Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

Beberapa minggu yang lalu, pemimpin redaksi KabarKampus.com, Om Furqan, menawarkan agar filmku yang berjudul “Menjadi Pandu Ibuku” tentang petani Kendeng di-screening di Kafe Kaka, Bandung dan didiskusikan dengan pelajar-pelajar SMA yang tergabung dalam Future Club. Aku jadi nervous, karena aku tahu filmku ini kalah lomba tingkat SMA dan rasanya ga layak ditonton orang banyak. Tapi, atas dorongan Mama, aku pun menyiapkan diri.

Hari Jumat lalu (29/9), pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat acara, aku ngebut selesain editing film yang masih banyak kekurangan itu. Tukang bangunan mondar-mandir ngecat rumah, mama-papa bolak-balik belanja keperluan, Reza tidur karena sakit, jadi aku sendirian di ruang tamu ngutak-ngatik laptop di atas karpet, berharap film-nya turn out good dan neat. Fiuh, lumayan bikin stres, padahal jam 1 siang aku harus sudah berangkat.

Aku dan mama berangkat pakai kereta. Sesampainya di Kafe Kaka, ternyata beberapa ortu Homeschooling teman Mama sudah datang, dan beberapa teman-teman HS.

Acara dimulai jam 5 (harusnya jam 4, biasa deh, ngaret), dengan dibuka oleh Om Furqan. Kemudian ada tiga pelajar maju ke depan membacakan puisi Rendra, lalu ada penampilan musik. Maka setelah azan maghrib berkumandang, filmku pun ditayangkan. Aku takut dan malu setengah mati, karena aku tahu kualitas filmku itu bagaimanapun juga ga bagus. Selama ditayangkan, aku bertanya-tanya apa di pikiran penonton? Apa mereka gemas karena kualitas audionya jelek? Atau mengkritisi editingnya yang berantakan? Atau gambarnya yang goyang-goyang terus dari awal sampe akhir? Atau bingung liat beberapa scene yang gelap setengah mati, atau pecah setengah mati? Atau merasa ‘eww’ mendengar narasiku yang intonasinya aneh?

Setelah film selesai, orang-orang bertepuk tangan, lalu aku langsung maju ke depan memainkan lagu Ibu Pertiwi dengan biola. Jujur saja, aku ga se-nervous biasanya. Meski aku salah di awal-awal, tapi sensasinya beda aja dengan penampilan-penampilanku sebelumnya. Mungkin saat itu aku merasa suasananya lebih intimate, cahayanya lebih redup, penonton sedikit. Biola itu memang alat musik yang menakjubkan karena mampu menghasilkan suara yang menyentuh. Tapi, suara itu hanya bisa dikeluarkan kalau ada jiwanya. Masalahnya, ketika aku naik panggung, jiwa itu seringkali hilang (sama sekali).

WhatsApp Image 2017-10-05 at 20.14.37

Setelah itu, aku diajak Om Furqan maju ke depan bersama Manager Humas dan Sekretariat WALHI Jabar, Om Meiky. Aku ingat waktu magang di Watchdoc, aku diajak syuting ke kantor WALHI di Jakarta. Mereka mau bikin video kampanye tumbuhan langka (yang aku lupa namnya) untuk ditampilkan di acara PBB.

Om Furqan lalu memintaku bercerita tentang pangalamanku syuting film. Aku ceritakanlah bagaimana pertama kali aku diajak Mama ikut demo para petani Kendeng di depan Istana Presiden. Di sana ngobrol sama Yu Sukinah tentang arti hidup menurut masyarakat Kendeng. Setelah pertemuan itu, aku nonton film dokumenter buatan Watchdoc tentang Kendeng, judulnya Samin vs. Semen. Filmnya sangat menarik. Untuk pertamakalinya,  aku menemukan film yang ‘mentereng’ secara visual tapi juga tinggi secara konten. Mama lalu menawarkan, bagaimana bila aku pun magang di Watchdoc? Aku setuju banget. Akhirnya, selama sebulan (mid-Oktober sampai November 2016) aku magang di sana, belajar banyak hal tentang film dokumenter, belajar fotografi/videografi, cara menulis script, dll.

Lalu, aku pun memutuskan ingin mencoba membuat sendiri film dokumenter tentang petani Kendeng. Pada bulan Januari 2017 aku, Mama, dan Reza melakukan perjalanan ke Semarang dan Rembang. Di sana aku mengambil cukup banyak rekaman video. Lalu lamaaa.. kubiarkan begitu saja. Menjelang deadline lomba, baru aku ngebut. Aku belajar mengedit film dari Papa dan adikku Reza. Sayang mereka cuma ngerti software editing jadul bernama Ulead. Akibatnya, prosesnya terasa sulit.  Selain editing, aku juga bikin aransemen musik sendiri untuk backsoundnya. Untuk narasi, aku minjem alat recording dari guru aransemenku. Aku juga order soundtrack film dari guruku itu, om Zamzam, yaitu lagu Ibu Pertiwi remix. Pokoknya prosesnya bikin geger, sampe ortuku juga kena ‘riweuh’-nya.

