Food For Thought #5: Apa Nilai Eksistensi Kita?

Dalam tulisan sebelumnya, aku sudah membicarakan tentang mengubah persepsi tentang diri sendiri, yaitu melalui pertanyaan “Apakah aku orang sukses?” Nah, sekarang ada satu lagi pertanyaan menarik, “Apa nilai eksistensi kita di dunia?”

Kita mungkin pernah dengar sebuah perkataan klasik; “Saya berpikir maka saya ada”. Artinya, nilai kita di dunia/ nilai eksistensi kita bergantung dengan pikiran kita, atau sebutan lainnya; “You are what you think you are”

Jadi, kalau aku berpikir bahwa aku hanya bisa menjadi penulis dengan penjualan buku pas-pasan, ya aku akan menjadi seperti itu. Kalau aku berpikir aku orang yang biasa-biasa saja, tidak berharga di depan orang lain, ya itulah aku. Kalau aku berpikir aku hanya bisa dapat IPK 3,00 karena otakku nggak encer, ya itulah jadinya aku. Kalau aku berpikir aku tidak bisa menurunkan berat badan sampai kapanpun, ya itulah aku.

Pemahaman ini adalah salah satu masalah persepsi terhadap diri sendiri. Ini mengunci potensi kita hanya pada apa-apa yang kita pahami atas diri sekarang. Akibatnya, tidak akan ada progres.

Nah, di sinilah ilmu Neuro-Semantincs dipakai. Dalam Neuro-Semantics, seharusnya kita menjalani hidup ini dengan pikiran bahwa kita “lebih” dari apa yang kita pikirkan: “You are more than what you think you are”. Sedangkan ungkapan ”You are what you think you are” malah merupakan bentuk pendegradasian terhadap diri sendiri, karena kepercayaan kita terbatas hanya kepada apa yang kita pikirkan.

Sejatinya, kita itu lebih mampu daripada yang kita pikirkan. Kita lebih berani dari apa yang kita pikir. Kita lebih pintar, lebih kuat, lebih berharga dari apa yang kita pikir.

 

Bentuk Degradasi Lain

Deskripsi ”You are what you think you are” adalah bentuk degradasi karena kita membatasi diri pada potensi kekinian, bukan potensi di masa depan. Nah, ada deskripsi eksistensi lain yang juga merupakan bentuk pendegradasian karena membatasi diri kita pada hal-hal yang bersifat fisik/materi dan itu lebih parah dari deskripsi.”You are what you think you are”.

Contohnya, “You are what you eat”. Jadi, nilai kita hanya berdasarkan apa yang kita makan. Kita merasa bangga ketika makan fast food. Atau kita merasa punya derajat lebih tinggi dari orang lain kalau kita bisa makan di restoran jepang yang mahal. Really? Layakkah nilai kita sebagai manusia didefinisikan oleh makanan saja?

Atau kita bisa lihat deskripsi lain: “You are the number of follower you get” By the way, jujur saja deskripsi ini sering banget aku rasakan. Follower media sosialku itu ga banyak, tidak sebanyak teman-temanku. Dan itu kadang membuatku merasa kecil, merasa tidak berharga, tidak “eksis” seperti temanku yang lain. Padahal, follower itu kan cuma angka. Kenapa angka doang layak mendefinisikan diriku, nilaiku di dunia ini?

Coba kita lihat deskripsi-deskripsi lain yang tersebar di sekeliling kita, dan kita renungkan apakah deskripsi itu layak kita yakini. Ada “You are what you drive”, “You are what you wear”, “You are what you tweet”, you name it.

By the way, ada beberapa deskripsi yang kalau kita jatuh ke sana, artinya kita dikorbankan sebagai komoditi oleh kapitalis, industri, dan budaya pop. Misalnya, pernah ga kepikiran bahwa deskripsi “You are what you drive” atau “You are what you wear” itu sebenarnya deskripsi yang dibuat oleh perusahaan mobil dan fashion supaya kita mau membeli produk mereka yang mahal-mahal itu. Deskripsi “You are the films you watch, the music you listen to” dibuat oleh para pengusaha di balik industri hiburan pop supaya kita mau mengeluarkan duit untuk film dan lagu-lagu mereka.

Untuk tulisan selanjutnya, aku akan membicarakan tentang kekuatan menerima (power of acceptance) dan kenapa itu akan mendekatkan kita pada kesuksesan. Jadi, stay tune!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s