Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng

Hari Sabtu kemarin, aku, Mama, dan Reza berangkat menuju Jakarta untuk melanjutkan kegiatan traveling kami yang sudah terhenti begitu lama. Kali ini, kami berencana mendatangi acara Pasar-Pasaran Temanggung sekaligus menonton launching buku teman Mamaku di Museum Nasional.

Jam 4 pagi, kami meluncur ke terminal dan menaiki bus umum ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku tertidur sangat lelap. Turun dari bus, untuk pertama kalinya kami naik busway, bus kota yang jalurnya dipisah dengan kendaraan biasa di jalanan. Perjalanan di atas busway terasa lama sekali hingga aku kembali tertidur (ha! Aku memang tidak tahan untuk tidak tidur di atas kendaraan :p)

Kami akhirnya sampai di Museum Nasional yang megah. Di bagian dalam  museum yang terbuka, sudah terlihat kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang ditemani alunan musik tradisional. Aku yang kelaparan karena belum sarapan langsung melahap hidangan khas Temanggung yang sedap sekali. Kemudian kami tiba-tiba disapa oleh sang penulis yang mengadakan acara ini, Tente Sundari Mardjuki. Setelah ngobrol sebentar, Tante Sundari memberikan kupon latihan membatik kepada Reza. Mama dan Reza dengan senang hati pergi ke tempat membatik, sedangkan aku yang lagi mager duduk saja di kursi penonton.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya acara pun di mulai. Sehabis dibuka dengan pidato pengantar oleh beberapa tokoh dari Temanggung, sebuah kelompok penari masuk ke tengah lapangan diiringi musik tradisional. Para penari itu semuanya lelaki, menggunakan kostum hitam-putih-merah, dan memegang mainan kuda yang menjadi ciri khas tarian ini. Selama sekitar 10 menit, para penonton riuh mengerubungi para penari sambil merekam gerakan-gerakan mereka yang lincah dan unik.

Processed with VSCO with hb1 preset

Acara pembuka selesai, kami segera masuk ke ruangan besar di dalam museum untuk menghadiri  launching novel Genduk oleh Tante Sundari. Buku ini bercerita tentang seorang gadis “tembakau” yang tinggal di desa paling puncak di Gunung Sindoro. Buku berdesain classy ini mengingatkanku dengan buku favoritku karya Ahmad Tohari berjudul Bekisar Merah, yang juga berkisah tentang kesusahan hidup petani di Jawa.

Tante Sundari dan teman-temannya tampil di pentas berbicara mengenai buku ini dan budaya Temanggung. Setelah itu adalah sesi tanda tangan. Aku bersama hadirin yang lain mengantri untuk mendapatkan tanda tangan penulis. Ketika bukuku ditandatangani oleh Tante Sundari, ia tiba-tiba bilang kalau dia suka tulisan-tulisanku. Aih… senangnya!

Processed with VSCO with m5 preset

Selesai acara, kami meluncur ke istana presiden dengan berjalan kaki ditemani cuaca yang sangat terik. Namun sebelum sampai ke sana, kami melihat tenda berwarna biru para petani didirikan di depan gerbang monas, bukan tepat di depan istana presiden.

Sebelum ini, aku pernah menonton film dokumenter berjudul ‘Samin vs. Semen’ yang menceritakan tentang petani Kendeng ini. Tanah mereka sejak lama diambil sebuah perusahaan semen yang mengakibatkan polusi udara di kampung mereka serta tertutupnya akses air. Film tersebut sangat menyentuh. Aku sedih sekali melihat rakyat tak bersalah yang dirampas hak-haknya oleh pengusaha elit.

Di depan gerbang monas itu, para petani Kendeng telah memasang tenda selama seminggu. Tenda mereka yang mungil itu hampir mustahil dilihat oleh Bapak Presiden. Di dalamnya duduk 10 sampai 15 pria dan wanita dengan berdesakan. Aku benar-benar tak percaya mereka bisa bertahan di bawah terik matahari sepanas ini selama berhari-hari.

Processed with VSCO with a6 preset

Mama mendekati mereka dan mengobrol dengan seorang wanita yang pernah kulihat wajahnya di film dokumenter itu. Namanya Yu Sukinah. Ia menceritakan kepada kami banyak hal tentang Kendeng serta sesekali memberi nasehat padaku tentang ‘arti hidup’.

Katanya, orang-orang Samin ini tidak pernah sekolah (kayak aku dong! Aku kan homeschooler!)  Mereka lebih suka belajar secara mandiri, mendalami arti kehidupan dan menumbuhkan akhlak-akhlak  mulia. Katanya, percuma sekolah tinggi-tinggi kalau perilakunya seperti pejabat dan pengusaha yang gemar menyingkirkan orang kecil.

Karena aku dan Reza tidak kuat lagi diam di bawah pancaran matahari yang beringas ini, kami pun berpamitan dengan mereka.

Yu Sukinah, aku berdoa semoga pemerintah segera menyelamatkan petani Kendeng… Amin… 😦

Processed with VSCO with a6 preset

Satu respons untuk “Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s