Analisis Lagu ‘My Sea’: tentang Musik, Lirik, dan Craftsmanship

Aku termasuk orang yang tidak mudah berhenti mendengar sebuah lagu jika suka (di mana level ‘suka’-nya ini harus di puncak teratas; suka yang membuat merinding, terpukau, bergejolak rasa). Lagu itu akan kuputar berulang-ulang, seringkali sambil berpikir: apa yang membuat lagu ini menciptakan rasa terpukau itu? Bagaimana aku bisa mendeskripsikan perasaan abstrak itu? Terakhir kali aku merasakan situasi ini adalah ketika mendengar lagu berjudul ‘My Sea’, dinyanyikan oleh IU, penyanyi Korea. Selama tiga malam lagu ini kuputar di Youtube/Spotify sambil membaca lirik terjemahan, kadang berakhir dengan mata berair. Air mata itu ngga selalu berarti kesedihan, bisa jadi karena aku overwhelmed dengan keindahan musiknya (instrumen, struktur, tekstur, dinamika dsb), atau karena liriknya memantulkan rasa nostalgia. Aku juga curiga aku nangis bukan karena ‘lagu’ itu sendiri, tapi pada craftsmanship di balik pembuatan lagu itu yang membuatku terharu (keyword: sublime)—atau lebih jauh lagi, nyambung ke hal-hal terkait eksistensiku sendiri. Aku pun memutuskan menulis ini karena penasaran, bagaimana aku bisa memampatkan dan mengaktualisasikan semua ‘rasa dan makna’ berantakan yang ada di pikiran/hatiku secara terstruktur. Aku akan coba elaborasi dengan tiga poin utama: musik, lirik, dan craftsmanship.

  1. Musik

Secara komposisi instrumen, sebenarnya lagu ini lumayan klise. Dia memakai kompisisi ensemble ala-ala orkestra yang udah sering banget aku dengar karena aku sendiri pemain ensemble (ala-ala orkes), dan aku penikmat lagu Disney (dan lagu musikal lainnya). Secara sederhana, lagu My Sea ini mirip lagu Disney dan tidak ada sisi eksperimental whatsoever. Di awal ada piano, lalu masuk strings, ada gitar listrik, bass, drum set (yang sayangnya bukan perkusi orkes), terakhir ada harpa. Tapi seluruh instrumen ini ditempatkan secara tepat. Ketika lagunya butuh suspensi, ada gitar listrik melengking, ritmik perkusinya dibikin lebih cepat. Ketika lagi butuh rasa ‘lepas’, cuma ada piano solo, atau string sendirian long notes.

Lagu ini berdurasi 5 menit, relatif lebih penjang dibanding lagu-lagu kontemporer secara umum. Sebenarnya tidak mudah membuat lagu sepanjang ini, karena orang-orang jaman sekarang cenderung cepat kehilangan fokus di tengah jalan. Tapi lagu ini bisa membuat pendengar (setidaknya, aku) konsentrasi dari awal sampai akhir, bahkan merasa lagunya lebih pendek dari 5 menit. Aku rasa itu karena si pembuat lagu berhasil menciptakan struktur yang efektif. Artinya, ada ‘jalan cerita’ yang dibentuk beserta pendulum ‘push and pull’ (pada dasarnya, esensi dari songwriting). Aku akan bedah struktur lagu itu seperti ini:

00.00 Opening (damai, pelan) – 00.44 distrupsi pertama (reff pertama, masih damai) – 1:58 eskalasi awal (mulai masuk perkusi, vocal mulai kebuka di reff kedua) – 2:55 jatuh sebentar, 3:05 tapi naik lagi sedikit (pas ada gitar listrik) – 3:16 kejutan #1 (ada modulasi half-step, mulai bikin ancang-ancang suspensi) – 3:24 kejutan #2 (pas masuk choir solo) – 3:40 eskalasi puncak (ketika vokal hit F5 tinggi ‘ANHAAAAAAA’) – 4:01 momen jatuh & lega (break instrumen) – 4:45 refleksi (cuma ada choir dan harpa).

‘Push and pull’ yang aku maksud adalah seperti itu; ada suspensi, lalu dijatuhin, ditarik lagi seperti karet, lalu dilepas layaknya busur panah. ‘Pull’ terasa paling ekstrem di 3:54 ketika melodi utama didorong ke titik tertinggi, rasanya seperti kita berhasil menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di puncak gunung Everest setelah melewati berbagai macam perjuangan. Atau seperti Archimedes meneriakkan ‘Eureka!’ ketika akhirnya menciptakan penemuan penting. Atau seperti seorang penulis yang mengetikkan kata terakhir di novelnya setelah setahun menulis. It’s that thrill moment yang bikin aku menahan napas untuk sesaat. Begitu nada tinggi itu berakhir, lagu meluncur lagi ke bawah di mana sectionnya diisi instrumen saja. Saat itu aku bisa lanjut bernapas dan berusaha mencerna ‘what did I just hear?’ Di bagian paling akhir, di mana hanya ada suara choir dan harpa, aku seperti diajak bermeditasi dan merefleksikan seluruh perjalanan yang baru kulewati: apa hikmahnya? Apa pelajaran yang dapat kupetik?

Itu aku baru bercerita tentang instrumentasi. Sekarang saatnya membahas vokal. Tak dapat dipungkiri, IU adalah penyanyi yang handal. Skill bernyanyi yang ia presentasikan di lagu ini mencerminkan jam terbangnya di industri musik selama 13 tahun. Secara umum, tone vokal dia terasa seperti buah delima+jellybean: cerah, delightful, dan tajam. Dia juga punya stamina kuat untuk membawa lagu sepanjang itu, dengan suspensi se-lama itu. That’s not an easy thing to do. Aku ingat pernah main biola untuk lagu 6 menit dengan ‘ketegangan’ yang sama, dan itu rasanya seperti habis maraton: keringetan, punggung sakit, pusing, napas habis. Aku tahu biola bukan vokal, tapi psikologinya sama saja ketika perform. Kita butuh konsentrasi ekstra. Aku juga suka sekali bagaimana IU mengeksekusi nada tinggi F di 3:54. Belting-nya mulus, bertenaga, dan stabil parah. Di nada itu, dia awalnya bernyanyi secara datar, lalu di akhir ia kasih vibra sedikit— semacam untuk loosen up the pressure— dan terakhir dia lepas suaranya ke luar kayak mendesah keras. Satu kata: satisfying. Belum selesai sampai di sana, IU juga jago bernyanyi nada rendah. Banyak orang underestimate nada rendah, padahal sulit juga. Kalau diperhatikan di 5:08 seterusnya, dia nanyi F3 dengan jelas dan tambah vibra lagi!

  1. Lirik

Lirik lagu ini termasuk salah satu yang paling unik dan ‘nyastra’ di antara semua lagu yang pernah kudengar. Pertama-tama ada perumpaan ‘laut’ yang sebenarnya bisa diinterpretasi ka apa saja. Aku sendiri berpikir ‘laut’ adalah ‘harapan/mimpi/aspirasi/tujuan hidup’. Intinya, lagu ini berisi percakapan antara ‘diri’ di masa dewasa dan di masa kanak-kanak. Si diri yang dewasa ini kehilangan laut itu namun pada pada akhirnya dia bisa kembali.

Sama seperti struktur instrumennya, lirik lagu ini juga membentuk cerita. Pada babak pertama, si diri dewasa mengingat rasa sakit yang ia derita selama hidup: “Yet even as time passes, there are wounds that don’t heal, because I cannot love myself fully”. Dia melihat bahwa di masa lalu, ia telah menghajar diri sendiri sehingga masa kanak-kanaknya penuh dengan penderitaan: “Did she (the child) suffer for so long just to become the person I am today?” Dia mengasihani masa lalunya, sekaligus tidak bisa berdamai. Padahal, di masa kanak-kanak itu, dia pernah punya ‘laut’ yang berpendar, kekal. Namun semakin dewasa, laut itu menguap dan hilang.

Di babak kedua, si diri mendapatkan pencerahan (meskipun tidak jelas dalam bentuk apa, dan bagaimana). Intinya dia melihat bahwa dunia adalah hadiah terindah sehingga pada akhirnya dia bisa memeluk masa lalunya: “There and then, the world comes to me to become a breathtaking gift. That self who doubted so many times can finally give you(child) a reply”. Dia menyadari bahwa meskipun dia terlempar dari ‘laut’, dia tetap bisa kembali: ‘Even if I am swept away and lost, I can be free’. Dan untuk kedepannya, dia tahu bahwa akan selalu ada rasa sakit, atau momen dia kehilangan laut. Tapi sama seperti sebelumnya, ia pasti dapat mencari jalan untuk kembali: “There may still be times when life’s waves sweep me away. But from this moment and forth, I will know the way back.”

Ini adalah lirik yang berhasil mengorek-ngorek masa laluku, sekaligus mengobarkan semangat untuk bangkit dari kegelapan. Ketika aku membaca lirik “Did she (the child) suffer for so long just to become the person I am today?” aku menangis karena baru kali ini aku diajak ‘sadar’ tentang masa yang sudah lewat. Selama ini, aku terpaku pada dogma ‘hidup itu fokus ke masa sekarang aja’, karena masa lalu hanyalah kenangan; kita tidak bisa lagi mengubah-ubah masa lalu. Apalagi, aku sedikit takut mengingat masa lalu karena banyak kejadian memalukan dan menyedihkan. Lagu ini pun memancingku untuk melihat bahwa diri kanak-kanakku tetaplah aku. Dulu aku suka beat myself up karena hal-hal paling remeh, misalnya waktu mau ikut ujian, ketika kalah lomba, atau insecurity terkait fisik atau kemampuan. Hal-hal ini sering membuatku kehilangan ‘laut’ (alias harapan, kepercayaan diri, atau kesadaran tentang tujuan hidup). Semua tekanan itu ternyata masih aku rasakan sampai sekarang. Jadi, berdamai dengan masa lalu sama saja dengan berdamai dengan masa kini. Lirik lagu ini pun membuatku bersalah karena telah menikam diriku di masa kecil dengan pikiran-pikiran menyakitkan.

Pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. Seperti halnya laut yang selalu berada di tempatnya, mimpi dan harapan kita selalu ada di sana. Ketika kita merasa kehilangan laut, actually it’s never lost, tapi kita saja yang harus mencari jalan untuk menemukannya kembali.

  1. Craftsmanship

Proses penciptaan lagu, apalagi yang sehebat ini, tidaklah mudah. Kita butuh ketelitian, kedisiplinan, konsistensi, dan tenaga. Semua itu tidak bisa dilakukan kalau tidak ada rasa cinta terhadap karya itu sendiri, atau terhadap proses penciptaan karya itu. Aku selalu penasaran, apa rasanya IU dan tim produksi ketika membuat lagu ini? Aku dengar liriknya ditulis oleh IU; apa yang ia rasakan saat membubuhkan ide-ide itu ke dalam kata-kata? Apa rasanya dia berhasil rekaman nada tinggi F5 itu sekali take? Apa gelora di tubuh tim produksi mereka ketika mendengar hasil final lagu itu? Ketika berhasil menciptakan harmoni se-breathtaking itu? Inilah yang aku hargai dari seorang seniman, atau craftsman. Kedisiplinan dan kreatifitas mereka dapat melahirkan hal-hal indah dari ketiadaan. Jujur, setelah mendengar lagu ini, aku kangen dengan proses kreatifitas yang magis itu. Aku kangen membagikan makna-makna terdalam kepada orang lain. Intinya, lagu ini menginspirasiku untuk melahirkan karya lebih banyak ke depannya.

Yes, akhirnya selesai juga analisis lagunya (yang rasanya habis mengoperasi otakku untuk melihat isinya). Aku ragu ada yang bisa bertahan membaca tulisan ini sampai sini, haha. Tapi kalaupun ada, selamat! Kamu baru saja aku ajak berkeliling ke dalam pikiranku yang sejak lama sudah penuh dan hampir meledak hanya gara-gara mendengar lagu 5 menit 16 detik.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s