Merenungi Suriah

21 Mei 2016

Hari ini aku excited karena aku untuk pertama kalinya aku akan mengunjungi UI lalu akan menonton Mamaku berbicara tentang Suriah. Pagi buta, aku dan Mama berangkat menuju Cileunyi, mengejar bus yang ke Jakarta. Sesampainya di sana kami dijemput Papaku dengan mobil, lalu kami ke tempat Mamaku mengajar. Mama langsung ngajar karena sudah telat, aku dan Papa sarapan di warung makan dekat sana, sambil mengobrol tentang pertunjukkan biolaku minggu lalu dan kelas teori ABRSM grade 6 yang aku ikuti.

Jam 10 aku dan Papa meluncur ke UI. Aku terkagum-kagum ketika memasuki universitas paling terkenal se-Indonesia ini. Pasti keren kalau aku bisa menjadi salah satu mahasiswanya. Tapi, masalahnya, karena ini di Jakarta, jadi hawanya panas sekali. Ah, sepertinya lebih nyaman kuliah di UNPAD, hahah…

Awalnya aku ingin ikut forum dimana Papaku jadi pembicara. Tapi setelah melihat ruangannya kecil dan isinya orang dewasa semua, jadi aku memilih tidur dan mendengar lagu saja di dalam mobil.

Selesai acara, kami menjemput Mama dan pergi menuju ke sebuah lembaga para frater (calon pastor). Di jalan sempat macet karena hujan sangat lebat, sehingga kami telat 10 menit. Mamaku sudah gelisah karena dia tidak suka telat menghadiri acara.

Lanjutkan membaca “Merenungi Suriah”

Thinking About Andre, Thinking About the World

After reading Andre Vltchek’s book about Indonesia, Archipelago of Fear, I began to stalk him on social media, reading his biography on wikipedia and many of his articles about problematic countries from all around the world. What was in my head after discovered all of those stuffs, then? I was so inspired and started to think that I want to be like him. Furthermore, I felt like I’m obligated to. There are people somewhere on this earth who really needs me right now and in the future. The people who suffers, whose rights have been taken away, whose being tortured by greedy-rich people. Despite the fact that I fortunately born in a middle-income family so I can get a decent education, I surely have responsibility to help other people who can not live as lucky as I am.

Reading a bunch of his articles about Indonesia and other developing countries, I realized that being a journalist like Andre is not an easy job. Physically, it must be very tiring. But I think the most terrible thing is the mental and emotional pressures when seeing murdered, starving, and tortured people. It will be very hard to keep determined in the middle of battlefield, being chased or blacklisted by goverment. I’m just wondering what will I do in those situations; hearing screams and shouts from victims, watching the flames from burning houses, and the bombs that cracked up the whole city. I could feel the scary feeling while reading Andre’s article about the time when he met an innocent Syrian girl in a refugee camp. When he heard people shouting in the middle of the night, alone, he felt totally vulnerable. It got me imagining how horrendous journalist life is. It is really a difficult job, but eventually we have no choice. Someone has to make the real information flow to the public.

Her adorable smile makes me so sad :(
Her adorable smile makes me so sad 😦 [photo: Andre Vltchek]
Then, what does he do when facing those scary moments in those hideous places? Andre wrote, “When things get tough, I imagine a few people; men, women and children, from all corners of the world; people who touched me, who suffered immensely, and who are still most likely in distress. Their faces, their tears, even their screams, motivate me to keep working.

Lanjutkan membaca “Thinking About Andre, Thinking About the World”

Filsafat #1: Mitos dan Logos

Alright, kali ini yang aku tuliskan agak berat. Kemarin baru saja menonton video filsafat yang diajari oleh professor Indonesia yang pernah kuliah di Italia. And it was interesting. Keinginanku untuk kuliah di filsafat makin menjadi-jadi. Tapi, seperti yang kuduga, karena filsafat yang diajarkan adalah filsafat Barat, jadi -setelah diskusi dengan papaku– aku menemukan beberapa kesalahan fatal tentang sudut pandangnya terhadap agama; agama Islam tepatnya.
filsafat
Pada abad ke 6, ketika globalisasi belum ada, di seluruh dunia (especially di Yunani) simultaneously terjadi pergantian cara berpikir dari ‘mitos’ menjadi ‘logos’.

Cara berpikir mitos mempunyai beberapa ciri, yaitu imagerial; yang bertitik tumpu pada image, citra, atau bentuk. Misalnya di legenda tangkuban perahu, orang-orang jaman dulu melihat sebuah gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik, kemudian mereka buatlah cerita yang berkorelasi dengan itu, sehingga terciptalah legenda tangkuban perahu. Ciri kedua, yaitu persepsi yang undifferentiated; semua hal diperlakukan sama dengan manusia; bisa diajak bicara, diminta pertolongan, dan sebagainya. Maka itulah jaman dahulu terdapat adat-adat seperti tarian hujan (hujan dianggap bisa mendengar manusia) atau minta rezeki dari pohon (pohon yang sebenarnya benda mati dipercayai bisa memberi). Ciri ketiga, yaitu kultur lisan (ciri favorit saya); di mana orang-orang memaknai suatu kata dari efek imajinatif/auranya, bukan makna otentik dari kata itu sendiri. Sebagai contoh, ada gedung-gedung di Indonesia yang dinamai, misalnya Manala Swanabakti. Ada artinyakah? Tidak. Namun kata itu memang punya kesan greatness dan mirip kata sansakerta yang terkesan tua dan elegan.

Manusia kemudian mulai menyadari bahwa segala sesuatu itu haruslah logis dan masuk akal, karena pemakaian akal itu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Maka terbentuklah cara berpikir logos. Ciri logos yang pertama adalah konsep yang menjadi pilar dan makna yang denotatif (dipastikan); makna haruslah tunggal, tidak seperti mitos yang mempunyai kecenderuangan bermakna banyak. Makanya dalam sains, definisi kata itu sangat penting. Ciri kedua, presisi yang spesifik (differentiated). Semua hal harus dipilah. Manusia adalah manusia. Benda mati adalah benda mati. Tidak boleh disamakan. Ciri ketiga, kultur baca-tulis. Manusia menyadari bahwa memori mereka terbatas. Maka dengan menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan, ide-ide dan ilmu mereka bisa bertahan lama.

Dari kedua penjelasan di atas, pendeknya, logos maunya ‘menjelaskan’, sedangkan mitos itu ‘melukiskan/menyentuhkan pada kesadaran’. Logos itu bentuknya pasti, sedangkan mitos itu misteri; masalah dalam mitos yang deep dan misterius tak bisa diselesaikan segampang logos yang bisa dihitung dan dipastikan. Logos dipakai dengan nalar, sedangkan mitos dengan hati. Logos itu yang menjadikan pesawat yang beratnya berton-ton bisa terbang, sedangkan mitos itu tentang mengapa manusia bisa bahagia mendengar musik yang indah dan senang melihat lukisan rupawan.

Hal yang ingin aku kritisi dari pernyataan professor itu adalah mengenai agama. Dia bilang, agama adalah mitos. Dalam arti, agama hanya bisa dirasakan oleh hati, bukan oleh akal. Benarkah begitu? Benarkah agama memang benar-benar tidak masuk nalar? Ya, kelihatannya begitu, ya kan? Tuhan, malaikat, surga, dan neraka itu tidak kelihatan. Kita percaya hal-hal karena semata-mata ‘kata orang, ustad, orangtua’. Well, harus aku tekankan di sini bahwa sesuatu yg logos itu tidak harus empiris. Kesalahan utama orang-orang Barat adalah meyakini bahwa semua hal itu ada kalau kelihatan, terdengar, tercium, teraba. Padahal tidak begitu.

Bayangkan kalau kamu sedang ada di dalam hutan, lalu kamu melihat jejak kaki harimau di jalan setapak yang kamu lalui. Apa yang kamu lakukan? Pastinya segera keluar dari hutan itu, karena kamu tahu ada harimau di hutan itu. Tapi darimana kamu tahu? Apa kamu melihat sosok harimau itu di depan mata? Tidak. Kamu melihat jejak dan tanda-tandanya.
Ilustrasi lain. Lebih sederhana dari sebelumnya. Kamu melihat ada asap membumbung tinggi dari kejauhan. Kamu tahu kalau sedang terjadi kebakaran. Bukan karena kamu melihat apinya, namun kamu melihat tandanya.

Begitu juga tentang keberadaan Tuhan. Kamu tak bisa melihat wujud-Nya (kamu tidak akan kuat, obviously.) tapi kamu bisa melihat segala jejak-jejak dan tanda-tanda-Nya di alam semesta. Pernahkah kamu membayangkan bagaiman bisa bumi, tata surya, dan milyaran galaksi yang ada bisa bergerak sendirinya dengan ketepatan yang sangat rinci, yang jika terjadi kesalahan sedikit saja, semuanya akan berantakan? Bagaimana bisa burung yang mempunyai otak sekecil itu bisa terbang, berlayar, berimigrasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa diberitahu dan diajari? Bagaimana bisa kita, manusia, bisa terbentuk di rahim ibu, dari satu sel berkembang menjadi jutaan? Sama sekali tidak logos kalau kita bilang semuanya terjadi dengan sendirinya. Harus ada tangan tak terlihat yang merancang semuanya, dan menjaga milyaran sistem yang menakjubkan ini untuk terus bekerja sampai waktu yang ditentukan.

