Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

Beberapa minggu yang lalu, pemimpin redaksi KabarKampus.com, Om Furqan, menawarkan agar filmku yang berjudul “Menjadi Pandu Ibuku” tentang petani Kendeng di-screening di Kafe Kaka, Bandung dan didiskusikan dengan pelajar-pelajar SMA yang tergabung dalam Future Club. Aku jadi nervous, karena aku tahu filmku ini kalah lomba tingkat SMA dan rasanya ga layak ditonton orang banyak. Tapi, atas dorongan Mama, aku pun menyiapkan diri.

Hari Jumat lalu (29/9), pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat acara, aku ngebut selesain editing film yang masih banyak kekurangan itu. Tukang bangunan mondar-mandir ngecat rumah, mama-papa bolak-balik belanja keperluan, Reza tidur karena sakit, jadi aku sendirian di ruang tamu ngutak-ngatik laptop di atas karpet, berharap film-nya turn out good dan neat. Fiuh, lumayan bikin stres, padahal jam 1 siang aku harus sudah berangkat.

Aku dan mama berangkat pakai kereta. Sesampainya di Kafe Kaka, ternyata beberapa ortu Homeschooling teman Mama sudah datang, dan beberapa teman-teman HS.

Lanjutkan membaca “Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’”

Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi

Sudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan Kendeng.

Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang tersebut tertutupi.

Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini sebagai salah satu scene dalam filmku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi”

My Internship Experience #1

Selama sebulan aku mengikuti magang di tempat pembuatan film dokumenter bernama Watchdoc. Dalam sebulan itu, aku mendapatkan untaian pengalaman-pengalaman berharga yang sayang jika disimpan saja di memori. Maka, untuk menyimpan itu semua, aku menuliskannya  dengan bentuk jurnal di sini. Tantu aku tak bisa menceritakan semuanya dengan sangat detil, karena nanti malah jadi novel tersendiri 😀  Hope you enjoy my story

17-18 Oktober

Selesai mem-packing sejumlah pakaianku ke dalam koper, juga beberapa buku, laptop, dan alat mandi, aku menaiki mobil dan meluncur ke kantor Watchdoc di Bekasi. Setelah mengantre selama berbulan-bulan, pada pertengahan Oktober ini akhirnya aku mendapatkan kesempatan magang di sana. Bagaimana perasaanku? Excited, tapi sekaligus nervous. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun menjalani homeschooling, aku mencoba keluar dari zona nyaman dan mengeksplor ilmu di tempat yang asing.

Sebelum memutuskan untuk ikut program magang, aku sempat menonton film-film dokumenter buatan Watchdoc. Judulnya, Samin vs. Semen. Film itu bercerita tentang  petani di Kendeng yang berjuang melawan ekspansi lahan oleh perusahaan Semen. Hal pertama yang tercetus di pikiranku adalah, wah ternyata ada ya, orang-orang yang bikin film-film seperti ini. Aku juga terkesima dengan kualitas produksi film tersebut, termasuk soundtrack-nya yang ciamik (seketika aku menetapkan hati agar suatu hari bisa mengaransemen musik-musik seperti itu). Saat itulah, aku memutuskan ingin magang di Watchdoc.

watchdic

Beruntungnya, ternyata bos-nya Watchdoc, Dandhy Laksono, adalah teman Mamaku di Facebook. Setelah dapat email-nya, aku menuliskan surat penawaran diri untuk magang. Dan tak lama setelah itu, Om Dandhy membalas pesanku dengan positif, meski katanya aku harus sabar mengantre selama berbulan-bulan ke depan.

Perjalanan ke kantor Watchdoc  ternyata sedikit memusingkan, karena untuk mencapai lokasi kantor, aku harus melewati jalanan sempit yang tak terduga. Menariknya, ternyata kantor Watchdoc itu berbentuk rumah! Wah, bekerja di sini akan sama rasanya seperti aku belajar sehari-hari di rumah, pikirku.

