Cara Menyembuhkan Hati yang Sakit dan Terluka

Aku berasumsi kamu membaca tulisan ini karena sedang sedih, kesal, marah, bingung, benci, malu, capek, sampe pengen mati aja. Mungkin perasaan itu muncul begitu saja, atau kamu baru mengalami hal yang buruk. Mungkin kamu baru diputusin cowok (aku ga pro-pacaran btw), direndahin sama teman sendiri, dikhianati, digoblog-goblogin, diejek, dapet physical abuse dari orang terdekat, melihat anggota keluarga terbaring sakit (karena virus corona, mungkin?), atau capek sama tugas kuliah yang numpuk ga kelar-kelar karena WFH. Aku akan menyebut semua emosi negatif ini sebagai ‘rasa sakit dan terluka’, karena ia bikin hati kita ciut, lemah, dan seperti ditusuk sesuatu. Maka, kali ini aku mau memperkenalkanmu sebuah teknik agar terbebas dari rasa ini.

Sumber: Medium

Teknik ini berasal dari NLP (neuro-lingustic programming), sebuah studi tentang struktur internal manusia. Kata studi ini, kita cenderung melihat masalah itu lebih besar dari kita, sehingga kita bisa diatur-atur secara emosional. Kita melihat masalah itu kayak monster, suka nakut-nakutin, dan otomatis kita jadi takut. Misalnya kalo ada yang jahatin kamu, tentu saja kamu marah. Ga mungkin kan, kamu ga marah? Kalau tugas kuliah numpuk, tentu saja kamu capek dan frustrasi, ga mungkin engga!

But hey, guess what? Faktanya, masalah itu bukan monster. Kalaupun dia monster, kamu adalah bosnya monster, jadi monster itu tidak punya kuasa untuk bikin kamu takut, sedih, dan terluka. Kamu bisa nampar si monster karena nakal, ngetawain dia, dan nganggep dia tidak berarti. Bagaimana cara melakukannya?

1. Sadari emosimu. Apakah kamu lagi marah? Depresi? Malu? Apapun itu.

2. Semua emosi ga mungkin tidak ada sebabnya. Kalau kamu sedih, mungkin lima menit yang lalu kamu baru digoblog-goblogin orang atau baru bertengkar sama teman. Mungkin masalahnya sudah berlalu sebulan yang lalu, setahun, atau waktu kamu kecil. Coba bayangkan peristiwa yang men-trigger emosi negatifmu.

3. Nah ini bagian paling menarik. Setelah membayangkan peristiwa buruk itu, coba lakukan disasosiasi. Disasosiasi adalah keluar dari tubuhmu sendiri. Artinya, kamu membayangkan kamu jadi penonton adegan sakit hatimu sendiri.

Mohon maap, gambaran saya jelek pisan

Untuk memperjelas, aku mau cerita tentang sebuah drama korea yang kutonton setahun lalu, judulnya While You Were Sleeping. Jadi di drama itu, ada adegan seorang cewe ngaca di kamar mandi, lalu ngeluh kenapa dia jelek banget karena alisnya transparan kayak Monalisa. Terus pas keluar kamar mandi, ada gebetan dia lagi bertamu dan disuguhin makanan sama emaknya si cewek. Cewe ini pun malu setengah mati sebab gebetan dia melihat kondisi bare face-nya (selama ini si cewe selalu pake make up). Si cewe juga kesel banget sama emaknya karena ga ngasih tau kalau ada tamu. Nah, in real life, kamu bisa bayangin kalau peristiwa ini tragis banget bagi si cewe. Tapi, di dalam drama ini, ada soundtrack komedi yang ditempelin. Otomatis sebagai penonton, aku malah ngetawain peristiwa itu, ngetawain respon si cewe yang malu dan kesel, ngetawain ekspresi si gebetan yang kaget, ekspresi emaknya yang bingung. Aku bisa merasakan kalau peristiwa tersebut ga se-tragis itu, bahkan kalau aku menempatkan diriku di di posisi si cewe.

