Food For Thought #1: Neuro-Semantics

Tulisan di blog ini memang ngalor-ngidul. Aku ingat tulisan pertamaku betopik psikologi remaja. Lalu tiba-tiba loncat ke matematika, seni, sains, jurnalisme, politik, jurnal jalan-jalan, review buku,  filsafat, dan musik. Dan sekarang, aku menulis satu topik yang baru lagi: Neuro-Semantics. Jadi, tanggal 7 April lalu, aku ikut acara pelatihan Neuro-Semantics++ (plus plus). Instruktur (coach)-nya bernama Prasetya M. Brata. Semuanya materinya deep dan memprovokasi pikiran. Saking banyaknya yang kupelajari selama dua hari pelatihan, aku sampai kepayahan untuk menuangkannya ke dalam tulisan ini secara sistematis. Karena itu, aku akan membuat tulisan berseri tentang topik ini, yaitu Seri Food For Thought.

Jujur saja, memahami ilmu Neuro-Semantics itu betul-betul mengubah cara pikirku terhadap segala masalah di kehidupanku sehari-hari. Hidup itu terasa lebih ringan. Tapi, tentu saja tidak semua materi sudah bisa kuinternalisasi, karena semuanya butuh latihan. Jadi, aku harap tulisan ini selain membantu para pembaca sekalian, dapat juga menjadi pengingat buatku agar memaksimalkan pengaplikasian ilmu-ilmu ini dalam hidupku sendiri.

Neuro Semantics, dari yang aku tangkap, sederhananya adalah ilmu tentang makna-makna yang berpengaruh kepada perasaan, perilaku, dan pada akhirnya outcome dari kehidupan kita. Hal ini memberikan perspektif yang mencerahkan bagiku—bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita berawal dari arti atau makna yang kita pilih sejak awal.

Kita sebagai manusia, diberi Tuhan kemampuan untuk memberi “makna atas makna” kepada segala sesuatu. Misalnya, aku memaknai aktivitas minum air putih sebagai cara untuk menghilangkan haus. Apa maknanya menghilangkan haus? Supaya nyaman. Apa maknanya nyaman? Supaya bahagia. Apa maknanya bahagia? Supaya bersyukur. Apa maknanya bersyukur? Sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Jadi, aktivitas sesederhana minum air putih bisa aku maknai sebagai ibadah dan penghambaan kepada Allah. Pada akhirnya, berbagai peristiwa dan aktivitas kita sehari-hari pun bisa mencapai keluhuran tertentu. Keren kan?

Kemampuan memberi makna atas makna ini tidak dimiliki oleh binatang. Kucing, ketika melihat tikus, hanya ia maknai sebagai mangsa yang enak dimakan. Jika harimau jantan melihat harimau betina, yang ia pikirkan hanyalah tentang reproduksi. Banteng memaknai lambaian kain (merah) sebagai ancaman. Beda kan sama manusia? Warna merah, bagi manusia, bisa berarti pedas (cabe), keberuntungan (di budaya Cina), kemarahan, warna partai, lipstik, darah, dll—sesuai sama pengalamannya atau budayanya sendiri.

Nah, apa sih pentingnya pemaknaan atas segala sesuatu itu? Karena, makna menentukan emosi dan reaksi kita terhadap masalah-masalah dalam hidup, lalu mempengaruhi keputusan-keputusan kita, tindakan, lalu pada akhirnya menentukan keadaan/nasib kita dalam hidup ini.

Semua masalah dalam hidup kita bisa diartikan berbeda-beda. Jika seseorang mengatakan “anjing!” kepada kita, itu bisa bermakna sebagai penghinaan, kemarahan, atau malah ekspresi persahabatan. Karena itu, kita bisa memilih apakah ingin merasakan takut, jengkel, atau justru bahagia ketika seseorang bilang “anjing!”.

Om Pras memberikan contoh yang menarik. Di suatu pagi yang cerah, seorang laki-laki A keluar dari rumahnya, dan tiba-tiba menemukan sekarung kotoran sapi di teras. Ternyata, karung itu dikirim oleh temannya bernama Edo. Maka marahlah laki-laki itu; “Kurang ajar si Edo, menaruh kotoran sapi di depan rumahku! Pasti ini gara-gara dia iri saya baru beli motor baru!” Laki-laki itu langsung  memaknai “kotoran sapi” sebagai “hinaan”, dan dia pun merasa jengkel sepanjang hari.

Tapi, di tempat lain, ada seorang laki-laki B yang mengalami peristiwa serupa—ada sekarung kotoran sapi tergeletak di depan rumahnya. Tapi, bedanya, dia malah memaknai “kotoran sapi” itu sebagai “hadiah”, karena kotoran sapi bisa dijadikan pupuk untuk tanaman di halamannya. Maka dia pun berterima kasih kepada si pengirim kotoran sapi dan merasa bahagia sepanjang hari.

Nah loh, kelihatan kan, betapa signifakannya perbedaan pemilihan makna atas emosi dan respon seseorang.

Ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah, kita harus pikirkan “apakah aku ada dalam posisi korban?” Laki-laki A menempatkan dirinya dalam posisi korban, karena ia merasa dihina oleh si pengirim kotoran sapi. Sedangkan laki-laki B tidak menempatkan diri dalam posisi korban, karena ia merasa kotoran sapi itu adalah hadiah, dan maka ia merasa dihargai, bukan malah diinjak oleh orang lain.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang memilih berada “di atas permainan”—bukan menjadi “korban” yang tak berdaya. Ketika seseorang bangkrut, dia tidak merasa gagal dan kalah (menjadi korban), tapi dia bangga karena akhirnya mendapat pelajaran berharga untuk bisnisnya di masa depan. Ketika dia dihadapi cobaan, dia tidak menyalahkan Tuhan (menjadi korban), tapi malah bahagia karena kesabarannya akan dibayar di akhirat. Ketika dia dimarahi oleh guru, dia tidak bersedih dan meratapi nasib, karena kemarahan guru itu justru berguna baginya sebagai introspeksi diri.

Berdasarkan kitab suci al-Quran, Tuhan mengutus manusia ke bumi sebagai khalifah atau pemimpin. Kita diciptakan untuk memimpin—setidaknya untuk memimpin diri sendiri. Kita punya kemampuan memimpin apa-apa yang ingin kita maknai, rasakan, respon. Setir itu dikuasai oleh diri kita, bukan orang lain, bukan lingkungan luar.

Klik tulisan selanjutnya di sini.

2 respons untuk ‘Food For Thought #1: Neuro-Semantics

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s