Kirana On ‘Perempuan dan Kebebasan Berpakaian’

Belum lama ini, di medsos lagi  heboh banget tentang petisi pemboikotan iklan girlgroup Blackpink karena berpakaian seksi. Di feed Twitter-ku, ada lebih banyak orang yang mengecam petisi ini daripada yang mendukung (karena aku lebih banyak mem-follow akun-akun orang liberal haha). Aku jadi tertarik mengikuti perdebatan tentang petisi ini karena mengangkat isu lama tentang perempuan dan kebebasan berpakaian. Isu seperti ini tuh udah lama banget muncul dan selalu bikin orang-orang berantem haha. Mungkin karena isu ini mengandung pembahasan filsafat yang lumayan ribet tapi seru.

Kali ini, untuk pertama kalinya di blogku, aku ingin membahas tentang perempuan dan kebebasan berpakaian dari beberapa argumen yang sering banget muncul tentang petisi ini. Tapi, sebelumnya, aku mohon agar pembaca sekalian membaca tulisanku ini dengan pikiran yang terbuka dan bebas prasangka.

  1. “Perempuan harus punya otoritas atas tubuh” –jadi kalau gue mau pake rok mini ya terserah gue, jangan ada yang melarang!

Argumen ini sebenarnya berasal dari salah satu kepercayaan paling mendasar di filsafat, yaitu manusia harus hidup sebebas-bebasnya. Dan itu termasuk dalam berpakaian.

Tapi, pertanyaan penting yang harus ditanyakan adalah, memangnya kita bisa hidup sebebas-bebasnya? Faktanya, kebebasan kita dibatasi oleh hal-hal di bawah ini:

Kebebasan kita pasti dibatasi dengan kebebasan orang lain. Misalnya aku setiap hari nulis di rumah dan butuh suasana hening, eh tapi tetanggaku masang musik metal keras-keras. Kebebasanku untuk punya suasana hening dibatasi oleh kebebasan tetanggaku untuk dengerin musik. Karena dua-duanya punya kebebasan, jadi jangan sampe ada yang ngotot: “eh lu tutup telinga aja kalau ga suka musik gue!”. What? Lu yang berisik gua yang harus repot-repot nyumpel telinga gue?

Nah, ini juga terjadi pada pakaian perempuan. Oke, ada perempuan yang merasa punya hak (kebebasan) untuk pakai rok mini atau telanjang. Tapi jangan lupa, di dunia ini ada juga orang  (terutama yang relijus) yang tidak nyaman liat perempuan seksi. Orang-orang ini juga punya kebebasan untuk punya lingkungan yang bersih dari ketelanjangan. Maka, kebebasan perempuan yang ingin berpakaian seksi akhirnya dibatasi oleh kebebasan orang (relijius) ini. Jadi jangan sampe ada yang ngotot: “eh lu tutup mata aja kalau ga mau liat tubuh gue!”

Kebebasan yang aku sebutkan di atas ini adalah kebebasan yang dibatasi oleh ketidaknyamanan orang lain.

Lalu, ada juga pembatasan kebebasan kedua yang tidak berkaitan dengan ketidaknyamanan, yaitu kebebasan yang dibatasi oleh norma dan hukum. Di Indonesia, ada norma dan hukum tentang berpakaian yang harus ditaati. Bahkan di negara Barat juga ada lho norma berpakaian meski mereka mengaku liberal. Di sana, kita ga bisa pakai baju seksi ketika menghadiri rapat kerja atau acara pemakaman.

Kalau bicara masalah norma, pasti terpikir pertanyaan ini: “ngapain sih ada norma tentang pakaian? Kan pakaian itu urusan pribadi, kalau ternyata gue masuk neraka gara-gara pake rok mini, ya itu urusan gue dong! Masyarakat ga boleh ngatur-ngatur nasib gue!”

