Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK

Sebulan yang lalu, Mama datang padaku dengan berita mengagetkan. Ada undangan untukku agar menjadi pembicara tentang kepenulisan di Festival Anak Jujur yang diselenggarakan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Wah, aku merasa tidak pantas menjadi pembicara di event besar seperti ini karena sebenarnya aku sudah lama tidak menerbitkan buku. Seketika aku merasa nervous setengah mati. Aku berharap semoga semuanya akan berjalan dengan lancar.

Di hari-H, aku sekeluarga berangkat ke Jakarta menaiki mobil. Papaku memang kebetulan menjadi pembicara juga di sebuah seminar namun di lokasi yang berjauhan. Setelah Papa sampai di tempat seminarnya, aku, Mama, dan Reza memesan Grab Car dan meluncur ke Ancol, lokasi Festival Anak Jujur itu.

Sebelumnya, kami sudah diberi name tag khusus yang membuat kami tidak perlu membayar untuk masuk Ancol. Sesampainya di lokasi, yaitu di kawasan Geopark, aku melihat ratusan anak-anak kecil berkeliaran didampingi ibu-ibu dan panitia acara. Kami bahkan sempat melihat ketua KPK, Agus Rahardjo, keluar dari gedung dikelilingi para wartawan. Memasuki gedung utama, terlihat sebuah stage dan deretan kursi di depannya. Di sekitar kursi-kursi tersebut terdapat berbagai permainan anak kecil yang dijaga oleh kakak-kakak panitia.

Namun ternyata lokasi acara yang akan aku isi ada di lantai atas. Di sana terlihat beberapa zona kegiatan. Zona yang nanti kuisi adalah Zona Literasi. Namun karena acaranya masih lama, zona-zona tersebut masih kosong, hanya ada kakak-kakak panitia yang mondar-mandir mempersiapkan acara.

Kejutan, di sana aku ketemu penulis terkenal, Tante Sofie. Pertama, aku tidak ngeh kalau itu dia, jadi kami tidak banyak ngobrol. Padahal aku ngefans banget sama bukunya, Mantra Maira. Buku itu membuatku jatuh cinta sama cerpen sastra. Bahkan setiap kali aku ikut lomba menulis cerpen, aku suka meniru gaya bercerita Tante Sofie.

Karena bosan menunggu, aku, Mama, dan Reza bersepakat untuk jalan-jalan mengelilingi kawasan Ecopark Ancol. Sebelum itu, Mama sudah memesan tiga kotak spaghetti dari temen facebooknya, Tante Ari, yang diantar dengan gojek. Kami pun makan sebentar di sisi sebuah kolam buatan.

Menjelang jam tiga, aku kembali ke dalam gedung. Suasana sudah semakin ramai. Aku dan Mama masuk ke dalam ruangan zona literasi. Kakak-kakak panitia sudah menyiapkan dua sofa talkshow dan dua layar di kanan-kiri. Aku harus bicara dalam 3 sesi dengan 3 kelompok anak-anak yang berbeda dalam waktu satu jam.

Karena acara belum juga mulai, aku ngobrol panjang lebar dengan seorang kakak panitia perempuan bernama kak Vinkha. Ternyata dia adalah seorang guru di usianya yang kini baru 20 tahun. Kami berdua punya sifat yang bertolak belakang; aku seorang introvert, sedangkan kak Vinkha itu ekstrovert banget. Kami ngobrol banyak tentang sifat-sifat kami tersebut, juga tentang sekolah dan teman-teman kami.

Acara pun di mulai. Kakak-kakak panitia mempersilahkan beberapa kelompok anak SD memasuki ruangan. Seorang MC laki-laki membuka acara, kemudian aku dan Tante Eva dipersilahkan ke depan.

Processed with VSCO

Pertama-tama, aku membaca sepenggal cerita di bukuku berjudul Avalonia Castle di depan anak-anak. Kemudian Tante Eva (moderator) menanyaiku macam-macam seputar hobiku dan karirku di bidang kepenulisan. Kami juga membicarakan tentang plagiarisme, since acara ini bertema kejujuran.

Setelah itu, aku memberi tips kepada anak-anak tentang bagaimana cara menulis yang baik dengan menggunakan panca indera. Tips ini sebelumnya pernah aku utarakan ketika aku jadi pembicara di sebuah acara pesantren kilat saat Ramadhan. Penggunaan panca indera ini menurutku paling mudah dijelaskan kepada anak-anak kecil karena mereka pasti bisa mempraktekannya saat itu juga.

Processed with VSCO

Sepuluh menit terakhir, aku meminta anak-anak untuk menceritakan ruangan yang mereka tempati saat ini dengan menggunakan tips yang telah kuberikan. Jujur saja, setelah beberapa kali jadi pembicara dan melatih anak-anak kecil menulis, dalam satu kelompok anak-anak pasti ada satu sampai dua orang yang kemampuan menulisnya menonjol. Begitu pula di acara ini, dalam 3 sesi yang kuisi selalu ada satu atau dua anak yang bisa bercerita dengan panjang dan detil dalam waktu singkat.

Acara pun selesai. Aku menghela napas lega.

Di luar, langit Jakarta mulai meredup. Sebelum pulang, aku sempat mengobrol sebentar dengan Tante Sofie, mengutarakan kekagumanku dengan cerpen-cerpennya di Mantra Maira yang menginspirasi itu.

Kami pun pulang. Mobil kami melesat merobek jalan tol ditemani gemerlap lampu-lampu malam.

Satu respons untuk “Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK

  1. Inspiratif, sungguh pengalaman yang tak semua anak Indonesia bisa rasakan. Apa yang tertuang dalam indahnya keramaian adalah nostalgia katulistiwa, bangsa ini memerlukan generasi penerus yang kuat akan literasi. Ratusan pasang mata dan telingan diruang itu memberikan gambaran bahwa literasi memerlukan aksi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s