Surat untuk Pak Presiden, tentang Kendeng

Assalamualaikum.

Halo Bapak Jokowi yang aku hormati, apa kabar? Semoga Bapak selalu sehat dan kuat, supaya bisa mengurus negara ini sebaik-baiknya.

Perkenalkan, namaku Kirana. Dalam 8 bulan ke depan, aku akan mendapat KTP untuk pertama kalinya dan di pemilu 2019 aku sudah bisa memilih calon presiden mana yang akan kucoblos. Sejak kecil, aku suka menulis novel berisi dongeng-dongeng mengenai putri duyung dan kerajaan. Namun seiring aku beranjak dewasa, ketika pikiranku semakin luas dan terbuka, aku lebih suka menulis mengenai masalah-masalah sosial di Indonesia.

Bulan Januari lalu, aku mengunjungi Pegunungan Kendeng di Rembang.  Katanya, ada pabrik semen yang melakukan panambangan di sana sehingga mengancam sumber air yang mengairi sawah-sawah para petani. Aku ingin tahu, langsung dengan mataku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Sepanjang jalan menuju Kendeng, pada awalnya yang kulihat adalah sawah dan perkebunan jagung yang membentang luas tak terbatas. Batu-batu gunung terlihat begitu kokoh dan menawan. Seluruh permukaan pegunungan Kendeng utara kulihat hijau tertutupi pepohonan yang meneduhkan.

Aku dengan ditemani mas Dulah, seorang petani jagung, naik motor sampai mendekati lokasi pembangunan pabrik semen yang berada di puncak gunung. Sampai di sana, kulihat pemandangan yang menyesakkan dada, baik oleh haru maupun oleh debu. Melewati bentangan kawasan penambangan, wajahku tertikam debu-debu yang disemburkan oleh roda truk-truk tambang yang melaju setiap saat.

Mas Dulah bilang, ketika musim kemarau tiba, daun-daun jagung berubah menjadi putih seutuhnya karena tertutupi debu-debu tambang. Para petani pun terancam kesehatannya.

Aku juga diantar mendatangi sebuah mata air bernama Brubulan. Letaknya di Desa Tahunan, Kecamatan Sale. Air mata ini mengairi ribuan hektar sawah dari Desa Tahunan sampai Kecamatan Jatirogo, Tuban. Aku juga sempat melihat kakek-kakek yang memandikan sapi mereka di kolam mata air tersebut. Kata Mas Dulah, sebelum pabrik semen datang, mata air Brubulan mengeluarkan air yang begitu berlimpah sampai tumpah ruah dari kolamnya. Namun sekarang, seperti yang kulihat saat itu, debit airnya mulai berkurang, kolamnya tak lagi utuh. Sawah-sawah pun akan mati kehausan jika terus dibiarkan seperti itu.

2017-04-07
sumber air Brubulan

Aku bisa bayangkan, bila pabrik semen mulai beroperasi, tanah pertanian yang subur itu akan menjadi bangkai ekologis yang tandus, berdebu, dan tak bernyawa.

Pak Jokowi yang baik, aku sedih sekali melihat perusakan seperti ini. Sejak dulu, nenek moyang kita melihat alam Indonesia seperti sosok seorang ibu–maka muncullah nama-nama seperti Dewi Sri dan Dewi Bumi. Seperti seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya, Ibu Bumi melahirkan air dan tumbuh-tumbuhan. Melalui kasih sayang Ibu Bumi, bangsa Indonesia dapat hidup sejahtera.

Bukankah mengerikan bagaimana manusia-manusia memperlakukan Ibu Bumi seperti perempuan jalang yang hanya untuk dijual-beli, dihinakan, dieksplotasi, lalu dicampakkan ketika sudah tak bisa digunakan?

Demi mempertahankan alam Kendeng, ibu-ibu petani pun sudah melawan dengan sehormat-hormatnya. Aku mampir ke rumah Yu Sukinah, salah satu dari ibu petani yang berjuang. Beliau menceritakan, ibu-ibu petani sudah membangun tenda perjuangan di mulut tapal penambangan semen sejak Juni 2014, lalu mengadu di pengadilan, berdemo di kantor gubernur Jawa Tengah, hingga berkali-kali berdemo di depan Istana Negara.

