Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?

Banyak dari kita (bahkan orang yang sudah dewasa) kebingungan tentang tujuan hidup di dunia. Buatku, tujuan hidup itu beda sama cita-cita. Cita-cita itu lebih ke profesi, sedangkan tujuan hidup adalah esensi dan motivasi dalam hidup—sesuatu yang membuat hidup kita lebih bermakna. Kadang ada orang yang sudah sukses, mapan, punya duit banyak, tapi kebingungan apa esensi dari hidupnya, dan dia pun hidup dalam kegundahan. Jadi, buat apa sih kita hidup?

Untuk memahaminya, kita harus tahu apa sifat istimewa kita sebagai manusia, seperti yang dijelaskan oleh Neuro-Semantics. Apa sih, yang membedakan kita dari binatang?

Lanjutkan membaca “Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?”

Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

Aku punya seorang teman yang memelihara kucing. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa temanku ini mengurusi kucingnya dengan dedikasi sebegitu rupa. Tiga kali sehari harus diberi makan, dibuang kotorannya, dimandikan, harus membersihkan sofa-sofa dari bulu-bulunya, dan menghabiskan uang banyak untuk perawatan. Kok dia bisa tahan dengan segala keribetan itu hanya untuk seekor kucing?

Ternyata jawabannya adalah, temanku ini sayang sama kucingnya dan memahaminya secara seutuhnya. Mereka tahu bahwa agar si kucing nyaman, harus diberi makan setiap jam sekian. Agar di kucing sehat, harus dimandikan setiap sekian hari. Agar si kucing tidak poop sembarangan, harus dilatih dengan benar sejak kecil, dan sebagainya.

Dulu, saat temanku ini memutuskan untuk memelihara kucing, di saat itu dia sudah mengizinkan dirinya untuk menghadapi konsekuensi apapun dalam pemeliharaan si kucing.

Jadi, aku pun berkaca ke diri sendiri. Aku sering sekali memutuskan untuk mencapai sesuatu, tapi aku tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memahami dan menerima konsekuensi untuk mencapai hal itu.

Semua cita-cita kita, tujuan-tujuan, target, keinginan, memiliki konsekuensinya sendiri. Mau jadi dokter? Konsekuensinya harus masuk kuliah kedokteran, belajar 4-6 tahun di sana, harus mengikuti pendidikan profesi, dapat tugas jaga malam, awalnya dapat pemasukan di bawah gaji buruh, lalu mungkin ada pengabdian masyarakat, dll.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami”

Food For Thought #5: Apa Nilai Eksistensi Kita?

Dalam tulisan sebelumnya, aku sudah membicarakan tentang mengubah persepsi tentang diri sendiri, yaitu melalui pertanyaan “Apakah aku orang sukses?” Nah, sekarang ada satu lagi pertanyaan menarik, “Apa nilai eksistensi kita di dunia?”

Kita mungkin pernah dengar sebuah perkataan klasik; “Saya berpikir maka saya ada”. Artinya, nilai kita di dunia/ nilai eksistensi kita bergantung dengan pikiran kita, atau sebutan lainnya; “You are what you think you are”

Jadi, kalau aku berpikir bahwa aku hanya bisa menjadi penulis dengan penjualan buku pas-pasan, ya aku akan menjadi seperti itu. Kalau aku berpikir aku orang yang biasa-biasa saja, tidak berharga di depan orang lain, ya itulah aku. Kalau aku berpikir aku hanya bisa dapat IPK 3,00 karena otakku nggak encer, ya itulah jadinya aku. Kalau aku berpikir aku tidak bisa menurunkan berat badan sampai kapanpun, ya itulah aku.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #5: Apa Nilai Eksistensi Kita?”

Food For Thought #4: Apakah Aku Orang Sukses?

Ilmu Neuro-Semantics itu selalu berputar di masalah persepsi. Dalam tulisanku sebelumnya, aku baru menjelaskan persepsi kita tentang orang lain atau dunia luar. Nah, tapi persepsi tentang dunia luar saja tidak cukup, kita juga harus memahami persepsi terhadap diri sendiri. Salah satu pertanyaan penting yang bisa memperlihatkan persepsi kita kepada diri sendiri adalah: apakah aku merasa sebagai orang sukses?

Pertanyaan tersebut aku dapatkan ketika mengikuti pelatihan Neuro-Semantics. Dengan yakin kujawab: tidak. Jelaslah, masih banyak hal yang belum kucapai dalam hidup ini dan aku belum puas.

Tapi, pertanyaan besarnya: kapan aku bisa puas? Apakah setelah tujuan-tujuanku di masa kini tercapai di masa depan, maka saat itu aku bisa puas dan mau menyatakan diri sebagai orang sukses? Engga dong. Setelah tujuan itu tercapai, akan ada tujuan baru yang lebih tinggi. Ketika yang lebih tinggi itu sudah tercapai, lagi-lagi aku tidak akan puas dan ingin mengejar tujuan yang lebih tinggi lagi. Terus saja seperti itu sampai akhir hayat.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #4: Apakah Aku Orang Sukses?”

