian di sekolah, si Ibunya bilang, “Yah, berarti ga akan ketemu eneng lagi ya? Kalau sewaktu-waktu datang ke daerah sini, mampir aja ya!”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Saat itu langit sudah hampir gelap. Aku berjalan bersisian Mamaku kembali ke rumah.

Iklan

2 respons untuk ‘Pengalaman Ujian Paket B

  1. Hai, Kirana…. bolehkah saya share tulisan ini di group Forum Sekolah Rumah dan di group Pendidikan Non formal informal? Saya share supaya pada pembuat kebijakan bisa mengerti isi hati peserta didik juga untuk evaluasi…. hehe. Saya juga sudah ajak Ailsa untuk membukukan tulisan-tulisan kalian supaya lebih banyak orang yang membaca, termasuk ibu pengawas di SD Halimun yang sangat terkesan dengan peserta UN dari homeschooling. Sukses dan semangat! Salam- Sanny

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s