Menulis Itu Susah Atau Mudah?

Selama ini, terutama dalam pelatihan atau talkshow tentang kepenulisan yang kuisi, sering kudengar pertanyaan-pertanyaan seperti, “menulis itu susah ga, sih?” , “gimana caranya menulis?” dan “gimana ceritanya kamu bisa jadi seorang penulis?”

Pertanyaan seperti itu biasanya kujawab pendek saja karena pertama, waktunya terbatas, dan kedua, aku bukan orang yang bisa menjelaskan secara detil apa yang ada di pikiranku lewat lisan dan di depan banyak orang. Maklum, isi pikiranku itu lumayan njlimet seperti labirin tanpa pintu keluar. Untuk itulah aku pikir aku perlu menulis, agar semua yang ingin aku sampaikan, tersampaikan dengan baik kepada orang-orang.

“Menulis itu susah ga, sih?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab as simple as “ya” atau “tidak” karena relatif  (sungguh, aku ga suka dengan konsep kerelatifan karena membuatku bingung menjawab banyak pertanyaan.)

Menulis itu susah, karena aku perlu mengumpulkan tekad kuat sekuat besi untuk memulainya, lalu aku perlu self endurance untuk menyelesaikannya, dan harus konsisten biar tulisannya cepat selesai. Sementara sifat konsisten ini telah menjadi momok dalam diriku sejak lahir (ha!) Aku orangnya sangat tidak teratur, bahkan walaupun aku sudah membuat jadwal menulis yang setiap hari ditempel di depan laptopku, aku tetap tidak bisa konsisten.

Jadi, katakanlah salah satu perjuanganku dalam hidup adalah dengan memperjuangkan sifat konsisten.

Namun, di saat yang sama, menulis itu mudah. Since aku cinta sama kegiatan ini, aku punya passion dalam ranah ini, maka aku bisa melakukannya dengan ringan dan senang hati. Kadang orang-orang suka kebingungan memulai sebuah cerita, padahal kalau dipaksakan untuk mulai mengetik, semua akan mengalir dan mudah. Aku menulis tulisan ini juga sebenernya sempet stuck pas mulai. Tapi mulai dari paragraf kedua, semua yang kutulis seperti sudah di luar kepala hingga aku tidak perlu berpikir keras. Lagipula kalau tujuan menulis itu untuk menumpahkan isi hati dan pikiran, maka semua orang pasti berpikir menulis itu mudah semudah curhat atau diskusi dengan orang lain.

Pertanyaan kedua, “gimana caranya menulis?” Hmm… Ini juga pertanyaan yang susah sekali untuk dilontarkan di depan publik, karena jawabanku pasti, “Ya tulis aja!” which is tidak akan memuaskan para penanya, haha…

Tapi kalau dipaksa dijelaskan, pertama-tama,  kita harus tentukan dulu tulisan macam apa yang mau dibuat. Kalau tulisan macam tulisanku ini, ya tulis aja seenak hati. Tapi kalau mau menulis cerita fiksi atau nonfiksi, maka hal yang dibutuhkan adalah data dan diksi. Data dalam cerita membuat pembaca percaya dengan cerita kita, sementara diksi yang membuat cerita kita sedap. Data yang dimaksud misalnya kalau ceritanya berlokasi di kota Bandung, maka penulis harus tau hal-hal tentang Bandung; bahasanya, suasana kotanya, dan lain-lain. Sementara diksi bisa didapatkan dengan banyak-banyak baca buku.

Tapi, seriously, untuk langkah pertama, jangan khawatir dengan tetek bengek seperti itu. Kalau sudah banyak menghasilkan karya dan ingin menulis secara lebih advance, banyak kok, tips menulis di internet, contohnya di writepractice.com. Di sana ada artikel-artikel seperti, “The Complete Guide of Active vs. Passive Voice”,  “The Secret to Show, Dont Tell”, dan yang lebih menarik; “Want to get published? Write about Death.”

Untuk menghasilkan karya yang lebih baik, satu-satunya cara adalah— kukira semua penulis pasti sepakat– dengan banyak-banyak baca buku. Buku itu kayak pegangan kita dalam menulis. Dia yang jadi sumber inspirasi, sumber meraup diksi, dan tuntunan kalau mengalami writer’s block.

Selain itu, setiap tulisan itu pasti punya warna (gaya cerita) tersendiri. Karena aku belum jadi penulis profesional, jadi aku masih sering mengikuti ‘warna’ dari penulis lain yang aku kagumi. Lambat laun aku akan menemukan kekhasan tulisanku sendiri.

Nah, lanjut ke pertanyaan ketiga, “gimana ceritanya kamu jadi penulis?” Kisahku jadi penulis bukan cerita yang dramatis kayak tiba-tiba dapat ilham dari Tuhan buat nulis buku. Awalnya sederhana saja, sejak umur 5 tahun aku suka menggambar. Kemudian Mama memintaku untuk menuliskan cerita yang berkaitan dengan gambar tersebut. Lama-lama aku jadi terbiasa menulis, hingga akhirnya aku menemukan sebuah penerbit yang mau mewadahi anak-anak kecil untuk menerbitkan buku.

Buku pertama yang kuterbitkan berjudul Two Beautiful Princesses waktu umurku baru 8 tahun. Ceritanya terinspirasi dari buku The Little Mermaid-nya Disney. Beberapa bulan setelah kakak editor memberitahu kalau naskahnya lolos, penerbit Mizan mengirimkan 5 buah buku itu ke rumahku. Aku merasa sangat senang karena akhirnya bisa melihat bukuku sendiri terpajang di rak-rak buku di seluruh Indonesia.

Buku Two Beautiful Princesses kini berulang tahun ke 8, dan aku yakin sudah tidak ada lagi toko-toko buku. Namun, kemarin aku dapat paket dari penerbit Mizan. Isinya, 5 buah buku Two Beautiful Princesses yang didesain ulang dengan tulisan “Gold Edition, Best Seller” Wah, aku senang bukuku dicetak lagi. Bukunya bisa dibeli Gramedia, dll, tetapi, khusus untuk teman-teman yang mau beli sekaligus dengan tanda tanganku (asik), bisa mengunjungi toko buku online adikku (siapa tau sekalian mau beli buku lainnya, murah-murah lho): http://www.tokobukuanakbekas.wordpress.com

*lah, endingnya jadi promosi, haha… 😀

Processed with VSCO

Satu respons untuk “Menulis Itu Susah Atau Mudah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s