Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir

Jumat lalu, aku dan Mama mengikuti acara Bandung Merawat Ingatan, acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka memperingati 12 tahun kematian Munir. Acaranya bertempat di Cafe Kaka Jalan Tirtayasa 49 Bandung, yang rada susah dicari, baik oleh supir taksi yang mengantar kami dan Papaku yang menjemput dengan mobil.

Kami tiba di lokasi acara pada jam 5 sore dan menemukan halaman cafe tersebut sudah penuh dengan anak-anak muda berkaos hitam, rambut berantakan dan sedang asik menonton penampilan musik rock. Jujur saja, aku agak takut. Sama takutnya dengan ketika aku mengikuti pemutaran film Rayuan Pulau Palsu di tempat ngumpul kelompok Anarkonesia (anarki cuy!) Jiwaku yang interovert ini tidak akan pernah cocok bergaul dengan mereka. Tapi mereka ternyata orangnya baik-baik kok, tidak segarang aksesoris mereka, haha…

Pemutaran Film

Acara di mulai jam setengah 7. Film pertama berjudul Bunga Dibakar karya Ratrikala Bhre Aditya, sedangkan yang kedua berjudul Cerita Tentang Cak Munir yang digarap oleh Hariwi. Sebelum ini, aku sudah punya cukup gambaran tentang Munir dan kisah kematiannya dari film dokumenter yang dibuat oleh orang Australia. Sedangkan kedua film yang diputar malam itu lebih fokus membahas tentang kehidupan sehari-hari Munir sebagai seorang aktivis papan atas di Indonesia.

“Munir: Dibunuh Karena Benar”

Munir. Aku takjub mendengar begitu banyak pujian yang ia dapatkan selama bertahun-tahun setelah ia tiada. Sejak kecil, Munir adalah seorang yang sangat kritis dan berani, bahkan di hadapan temannya yang tubuhnya lebih besar darinya dan gurunya di sekolah. Kata kakak kandungnya, Munir suka berkata, “kalau ga bener, ya kasih tau, jangan diem.”

Dengan tubuhnya yang kurus dan nilai sekolahnya yang selalu jongkok, Munir selalu punya banyak teman untuk ngobrol tentang apa saja sepulang sekolah. Sosoknya sangat unik sehingga orang pasti ingat sama dia. Cara bicara dan cara dia memimpin organisasi di universitas pasti lekat dengan ingatan orang-orang terdekatnya.
munir_said_thalib
Sejak awal, Munir dikenal sebagai sosok yang agamis, bahkan pernah mengikuti islam radikal. Dosennya suatu hari pernah menegurnya, “Kamu ini masih muda sudah mikirin surga-neraka,” Kemudian, Munir baru menyadari, esensi Islam itu tidak sedangkal konsep surga-neraka. Perjuangan dalam Islam adalah memerangi kekufuran. Memerangi kekufuran artinya memerangi kemiskinan. Karena itu, Munir pernah berbicara di depan orang-orang kecil, Islam itu bukan tentang, ‘saya pasrah dengan Tuhan dengan kondisi kemiskinan saya’ lalu pulang, makan, tidur dan tidak melakukan apa-apa (aku jadi ingat novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari).

Background dan prinsip Islamnya yang keren itu membuat Munir selalu hidup sederhana, bahkan setelah ia populer dan sering muncul di televisi. Istrinya, Suciwati, adalah wanita bermental baja yang setia menemani Munir menghadapi berbagai teror dari pihak-pihak yang merasa dirugikan karena advokasi Munir. Rumah mereka pernah hampir di bom, dan kantornya, Kontras, juga pernah diobrak-abrik oleh pasukan TNI.

Munir adalah orang pertama yang berani tunjuk para pelaku dengan namanya secara langsung, tidak hanya dengan sebutan ‘oknum petinggi.’ Jadi pantas saja banyak yang membencinya. Sebelumnya, orang-orang selalu takut bicara tentang HAM, seperti para penyihir di Harry Potter yang takut bicara tentang Voldemort. Namun, berkat Munir, kini di mana-mana semua orang bebas dan berani koar-koar tentang HAM. Jadi kelihatan sekali, mengapa negara berani membunuh Munir, karena sosok ini memang tidak biasa dan tidak bisa diremehkan.

Selama ini, Munir dianggap membenci militer karena ia banyak mengkritik dan menyerang TNI. Namun, kata seorang pembicara di film dokumenter itu, Munir justru ingin TNI lebih profesional, baik dari sisi tidak ikut-ikutan politik dan jadi backing pemerintah, namun juga profesional dari sisi humanitas, yaitu penyejahteraan hidup para tentara bawahan. Gap kesejahteraan para komandan TNI dan para bawahan itu begitu lebar. Ketika para atasan punya rumah mewah dan mobil mahal, para tentara bawahan malah masih mengontrak rumah.

Namun, di balik imagenya di media yang pemberani dan tangguh, di rumah Munir tak jauh berbeda dengan ayah-ayah lain. Anaknya ada dua, dan dia kadang minta izin telat meeting di kantornya supaya bisa mengantar anak-anaknya ke sekolah. Sungguh, hatiku terluka ketika menyadari kedua anak tak bersalah itu kini berstatus anak yatim.

“Saya Suciwati, dan saya mencari pembunuh suami dan ayah anak-anak saya.”

Setelah Munir meninggal karena diracun di atas pesawat Garuda menuju Amsterdam, Pak SBY membentuk Tim Pencari Fakta atau TPF untuk mengusut kasus itu. Setelah satu orang dihukum karena dituduh terlibat, seluruh penyelidikan dihentikan. Padahal pembunuhan itu sangat sistematis dan pasti terdapat peran dari negara, BIN, PT. Angkasa Pura, Garuda, dan lain-lain. Seluruh institusi tersebut seharusnya diusut juga. Semakin lama kasus itu ditinggalkan, para pihak yang bersalah makin punya ruang untuk berkampanye menyebarkan keyakinan bahwa mereka bersih dalam kasus ini.

Kira-kira begitulah poin-poin menarik yang bisa kucatat dalam kedua film dokumenter itu. Secara visual dan editing, aku berpendapat film Cerita Tentang Cak Munir lebih appealing dan on point daripada Bunga Dibakar. Namun selebihnya, dua-duanya sama-sama keren dan mampu menyentuh hati para penonton. Karena ketika film sedang diputar, aku memerhatikan para penonton dan mereka semua terlihat khusyuk.
img20160909202720_1
*to be continued. Tulisan selanjutnya klik ini.

Satu respons untuk “Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir

  1. Duh, sayang saya lagi rantau jauh di Malang euy ga bisa ikut acaranya :”
    Btw kalau soal Munir, lagu Iwan Fals, Pulanglah juga cukup menyentuh loh. Apalagi di saat bagian adzan “Haiyya ‘alal falah” dikumandangkan. Rasanya bener-bener bermakna kalau disatukan dengan sosok Munir :’)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s