It’s starting to make sense, isn’t it?

to be continued. Stay tuned for my next post!

IMF dan Bank Dunia : Sejoli yang Mengerikan

Kemarin, tanggal 30 April, aku mengikuti acara pembukaan Asian-African Students Conference 2015, menemani mamaku. Mamaku diundang sebagai salah satu pembicara. Tak ada yang spesial pada acara pagi itu, kecuali pidato Mamaku (plis jangan geer Ma!). Semua speech berisi hal-hal umum; menyerukan South-South Cooperation, but dunno how… I just wondering, bagaimana kalau ada seseorang berpidato menggerakkan negara-negara South-South ini untuk berdiri dan memberontak jeratan IMF dan World Bank. Mungkinkah ada yang bisa seperti itu?

Dari yang kupelajari dari pidato Mamaku, dunia ini sedang dalam kondisi kritis. Khususnya Indonesia, yang dijuluki negara Dunia Ketiga, yang dulunya sejahtera dengan segala kekayaan alamnya, sekarang menjadi “pengemis”, ngutang sana-sini. Sejak lama Indonesia dijajah negara Barat, yang menjadikan Barat menjadi makmur dan menguasai kekayaan dan perdagangan. Sekarang ini sebetulnya kita masih dijajah, meski tidak memakai pistol dan bulldozer, kita sedang dijajah oleh hutang. Hutang yang menggunung kepada IMF dan World Bank.

Hutang itu berjumlah sangat, sangat besar. Sulit membayangkan untuk bisa membayar seluruhnya. Indonesia menjadi miskin karena segala pekerjaan dan fasilitas publik dicabut untuk membayar pinjaman-pinjaman itu ke IMF dan WB.

Lanjutkan membaca “IMF dan Bank Dunia : Sejoli yang Mengerikan”

School in the Cloud dan Kurikulum 2013

Aku baru menonton video tentang pendidikan yang sangat bagus. Sugata Mitra, seorang education researcher dari India, mencetuskan gagasan School in the Cloud, di mana anak-anak belajar sendiri dari rasa curiosity mereka dan hanya dibantu dengan komputer dan internet. Guru hanya bertugas memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, dan anak-anak pasti dengan sendirinya mencari jawaban di komputer.

Sugata Mitra menentang sistem sekolah yang menurutnya sudah outdated. Sekolah itu mencetak orang-orang yang identik satu sama lain untuk menjalankan ‘mesin administriasi birokratis’ di era kekuasaan Victoria (kerajaan Inggris). Tapi era itu sudah berlalu. Kita sudah tidak membutuhkannya lagi.

Kreativitas anak-anak telah direnggut oleh sekolah dengan berbagai tes standarisasi. Pertanyaan-pertanyaan besar seperti “Kenapa bulu-buluku tegak berdiri saat kedinginan? Apa itu yang berkilauan di langit? Kenapa wajahku bisa mirip dengan Ayah?” sudah hilang. Anak-anak dipaksa belajar semata-mata untuk dapat nilai tinggi di ujian, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tidak termasuk kisi-kisi ujian malah diabaikan.

Karena itulah, konsep School in the Cloud adalah ‘pendidikan yang mengorganisir sendiri’. Tidak ada kurikulum yang ditetapkan dari pemerintah, dan guru-guru tidak perlu lagi menyuapi para siswa dengan pelajaran, karena anak-anak cenderung mencari sendiri ilmu-ilmu yang membuat mereka penasaran (tentu saja jika fasilitas untuk ‘mencari’ itu terpenuhi).

Yah, mungkin itulah alasan kenapa Bapak Menteri Pendidikan membuat Kurikulum 2013. Para siswa harus aktif mengeksplor pelajaran secara mandiri, sehingga belajar kelompok dimaksimalkan di setiap mata pelajaran. Guru hanya menjadi instruktur dan menjelaskan materi secara ringkas di akhir pelajaran.

Aku sempat menanyakan teman-teman sealumni yang bersekolah di SMP formal tentang kurikulum ini. Mereka mengaku cape dan stres. Belajar berkelompok dan mempresentasikan di depan setiap hari itu terasa melelahkan.Jam sekolah ditambah, PR pun diperbanyak.