Nah, aku pernah menghadapi masalah besar yang bikin hatiku sakit dan terluka. Aku pun melakukan disasosiasi;  membayangkan aku sedang menonton diriku sendiri di TV: dari adegan awal aku kena masalah itu, lalu nangis, curhat ke orangtua, nangis lagi, mikirin hal-hal buruk di atas kasur, meratapi masalah di bawah semburan air shower; almost like a crazy drama character. Aku setel semua adegan itu berulang-ulang, fast-forward, trus ditambahin soundtrack komedi. Almost instantly, aku merasa masalahku itu ga besar-besar amat. Aku pun ngetawain responku yang dramatis itu, seperti ngetawain si cewe di drama While You Were Sleeping. “Sialan, kok bisa-bisanya aku nangis dan depresi gara-gara hal sekecil itu? HAHAHA.” Coba deh, kamu mempraktikkan ini juga. Seru banget!

Nah, ada kemungkinan, disasosiasi macam ini ga berhasil karena mungkin masalahmu terlalu besar dan signifikan untuk dianggap ‘komedi’. Misalnya, masalah-masalah seperti pelecehan seksual dan physical abuse kan, ga mungkin diketawain? Kalau kasusnya seperti itu, kamu bisa membayangkan dirimu  naik gunung tertinggi, terbang ke langit, ke planet terluar, ke ujung alam semesta, sehingga kamu bisa melihat planet Bumi itu hanya seujung kuku, atau bahkan ga kelihatan. Di sana, kamu bisa menemukan bahwa kamu hanyalah debu di tengah miliaran manusia di Bumi yang punya masalah masing-masing, dan pasti ada yang masalahnya sama dengan kamu. Kamu bisa melihat Bumi sendiri bukan planet yang berarti, dia seperti debu di alam semesta dan bisa langsung hancur disenggol matahari atau ditelan black hole. Matahari sendiri hanya tahi lalatnya semut kalau dibandingin sama bintang VV Cephei. Aku pernah menulis di postinganku “An Abstrack Feeling and Sensation: The Sublime”: ketika aku menyaksikan betapa agungnya pegunungan Alborz, betapa banyaknya bintang di langit hingga ilmuwan aja ga tahu jumlah maksimalnya berapa, betapa mudah Bumi hancur kapan saja dan peradaban manusia hilang, aku menyadari betapa sangat tidak signifikannya masalah di hidupku. Ini disebut dengan sensasi Sublime.

Sadari betapa kecilnya eksistensi kita di alam semesta

Disasosiasi adalah teknik yang penting karena menempatkan diri sebagai subjek netral. Ketika kamu berpikir netral (artinya ga secara langsung dilanda emosi), kamu pasti bisa bepikir lebih jernih untuk merespon masalah itu. Kemungkinan besar, kamu juga akan menemukan perspektif baru. Misalnya, orang yang jahatin kamu sebenernya ga bermaksud jahat, dia hanya sedang stres karena tugas kuliah dan malah lepas kendali. Mungkin kegagalanmu masuk PTN bukan nasib buruk, karena kamu malah dapat gebetan kece di universitas lain dan jadi jodoh hidup.

4. Perspektif baru ini harus kamu cari. Ga semua hal yang kelihatan serba buruk, ternyata seburuk itu. Pasti ada hikmahnya. Ketika kamu baru bertengkar sama teman, kamu jadi tahu siapa teman di sekelilingmu yang toxic. Atau bisa jadi kamu yang bersalah dalam pertengkaran itu, maka hikmahnya kamu bisa belajar untuk bersikap lebih baik dan bijaksana di masa depan.

5. Setelah menemukan perspektif dan hikmah-hikmah itu, jangan lupa untuk bersyukur karena rasa sakit yang kamu alami ini telah mengajarkanmu banyak hal. Kalau kamu suka nulis diari, coba bikin surat apresiasi kepada diri sendiri:

Congratulations, kamu sudah melangkah satu tangga lebih dewasa. Sekarang, kamu berhasil terbebas dari hati yang sakit dan terluka.

***

*tulisan ini terinspirasi dari beberapa video di channel “Solution in Mind TV”

3 respons untuk ‘Cara Menyembuhkan Hati yang Sakit dan Terluka

  1. Halo kirana ! Terima kasih sudah berbagi pengetahuan 😀
    Saya sendiri baru tau soal teknik ini dari tulisan kirana (Dan terimakasih sudah memberikan contoh2 yang membumi, termasuk dg gambaran drama korea itu !) 😀
    menurut saya teknik ini membantu, karena saya sendiri termasuk orang yang meyakini bahwa segala proses merasa yang keliru berasal dari proses kognitif/ penalaran yang keliru juga. Kalau Kirana belum pernah baca dan ada waktu, bukunya albert ellis banyak yg menarik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s