Lanjutkan membaca “My Internship Experience #1”

Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita

Kemarin, aku dan Mama mengikuti acara nonton bareng (lagi), yaitu film Jakarta Unfair di acara Literasi Kebangsaan, Bandung. Kami sampai di lokasi pemutaran  film  (Gedung Indonesia Menggugat) jam setengah empat sore, namun acara belum dimulai. Di sana terdapat banyak stand buku, jadi aku membeli buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis karya David Harvey. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol bareng teman-teman Mama. Kami bicara tentang penggusuran, buku-buku klasik, dan lainnya.

Mengenai film Jakarta Unfair, ini adalah film dokumenter tentang penggusuran yang mengambil perspektif pure dari para korban penggusuran. Aku sebenarnya sudah menonton filmnya (yang baru kelar 80%) di limited screening di kantor Watchdoc saat aku masih magang di sana. Saat itu didatangkan para akademisi dan jurnalis untuk mengkritisi kekurangan film tersebut. Nah, kali ini, aku mau menonton hasilnya setelah jadi 100%.
jakarta-unfair
Sekitar jam setengah 5, acara pun akhirnya dimulai. Film ini dibuka dengan suasana kehidupan masyarakat di beberapa titik penggusuran di Jakarta (yang kuingat hanyalah Bukit Duri, Kampung Dadap, Kalijodo, dan Pasar Ikan). Mereka kebanyakan beraktivitas sebagai nelayan dan pedagang di pasar. Ketika pemerintah menggusur tempat tinggal mereka, mereka terpaksa pindah ke rusun yang jaraknya berkilo-kilo meter dari tempat kerja asli mereka.

Pemindahan ke rusun sendiri mengandung banyak masalah.  Pertama, pemerintah berjanji untuk memberikan gerobak gratis agar masyarakat yang pindah ke rusun bisa bekerja. Tapi menurut pengakuan seorang bapak dari Pasar Ikan, ia membeli gerobak sendiri dan berjualan nasi goreng dengan pemasukan sangat sedikit—jauh jika dibandingkan pekerjaan sebelumnya di kampung. Di saat yang sama, tinggal di rusun ternyata tidak gratis. Setelah tiga bulan tinggal, mereka harus membayar sewa. Jika tak juga membayar, rumah mereka akan disegel. Hal itu jelas-jelas tidak adil, melihat kondisi finansial penduduk rusun yang tak mumpuni.

Lanjutkan membaca “Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita”

Kirana On ‘Seleksi Universitas’

11-13 Mei 2016

Aku bangun pagi-pagi dengan perasaan masih kecewa dengan ujian kemarin karena aku tidak bisa mengerjakannya dengan maksimal. Kemarin malam, setelah makan roti bakar dan lemon tea di cafe, aku dan Mama naik angkot ke stasiun Cikudapateh. Kami menunggu selama setengah jam di stasiun dan memulai percakapan tentang rencana pendidikanku ke depan.

Ya, sampai sekarang ini aku masih ragu-ragu dengan pendidikan yang ingin aku tempuh. Seminggu yang lalu Mamaku ikut seminar tentang pendidikan. Dari seminar itu Mamaku mendapat beberapa poin penting tentang tujuan karir anak didik; pertama adalah menjadi entrepreneur—pebisnis,  jualan. Kedua adalah pekerjaan profesional, yakitu pekerjaan yang tidak perlu ijazah sekolah, seperti musisi dan penulis. Ketiga adalah akademisi—pekerjaan yang butuh ijazah setinggi-tingginya, seperti dokter dan dosen.

Nah, masalahnya, aku tuh tertarik pada tiga bidang yang berbeda; musisi, penulis, dan filsafat/HI. Musisi dan penulis masuk bagian profesional, sedangkan filsafat/HI masuknya ke pekerjaan akademisi. Kalau aku memilih pekerjaan profesional, meskipun memang tidak butuh ijazah, namun memang lebih baik ambil kuliah di luar negeri. Sedangkan kalau mau jadi akademisi, aku ikuti saja jalan Mama dan Papaku dengan kuliah di Indonesia.

Lanjutkan membaca “Kirana On ‘Seleksi Universitas’”

Pengalaman Ujian Paket B

9-11 Mei 2016.