Apakah siswa-siswa yang mengeluh ini pantas disalahkan karena malas belajar secara mandiri? Menurutku tidak. Setiap manusia sudah diberi fitrah oleh Tuhan untuk mempelajari ilmu. Masalahnya fitrah ini dirusak oleh sistem pendidikan Indonesia yang kacau balau. Meskipun mereka didorong untuk belajar mandiri, kalau penjelasan di buku paket tidak menarik dan suasana kelas tidak kondusif karena terlalu banyak siswa dalam satu kelas, pola pikir tentang belajar itu tak akan berubah.

study

Terlepas dari berbagai permasalahan pasca Kurikulum 2013 ditetapkan, seperti buku paket baru yang terlambat datang di berbagai sekolah, menurutku program ini sulit menjadikan pendidikan Indonesia lebih baik. Semoga Bapak Menteri Pendidikan mempertimbangkan kembali hal ini. Mengenai penambahan jam belajar, makin tinggi kuantitas belajar bukan berarti kualitas belajar juga makin bagus. Siswa itu manusia, bukan komputer yang sanggup menerima puluhan data perhari.

Barusan aku menerima SMS dari temanku kelas 2 SMP, “Kir, otakku butuh refreshing. PR numpuk bikin pusing…”

Ironi Pendidikan Indonesia

Rumahku terletak dekat sebuah SMP negeri. Karena aku ber-homeschooling, setiap pagi, dari hari Senin sampai Sabtu, aku selalu melihat puluhan siswa-siswi berseragam putih-biru dan bersepatu kets hitam yang sama, melewati rumahku. Beberapa di antara mereka ada yang tertawa sambil berjalan, mendengar gurauan konyol teman mereka. Tapi aku tahu, di balik wajah ceria mereka, ada banyak tekanan di sekolah yang menghantui.

Pikiranku sering melayang ke masa lalu, ketika aku masih terdaftar menjadi siswi sekolah dasar formal. Aku telah menjadi saksi betapa banyaknya kejanggalan dalam sistem pendidikan Indonesia. Kejanggalan yang kadang membuat sakit hati dan gemas. Puncaknya adalah saat pengumuman nilai Ujian Nasional, dan kudapati teman-teman sekelasku tengah membicarakan SD sebelah yang sekelas mendapat NEM (Nilai Ebtanas Murni) 28 sampai 29 (nilai maksimum untuk tingkatan SD adalah 30). Sedangkan sekolahku yang alhamdulillah menjunjung tinggi kejujuran, ada yang dapat NEM 18. Padahal aku sendiri merasakan betapa kami, anak-anak kelas 6 saat itu, bekerja keras dan di drill habis-bahisan oleh guru demi mendapat nilai tinggi. Aku dan teman-teman melakukan pemantapan beberapa bulan sebelum UN yang dijadwal jam setengah tujuh pagi. Sudah tak terhitung berapa kertas latihan soal yang sudah dikerjakan. Tapi akhirnya hanya bisa terdiam melihat anak-anak dari SD lain yang bebas melangkahkan kaki ke SMP-SMP favorit.

un

Kalau aku pikir-pikir,  nilai UN (dan ujian-ujian lain) tidak menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Aku sudah menerbitkan beberapa buku, tapi nilai bahasa Indonesia di UN cuma dapat 8,20. Kalau dibandingkan dengan nilai di mata pelajaran lain yang dapat 10, angka itu tidak cukup bagus. Kusimpulkan bahawa nilai-nilai yang kudapatkan hanyalah hasil dari kerja kerasku dalam ‘menghafal’ pelajaran.

Keburukan UN memang sudah banyak dikoarkan di berbagai media sosial. Jadi aku tak akan membahas terlalu dalam tentang itu.

test

Dari sejak kelas 1 SD, aku bukan anak yang selalu dianggap paling pintar di kelas. Kadang dapat ranking satu, kadang ranking dua. Padahal nilai ujian harian baik-baik saja. Wali kelasku saat itu pernah membicarakan masalah ranking ini dengan orangtuaku. Mereka bilang, aku siswa yang paling sering bolos sehingga ada banyak tugas yang tidak diselesaikan. Padahal guru-guruku tahu alasanku bolos karena sering diundang bedah buku di berbagai sekolah. Hal ini membuatku jengkel. Mengisi bedah buku itu kegiatan yang semestinya dihargai dan mengisi nilai tugas-tugas yang kulewati. Ini bukti bahwa banyak sekolah tak terlalu mementingkan kemampuan non-akademis. Yang pintar matematika dianggap jenius, yang pintar olahraga tidak dipedulikan.

