My Internship Experience #1

Selama sebulan aku mengikuti magang di tempat pembuatan film dokumenter bernama Watchdoc. Dalam sebulan itu, aku mendapatkan untaian pengalaman-pengalaman berharga yang sayang jika disimpan saja di memori. Maka, untuk menyimpan itu semua, aku menuliskannya  dengan bentuk jurnal di sini. Tantu aku tak bisa menceritakan semuanya dengan sangat detil, karena nanti malah jadi novel tersendiri 😀  Hope you enjoy my story

17-18 Oktober

Selesai mem-packing sejumlah pakaianku ke dalam koper, juga beberapa buku, laptop, dan alat mandi, aku menaiki mobil dan meluncur ke kantor Watchdoc di Bekasi. Setelah mengantre selama berbulan-bulan, pada pertengahan Oktober ini akhirnya aku mendapatkan kesempatan magang di sana. Bagaimana perasaanku? Excited, tapi sekaligus nervous. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun menjalani homeschooling, aku mencoba keluar dari zona nyaman dan mengeksplor ilmu di tempat yang asing.

Sebelum memutuskan untuk ikut program magang, aku sempat menonton film-film dokumenter buatan Watchdoc. Judulnya, Samin vs. Semen. Film itu bercerita tentang  petani di Kendeng yang berjuang melawan ekspansi lahan oleh perusahaan Semen. Hal pertama yang tercetus di pikiranku adalah, wah ternyata ada ya, orang-orang yang bikin film-film seperti ini. Aku juga terkesima dengan kualitas produksi film tersebut, termasuk soundtrack-nya yang ciamik (seketika aku menetapkan hati agar suatu hari bisa mengaransemen musik-musik seperti itu). Saat itulah, aku memutuskan ingin magang di Watchdoc.

watchdic

Beruntungnya, ternyata bos-nya Watchdoc, Dandhy Laksono, adalah teman Mamaku di Facebook. Setelah dapat email-nya, aku menuliskan surat penawaran diri untuk magang. Dan tak lama setelah itu, Om Dandhy membalas pesanku dengan positif, meski katanya aku harus sabar mengantre selama berbulan-bulan ke depan.

Perjalanan ke kantor Watchdoc  ternyata sedikit memusingkan, karena untuk mencapai lokasi kantor, aku harus melewati jalanan sempit yang tak terduga. Menariknya, ternyata kantor Watchdoc itu berbentuk rumah! Wah, bekerja di sini akan sama rasanya seperti aku belajar sehari-hari di rumah, pikirku.

Di sana, aku menemui Mbak Nita, administrator Watchdoc yang sebelumnya sudah kontak-kontakan denganku lewat Whatsapp. Mbak Nita bilang, hari itu aku boleh bolos magang buat mencari tempat kos. Maka di tengah terik matahari Bekasi siang itu, aku dan ortuku ke sana-kemari untuk menemukan kosan yang cocok buatku. Akhirnya dapet deh, kosan khusus cewek dan letaknya tak jauh dari kantor. Segera setelah makan siang di kantin tepat di depan kosan, ortuku dan adikku pulang.

Sejak lama, aku selalu penasaran apa rasanya ngekos sendirian seperti anak kuliahan. Akhirnya saat itu aku dapat merasakan sensasinya… seperti mengikuti Survival Game di hutan di mana aku harus bisa hidup tanpa ditemani siapapun (haha… bercanda!) Lingkungan di sini aman, dan yang paling penting, banyak tempat makannya! Ada cafe, warung sate, mie Aceh, restoran pizza (baru buka, jadi diskon 50%), dan lainnya.

Esok harinya, hari pertama aku masuk kantor, aku bertemu dengan Mas Ari yang berposisi sebagai produser. Kami berbicara tentang rencanaku selama sebulan ke depan. Aku bilang, aku ingin fokus mendalami pembuatan naskah. Tapi kata Mas Ari, untuk membuat naskah, aku juga harus tahu dasar-dasar elemen film dokumenter lain, yaitu fotografi, videografi, dan editing. Pembuatan film dokumenter itu seperti “lingkaran setan”; semuanya berhubungan satu sama lain. Kita ga bisa hanya menguasai satu ranah saja. Maka, kata Mas Ari, aku juga bakal diajari teknik fotografi, editing, dan lainnya. Mendengar itu, aku merasa antusias sekali. Siapa coba yang ga seneng diajarin hal-hal keren seperti itu secara cuma-cuma? 🙂

Kemudian, Mas Ari melanjutkan, aku harus membuat film sendiri sebagai tugas akhir magang. Semua yang magang di Watchdoc juga melakukan hal yang sama. Dulu ada yang bikin film dokumenter tentang patung pancoran, ada juga tentang angkot. Jadi mulai sekarang aku harus berpikir film apa yang ingin kubuat. Melihat waktu magangku yang sangat singkat, maka aku disarankan mengangkat tema sesederhana mungkin; yang tak perlu shooting di tempat yang jauh-jauh.

Mas Ari lalu mengenalkanku dengan Kak Randi (atau bisa dipanggil Koko juga). Kerjanya adalah reporter dan penulis naskah. Kak Randi mengajakku keliling kantor untuk berkenalan dengan kakak-kakak lainnya yang kerja. Di sebuah ruangan, ada jajaran macbook yang beberapa diantaranya sedang dipakai untuk editing film. Di salah satu sudut ruangan terdapat lemari besar yang berisi jajaran hardisk berwarna hitam berisi arsip film-film raw Watchdoc. Kata Mas Ari, pengarsipan seperti itu sebenarnya tidak profesional, seharusnya agar lebih aman dimasukkan ke software komputer yang canggih. Di sudut ruangan lainnya ada perekam suara yang sering kulihat di studio para penyanyi. Perekam itu ditujukan untuk voice-over narasi film.

Setelah itu, aku diberi empat buku tebal berisi kumpulan naskah film buatan Watchdoc dalam seri “Memoar” dan “Bab yang Hilang”. Aku diminta memilih satu judul naskah untuk kemudian dibahas dan didiskusikan oleh Kak Randi. Dari sekian banyak judul, mataku langsung terpaku ke film tentang Pramoedya Ananta Toer. Aku pun masuk ke ruangan editing dan menonton film tersebut sambil membaca naskahnya.

img20161018111058
catatan menarik di naskah film Pram

Naskah film itu ternyata berbentuk bagan yang dibagi dua. Bagan sebelah kiri untuk menunjukkan visual, sebelah kanan untuk audio. Makanya kita menyebutnya “naskah audio-visual”.

Kak Randi menjelaskan perbedaan antara naskah tulisan cetak (seperti koran atau buku) dan naskah audio-visual. Di dalam naskah audio-visual, tulisan yang kita ciptakan melengkapi atau mendukung gambar yang sudah ada, maka kita harus selalu memakai kalimat aktif. Selain itu, kalimat juga harus efektif; sesingkat-singkatnya. Kenapa? Karena naskah itu akan dibaca oleh pengisi suara. Bayangkan kalau kita bikin kalimat super panjang, si pengisi suara pasti kehabisan napas. Terus, kalimat yang bertele-tele juga pasti bikin pendengar lelah dan akhirnya tak mengerti.

Saat itu, aku sempat bertemu dengan sutradara film Rayuan Pulau Palsu, namanya Mas Rudy. Film tersebut ternyata film pertama yang disutradarai olehnya, karena pekerjaan aslinya adalah kameramen. That is so awesome! Aku dikelilingi oleh orang-orang hebat, dan itu rasanya seperti berada di lingkungan eksklusif 😀

To be continued.

4 respons untuk ‘My Internship Experience #1

  1. assalamualaikum warahmatuwllahi wabarakatu . postinganya sangat mencerahkan kak kirana.sayya ingin bertanya dimanakah alamat watchdog image tersebut ? saya sangat membutuhkan untuk program magang saya adakah contact person yang bisa saya hubungi

    Suka

  2. Sukses selalu untuk mbak Kirana, berawal dari pengen tau judul instrumen yang ada di Watchdoc lalu mengantarkan saya sampai sini. Membaca tulisan mbak Kirana bikin saya mengenal lebih dekat kru kru Watchdoc. Semoga suatu saat nanti saya diberi kesempatan magang disana juga..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s