Pengalaman Model United Nation Pertamaku

Ikutan Model United Nation adalah mimpiku sejak SMP, meskipun keinginan itu hanya berdasarkan gengsi semata dan aku ga begitu mengerti apa sebetulnya yang dilakukan selama kegiatan itu. Pokoknya setiap kali melihat beberapa orang yang kukenal di medsos sedang flexing megang plakat MUN, pakai jas rapi, duduk di aula luxurious: they all looked really fancy. Baru setelah kuliah aku tahu kalau ikut MUN itu bukan hanya tentang keren-kerenan berlagak ala diplomat, tapi kita sebagai peserta harus punya skill debat, pidato, negosiasi, menulis, dan kepempinan yang bagus agar diakui sebegai delegasi yang baik dan dapat penghargaan seperti Best Delegate, Honorable Mention, dll. Kalaupun merasa ga punya skills yang aku sebutkan di atas, ternyata boleh-boleh aja ikut. Resikonya hanyalah ga dapet penghargaan aja, so it’s pretty much a nothing-to-lose situation, at least for me.

JAVA MUN delegates after closing ceremony

Jadi, akhirnya, waktu semester 1 kemarin aku daftar dan join JAVA MUN yang diselenggarakan oleh International Studies Club UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Katanya sih, MUN ini memang dikhususkan untuk delegasi newbie, jadi atmosfernya ga akan se-kompetitif MUN lain. Aku berangkat dari Bandung ke Jakarta naik kereta, dan langsung ketemu sama teman sekamarku, namanya Andhiny Fatikha (nama panggilannya Aye, diambil dari kata A dan Y di nama depannya). Orangnya supel dan baik banget, jadi bisa langsung deket sama aku. Ditambah lagi, dia juga pemain biola dan sama-sama pecinta lagu klasik, GILS!!! Trus, aku juga ketemu sama Kak Fitrah Alfiansyah dan Hafidz, anak sejarah UI yang kelihatan sangat passionate.

Me and Andhiny posing in our hotel room teehee

Lokasi hotel MUN kali ini adalah Hotel Samala di Cengkareng (bintang 4). Kalau dipikir-dipikir, biaya JAVAMUN Rp.1,2 juta buat nginep tiga malem di hotel mewah kayak gini (ditambah lagi city tour) worth it abis sih. Aku dan Andhiny masuk ke kamar kami dan suasananya enak dan nyaman. Tapi, masalahnya, kenyamanan itu agak sirna karena anxiety-ku muncul. Aku benar-benar ga pede ikut acara ini, ga punya bayangan tentang apa yang aku lakukan selama konferensi, dan malah pengen pulang aja, hehe. Apalagi ketika ketemu delegasi lain dan aku merasakan aura-aura kepintaran dan kepedean dari mereka yang bikin aku terintimidasi.

Agenda pertama MUN adalah pembukaan acara, makan malam, lalu MUN briefing. Besoknya, barulah dimulai kegiatan MUN sesungguhnya yaitu committee sessions yang berlangsung selama enam jam (tentu dikasih banyak waktu istirahat di sela-selanya, namanya coffee break). Berhubung aku mendaftarkan diri ke council yang namanya ECOSOC, jadi aku bergabung dengan delegasi lain yang juga anggota ECOSOC dalam satu ruangan. Di dalam ruangan itu ada meja yang ditata memutar, masing-masing meja sudah diletakkan plakat berisi nama negara. Kebetulan, aku delegasi Denmark, jadi aku juga dapat plakat berisi tulisan Denmark. Fungsi plakat itu adalah untuk diangkat ke atas dalam rangka absen di roll call, voting, tanda kalau mau ngasih mosi, tanda bersedia bicara untuk sebuah mosi, dll.

Jadi, apa sih dilakukan para delegasi selama committee session (comses)? Kita mendiskusikan sebuah topik isu global yang relevan dengan council kita, di mana topik itu udah ditetapkan oleh panitia MUN sejak awal pendaftaran. Council ku dapat dua topik: “The Fast Fashion Industry Industry Impact on Sustainable Economic Development” dan “Integrating Circular Economy into Global Waste Trade System”. Nah, masing-masing negara kan punya pandangan, kebijakan, dan solusi yang berbeda/khas dalam isu-isu ini. Misalnya, dalam topik Fast Fashion Industry, negaraku Denmark adalah produsen FF masif tapi eco-friendly karena Denmark punya sistem sustainibility yang baik. Denmark kurang lebih punya kondisi yang sama dengan Finlandia dan Spanyol. Sementara itu ada negara Bangladesh yang justru jadi korban industri FF karena buruh-buruh lokalnya tertindas. Indonesia juga punya masalah yang mirip dengan Bangladesh (uknowlah, kekhasan negara dunia ketiga). Jadi, tujuan comses adalah menawarkan gagasan tentang topik tersebut, mencari titik temu antar negara, dan pada akhirnya mencari solusi yang disetujui oleh semua delegasi.