Tujuan adanya pendidikan adalah agar bisa digunakan di masyarakat. Kita belajar matematika agar berhitung dengan benar saat berbelanja. Belajar PKN agar menghargai kekayaan Indonesia dan tak mudah membiarkan negara asing menjarah. Tapi aku bingung kenapa papaku yang lancar berbahasa Sunda, tidak mengerti PR bahasa Sunda yang kukerjakan? Materi-materi pelajaran di sekolah seringkali terlalu abstrak dan tak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Aku hanya bisa prihatin melihat adik sepupuku yang baru kelas 4 SD datang ke rumahku sepulang sekolah dengan tas yang beratnya gak main-main. Atau sahabatku di SD yang pintar, tapi berakhir masuk di SMP non-favorit gara-gara NEMnya terlalu kecil (dan dia frustrasi berat).

Aku hanya bisa berharap pendidikan di Indonesia semakin baik kedepannya. Untuk menteri pendidikan, aku ingin hak kami untuk tumbuh ceria sebagai anak-anak dikembalikan, bukannya dipenuhi tekanan dengan kewajiban menguasai semua mata pelajaran. Aku ingin jumlah mata pelajaran diwajarkan. Karena bagaimanapun, jika sistem pendidikan terasa berat dan menakutkan, itu adalah cermin dari pemerintahan kita yang gagal mencerdaskan bangsa.

Homeschooling

“The only thing that prevents me from learning is my education”

Albert Einstein

Tepat Juni tahun lalu, aku lulus SD dengan nilai UN memuaskan. Kelulusanku itu dipenuhi dilema tentang rencana pendidikan yang akan kujalani selanjutnya. Setahun sebelum hari kelulusan itu, mamaku memperkenalkanku dengan homeschooling (HS). Setelah membaca beberapa buku yang menjelaskan sistem dan konsep HS, aku sempat meyakinkan diri untuk ber-HS mulai SMP. Tapi berbagai respon bermunculan mewarnai pasca keputusanku untuk ber-HS. Mulai dari saudara, guru, sampai ibu-ibu penjual nasi kuning langganan yang kebetulan menanyai rencanaku di SMP nanti. Orang-orang yang memberi respon buruk biasanya menjelaskan kekhawatirannya soal sosialisasi dan ujian akhir. Salah satu guruku di SD menganggap alasanku ber-HS semata-mata karena ingin menjauhkan diri dari pergaulan bebas di sekolah.

hs

Respon buruk yang kuterima membuatku gentar untuk melaksanakan HS. Aku berkali-kali memberitahu orangtuaku bahwa aku tidak bisa memilih antara melanjutkan sekolah formal atau HS. Akhirnya mereka yang memilihkan untukku. Keputusan finalnya adalah, aku akan ber-HS mulai SMP.

Sejak menjalankan homeschooling, daftar yang mengomentariku soal HS tambah banyak. Bapak-bapak di stasiun kereta api, ibu-ibu di tempat kursus musik, guru les matematika, bahkan saudara-saudaraku masih juga bertanya. Pertanyaannya selalu:

“Belajarnya gimana? Manggil guru dari luar?”

“Ujiannya gimana? Gak ada rapor?”

“Gimana cara kamu sosialisasi?”

Aku sudah kenyang dengan stigma orang awam tentang HS yang sudah puluhan kali kujelaskan sampai bosan. Orang-orang mengira HS itu seperti sekolah yang dipindah ke rumah. Ada guru, papan tulis, buku, pensil, dan ujian harian. Bedanya hanyalah tidak ada teman.

Padahal konsep HS pada dasarnya adalah, belajar kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja. Aku belajar dari internet, buku, berita di TV, film, dan orang-orang di sekelilingku. Aku tidak selalu belajar di rumah. Contohnya, Aku pernah menjadi volunteer di acara Bandung Historical Study Game. Di sana aku belajar berorganisasi mengatur ratusan peserta lomba. Di sana pun aku bertemu kakak-kakak mahasiswa yang menjelaskan kepadaku tentang sejarah Bung Karno saat kami bertugas menjaga pos di rumah Inggit Garnasih. Aku belajar tentang sejarah musik dari buku karya guru biolaku. Aku belajar bahasa inggris dari lagu dan film favoritku. Aku mengerti sistem pemerintahan setelah menonton berita di TV dan menanyakan hal-hal yang tak kumengerti ke orangtuaku. Dan aku merasa ilmu yang kudapatkan lebih terasa berharga dibanding saat aku bersekolah formal.

Aku bangga bisa berkenalan dengan homeschooling.