Hari Rabu kemarin adalah hari terakhir ujian paket B dalam rangkaian 3 hari ujian yang betul-betul melelahkan. Sudah tiga tahun aku tidak mengerjakan ujian apapun di rumah, dan demi mendapat ijazah SMP, aku terpaksa duduk di kelas di sebuah sekolah dasar di Bandung dan mengisi 90 sampai 100 soal dalam 4 jam. That was insane. Kepalaku seperti dipelintir sampai benyek. Kalau mengerjakannya sambil leyeh-leyeh di lantai dan makan snack seperti yang biasa aku lakukan kalau belajar di rumah, aku rasa keadaanya ga akan separah itu.

Hari pertama, pelajaran yang diujiankan itu Bahasa Indonesia dan PKN. Aku udah pede jadi ga belajar sama sekali sebelumnya. Dari 2 jam yang diberikan untuk mengerjakan setiap pelajaran, aku dan anak-anak lain dari komunitas HS Pewaris Bangsa sudah selesai dalam waktu hampir setengahnya. Di waktu luang, karena tidak boleh buka hape, aku menulis ide-ide cerpen untuk ARKI 2016 di kertas soal yang kosong. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat peka terhadap kejadian sekitar dan mudah mendapat ide-ide baru yang menarik. Tapi kemudian, si Ibu pengawas ujian melarang kami mencorat-coret kertas. Jadilah kami semua melamun saja sepanjang sisa waktu.

Lanjutkan membaca “Pengalaman Ujian Paket B”

Traveling to Lombok, Again!

Sebenarnya, tiga bulan sebelumnya aku sudah jalan-jalan ke Lombok beserta teman-teman finalis LWC 2015. Namun kali ini aku mengunjungi Lombok bersama keluargaku. Dari Bali, kami pergi ke pelabuhan Bangsal, dianter oleh Om Idrus. Mama beli tiket, untuk 6 orang totalnya Rp243rb. Setelah setengah jam menunggu, datanglah kapal yang cukup besar, yang akan membawa kami menuju pulau Lombok.

Perjalanan cukup lama. Seru juga naik kapal ferry ini. Ruang tunggunya luas dan nyaman, ada AC-nya. Adikku Reza dengan antusias jalan-jalan keliling kapal. Dia bilang, “Serasa mimpi!” hehe.. ini pertama kalinya kami naik kapal (dulu waktu aku bayi pernah sih, naik kapal ferry). Kami sampai di Pelabuhan Lembar sekitar jam 1 siang. Panasnya terik banget. Setelah sholat (akhirnya di sini kami dengan mudah menemui masjid&mushola!), kami dijemput oleh teman Papa & Mama. Dengan menaiki mobil, kami menuju pelabuhan Bangsal (karena tujuan kami adalah pulau Gili Trawangan, jadi harus naik kapal kecil lagi).

Di perjalanan kami melewati pantai Senggigi yang panjang dan indaaaah sekali. Dan tiba-tiba ingatanku kembali sewaktu tiga bulan yang lalu di dalam bus bersama 28 finalis LWC melewati pantai Senggigi ini juga menuju Gili Trawangan. Ah, flashback

Sampai Bangsal, kami naik kapal lagi selama beberapa menit ke Gili Trawangan. Tiketnya @19.500. Sesampainya di sana, sama seperti pengalamanku sebelumnya, kami menemui banyak orang bule. Pengunjung bule yang datang lebih banyak dari orang lokal. Kami berkeliling sebentar untuk mencari homestay murah, nyaman, dan tak begitu jauh dari pelabuhan, karena banyaknya tas yang kami bawa. Akhirnya ketemu, harganya 250.000 per-malam (itu setelah ditawar papaku; katanya sih saat musim liburan, harga normalnya 500rb). Dari pelabuhan, belok ke kanan, jalan sedikit. Namanya Pondok Wildan. Begitu masuk, aku langsung suka. Kamarnya nyaman, ada AC, dan kamar mandinya didesain seperti taman; ada tanaman dan batu-batu telur di lantainya. Dan kami pun beristirahat untuk mempersiapkan energi untuk kegiatan esok hari.

Snorkeling!

Pagi-pagi kami sudah bangun. Mama sudah membeli tiket snorkeling untuk kami ber-6 seharga Rp. 90.000 per orang (itu setelah ditawar, hehe). Dan kami harus sudah di berkumpul di kapal jam 10 pagi. Namun sebelum itu, kami menyewa sepeda dan berjalan-jalan dahulu di sekeliling gili. Sepanjang jalan yang kami lewati dipenuhi penginapan, homestay, dan restoran. Nenekku ternyata juga bisa naik sepeda, lho, hehehe.

Jpeg

Lanjutkan membaca “Traveling to Lombok, Again!”

Traveling to Bali

Awalnya perjalanan ini direncanakan bulan Agustus (dan telah disiapkan Mama beberapa bulan sebelumnya). Namun karena mendadak ada kabar bahwa aku lolos final lomba menulis LWC 2015, lalu ortuku dapat undangan ikut konferensi internasional di Teheran, dan tanteku tiba-tiba ikut training di Michigan, maka trip ke Bali-Lombok diundur sampai bulan Oktober. Kami pergi berombongan dengan 6 anggota, aku, mama, papa, adikku, tanteku, dan nenekku.

Kami pergi pagi-pagi sekali menaiki mobil ke bandara Husein Sastranegara. Sesudah check-in, ternyata ada kabar pesawat untuk ke Bali tertahan di Medan karena kabut asap. Jadilah ratusan penumpang terlantar di bandara. Karena kursi-kursi sudah penuh, banyak yang duduk berjam-jam di lantai (termasuk aku, hiks…). Tapi akhirnya setelah menunggu sampai bosan, kami dipanggil juga untuk naik pesawat.

Kami sampai di Denpasar ketika mentari hampir tenggelam. Di bandara sudah menunggu teman Mamaku, Om Idrus dan Tante Naida, yang akan menampung kami di rumahnya selama 3 malam. Aku berkenalan dengan anaknya, namanya Sundus. Dalam sekejap kami berdua tenggelam dalam percakapan khas remaja (hehe) sampai-sampai tak sadar sudah sampai di restoran di pantai Jimbaran untuk makan malam. Meja-meja makan tersusun di atas pasir pantai dengan lilin-lilin yang bersinar redup untuk menyinari tempat ini. Angin malam dan suara ombak berdesir halus. Setelah pelayan menyediakan semua makanan, kami menyantapnya dengan puas. Ada ikan bakar, udang, serta macam-macam sambal. Tapi yang menjadi favoritku adalah es kelapa muda. Dagingnya tebal dan airnya manis tanpa dicampur gula.

Jpeg

Santapan habis, kami langsung ke rumah om Idrus. Aku dan Sundus ngobrol terus, nggak habis-habis, seru sih. Malah akhirnya aku tidur di kamar Sundus yang full pinky itu. Adikku curhat di blognya kalau dia jadi kesepian karena aku ngobrol terus sama Sundus. Hehe, maaf ya Reza!

Hari Pertama

Jam 8 pagi, kami sudah bersiap di dalam mobil rental. Papaku yang akan menyetir hari ini dengan bantuan google map. Pertama-tama, kami pergi ke Ubud Monkey Forest. Di gerbang masuk Monkey Forest, aku membaca peraturan yang harus diikuti. Pertama, jangan memakai perhiasan berlebihan dan barang plastik, karena rawan direbut oleh-oleh monyet-monyet yang berkeliaran bebas di sini. Lalu, jika ada monyet yang tiba-tiba naik ke badan kita, jangan ketakutan. Lemparkan saja makanan mereka ke tanah, nanti monyet itu akan pergi. Benar saja, ada monyet yang tiba-tiba merebut air mineral kemasan yang dibawa mamaku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Bali”

Backpacker to Esfahan

Bulan Agustus yang lalu, aku dan keluargaku jalan-jalan ke Iran. Di antara kota-kota yang kami kunjungi, yang paling bikin aku terkesan adalah Isfahan. Ini kisah perjalananku ke Esfahan (= Isfahan).
***

Saat itu langit Teheran masih remang-remang. Aku dan keluargaku keluar dari apartemen tempat kami menginap (rumahnya temen Papaku) sambil menggendong ransel. Kami lalu naik taksi ke terminal bus.

