Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

Aku punya seorang teman yang memelihara kucing. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa temanku ini mengurusi kucingnya dengan dedikasi sebegitu rupa. Tiga kali sehari harus diberi makan, dibuang kotorannya, dimandikan, harus membersihkan sofa-sofa dari bulu-bulunya, dan menghabiskan uang banyak untuk perawatan. Kok dia bisa tahan dengan segala keribetan itu hanya untuk seekor kucing?

Ternyata jawabannya adalah, temanku ini sayang sama kucingnya dan memahaminya secara seutuhnya. Mereka tahu bahwa agar si kucing nyaman, harus diberi makan setiap jam sekian. Agar di kucing sehat, harus dimandikan setiap sekian hari. Agar si kucing tidak poop sembarangan, harus dilatih dengan benar sejak kecil, dan sebagainya.

Dulu, saat temanku ini memutuskan untuk memelihara kucing, di saat itu dia sudah mengizinkan dirinya untuk menghadapi konsekuensi apapun dalam pemeliharaan si kucing.

Jadi, aku pun berkaca ke diri sendiri. Aku sering sekali memutuskan untuk mencapai sesuatu, tapi aku tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memahami dan menerima konsekuensi untuk mencapai hal itu.

Semua cita-cita kita, tujuan-tujuan, target, keinginan, memiliki konsekuensinya sendiri. Mau jadi dokter? Konsekuensinya harus masuk kuliah kedokteran, belajar 4-6 tahun di sana, harus mengikuti pendidikan profesi, dapat tugas jaga malam, awalnya dapat pemasukan di bawah gaji buruh, lalu mungkin ada pengabdian masyarakat, dll.

Mau jadi penulis? Konsekuensinya harus banyak baca buku, banyak merenung, menulis setiap hari, bangun jam 4 subuh untuk menulis (karena katanya itu adalah golden hours bagi penulis), editing berjam-jam, belajar dari penulis lain, belajar untuk kreatif, dll.

Ketika kita ingin mencapai suatu tujuan, konsekuensi yang pasti adalah ada kebiasaan kita yang harus diubah. Ada hawa nafsu yang harus dikendalikan. Misalnya hawa nafsu untuk main internet padahal harus mengerjakan tugas kuliah. Atau hawa nafsu untuk main game padahal harusnya meyelesaikan tulisan buku. Pengendalian semacam ini bisa dicapai dengan memahami seutuhnya diri kita. Pahami bahwa saya punya kecenderungan terdistraksi dengan internet, maka saya harus tutup internet setiap kali mengerjakan tugas. Pahami bahwa saya orangnya suka menunda untuk menulis, maka pikirkan cara untuk menghentikan kebiasaan menunda itu.

Semua perubahan itu memang sulit. Perubahan untuk menjadi orang yang lebih konsisten, lebih rajin, lebih sabar, lebih teliti, lebih teratur. Bagaimana supaya tidak sulit? Peluk dan terima sakitnya, rasa takutnya, rasa capeknya.

Menjadi rajin itu capek, tapi dorong diri kita untuk memeluk rasa capek itu. Berhenti dari kecanduan itu menyakitkan, tapi terimalah rasa sakitnya.

Kalimat-kalimat Neuro-Semantics di atas itu note-to-myself banget, karena sangat relate dengan apa yang aku rasakan dan hadapi sekarang.

Semua perubahan, yang ujung-ujungnyanya adalah keberhasilan kita sebagai manusia, diawali dengan bagaimana kita mau menerima dan memahami. Penerimaan itu adalah kekuatan personal kita sebagai manusia.

Iklan

Satu respons untuk “Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

  1. Tulisan yang bagus, dan sangat relatable dengan kehidupan seorang remaja saat ini. Aku juga sedang bertarung dengan persoalan-persoalan itu, mengingat terus bertumbuhnya diri. Keep up the good work

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s