Pertama-tama, chair (pemimpin sidang) akan roll call (absen) peserta, dan cara absen itu bukan dengan ngangkat tangan kayak di sekolah, tapi ngangkat plakat sambil bilang “delegate of Denmark is present and voting”. Voting itu maksudnya untuk nanti ngasih suara buat draft resolusi di akhir comses.

Kemudian, chair akan meminta opening speech dari masing-masing delegasi berdasarkan abjad. Opening speech tujuannya ngasih tau stance, kebijakan dalam/luar negeri, dan solusi dari masing-masing negara. Isi speech ini bisa ngambil dari position paper yang sudah dibikin sejak jauh-jauh hari. (*Ohya aku lupa cerita kalau delegasi udah disuruh bikin pospap, atau esai, sebelum pertemuan supaya mengerti betul stance negara kita dalam topik tsb. Pospap itu juga akan dinilai dan ada penghargaannya tersendiri).

Berhubung abjad negaraku ada di atas, jadi aku juga dapat bagian awal-awal untuk mempresentasikan opening speech-ku. Rasanya deg-degan parah. Aku mencoba ngasih pidato dengan cara yang graceful dan tegas, tapi keknya fail abis haha gara-gara terlalu tegang. Begini kira-kira isinya:

 Honorable Delegates, Respected Chairs,

“There is no beauty in the finest cloth if it makes hunger and unhappiness.”  These are the words from Mahatma Gandhi.

Many experts, including the UN, believe that fashion industry is resposible for plethora of negative social, economic, and environment impacts.  There are approximately 40 million garment workers in the world today; many of whom do not have rights of safety, health, and payFast fashion industry also listed as the second most polluting industry on Earth because of the the textile waste.

As a country that is ahead of the pack in creating a sustainable environment, The Kingdom of Denmark advocates ECOSOC to launch the Factories and Garment Worker Conditions Inspections Programme in collaboration with ILO that includes the inspection of factories….( and so on)”

 

Opening speech tidak dilakukan sekaligus oleh semua delegasi yang hadir. Paling setelah empat atau lima, chair akan minta agenda diteruskan ke Moderated Caucus, yaitu sesi di mana para delegasi akan menawarkan mosi subtopik apa yang ingin dibicarakan. Kalau mau ngomong, harus angkat plakat dan bilang, “The delegate of Denmark proposes a motion for a 10 minute moderated caucus with 2 minutes speaking time on the topic of (let’s say) the social impact of fast fashion industry ”. Ntar ada 4-5 tawaran mosi yang akan ditampung sekaligus, lalu akan di-vote mosi apa yang akan dipakai. Setelah salah satu mosi terpilih, chair akan bertanya siapa saja delegasi yang mau ngasih speech tentang mosi tsb. Delegasi yang mau ngomong harus angkat plakat lagi. Chair akan mendaftar sekitar 5 atau lebih delegasi (tergantung berapa banyak yang angkat plakat) ke dalam General Speaker’s List (GSL). Setelah itu, yauda, satu persatu delegasi akan berdiri dan bicara tentang mosi. Sesi ini akan berjalan berulang-ulang, dengan mosi yang berbeda.

Yang lucu (dan ngeselin) adalah kalau ada satu delegasi yang jaraaaang banget angkat plakat, chair akan minta (maksa) delegasi itu buat bicara dengan dimasukkan ke dalam GSL. Jadi, kalau kita (misalnya) ga tau apa yang harus diomongin tentang mosi tertentu, otak kita harus bekerja keras menata kalimat untuk GSL. Kalau aku sih, sebegai newbie, yang penting ngomong apa aja. Isinya rada geje juga ya gapapa. Anggap saja ini momen yang melatih kita berbicara dadakan dalam bahasa Inggris dan under pressure.