WhatsApp Image 2017-04-07 at 16.44.46 (1)
aku di depan tenda perjuangan

Pak Jokowi yang aku sayangi, Bapak pasti mengetahui kedatangan mereka ke depan tempat tinggal Bapak. Aku sedih, mengapa berat bagi Bapak untuk menemui mereka? Padahal kan dekat sekali, tinggal jalan kaki. Mereka sudah meniti perjalanan panjang ke Jakarta demi menemui Bapak di Istana. Mereka sampai mencor kaki berhari-hari sampai ada seorang petani yang meninggal dunia. Keinginan mereka hanya satu: agar Pak Jokowi mau berpihak kepada mereka.

Aku pernah membaca pidato Presiden pertama kita Bung Karno pada tahun 1952. Dia bilang, pangan adalah hidup mati bangsa. Kalau pangan tidak ada, percuma kita membangun apapun, kita hanya akan bergantung pada negara luar. Bukankah artinya kita harus melindungi lahan-lahan sawah sebagai sumber pangan, dan juga mata airnya? Bukankah kita seharusnya melindungi orang-orang yang menumbuhkan sumber pangan tersebut, yaitu para petani?

WhatsApp Image 2017-04-07 at 16.44.46
rumah Yu Sukinah

Aku yakin, petani itu bukan pekerjaan orang bodoh seperti yang dianggap banyak orang. Sebabnya, aku dan ibuku juga pernah berusaha menanam sayuran di halaman rumah kami, tapi akhirnya terbengkalai begitu saja karena kami tak punya passion untuk mengurusnya. Pekerjaan petani butuh bakat dan kerja keras yang tinggi. Sayangnya, akhir-akhir ini, setiap tahun ada 500.000 petani berhenti bertani lalu berganti pekerjaan (data BPS). Sungguh ironis.

Waktu aku berkunjung ke Kendeng, aku bertemu dengan banyak aktivis dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka semua menghadapi masalah yang mirip di daerah masing-masing yaitu pertanian dan alam yang terancam oleh kehadiran korporasi. Misalnya, seorang aktivis dari Kalimantan bercerita soal kota mati, di mana setelah sebuah kawasan ditambang kekayaan buminya, lalu dibiarkan begitu saja tanpa kehidupan karena sudah rusak total. Inilah bentuk pemerkosaan pada Ibu Bumi.

Bapak Jokowi yang kusayangi, aku percaya, satu-satunya langkah untuk melawan semua ini adalah dengan tidak lagi berpihak kepada perusahaan yang mematikan sawah para petani.

Akub bisa bayangkan, tekanan yang Bapak alami sangat berat. Tidak mudah menghadapi korporasi dan pemodal besar. Bapak mungkin akan diancam akan dimakzulkan atau dibunuh. Aku pernah baca kisah-kisahnya di buku John Perkins. Pekerjaan sebagai presiden memang pekerjaan berat, makanya aku tidak mau jadi presiden, hehe…

Tapi bagaimanapun, kita hanya punya dua pilihan: melanjutkan jalan lama yang terbukti salah dan merugikan, atau berani melawan. Kalau Pak Jokowi bisa melakukan itu, Bapak pasti dikenang sebagai presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia.

Selagi Bapak berjuang melalui kebijakan-kebijakan Bapak, para petani lewat orasi-orasi mereka, aku di sini lewat tulisan-tulisanku, aku berharap seluruh orang Indonesia mau ikut berjuang lewat pekerjaan dan kemampuan mereka masing-masing untuk mempertahankan alam Kendeng dan seluruh alam Indonesia. Aku harap semua orang menyadari betapa rahim Kendeng terancam tak dapat melahirkan lagi: melahirkan air, tanaman, dan kehidupan.

Mari kita resapi senandung ibu-ibu petani di depan Istana Negara; “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. Ibu bumi sudah memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi akan mengadili.”

Demikian suratku Pak Jokowi. Semoga Bapak berkenan membalasnya.

Salam,

Kirana.

Iklan

3 respons untuk ‘Surat untuk Pak Presiden, tentang Kendeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s