Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi

Sudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan Kendeng.

Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang tersebut tertutupi.

Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini sebagai salah satu scene dalam filmku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi”

Visualisasi: Tips Menghilangkan Kecemasan Saat Ujian

Pagi itu terlihat muram. Ya, semuram hati yang begitu cemas dengan soal-soal ujian yang akan keluar. Kamu bertanya-tanya terus dalam hati sepanjang perjalanan ke ruang tes, apakah soalnya sulit? Aduh, gimana kalau aku tidak bisa mengerjakannya? Kalau dapat angka merah malu, deh. Kemarin aku udah cukup kan, belajarnya? Apa ada materi-materi yang terlewati?

Ya, pagi itu penuh dengan pikiran-pikiran negatif yang tidak baik. Kamu harus tahu, ketika pikiranmu terus-terusan berpikir seperti itu–gak lulus, soalnya susah, takut lupa–secara tidak sadar otakmu akan mengabulkan perkataan itu. Your state of mind is a magnet that creates your reality. Situasi tubuhmu akan makin buruk; tangan tiba-tiba gemetaran, sakit perut di tengah ujian, dan kamu malah tidak fokus dan gagal.

psych-tests

Oke, mungkin kamu sering banget mendengar nasihat seperti itu dari orang-orang sekitar; “Hush, jangan mikir yang jelek-jelek, nanti kejadian, lho!” Tapi tetap saja kamu tidak bisa menjaga pikiranmu untuk memikirkan hal buruk. Bayang-bayang kegagalan terus menghantuimu sebelum hari-H ujian. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Nah, kuperkenalkan sebuah teknik persiapan mental yang disebut Visualisasi. Jujur saja, teknik ini aku ketahui dari buku-buku obralan di gramedia yang dibeli mamaku. Buku itu sudah lusuh dan tidak terlihat seperti buku psikologi yang menjanjikan. Namun isinya ternyata sangat bermanfaat. Aku bisa melewati UN SD-ku dua lalu tanpa deg-degan sedikitpun, dan berhasil dapat NEM 28,20 dari 30.

Lanjutkan membaca “Visualisasi: Tips Menghilangkan Kecemasan Saat Ujian”

Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau

Sudah tiga bulan yang lalu Mamaku membooking tiket untuk berwisata di Bosscha, tempat peneropongan bintang yang terletak di Lembang. Kami membeli sembilan tiket. Empat untuk keluargaku, satu untuk Enin (yang aku ajak jalan-jalan juga ke Floating Market), dua untuk sepupuku, dan dua lagi buat teman-temannya. Tak lupa kami membawa makan malam sendiri-sendiri, mengingat wisata bintangnya baru berakhir sekitar jam 8 malam.

Jam dua siang, kami sudah bersiap-siap dan berangkat. Kami memang harus berada di disana jam 5 sore. Siang itu di dalam mobil cerah sekali. Tapi pas keluar dari tol, tiba-tiba hujan rontok dari langit. Kami semua sempat cemas. Kalau mendung berarti bintang-bintangnya tidak bisa kelihatan, dong? Enin-ku yang sholehah banget langsung menyuruh kami untuk membaca surat Al-Fatihah 21 kali supaya hujannya berhenti.

Sampai di tempat tujuan, langit masih mendung dan sedikit gerimis. Angin Lembang berlayar ke sekelilingku, merantai tulang-tulangku dalam kecamuk beku. Ah, kenapa aku lupa bawa jaket? Aku meringis kedinginan.

Jpeg

Di wilayah Bosscha ini, aku melihat banyak mahasiswa yang menjadi petugas yang menyiapkan teropong kecil dan yang besar. Mereka juga dengan murah hati memberitahu tempat-tempat teleskop yang ada, serta memberi penjelasan-penjelasan tentang asal-usul teleskop itu.

Teleskop pertama yang kami kunjungi adalah teleskop Bamberg untuk meneropong bulan. Kata kakak mahasiswa berjilbab, teleskop itu dipesan dari Jerman lalu dirakit di Indonesia. Sayang saat itu kami tidak bisa mengintip ke teleskop, karena awan gendut yang dengan tenangnya menghalangi bulan.

Jpeg

Teleskop kedua adalah teleskop surya. Nah, karena hari itu sudah sore dan matahari sudah tidak ada lagi, kami hanya diajak jalan-jalan melihat-lihat foto penjelasan tentang matahari di dalam ruangan teleskop itu.