Oh ya, selama Moderated Caucus, delegasi dilarang bicara langsung satu sama lain. Kalau mau bicara, harus ditulis di kertas notes kecil, tulis from/to, lalu angkat tangan ke atas; kasih tanda ke panitia yang berdiri. Panitia itulah yang akan ngasih notes kita ke delegasi tujuan. Biasanya isi notes itu adalah pernyataan kesamaan stance, ajakan untuk bikin blok (aliansi), atau nanya sesuatu ttg isi speech.

Nah, setelah lama di sesi Moderated Caucus, chair akan meminta agenda dipindahkan ke Unmoderated Caucus yaitu sesi di mana delegasi boleh bicara langsung satu sama lain dan boleh mulai bikin blok-blokan. Waktu itu di council-ku sejak Unmod pertama sudah terbentuk dua blok. Aku waktu itu gabung sama Indonesia, Bagladesh, USA, Brazil, dll. Nah di sinilah aku kebingungan. Aku merasa seharusnya aku gabung di bloknya Spain dan Finlandia (karena kesamaan stance) tapi di saat yang sama, solusi dari blokku (terutama solusi USA) satu suara dengan solusiku. Jadilah sampai comses sesi akhir-akhir aku masih galau milih blok. Waktu break, Finlandia ngajak aku masuk bloknya (dan itu jadi obrolan gosip blokku). Aku nanya ke Spain kenapa dia ga masuk blokku, katanya dia punya alasan tertentu (aku lupa apa). Pokoknya seru deh ceritanya. Padahal, segitu tuh council-ku paling adem-ayem. Council sebelah, OIC, bahkan katanya sempat pecah blok. Jadi ada yang tiba-tiba bikin blok baru.

Setiap blok yang terbentuk harus bikin yang namanya Working Paper yang isinya usulan resolusi yang disetujui semua anggota blok. Nah di sini aku ga begitu mengerti cara penulisannya, tapi ada dua leader blokku yang lebih mengerti dan ngerjain WR. Setelah WR di-approve chair, barulah ntar dibikin Draft Resolution (DR) yang benar-benar harus sesuai dengan aturan penulisan. Intinya, dalam pembuatan resolusi ini aku ga banyak berpartisipasi karena ga ngerti hehe. Nanti, di comses menuju akhir, DR akan dipresentasikan oleh wakil blok, lalu blok lawan boleh nanya-nanya. Sesi paling akhir adalah voting DR mana yang akan final dikirim ke General Assembly. Di council-ku, setelah melalui diskusi dan masukan chair, DR kedua blok malah diintegrasi karena isinya mirip, haha!

Overall, selama sidang berlangsung, akan keliahatan deh mana delegasi yang banyak bicara, yang menguasai sidang, yang punya skill leadership yang baik, yang kritis, yang otaknya pinter, yang tong-kosong-nyaring-bunyinya, yang pemalu, yang anxiety-nya parah, yang sebenarnya-ga-pengen-ikut-MUN, dll. Orang-orang yang dapat award pun sudah kelihatan sejak awal, mereka pasti pemimpin blok atau at least banyak bicara selama sidang. Dan seperti yang sudah kuduga dari awal, aku ga dapat award huhu.

Kevin, aku, dan Fadhil (ini grup mahasiswa UNPAD)

Jadi, seperti itulah kira-kira pengalaman selama MUN. Aku belum cerita tentang cultural night dan city tour, soalnya udah kepanjangan hehe. Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu dan ngasih gambaran buat pembaca yang mau ikut MUN. Buatku, MUN itu ternyata tidak semenakutkan itu. Tapi, sekedar wanti-wanti, sebagai first-timer, kemungkinan besar kalian akan jatuh sakit karena kecapekan dan kena AC hotel 4 hari 3 malam. Aku sendiri pas pulang kena demam dan flu berat padahal besoknya ada UAS di kampus. Temanku sampai dirawat di rumah sakit. Ada delegasi yang bahkan sakitnya di tengah-tengah sidang. Jadi, kita memang harus jaga kesehatan baik-baik, jangan lupa bawa tolak angin buat diminum waktu coffe break, dan AC kamar jangan dipasang kenceng.

So there’s that. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

2 respons untuk ‘Pengalaman Model United Nation Pertamaku

  1. Halo kirana. Terima kasih banyak sudah berbagi pengalaman. Saya jadi bisa membayangkan gimana MUN itu, sepertinya seru sekali ya, hehe
    Oya, saya juga suka baca tulisan kirana yang seri filsafat itu, rasanya konsepnya jadi lebih membumi. Ditunggu karya lainnya yaa 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s