Food For Thought #3: Utak-Utik Makna Kesulitan, Kegagalan, Masalah

Sekarang mari kita utak-atik makna atas kegagalan, kesulitan, dan masalah, lalu kita buktikan bahwa semua istilah-istilah negatif ini sebenarnya sangat ambigu dan pada akhirnya bukan lagi hal yang negatif.

Apa sih makna kegagalan? Kegagalan itu artinya sesederhana “rencana saya yang gagal”, bukan “saya yang gagal”.  Maka solusinya juga sederhana: cari rencana lain.

Jadi gini, misalnya aku gagal masuk universitas yang kuinginkan. Nah yang gagal itu rencanaku masuk ke univ itu, bukan diriku. Artinya aku perlu mencari rencana lain, misalnya mendaftar di univ lain, atau ikut bimbel dan ujian lagi di tahun berikutnya. Kalau rencana itu gagal juga? Ya cari rencana lain lagi, minta saran dari orang-orang yang sudah berhasil, dan bekerja keras.

Lagipula, kegagalan itu berkah. Rasa sakit kita sebenarnya merupakan titik pengembangan diri supaya lebih kuat dari sebelumnya. Semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #3: Utak-Utik Makna Kesulitan, Kegagalan, Masalah”

Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas

Di tulisan sebelumnya, sudah aku ceritakan bahwa suatu masalah bisa dimaknai berbeda-beda, dan itu mempengaruhi emosi dan respon kita. Nah, dari sana, kita bisa menyimpulkan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung makna yang kita beri dan pengalaman kita (historical files). Dalam Neuro-Semantics, ini disebut “kebenaran internal”—kebenaran yang berbeda-beda bagi setiap orang; tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk.

Contoh kebenaran internal adalah tentang jarak. Orang desa biasanya menganggap jarak 5 kilometer itu dekat dan dengan mudah dilewati dengan jalan kaki. Tapi orang kota menilai jarak 5 kilo itu terlalu jauh dan pengennya langsung nyari kendaraan. Atau kasus lainnya, aku menganggap suhu AC 23 derajat itu sejuk dan nyaman, tapi bagi guruku, suhu 23 derajat itu membuatnya menggigil kedinginan.

Maka, kita tidak bisa menganggap persepsi kita adalah realitas yang sebenarnya. Persepsi bukan realitas; seperti halnya foto makanan di kertas menu yang tidak betul-betul sama dengan makanan aslinya. Atau seperti gambar di peta yang tidak sama dengan wilayah aslinya.

Lanjutkan membaca “Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas”

Food For Thought #1: Neuro-Semantics

Tulisan di blog ini memang ngalor-ngidul. Aku ingat tulisan pertamaku betopik psikologi remaja. Lalu tiba-tiba loncat ke matematika, seni, sains, jurnalisme, politik, jurnal jalan-jalan, review buku,  filsafat, dan musik. Dan sekarang, aku menulis satu topik yang baru lagi: Neuro-Semantics. Jadi, tanggal 7 April lalu, aku ikut acara pelatihan Neuro-Semantics++ (plus plus). Instruktur (coach)-nya bernama Prasetya M. Brata. Semuanya materinya deep dan memprovokasi pikiran. Saking banyaknya yang kupelajari selama dua hari pelatihan, aku sampai kepayahan untuk menuangkannya ke dalam tulisan ini secara sistematis. Karena itu, aku akan membuat tulisan berseri tentang topik ini, yaitu Seri Food For Thought.

Jujur saja, memahami ilmu Neuro-Semantics itu betul-betul mengubah cara pikirku terhadap segala masalah di kehidupanku sehari-hari. Hidup itu terasa lebih ringan. Tapi, tentu saja tidak semua materi sudah bisa kuinternalisasi, karena semuanya butuh latihan. Jadi, aku harap tulisan ini selain membantu para pembaca sekalian, dapat juga menjadi pengingat buatku agar memaksimalkan pengaplikasian ilmu-ilmu ini dalam hidupku sendiri.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #1: Neuro-Semantics”

Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery

Setelah satu tahun yang penuh (well, not literally) dengan latihan, les, diskusi, tes di depan guru di tempat kursusku Swaraharmony, akhirnya pada bulan Maret ini aku ikut ujian ABRSM kelas akhir, yaitu grade 8. ABRSM adalah ujian musik bersertifikat internasional, dan instrumen yang kumainkan untuk ujian ini adalah biola. Aku sendiri sebelumnya tidak menyangka bahwa persiapan ujian ini akan seberat, sepusing, dan secapek ini. Karena, musik, seperti halnya ilmu-ilmu lain, butuh pemahaman dan kemampuan berpikir ‘beyond’ jika sudah menanjak ke kelas profesional.

