Konser dan Makna-Makna Terdalam

Makna atas suatu momen bisa beribu-ribu kali lebih dalam ketika kita tahu perjuangan macam apa yang ada dibaliknya.

Tanggal 26 November kemarin, Orkestra Unpad berhasil menyelenggarakan Konser Gemerlap November: Momento in Concerto. Tapi karena post-concert aku punya banyak PR, terutama masalah logistik, akhirnya I didn’t get much time to write and pour my heart out tentang pengalaman tergila ini. Padahal selama beberapa hari kebelakang, teman-temanku banyak yang menulis appreciation dan reflection notes di instagram, so I think I really have to do this on my own. Karena jujur saja, konser kemarin adalah the best thing ever happen in 2022.

I’m not sure how to start, yang aku ingat adalah setelah acara selesai aku menunggu agak lama di venue untuk memastikan gaada barang anak-anak yang tertinggal, dan aku pulang jam 12 malam menyetir mobil… sendiri, ke hotel. Perjalanan yang sepi di mobil itu sungguh menenangkan, melegakan, sekaligus riuh di kepala. Ketika aku sampai hotel dan merebahkan diri di kasur, all I could think was how glad, happy, and grateful I am karena sudah menyelesaikan PR terbesarku tahun ini. Menjalani kepengurusan is a big deal, tapi menjalani event konser itu punya risiko jauh lebih besar dari itu. Kalau acaranya gagal, kita akan malu di depan ratusan orang yang sudah mengeluarkan uang untuk nonton: our pride is at stake. Kalau keuangan acara gagal, kita akan dipermasalahkan oleh rektorat atau mungkin harus membebani anggota. Jadi dengan selesainya acara, aku lega karena I have made sure ancaman-ancaman itu sudah tidak ada lagi.

Mungkin satu kata yang mewakili perjalanan project konser ini adalah: insecurity. Dari sejak terbentuknya kepengurusan, diskusi soal konsep acara, berburu artis, berburu volunteer crew, latihan, sampai hari-H konser semuanya dibumbui oleh segala macam perasaan insecurity. Karena to be honest, tidak yang pasti dalam perjalanan ini. Siapa yang bisa menjamin kita bisa mengumpulkan uang puluhan juta untuk biaya konser? Kalau ga kekumpul, maksudnya lo mau ngutang gitu? Siapa yang bisa menjamin hasil pertunjukkan akan bagus dengan waktu latihan bersama yang bisa dihitung jari dan tanpa run-through sama sekali? Siapa yang dapat memastikan kerja sama dengan para volunteer eksternal ini bisa lancar, menimbang mereka tidak punya pengalaman sama sekali dalam manajemen produksi konser? Banyak sekali skenario buruk yang berputar di otakku karena segala ketidakpastian ini.

Konser ini sebenarnya project paling nekat yang pernah aku jalani. Bayangkan, ini adalah konser offline pertama sejak pandemi dan diisi oleh anggota angkatan pandemi yang dua tahun lamanya latihan dan berinteraksi secara online. Aku sendiri sebagai ketua dan steering committee tidak punya pengalaman bermain di konser orkestra full, apalagi terlibat jadi panitia. All sane people pasti akan prefer bikin acara berskala kecil, berbiaya kecil, dan yang risikonya minimal. Tapi–tebak apa yang kita rencanakan?–yeaa, let’s make a big-scale concert, something extravagant, kita undang penyanyi papan atas yang lagunya pernah masuk hot hits Spotify, kita sewa venue besar di luar kampus dengan video tron dan lighting dang pergantian kostum dan confetti. Part of the reason kita merencanakan hal besar seperti ini adalah karena judul “1 dekade”. Di tahun 2022 ini, Orkes Unpad merayakan 10 tahun pendiriannya, dan memang ada pressure untuk membuat konser yang lebih besar dari sebelumnya. Tapi tetap saja, a sane person pasti akan mikir kalau ini proyek terlampau ambisius dan tidak realistis. Tapi, what happened was…

It’s getting bigger and bigger than what we initially planned out.

Perkembangan ini terjadi di saat yang tak terduga, dan sering kali ketika panitia Orkes Unpad sudah berada di titik terendah. Pertama, masalah kru. I think everybody knows jika pemain konser double job jadi panitia acara, itu sama kayak bunuh diri. Bayangkan sudah capek latihan hampir setiap hari dan berjam-jam, tapi harus pula memikirkan keuangan, desain poster, ticketing, dan sebagainya. Tapi, ketika kita buka pendaftaran volunteer ke eksternal, tiba-tiba ada puluhan mahasiswa Pemasaran Internasional Polban yang bersedia jadi volunteer untuk memenuhi tugas project matkul mereka. Rasanya beneran kayak ketiban durian runtuh. Kedua, ketika kita kesulitan dapat sponsor (walaupun itu kesalahan sendiri sih karena strategi pencarian sponsor yang kurang baik), tiba-tiba ada aja orang luar yang memberikan donasi yang jumlahnya berjuta-juta. Lalu di saat rektorat Unpad menolak semua pengajuan dana untuk konser ini, ada Bu Dian, dosen pembina kami yang turun tangan melobi pejabat rektorat, hingga akhirnya di detik-detik terakhir mereka mau membantu biaya sound system yang sangat mahal itu. Kemudian ada aja jalannya kita bekerjasama dengan sekolah ballet, sehingga salah satu lagu konser, Salut D’Amore, diiringi oleh penari ballet yang menambah spice dan elegance di atas panggung.

It’s crazy bagaimana di konser pertama kita, di pengalaman (percobaan) pertama ini, kita bisa bekerjasama dan berkoordinasi dengan banyak orang dari berbagai institusi. Ada tiga universitas (Unpad, UPI, Polban), UKM (SPDC), sekolah ballet (Lily Ballet School), ditambah pemain luar yang kita hire (Jakarta Symphony Orchestra). Kalau dipikir-pikir lagi, ini project tergila yang pernah aku saksikan dan lakukan. If I could tell my past self tentang semua hal ini, I wouldn’t believe it.

Tentu saja, segala bantuan dan mukjizat di tengah jalan ini tidak muncul tanpa pengorbanan, perjuangan, lelah, dan air mata. Aku ingat bagaimana di grup WA yang berisi tiga orang; aku, project officer konser, dan ketua manajemen pertunjukkan, hampir setiap hari kami saling mengabarkan masalah-masalah baru. “Gais, ada masalah baru lagi nih” “Eh yang itu udah selesai belum? Aku mau bahas masalah lain nih”. Bener-bener deh “masalah” itu berdatangan seperti angin; gaada habis-habisnya. Sebenarnya untukku pribadi, pengalaman dihantam “masalah” tiada henti ini memberikan perasaan yang baru dan aneh, karena aku sampai pada titik “mati rasa”. Ketika ada kabar buruk, aku tidak lagi panik, rather I see “the problems” like speed bumps alias sesuatu yang absolut; niscaya terjadi di tengah jalan sehingga aku tidak perlu menghabiskan energi untuk bergulat dalam emosi. Bahkan, setiap ada masalah, aku menyempatkan sedikit waktu buat ketawa dulu: “haha, apalagi nih, dasar ya pengen aku cubit lama-lama hahaha”. Prinsip yang aku pelajari dari pengalaman ini adalah ketika dihantam masalah, just face it (and laught it off a second) until you make it through.

Rasa capek menghadapi masalah inilah yang membuatku merasakan sensasi yang aneh ketika tirai panggung terbuka, lampu menyorot para pemain, dan tangan conductor bergerak memberikan cue. Di samping adrenalin yang memuncak dan tangan kanan yang sedikit tremor, ada kelegaan yang muncul karena it’s finally getting started! Hajat yang sudah kita perjuangkan berbulan-bulan ini akhirnya sudah dimulai. Pada saat lagu pertama (Overture), meskipun aku belum tau bagaimana konser ini akan berakhir, tapi dadaku terasa sedikit lebih longgar.