Seusai sholat subuh di terminal, kami sekeluarga memilih bus paling murah, sekitar 50 ribu rupiah (tapi tetap nyaman dan pake AC, plus disediakan kue, jus, dan air dingin gratis). Yeah, kami memulai backpacker trip kami ke kota yang dijuluki “setengah keindahan dunia” : ISFAHAN.

Bus ekonomi itu melaju kencang melewati jalanan Tehran yang sepi menuju kota tujuan, Isfahan. Rasanya saat itu kami duduk lama sekali. Kucek jam, ternyata kami sudah berjalan lebih dari lima jam! Uh, ternyata jarak Teheran-Isfahan jauh lebih lama dari yang kukira. Tepat jam 12 siang, ketika matahari pas di atas ubun-ubun, kami turun dari bus dan cepat-cepat mencari taksi. Ketika itu di Iran sedang musim panas. Dan panas yang menerpa sungguh sangat menusuk. Yang bikin kesal adalah, taksi-taksi di sini tidak pernah menyalakan AC nya karena mesin mobil mereka katanya akan cepat panas. Alhasil mereka hanya mau membuka jendela dan angin panas pun menampar-nampar pipiku. Hwaaa..!

Pertama-tama, kami mau mencari hotel dulu agar tak terbebani oleh ransel-ransel yang lumayan berat ini. Mamaku ngasal aja, minta ke sopir taksi supaya diantar ke istana Chehel Sotoun. Pikir Mama, yang penting cari tempat teduh dulu, lalu makan, baru cari hotel. Istana pasti kan teduh, hehe.

Benar saja, kami diturunkan di Meidan Imam Hasan (Imam Hasan Square), tak jauh dari Istana Chehel Sotoun. Di sana banyak pohon-pohon besar dan teduh sekali. Kami lalu berjalan kaki, mencari-cari restoran. Akhirnya di sebuah gang, ketemu restoran tradisional Isfahan, menyajikan briyani dan minuman asem terbuat dari yoghurt. Hm, enak juga!

Setelah perut kenyang, kami lalu bertanya ke penduduk setempat di mana losmen yang paling dekat dari situ. Kami akhirnya menemukan losmen yang relatif murah, persis di seputar Imam Hasan Square itu. Sepertinya ini losmen khusus buat backpacker, soalnya sederhana dan kamarnya luas berisi 6 kasur. Papaku yang merasa tak enak badan memilih beristirahat di losmen. Aku, Mama, dan Reza kemudian pergi menuju tempat wisata.

Tujuan pertama adalah Gereja Vank atau Saint Joseph of Arimathea. Kami naik bis kota, haltenya tepat di depan losmen, bayar sekitar 15.000 rupiah bertiga. Di jalan aku melihat berbagai gedung kuno yang indah. Kota Isfahan rapi dan indah sekali.

Turun bis, kami makan es krim dulu. Enak banget makan es krim di tengah panas menyengat begini. Lalu, jalan kaki mencari-cari Gereja Vank. Setelah nanya-nanya orang di jalan, akhirnya ketemu juga. Letaknya di perkampungan Armenia.

gereja vank
gereja vank

Lanjutkan membaca “Backpacker to Esfahan”

LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan

Hari Ketiga, 9 Agustus 2015

Aku menghela napas berkali-kali. Hari ini hari perlombaan! Kata kakak panitia, kami harus menuliskan kembali pengalaman kemi selama dua hari terakhir di Lombok dalam bentuk surat. Sebenarnya, malam sebelumnya aku sudah menyiapkan semua yang kuperlukan untuk lomba. Data-data tentang budaya Lombok dan wisata alamnya yang kuperoleh sepanjang perjalanan kemarin telah kukumpulkan dengan bentuk Mind Map.

Ketika sarapan, temanku bertanya dengan gelisah, “Nanti lombanya gimana ya? Aku ga punya ide bagaimana cara menuliskannya supaya bagus,”

Sebelum perlombaan, panitia telah mengundang tiga orang terkenal  dalam dunia kepenulisan untuk sharing ilmu mereka ke para peserta.