Film pun jadi, lalu aku kirim ke panitia lomba. Dan ternyata kalah. Aku sakit hati. Dan tiba-tiba, tanpa diduga, hari ini di-screening dan ditonton oleh aktivis, seniman, pelajar, ortu murid. Aneh banget kan? Sungguh rencana Tuhan itu ga bisa diduga.

Selanjutnya, Om Meiky menceritakan tentang berbagai penambangan yang terjadi di daerah Jawa Barat. Sementara filmku menceritakan penambangan yang ada nun jauh di sana, padahal sebenarnya di daerah sekitarku juga sudah  ada penambangan yang merugikan, beberapa diantaranya di Pangandaran dan Sukabumi.

Sejujurnya, baru pertamakali aku mendengar hal itu. Selama ini aku taunya penambangan di Jateng, Kalimantan, Papua, dan Amerika (karena habis baca bukunya John Grisham, “The Gray Mountain”). Tuh kan, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Waktu sesi tanya-jawab, ada pelajar yang nanya ke aku, kenapa memfilmkan Kendeng, bukan yang deket-deket saja? Jawabku, selain karena Kendeng adalah isu penambangan yang paling pertama aku dengar, banyak aktivis yang sepakat bahwa Kendeng itu adalah ikon perjuangan melawan penambangan di seluruh Indonesia. Jika kita bisa menghentikan penambangan semen di Kendeng,  kita pun bisa memperjuangkan perlawanan terhadap perusakan alam di daerah lainnya.

Seorang peserta diskusi juga bertanya padaku bagaimana menumbuhkan sifat kritis untuk anak-anak muda. Aku bilang, sifat kekritisan itu aku dapatkan berkat orangtuaku yang memang sejak kecil selalu memberiku buku untuk dibaca, sehingga aku jadi terbiasa membaca buku hingga saat ini. Aku sendiri merasakan, betapa buku itu memang bisa mengasah kekritisan seseorang. Apalagi buku-buku semacam tetralogi Pramoedya, itu benar-benar bisa membuat jiwa perlawananku berkobar-kobar.

Selain itu, menulis, menulis, menulis. Aku punya diary khusus di laptop, isinya berbagai macam pengalaman menarik yang aku temui sehari-hari, ide-ide menggugah yang kudapatkan di buku, dari orang, dari diriku sendiri, dan masalah-masalah sosial yang kulihat di mana-mana. Sebagian kecil dari tulisanku itu kuunggah di blog ini.

Misalnya, ketika aku jalan ke tempat les musik, aku melihat ada penggusuran di sebelah kiri jalan, aku tulis itu. Atau aku juga pernah nulis tentang Rohingya, di mana ada orang yang bilang Rohingya layak diusir karena mereka bersikap kurang ajar (misalkan dengan bilang Indonesia “negara miskin”). Aku diskusikan hal itu ke Papa, lalu kutulis di diary-ku. Nah, makanya kenapa diary-ku ada di laptop, karena tulisanku panjang-panjang. Bisa-bisa tanganku encok kalau nulis di buku.

Di akhir acara, aku dan Om Meiky diminta memberikan kata-kata penutup. Di momen itu aku menyampaikan kekhawatiranku kepada banyak anak muda Indonesia yang cenderung ga pedulian sama masalah sekitar. Entah mungkin karena terlalu fokus sama sosmed, sekolah, atau pacar, jadi terabaikanlah hal-hal di sekitar yang sebenarnya masalah besar. Termasuk tentang lingkungan.

Seperti yang disebutkan di filmku, manusia dan alam itu ada dalam satu ekosistem. Jika yang satu mati, mati juga yang lainnya. Dari mana kita tahu itu? Coba kita liat, kita semua pasti makan nasi sebagai makanan pokok. Nasi dari mana? Padi. Padi dari mana? Sawah. Sekarang kita lihat ada banyak penambangan yang mengorbankan sawah-sawah para petani, lah nanti kita makan apa? Aku mendengar banyak orang bilang, ya ga papa bikin penambangan, kan jadi sumber ekonomi yang besar bagi negara kita. Negara bisa punya banyak duit. Lah, kalau sawahnya habis, memangnya kita bisa makan uang?

Begitulah acara berakhir. Aku sempat berfoto bersama para peserta, lalu duduk ngobrol sama Om Furqan dan Mama sambil menunggu Papaku menjemput. Bandung sedang hujan lebat malam itu.

Selepas acara, tak ada yang bisa kurasakan selain rasa syukur karena lega. Aku merasa beruntung dengan kesempatan yang diberikan kepadaku. Terimakasih ya, Om Furqan dan teman-teman Future Club! 🙂

 WhatsApp Image 2017-10-05 at 20.14.36

4 respons untuk ‘Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

  1. Luar biasa Kirana salut dengan cara berpikirnya Kirana saya kira mahasiswa seharusnya malu dengan Kirana karena Kirana yang masih pelajar sudah punya keterampilan untuk berpikir kritis sedangkan mahasiswa rata rata hedon (ini berdasarkan apa yang saya lihat di kampus saya sehari hari) oh ya kalau berkenan kunjungi blog saya ya akhmadidybala26.blogspot.com heheheh 😀 salam kritis 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s