Yah, ini sama aja bertanya seperti ini: “kenapa polisi menilang gue karena ga pake helm? Kalau gue kecelakaan kan yang sakit gue sendiri!” Jawabannya, kalau peraturan wajib pakai helm ini dihapus, akan banyak orang yang ga pake helm. Akibatnya apa? Kejadian kecelakaan meningkat, banyak orang masuk rumah sakit, dan pemerintah rugi karena subsidinya terkuras.

Intinya, sebagian peraturan, hukum, norma, UU, dibuat dengan pemikiran yang jauh. Norma tentang pakaian muncul di masyarakat Islam karena ada pemikiran tentang dampak sosial, psikologi, dan juga alasan spritual (misalnya, perempuan yang pake baju seksi bisa kena dosa). Kalau mau, kita mending memperdebatkan tentang dampak-dampak ini (terutama tentang sosial dan psikologi, karena kalau spiritual… meh, ga semua orang percaya Tuhan, dosa, dan afterlife kan). Kalau ternyata dampak ini benar adanya, maka norma tentang pakaian ini bisa diterima oleh semua orang. Tapi, fyi, sudah ada penelitiannya kok bahwa melihat tubuh seksi dan gambar-gambar seksual bisa merusak bagian otak yang bernama pre frontal cortex. Bagian otak ini adalah tempat berkonsentrasi, memahami benar dan salah, mengendalikan diri, berpikir kritis, dan berencana untuk masa depan.

Jadi, inti dari semua tulisanku di atas adalah: tidak ada kebebasan yang mutlak, termasuk dalam berpakaian. Otoritas atas tubuh sendiri itu argumen yang sulit diterima.

 

  1. “Jangan sok-sokan jadi polisi moral”

Aku setengah setuju sama kalimat ini, karena aku juga merasa agak risih setiap baca komentar-komentar para “polisi moral” tentang pakaian yang nadanya kayak menceramahi dan menyalahkan, “Itu dadanya ditutup ya, itu rambutnya keliatan, itu pahanya kemana-mana, awas masuk neraka, maaf sekedar mengingatkan.” Ga kenal, ga apa, tiba-tiba ngomong begitu, it’s annoying bruh.

Tapi sebelum kita bicara tentang baik/tidaknya polisi moral, lebih baik bicarakan dulu pertanyaan paling dasar ini: “Apakah moralitas ini penting?”

Nah, untuk yang satu ini mending kita merujuk ke studi sosiologi. Kita bisa baca di jurnal ilmiah di sini, bahwa moralitas itu berhubungan dengan tingkat kejahatan di suatu negara; “Various researchers have found that there is an inverse relation between criminality and morality. Accordingly the rate of increase of criminality in the world population is a direct indicator of the  decline  of  morality.”

Kalau ada anti tesis dari analisis ini, silakan kasih tahu aku. Tapi untuk saat ini aku setuju, karena it does make sense.

 

  1. Ngapain bikin-bikin petisi, padahal masih banyak artis Indonesia lain pake baju seksi tapi ga dibloikot tuh!

Ini masuk falasi (kecacatan) logika bernama two wrongs make a right. Artinya, menganggap benar sesuatu yang salah karena ada kesalahan lain yang dianggap benar. Ribet ya?

Gini deh misalnya, papaku suatu hari melarang aku merokok, tapi aku menolak dengan alasan papa tidak melarang adikku juga.

Iklan seksi Blackpink menjadi benar (boleh ada), karena ada artis seksi lain yang dibiarkan ada. Itu cara berpikir yang salah, dong.

 

  1. Kalau pengen anak-anaknya ga punya pikiran ngeres karena liat baju seksi, ya didik aja anak-anak kalian, jangan tutupi baju perempuannya.

Argumen ini sama dengan yang satu ini: Kalo terjadi pelecehan terhadap perempuan, yang salah laki-lakinya, bukan perempuan. Laki-laki harusnya menjaga pikiran kalau liat perempuan seksi, bukan baju perempuannya yang ditutup.

Aku paham kenapa argumen ini bisa muncul, karena kita sudah sering melihat kasus pelecehan terhadap perempuan, tapi yang disalahkan cuma perempuannya aja, si laki-lakinya malah bebas hukum. Ya itu salah dong bosque, itu sisa-sisa budaya partriarki yang patut dilawan.

Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, kenapa ketika terjadi pelecehan, yang disalahkan hanya laki-lakinya doang?

Kalau ada pencurian mobil dan mobilnya dalam kondisi mesinnya nyala di ruang publik, siapa yang salah? Pertama, si pencuri yang salah. Tapi, di saat yang sama, di pemilik mobil juga salah karena dia teledor tidak mematikan mobilnya alhasil membuka kemungkinan mobilnya dicuri. Meskipun pada akhirnya yang dihukum oleh negara hanya si pelaku aja. Analogi ini membuktikan, kalau terjadi sebuah kejahatan pelecehan, yang salah itu ya kedua pihak, si pelaku pecelehan, dan si perempuan yang membuka tubuhnya (karena dia membuka kemungkinan dilecehkan).

Nanti pasti ada yang nanya: “Tapi kan pelecehan ga hanya terjadi ke perempuan berbaju seksi. Banyak juga tuh perempuan berhijab jadi korban. Makanya, setertutup apapun baju perempuan, kalau pikiran si laki-lakinya ngeres, ya bakal terjadi juga.”

Hm, iya bener sih, buktinya di Arab Saudi perempuannya sudah dikeukeup dengan cadar, tapi tetap saja tingkat kejahatan seksualnya tinggi. Tetapi, kejahatan pelecehan itu punya banyak faktor penyebab, salah satunya adalah perempuan yang membuka tubuh. Faktor lainnya: perederan media porno, pria dan wanita yang tidak dipisah di dalam transportasi, dll. Jadi, kita memang ga bisa bilang “gara-gara ga pakai jilbab akhirnya dilecehkan”. Kejahatan pelecehan adalah peristiwa sosial, yang artinya mengandung banyak faktor dan proses yang mempengaruhi keberadaannya. Di Arab Saudi, masalahnya pemerintah mereka tidak menyelesaikan faktor-faktor penyebab pelecehan lainnya. Oke, hijab diwajibkan di luar, tapi video porno tetap dilegalkan, pembantu perempuan boleh lepas hijab di depan majikannya yang non-muhrim, dll. Ini juga yang terjadi di Indonesia.

Dalam penelitian yang dirilis di  Archives of Sexual Behavior, disebutkan juga bahwa nudity influences date rape, meskipun memang bukan satu-satunya faktor.

Lantas, adakah negara yang sudah menyelesaikan semua faktor-faktor pencegahan pelecehan?Ada, Iran (btw aku lahir di sana). Dan di sana memang tingkat pelecehannya sangat rendah.

 

  1. Argumen dari pro-petisi (yang hampir pasti semuanya Muslim): “Kami kan mayoritas, kalian minoritas, jadi kalian harus menaati kami. Kami bilang perempuan harus tertutup, ya kalian harus menaati!!”

Nah, argumen ini juga ga bener (lebih tepatnya ga etis) karena pakai narasi “aku/kamu, kami/kalian” yang memecah-belah, memusuhi, mempertentangkan, mendominasi, dan menguasai. Sikap ini sama saja dengan beberapa negara Barat yang mendiskriminasi perempuan berhijab dengan alasan “ini adalah negara liberal, mayoritasnya non-Muslim, jadi kalian wahai kaum minoritas harus turuti kami atau pergi dari sini”.  Daripada membuat diri sendiri terlihat arogan dan  egois, harusnya orang pro-petisi ini mendiskusikan baik-baik tentang “kenapa perempuan perlu menutup tubuhnya” dengan alasan logis dan menghormati kaum minoritas.

***

Sebenarnya, masih banyak banget hal-hal seru yang bisa dibicarakan tentang perempuan dan pakaian. Aku mungkin bakal nulis lagi tentang ini nanti, tapi untuk sekarang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s