Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan

Awal pekan lalu, aku diundang oleh Tante Sundari Mardjuki (penulis novel Genduk, keren lho!) untuk menghadiri media gathering dalam acara promosi lagu kolaborasi Raisa dan Isyana. Saat aku dapat kabar itu dari Mama, tentu saja, seperti sewajarnya, aku melontarkan ungkapan kebahagiaan; Alhamdulillah! Selama ini kedua penyanyi ini hanya bisa kulihat lewat layar hape, komputer, dan spanduk-spanduk yang berkibaran di pinggir jalan raya Bandung. Suara mereka pun hanya bisa kudengar lewat speaker hape, komputer, dan cafe-cafe. Aku sendiri tidak pernah mendambakan untuk dapat bertemu langsung dengan mereka, tapi ketika datang kesempatan seperti ini, kenapa tidak?

Maka pada siang hari aku dan Mama berangkat ke hotel Crowne Plaza di Jalan Lembong, karena sesuai yang tertera di poster undangan, acara dimulai jam tiga di hotel tersebut. Setibanya di sana, ternyata para tamu media belum datang. Baru sekitar jam 4, orang-orang berkumpul di ruang hotel yang setengah terbuka. Aku cepat-cepat duduk di kursi paling depan. Di sana aku berkenalan dengan salah satu wartawan dari Kompas. Dia bertanya padaku dari media apa, dan kujawab saja blogger. Selain itu, ada juga wartawan Sindo, Republika, majalah Glam, dan lain sebagainya.

Pembawa acara kemudian membuka acara dengan menceritakan single kolabarasi Raisa dan Isyana berjudul Anganku, Anganmu. Kolaborasi ini menjadi kejutan yang menghebohkan bagi banyak orang, karena Raisa dan Isyana sekarang ini adalah dua penyanyi perempuan top di Indonesia yang memiliki basis penggemar yang kuat.

Tak lama kemudian, masuklah Raisa dan Isyana ke ruangan dengan baju hitam-hitam. Para tamu undangan langsung heboh, telepon genggam diangkat bersamaan untuk memotret. Cahaya-cahaya flash kamera serentak menusuk-nusuk keduanya yang berpose di depan sambil memegang CD Anganku Anganmu. Di kursi paling depan, aku hanya bisa melongo—tak percaya bisa melihat kakak-kakak cantik ini dari jarak sangat dekat.

Sembari duduk, dimulailah sesi interview. Aku tidak menyangka, Raisa dan Isyana berbicara dengan santai, bersahaja, dan ternyata bisa melucu. Karena sebelumnya aku berpikir para artis dengan kepopuleran setinggi mereka cenderung bersikap jaim. Maka sejak awal mereka bicara, aku tahu interview ini akan terdengar menarik.

Raisa dan Isyana mulai menceritakan proses munculnya ide kolaborasi ini. Awalnya, mereka berdua mengaku merasa miris melihat fans mereka yang saling menyerang satu sama lain di media sosial. Kedua belah fans yang kebanyakan anak-anak di bawah umur sibuk mendukung idolanya masing-masing sembari menjatuhkan yang lainnya. Tak jarang juga, orang-orang menganggap Raisa dan Isyana bermusuhan karena terlibat dalam persaingan yang keras. Padahal, hubungan mereka baik-baik saja, dari dulu sampai sekarang.

Melihat banyaknya permusuhan antar fans dan kesalahpahaman tentang mereka, akhirnya mereka bertemu dan muncullah ide berkolaborasi. Keduanya kemudian membuat lagu bersama-sama yang diberi judul Anganku Anganmu. Liriknya sarat akan ajakan untuk bersatu—tidak menyiakan-nyiakan waktu untuk membenci, dan bahwa semua orang punya ruang masing-masing untuk melukis mimpi tanpa harus menjatuhkan yang lainnya.

Esensi lagu ini menurutku begitu terasa di masa sekarang, ketika negara ini tengah rawan terpantik api kebencian antar umat beragama. Kita boleh saja memegang teguh keyakinan kita, tapi kita juga harus memberikan orang lain hak untuk menjalani keyakinan mereka sendiri. Dan seperti yang tertera di lirik lagu itu; “Setiap katamu cerminan hatimu, jadikan berarti…”

Membaca daftar credit di cover CD lagu ini yang dibagikan ke para tamu, aku terkagum betapa banyak orang yang berpartisipasi dalam produksi lagu Anganku Anganmu. String section-nya dikerjakan oleh violinist kece Alvin Witarsa, mixing oleh produser Swedia Olof Lindskog, dan ­mastering di Amerika. Lagunya sendiri sudah lama aku dengar lewat youtube, dan aku langsung suka dengan aransemen, segala pilihan instrumen yang dimasukkan, vokal mereka; terutama di setiap refrain dan high notes di sekitar menit 03.20 (their vocals are truly on fire). Bagian perkusinya benar-benar mengingatkanku dengan lagu-lagu di album Handmade Raisa, dan string section-nya menurutku bergaya Isyana. Secara umum, aku bisa bilang lagu ini berkualitas tinggi; dari musikalitas dan kedalaman liriknya.

Pembicaraan kemudian beralih ke cerita bagaimana Raisa dan Isyana berkenalan. Seperti yang diketahui orang, Raisa lebih awal terjun ke dunia musik Indonesia, sedangkan Isyana baru meraih popularitas sejak beberapa tahun terakhir saja. Di awal-awal Isyana meniti karir dan menarik perhatian publik sebagai penyanyi pendatang baru, banyak orang di media sosial yang menghujatnya karena dibilang mencoba ‘meniru Raisa’ atau ‘menyaingi Raisa.’ Semua tuduhan tak berdasar itu lantas membuat Raisa merasa khawatir. Maka, suatu malam, saat Isyana sedang asyik main PS di rumahnya, Raisa mengirim chat berisi dukungan yang luar biasa kepada Isyana agar tidak mendengarkan hujatan-hujatan netizen itu.

“Aku seneng banget di-chat sama Raisa!” ujar Isyana sambil menghentak-hentakkan kakinya, serentak mengundang tawa penonton.

“Di-capture ga chat-nya?” tanya MC.

“Iya dong, di-capture! Terus dikirimin ke Whatsapp keluarga!”

Tak berapa lama, interview ini berakhir. Jam 7 malam, keduanya menggelar penampilan di ruang makan hotel. Puluhan orang datang menonton, dari para fans remaja berbaju seragam sampai para petugas hotel. Aku sendiri berdiri di belakang para penonton, menikmati secara langsung suara mereka yang merdu. Sungguh, momen emas ini tak akan bisa kulupakan sampai kapanpun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s