Food For Thought #4: Apakah Aku Orang Sukses?

Ilmu Neuro-Semantics itu selalu berputar di masalah persepsi. Dalam tulisanku sebelumnya, aku baru menjelaskan persepsi kita tentang orang lain atau dunia luar. Nah, tapi persepsi tentang dunia luar saja tidak cukup, kita juga harus memahami persepsi terhadap diri sendiri. Salah satu pertanyaan penting yang bisa memperlihatkan persepsi kita kepada diri sendiri adalah: apakah aku merasa sebagai orang sukses?

Pertanyaan tersebut aku dapatkan ketika mengikuti pelatihan Neuro-Semantics. Dengan yakin kujawab: tidak. Jelaslah, masih banyak hal yang belum kucapai dalam hidup ini dan aku belum puas.

Tapi, pertanyaan besarnya: kapan aku bisa puas? Apakah setelah tujuan-tujuanku di masa kini tercapai di masa depan, maka saat itu aku bisa puas dan mau menyatakan diri sebagai orang sukses? Engga dong. Setelah tujuan itu tercapai, akan ada tujuan baru yang lebih tinggi. Ketika yang lebih tinggi itu sudah tercapai, lagi-lagi aku tidak akan puas dan ingin mengejar tujuan yang lebih tinggi lagi. Terus saja seperti itu sampai akhir hayat.

Maukah aku hidup dengan sikap seperti itu—selalu merasa tidak puas, selalu merasa tidak sukses?

Tapi, kalau kita lihat perspektif yang lain, aku, kamu, dan kita sebenarnya sudah menjadi orang sukses. Soalnya, selalu ada hal-hal di masa lalu yang sudah berhasil kita capai. Misalnya, kita pernah lulus ujian, pernah menang lomba, atau hal kecil seperti berhasil melepaskan diri dari kebiasaan jelek. Bukankah itu bisa dianggap kesuksesan juga?

Maka, penting sekali bagi kita untuk senantiasa melangkah dalam hidup ini dengan pikiran bahwa “Saya sudah menjadi orang sukses”. Dengan berpikir seperti itu, kita mencapai tujuan-tujuan di depan dengan energi tingkat tinggi, optimis, positif, dan berani. Berbeda jika kita melangkah dengan pikiran bahwa “Saya belum sukses”, hidup kita akan selalu dipenuhi energi tingkat rendah, kekecewaan, dan pikiran negatif.

Aku merasa, cara berpikir seperti ini membuat kita sebagai orang yang selalu bersyukur, seperti yang diajarkan oleh agama. Setiap detik, setiap jam, setiap hari yang kita lewati penuh dengan hal-hal yang dapat kita syukuri supaya kita bahagia.

Tapi, rasa syukur seperti ini jangan disamakan dengan sikap sombong. Kita memang boleh mengakui kelebihan dan semua rezeki yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tapi pengakuan itu harus bersifat internal, tanpa merendahkan orang lain, apalagi membicarakan itu kepada orang lain.

Rasa syukur membuat kita bahagia atas apa yang sudah kita miliki sekarang, seraya terus maju untuk mencapai semua impian kita di depan.

 “Kita bukan mencapai tujuan supaya bahagia, tapi kita mencapai tujuan dengan bahagia.” – Prasetya M. Brata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s