Jpeg

Akhirnya waktu menunjuk angka 6. Kami langsung pergi ke teleskop ke tiga (di gedung Kupel) dan yang terbesar yaitu teleskop Zeiss. Teleskop itu berada di dalam kubah yang besar, yang terasa familiar karena sering kulihat di foto-foto. Masuk ke sana, aku bisa melihat teleskop raksasa yang menggantung di langit-langit kubah. Ada seorang bapak-bapak yang berdiri di samping teleksop itu dan berdiri di atas panggung besi berbentuk bulat yang dipagari. Para pengunjung disuruh berdiri di sisi-sisi panggung itu. Lalu bapak itu mulai menjelaskan tentang astronomi dan cara kerja teropong Zeiss secara umum.

Jpeg

Lanjutkan membaca “Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau”

Terdampar Ceria di Floating Market Lembang

Nenekku datang ke rumahku jauh-jauh dari Jatiwangi. Well, namanya juga nenek, pastilah suka ikut-ikutan cucu-cucunya kemanapun. Hanya melihat cucunya saja beliau sudah senang, apalagi ikut jalan-jalan. Jadilah kami sekeluarga mengajak Enin (nenek dalam bahasa Sunda) berwisata ke Taman Kupu-Kupu Cihanjuang.

Tempatnya ternyata susah dicari. Papan namanya kecil sekali sehingga kami tak sadar melewatinya. Ketika sudah sampai, gerbangnya tertutup tapi tak dikunci. Mamaku turun dan mengecek tempat satpam di dekat gerbang. Tak ada siapa-siapa. Mobil kami berseluncur saja ke dalam. Di dalam sana banyak bunyi-bunyian binatang khas hutan. Bangunan kanan-kiri kosong, ringkih, dan berdebu. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Sepi. Seperti kota tua yang terlupa. Dan, tidak ada satu pun kupu-kupu di sana.

“Tempatnya sudah tutup sejak setahun lalu!” kata seorang bapak berjaket hitam.

Kami semua di dalam mobil melongo. Kok tidak ada pemberitahuan apapun di internet?

“Oh, begitu. Jadi di sekitar sini ada tempat wisata apa saja yang bisa dikunjungi?” tanya Papaku.

“Ke Floating Market saja, Pak. Tinggal lurus ke atas ke arah Lembang. Jaraknya paling 4 kilo meter lagi,”

Mobil kami putar balik keluar. Setelah 4 kilo meter berjalan menanjak, kami tak menemukan tanda-tanda tempat wisata apapun. Papaku bertanya ke warga setempat.

“Masih 7 kilo meter lagi,”

7 meter kemudian juga tak ada apapun.

Orang berikutnya menjawab,”10 kilo meter lagi.”

Oke. This is confusing!

Papaku akhirnya menyuruhku searching alamat tempat itu di internet. Floating Market tersebut ternyata berada di Jalan Grand Hotel Lembang yang lumayan jauh dari Taman Kupu-Kupu.

Kami akhirnya sampai di tempat tujuan 40 menit kemudian. Parkir mobilnya sangat luas dan kami harus membayar 15.000 per orang untuk parkir dan tiket masuk. Tiket itu bisa ditukar di dalam dengan minuman di dalam sana.

Masuk ke dalam, kami disuguhi taman-taman cantik dan saung tradisional. Ada kolam luas yang di atasnya terapung kapal-kapal yang bisa disewa pengunjung. Kami menyewa sampan kecil yang didayung petugas dan berlayar sampai seberang.

Jpeg

Rombongan kami berjalan mengikuti jalan setapak dan sampai ke wilayah Floating Market itu sendiri. Ada banyak penjual makanan yang duduk di atas sampan yang terikat di daratan. Orang-orang berlalu-lalang melewati berbagai makanan yang membuat air lur menetes. Nah, untuk pembayaran, kami tidak diperbolahkan membayar dengan uang cash ke pedagang. Uang harus ditukarkan dulu dengan koin plastik di kios penukaran uang lalu baru boleh membeli makanan. Di samping jajaran sampan pedagang itu, ada banyak meja dan kursi. Namun karena hari itu pengunjungnya ramai, tidak semua orang dapat tempat duduk.

Lanjutkan membaca “Terdampar Ceria di Floating Market Lembang”