Di pertengahan konser, di mana kita memainkan lagu-lagu klasik dan film (Salut D’Amore, Cinema Paradiso, Gabriel’s Oboe, My Memory), suasana panggung menjadi berbeda karena pencahayaan dibuat lebih dim. Cahaya keemasan berpendar hanya dari lampu-lampu partitur dan aku merasakan sensasi transendental, magis, dan misterius. Violin, viola, cello, contrabass mengalun bersahutan dengan piano, woodwinds, brass, dan sesekali percussion yang membantu momen-momen klimaks. Ketika para penari ballet memasuki panggung, seketika aku merasa berada di gedung opera luar negeri. I saw how their pointe shoes moving around mengikuti ritme musik. Ketika babak pertengahan konser usai, aku menengadahkan kepala ke atas wondering how fast time flies dan betapa tinggal beberapa menit lagi sebelum mencapai lagu terakhir. Di atas, aku melihat lampu panggung yang menggantung di langit-langit yang begitu tinggi; dan di sebelah kananku kulihat ratusan penonton yang duduk dengan khusyuk menghadap kami. In fact, pada saat itu aku sudah tidak memikirkan penonton, aku hanya merasakan kebahagiaan yang membuncah karena dapat meresapi momen-momen emas itu dengan semua pancaindraku.

the gorgeous dim lights I talked about

Di babak terakhir setlist lagu konser ini, sang artis, Feby Putri, masuk panggung dengan gaun putihnya. Dia berdiri tak lebih dari 2 meter di depanku sehingga aku bisa melihat kode-kode tangan di belakang punggungnya (it was probably kode buat teknisi sound). Suaranya begitu stabil dan on pitch, seperti yang kita ekspektasikan dari penyanyi profesional. Lagu Feby adalah part klimaks dari konser ini, sekaligus bagian yang ditunggu-tunggu oleh penonton. Aku ingat tema pencahayaan di lagu Feby adalah biru tua, dan aku masih bisa mengingat bagaimana tubuh-tubuh semua pemain orkestra dibalut oleh cahaya biru. Semua orang terdiam, kecuali musik yang mengalun dan suara Feby yang menggapai setiap sudut ruangan teater. Lalu sampailah kita pada outro lagu “Runtuh”, di mana harmoni lagu dibuat lebih minor dengan tempo dipercepat dua kali lipat untuk membangun suasana thriller dengan tambahan ledakan confetti yang bikin pemain dan penonton kaget. Sebelum lagu benar-benar berakhir, penonton sudah bertepuk tangan lebih awal dan mereka memberikan standing ovation. Momen itu benar-benar menyentuh bagiku, karena tepukan tangan yang lebih cepat itu terasa seperti apresiasi yang tak tertahankan dari mereka (It’s like “omg, I can’t wait to clap right now even though the song hasn’t ended yet!”).

Ketika lagu terakhir (Ingatlah Hari Ini) selesai kami mainkan dan tirai ditutup, dan penonton memberikan tepukan tangan untuk terakhir kalinya, aku menangis sesenggukan seperti dedek bayi. Dadaku yang sebelumnya sudah setengah less-tight, sekarang sudah sepenuhnya lega. Rasanya seperti botol soda yang banyak gas didalamnya dan akhirnya terbuka tutupnya. Beberapa penonton mendatangiku, menyalami, dan memelukku. Keluargaku juga naik ke atas panggung dan aku nangis di pelukan Papaku. Karena banyak curhatan kulimpahkan ke Papa, dia pasti mengerti betul arti tangisanku; itu bukan sekedar tears of joy, tapi juga rasa lega setelah menahan sakit begitu lama dan rasa syukur karena hasil konser ini sesuai yang aku inginkan.

Lalu aku pulang tengah malam ke hotel, menikmati malam yang anehnya begitu sepi setelah segala riuh dan ramai di atas panggung.

Konser ini mengajarkanku bahwa nothing is impossible selama kita punya komitmen, tim yang kuat, sabar, mau bekerja keras banting tulang, dan doa yang tak henti-hentinya terucap. Akumulasi dari energi puluhan orang ini bisa menghasilkan sesuatu yang besar dan mahal and I’m so so proud to be part of this big thing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: