Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas

Di tulisan sebelumnya, sudah aku ceritakan bahwa suatu masalah bisa dimaknai berbeda-beda, dan itu mempengaruhi emosi dan respon kita. Nah, dari sana, kita bisa menyimpulkan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung makna yang kita beri dan pengalaman kita (historical files). Dalam Neuro-Semantics, ini disebut “kebenaran internal”—kebenaran yang berbeda-beda bagi setiap orang; tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk.

Contoh kebenaran internal adalah tentang jarak. Orang desa biasanya menganggap jarak 5 kilometer itu dekat dan dengan mudah dilewati dengan jalan kaki. Tapi orang kota menilai jarak 5 kilo itu terlalu jauh dan pengennya langsung nyari kendaraan. Atau kasus lainnya, aku menganggap suhu AC 23 derajat itu sejuk dan nyaman, tapi bagi guruku, suhu 23 derajat itu membuatnya menggigil kedinginan.

Maka, kita tidak bisa menganggap persepsi kita adalah realitas yang sebenarnya. Persepsi bukan realitas; seperti halnya foto makanan di kertas menu yang tidak betul-betul sama dengan makanan aslinya. Atau seperti gambar di peta yang tidak sama dengan wilayah aslinya.

Sekarang, coba kita pikirkan seseorang yang kita benci, yang membuat kita sakit hati. Apa sih, yang membuat kita benci sama orang itu? Karena dia pernah memarahi kita dan itu artinya dia mencoba menginjak-nginjak kita? Niat untuk menginjak itu kan cuma persepsi kita, tapi apa hakikatnya? Apa alasan sebenarnya dia marah? Apa betul karena dia berniat seperti itu? Bagaimana kalau “hakikatnya” dia ingin kita maju, dia ingin kita introspeksi dan sukses di mana depan? Atau bagaiman kalau dia sebenarnya sedang ada masalah di keluarganya, sehingga dia hanya sekedar melampiaskan emosinya ke kita tanpa niat personal apapun?

Ada contoh kasus “sakit hati” lain yang sangat relate denganku. Waktu kecil, aku pernah ikut suatu lomba bergengsi, dan aku berdoa habis-habisan kepada Tuhan supaya aku menang lomba itu. Tapi ternyata, aku kalah. Aku pun sakit hati, marah, dan menganggap Tuhan tidak sayang kepadaku, tidak adil. Aku merasa usahaku selama ini disia-siakan oleh Tuhan. Sekarang, ketika aku ingat-ingat kejadian itu, bukankah semua anggapanku kepada Tuhan hanyalah persepsiku? Dari mana aku tahu hakikat di balik keputusan-keputusan-Nya? Bagaimana kalau sebenarnya usahaku memang tidak sekeras sainganku yang lain? Bagaimana kalau Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih baik, misalnya membuat aku menang di lomba yang lebih bergengsi? Atau mungkin Dia ingin mencegah aku dari hal yang buruk yang akan terjadi jika aku memenangkan lomba itu? And so on…

Kita bermasalah ketika kita bingung antara “simbol realitas” dengan “realitas”. Kita bermasalah ketika mengatakan “simbol” itu betul-betul menggambarkan realitas seutuhnya.

Hal ini ternyata juga sudah pernah disebutkan dalam agama Islam. Dalam istilah Islam, prasangka baik itu disebut husnuzhan, prasangka buruk disebut suuzhan. Suuzhan itu punya implikasi dosa. Maka agama mendorong manusia untuk ber-husnuzhan kepada sesama manusia, juga kepada Tuhan. Meski memang ada sebagian prasangka buruk yang bagus dan dianjurkan, yaitu prasangka buruk kepada diri sendiri. Jadi, jika ada masalah, pertama-pertama harus dicari pangkalnya pada diri sendiri. Topik ini akan aku bahas di seri Food For Thought selanjutnya, yang membahas tentang blaming dalam teori Neuro-Semantics.

So, stay tuned!

Iklan

4 respons untuk ‘Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s