Satu hal yang disalahpahami olehku sebelumnya (dan orang-orang awam lainnya) adalah bahwa bermain musik hanyalah soal bermain nada dan irama tertentu dengan benar. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, musik itu pada dasarnya media penyampaian cerita dan pesan lewat suara. Sama seperti penyampaian cerita di novel (lewat kata-kata), atau lukisan (lewat garis dan warna-warna).

Sepanjang sejarah, orang-orang menciptakan dan memainkan musik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dulu, para budak di Amerika menyanyikan lagu ketika mereka dipaksa bekerja di perkebunan yang panas. Lagu-lagu tersebut memberikan mereka harapan bahwa suatu hari mereka akan bangkit melawan penindasan.

Di negara tertentu, ketika terjadi krisis, para musisi daerah memainkan lagu untuk mengkritik pemerintah, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan aspirasi mereka yang tak terdengar. Ingat Iwan Fals? Yes, that’s what he did ketika negara kita terkena krisis ekonomi di era Seoharto.

Lanjutkan membaca “Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery”

Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat

Hari Minggu tanggal 10 Desember, aku mengikuti seminar berjudul “Implikasi Filosofis dalam Kultur Digital” yang diselenggarakan UNPAR. Awalnya, tujuanku ikut seminar ini karena salah satu pembicaranya Prof. Bambang Sugiharto, seorang dosen filsafat yang keren banget dan pernah aku review pengajarannya di blog ini.

Peserta seminar ini ternyata ramai. Kursi-kursi yang berjejer dan berbaris panjang penuh oleh orang-orang dengan berbagai latar belakan; laki, perempuan, tua, muda, cewek berjilbab, tidak berjilbab, guru, dan mahasiswa dari berbagai uni di dalam dan luar Bandung. Hal ini membuatku tersadar tentang banyaknya orang yang tertarik dengan ilmu filsafat.

Para pembicara yang mengisi acara ini ada 5 orang: Prof. Bambang, Stephanus Djunatan (dosen filsafat) dan istrinya, Lidya Mutiara Dewi, lalu Herman Y. Sutarto (engineer dari ITB) dan Yasraf A. Piliang (filsuf dan pemikir kebudayaan). Penjelasan mereka tentu tak bisa aku rangkum semuanya di sini, karena terlalu panjang (jadi males), atau kadang terlalu ribet sehingga aku ga mampu menjabarkannya di sini.

Prof. Bambang ternyata jadi pembicara pertama, dan aku sangat bersemangat melihat sosoknya yang hanya berjarak satu baris kursi di depanku (biasanya aku lihat dia di layar komputer). Hal yang dia sampaikan pun sangat menarik untukku.

Jadi seperti yang kita tahu, di zaman modern ini hidup kita begitu dipenuhi dengan teknologi. Apa-apa urusan dan masalah kita, larinya ke teknologi, karena begitu pintar dan hebatnya dia.

Kata Prof. Bambang, manusia menciptakan teknologi pada dasarnya untuk merekayasa mental, kesadaran, dan pikiran manusia sendiri. Di dalam kultur teknologi/digital yang kita alami sekarang, otak manusia dianggap sebagai hardware dari tubuh yang bisa diterjemahkan ke dalam kode/simbol algoritma. Makanya, semua aktivitas kita (yang berasal dari otak) bisa diformalisasi ke dalam hukum matematis yang prediktif. Sama seperti fisika yang mampu merinci hukum eksternal alam semesta, para ilmuwan pun kelak akan mampu merinci hukum internal pikiran manusia dan kemudian merekayasanya dengan cara tertentu.

Lanjutkan membaca “Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat”

Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri

Oleh: Yasha Levine

Diterjemahkan bebas oleh Kirana Sulaeman

Kata-kata bijak ekonomi kita yang populer menyebutkan, kapitalisme sama dengan kebebasan dan masyarakat bebas, ya kan? Tapi, jika kamu pernah mencurigai bahwa logika itu bohong belaka, maka saya merekomendasikanmu buku berjudul The Invention of Capitalism, yang ditulis oleh sejarawan ekonomi bernama Michael Perelmen. Ia pernah dibuang ke Chico State, sebuah kampus kelas bawah di pinggiran California, karena penolakannya terhadap pasar bebas. Dan Perelman telah menghabiskan waktunya selama pembuangan itu dengan hal-hal yang luar biasa bagus, yaitu menggali lebih dalam hasil karya Adam Smith dan orang sezamannya untuk menulis sejarah pembentukan kapitalisme yang isinya melampaui dongeng buatan di buku The Wealth of Nations  and langsung ke sumbernya. Buku ini membuatmu mengetahui isi kebijakan para kapitalis, ekonom, filsuf, pendeta, dan negarawan yang asli. Dan isinya itu sama sekali tidak bagus.

Satu hal yang jelas menurut catatan sejarah adalah bahwa Adam Smith dan teman-teman “laissez-faire” nya merupakan sekelompok ahli statistik yang membutuhkan kebijakan pemerintah yang brutal untuk memaksa kaum petani Inggris menjadi pekerja kapitalistik yang baik dan mau menerima upah kecil seperti budak.

Lanjutkan membaca “Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri”