Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?

Aku menulis ini ketika sedang menunggu hasil SBMPTN. Ada suatu perasaan yang tipikal dalam momen-momen seperti ini: ketika kita merasa masa depan begitu redup dan kita mencoba meraba-raba apa yang terjadi kalau keinginan tidak tercapai. Apa yang terjadi jika aku tidak masuk jurusan impian padahal aku sudah kerja keras belajar? Akankah aku dianggap gagal dalam hidup, pecundang, bodoh, not good enough, ga beruntung? Perasaan seperti ini sudah sering banget kualami, terutama karena aku sering ikut lomba (dan… ga menang hehe) dan berbagai macam tes akademis, di mana aku selalu stres memikirkan hasilnya. Akankah aku menang? Akankah aku lulus? Akankah nilaiku bagus? Kalau engga gimana? Mampus gue kalau gagal! Aku yakin perasaan ini universal—semua orang hampir pasti pernah mengalaminya. Ini adalah perasaan yang berbahaya karena bisa berujung ke depresi.

Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah ide yang muncul di kepalaku yang aku kira bisa menjawab persoalan ini, yaitu tentang pentingnya membedakan mimpi dan ekspektasi. (Peringatan: definisi-definisi atas kedua kata ini adalah hasil interpretasiku; bukan definisi KBBI).

Aku menyadari bahwa sejak aku bisa membedakan keduanya dan memilih salah satu yang lebih baik, aku menjadi lebih santai dalam memikirkan masa depan, tantangan-tantangan, dan cita-citaku. Selain itu, aku bisa menghindari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. And I encourage you to give this some thought.

Ekspektasi.

Ekspektasi itu adalah keinginan yang sifatnya kaku, ga bisa diganggung-gugat. Kalau ga tercapai berarti lo payah, bodoh, atau belum cukup. Dulu, waktu aku rajin-rajinnya ikut lomba menulis, aku selalu memasang ekspektasi. Aku berekspektasi menang. Kalau kalah? Otomatis aku merasa kecewa dan ‘kurang pintar’ diantara penulis-penulis lain. Rasanya kayak it’s the end of the world dan ujung-ujungnya aku jadi benci diri sendiri karena tidak terlahir sebagai orang berbakat menulis, atau kenapa tidak bisa bikin tulisan yang sesuai sama selera juri.

Ketika kita punya ekspektasi, kita hanya fokus pada hasil akhir. Mau sekeras-kerasnya kita berusaha, kalau hasilnya aku gagal, ya berarti gagal. Titik.

 

Mimpi.

Sementara, mimpi adalah keinginan yang fleksibel. Kalau keinginan A ga tercapai, ada rencana B yang bisa menggantikan, dan dua-duanya sama bagus the way they are. Maka, ketika keinginan A tidak tercapai, it’s totally okay!  Misalnya nih, aku ga berhasil masuk kampus negeri, dan malah masuk kampus swasta. Kata siapa kuliah di swasta lebih buruk dari negeri? Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Banyak kok orang sukses di Indonesia yang berasal dari kampus swasta. Dan banyak juga orang sukses dari kampus negeri. Seringkali, rasa gengsi yang bikin kita merasa gagal.

Ketika kita memasang mimpi, kita fokus pada proses. Seberapa keras aku berupaya; itulah satu-satunya yang penting di sini. Mau hasilnya positif atau negatif, ketika kita memang sudah berupaya, itu artinya kita mengalami perkembangan dan pendewasaan sebagai manusia. Apa yang bisa lebih baik dari itu? Waktu aku belajar buat SBMPTN, ada banyak banget yang kupelajari baik secara fisik dan mental. Aku dapat banyak pengetahuan baru yang penting buat perjalananku di masa mendatang. Jadi kalaupun aku gagal masuk PTN impian, it’s all worth it.

Ekspektasi itulah yang harus kita hindari. Aku jadi ingat percakapanku dengan seorang teman. Aku bilang aku ingin masuk Universitas Oxford buat S2 nanti. Trus, dia kaget dan bilang bahwa aku keren punya keinginan seperti itu. Lalu aku tanya, “Kenapa kamu ga bermimpi ke Oxford juga?” Kata dia, “Engga ah, keinginan yang ketinggian itu bisa bikin kecewa berat kalau ternyata ga tercapai.” Hm, kelihatannya masuk akal ya?

Temanku ini menempatkan Oxford sebagai ekspektasi, itu artinya Oxford adalah impian yang kaku. Kalau kita sudah kerja keras dan ga masuk-masuk juga ‘tu kampus, itu artinya kita kalah, pecundang. Kalau aku, apparently, melihat Oxford sebagai ‘mimpi’; ia sekedar pemicu supaya aku bekerja keras dan tumbuh. Dan kalau aku sudah berikhtiar secara maksimal dan ternyata ga lolos, that’s totally fine! Aku bisa mencari kampus lain yang sama-sama bagus. Aku juga bisa memilih kuliah di dalam negeri aja, karena siapa bilang kampus dalam negeri otomatis bikin aku tidak bisa sukses? Yang penting adalah aku belajar banyak selama proses berupaya itu.

Kalau kita merasa melakukan kesalahan selama proses (misalnya kita sendiri emang males, ga teliti, ga berpikir strategis), acknowledge that. Introspeksi semunya, tapi dengan cara pandang positif. Bisa menyadari kesalahan sendiri adalah anugerah yang luar biasa karena itu adalah batu lonjatan untuk memperbaiki diri. Lihat betapa banyak orang di luar sana yang bahkan ga tahu kesalahannya apa.

Kalau kita hanya memfokuskan diri pada hasil akhir saja, semua hal jadi engga adil. Soalnya, ‘hasil akhir’ itu bisa diselewengkan, diubah, didistorsi baik secara sengaja atau tidak. Misalnya, aku udah kerja keras nih, dan nilaiku ternyata cukup untuk masuk Oxford. Tapi, ternyata, ada seorang atasan di kampus itu yang Islamophobia dan meminta diam-diam supaya aku digugurkan. Atau skenario lain, ada salah satu penguji di sana yang salah menilai esai-esaiku. See? Hasil akhir itu tidak bisa selalu dijadikan sebagai standar keberhasilan kita.

Dalam agama Islam, Tuhan juga disebutkan hanya menilai upaya kita, bukan hasil akhir.

Kesimpulanya, kita boleh dan HARUS punya mimpi setinggi-tingginya. Karena semakin tinggi mimpi, semakin keras upayanya, semakin banyak yang dipelajari selama proses, semakin hebat growth kita… terlepas dari apapun hasil akhirnya.

 

 

PS: tulisan ini sebagian terinspirasi dari wawancara Maudy Ayunda dan Najwa Shihab, di mana mereka sempat membahas tentang mimpi dan growth. Wawancara itu sangat insipiratif, bisa ditonton di sini.

Iklan

5 respons untuk ‘Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?

  1. Makasih Teh Kirana tulisannya… Aku juga sudah mulai merasa gitu padahal aku baru naik kelas 12 dan SBMPTN-nya tahun depan. Aku udah khawatir gagal, mikir aku bakal ngapain kalo ternyata gagal masuk kampus impian… Tulisan teteh bikin aku mikir lagi, buat mengubah cara berpikir aku. Makasih banget Teh… Dan btw selamat yaa, Teteh keterima di Unpad 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan ke kiranams Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s