Jam 9 pagi, Kak Gina S. Noer maju ke depan untuk mengajarkan proses menulis skenario film. Kak Gina ini kan, yang membuat skenario film Ayat-Ayat Cinta! Wuhu… Aku senang bisa belajar banyak darinya.

JpegLWC1LWC2

Berikutnya, datanglah Tere Liye ke dalam ruangan. Dialah yang kutunggu-tunggu! Penulis buku Hafalan Sholat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah ini adalah salah satu penulis sukses di Indonesia. Karya-karyanya dibuat film layar lebar. Dan sekarang dia berdiri tepat di hadapanku! Yah, meskipun aku bukan pengagum berat buku-bukunya, tapi tetap saja aku merasa beruntung. 😀

Kak Tere kemudian memberi pelatihan menulis kepada kami. Pertama ia memberi tahu betapa pentingnya kami mencari sudut pandang yang spesial untuk menulis cerita. Untuk melatih poin ini, Kak Tere meminta kami menuliskan satu paragraf dengan kata ‘hitam’. Sebagian besar dari kami, termasuk aku, langsung menuliskan tentang ‘malam’, karena malam dan hitam itu memang berhubungan erat satu sama lain.

“Pada dasarnya, ide itu sama. Tapi yang membuatnya spesial adalah ketika penulis mencari sudut pandang yang spesial,” tutur Kak Tere.

Poin kedua, Kak Tere berkata bahwa penulis itu harus punya amunisi yang cukup untuk menyelesaikan cerita. Amunisi yang dimaksud itu semacam kapasitas pengetahuan. Untuk bisa mendapatkannya, penulis harus banyak-banyak baca buku, majalah, internet. Kak Tere kemudian meminta kami menyebutkan 15 sinonim dari kata ‘sebal’. Dan ia terkejut karena kami ternyata bisa menyebutkan semuanya dalam waktu singkat. “Saya terlalu underestimate. Sudah berkali-kali saya memberi pelatihan, tapi kalian yang pertama berhasil merampungkan 15 kata ini.”

Iya dong, Kak… hehehe.

kak Tere
kak Tere

Kak Tere memberikan beberapa poin lagi mengenai masalah mood, bagaimana mengawali cerita, juga pentingnya pantang menyerah untuk mengirimkan karya ke penerbit. Kalau penerbit pertama menolak naskah kita, kirim lagi ke penerbit yang lain.

Pelatihan selesai. Setelah break, kami harus kembali lagi ke ruang pelatihan untuk memulai lomba. Panitia membagikan empat lembar kertas folio ke seluruh peserta. Kami boleh menulis di mana saja, tapi harus tetap di dalam hotel. Aku memilih menulis di pojok ruangan supaya lebih fokus (ketahuan diriku penyendiri :D).

Di saat penting seperti ini, tiba-tiba datang masalah. Pulpenku hilang! Aku akhirnya terpaksa memakai pulpen lain yang tidak enak dipakai. Akhirnya, tulisan tanganku jadi kelihatan berantakan. Padahal kata kakak panitia, juri juga akan menilai tulisan tangan kami. Duh, Kiranaaa… kamu ceroboh sekali!

Dua jam berlalu. Lomba selesai. Aku menghela napas getir. Temanku berkali-kali bilang bahwa tulisan tanganku baik-baik saja, tapi tetap saja aku merasa gundah.

Acara selanjutnya adalah motivasi menulis dengan Habiburrahman El-Shirazy. Namun insiden pulpen itu terus melekat di kepalaku, membuatku tidak fokus lagi mendengar tutur Kak Habiburrahman.

LWC3
bersama kak Habiburrahman

Malam Apresiasi

Sehabis Maghrib, kami semua diantar bus menuju pendopo kantor gubernur NTB. Aku dan kedua teman sekamarku sebelumnya berdoa bersama supaya ketiga juara yang diumumkan nanti adalah kami bertiga. Meski terdengar mustahil, tapi kami tertawa saja membayangkan ada tiga piala di kamar kami nanti. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan”