Book Review: Sketsa Gaza

Tidak banyak anak muda zaman sekarang yang peduli dengan isu Palestina. Kalau pun peduli, tidak banyak yang memahami secara utuh apa yang sebenarnya terjadi di sana. Jika saya pantau narasi yang bertebaran di sekitar, banyak yang menganggap konflik Palestina-Israel adalah konflik agama; sebuah perang antara kaum Muslim dan Yahudi. Bahkan ada penulis dan produser film di Indonesia yang membuat kisah seakan-akan pembelaan Palestina adalah milik kaum Muslim saja. Pesan yang sampai: untuk membela Palestina, kita harus menghancurkan Yahudi. Tak ayal, banyak yang melabeli para pembela Palestina sebagai ‘Islamis radikal’ yang mau berjihad ke Tanah Suci melawan kaum Yahudi.

Tapi, benarkah seperti itu? Benarkah konflik ini adalah konflik agama?

Baca lanjutannya di link ini: bit.ly/MajalahDialektika

Menulis Itu Susah Atau Mudah?

Selama ini, terutama dalam pelatihan atau talkshow tentang kepenulisan yang kuisi, sering kudengar pertanyaan-pertanyaan seperti, “menulis itu susah ga, sih?” , “gimana caranya menulis?” dan “gimana ceritanya kamu bisa jadi seorang penulis?”

Pertanyaan seperti itu biasanya kujawab pendek saja karena pertama, waktunya terbatas, dan kedua, aku bukan orang yang bisa menjelaskan secara detil apa yang ada di pikiranku lewat lisan dan di depan banyak orang. Maklum, isi pikiranku itu lumayan njlimet seperti labirin tanpa pintu keluar. Untuk itulah aku pikir aku perlu menulis, agar semua yang ingin aku sampaikan, tersampaikan dengan baik kepada orang-orang.

“Menulis itu susah ga, sih?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab as simple as “ya” atau “tidak” karena relatif  (sungguh, aku ga suka dengan konsep kerelatifan karena membuatku bingung menjawab banyak pertanyaan.)
Lanjutkan membaca “Menulis Itu Susah Atau Mudah?”

Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK

Sebulan yang lalu, Mama datang padaku dengan berita mengagetkan. Ada undangan untukku agar menjadi pembicara tentang kepenulisan di Festival Anak Jujur yang diselenggarakan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Wah, aku merasa tidak pantas menjadi pembicara di event besar seperti ini karena sebenarnya aku sudah lama tidak menerbitkan buku. Seketika aku merasa nervous setengah mati. Aku berharap semoga semuanya akan berjalan dengan lancar.

Di hari-H, aku sekeluarga berangkat ke Jakarta menaiki mobil. Papaku memang kebetulan menjadi pembicara juga di sebuah seminar namun di lokasi yang berjauhan. Setelah Papa sampai di tempat seminarnya, aku, Mama, dan Reza memesan Grab Car dan meluncur ke Ancol, lokasi Festival Anak Jujur itu.

Sebelumnya, kami sudah diberi name tag khusus yang membuat kami tidak perlu membayar untuk masuk Ancol. Sesampainya di lokasi, yaitu di kawasan Geopark, aku melihat ratusan anak-anak kecil berkeliaran didampingi ibu-ibu dan panitia acara. Kami bahkan sempat melihat ketua KPK, Agus Rahardjo, keluar dari gedung dikelilingi para wartawan. Memasuki gedung utama, terlihat sebuah stage dan deretan kursi di depannya. Di sekitar kursi-kursi tersebut terdapat berbagai permainan anak kecil yang dijaga oleh kakak-kakak panitia.

Namun ternyata lokasi acara yang akan aku isi ada di lantai atas. Di sana terlihat beberapa zona kegiatan. Zona yang nanti kuisi adalah Zona Literasi. Namun karena acaranya masih lama, zona-zona tersebut masih kosong, hanya ada kakak-kakak panitia yang mondar-mandir mempersiapkan acara.

Lanjutkan membaca “Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK”

Book Review: Parallel World

Hello there! It’s been a while since I posted any English article here. Now I’m going to review a book that I bet would make you hypnotized with its unthinkable ideas! 🙂

parallel.jpg

 

Before jump to the point, I’m going to tell you first how did I get this book and intrigued to read it over. It was all started because of philosophy. As you guys know I recently have been writing articles about philosophy on my blog (in Bahasa), and it might continue until part 15. It is so addicting to know the deep meanings behind all the things around me. It has changed my point of view towards the world. All I see around me; the people, universe, God, the living and dead creatures, my mind, consciousness, even my faith are not the same anymore (it doesn’t mean I become an atheist. Some people think studying philosophy will make you turn into an atheist because it’s sometimes questioning about God or criticizing religion, but I assure you, it’s not true. Instead, being critical about God and receiving good answers will make you understand Him and His existence more.)

Philosophy leads me to know more about universe.

I, myself, never doubt that universe is the most beautiful yet mysterious thing ever. When the first time I visited Bosscha Observatory, I completely fascinated with the night sky. I couldn’t imagine how vast is the heaven; how come our earth with this enormous size can be look so tiny compared to other stars; how did the universe begin—and how will it end; is it infinite or finite? It was too difficult for me to understand amount of scientific theories that try to explain the whole secret behind universe.

One day, I had a friend that lent me a book called Parallel Worlds written by Michio Kaku. I have heard that name before. I guessed he’s a famous physicist because every time I searched a science documentary film on youtube, he’s quite often appeared on the video list.

Lanjutkan membaca “Book Review: Parallel World”

Review Buku “Bumi Manusia”

Pertama kali tahu buku ini setelah blog zenius.net memasukkannya dalam daftar buku rekomendasi. Buku berat, begitu kesanku saat membaca sinopsisnya, tapi justru membuatku makin penasaran. Buku ini ternyata susah didapat, dan akhirnya Mamaku mendapat yang bekas. Aku pun membacanya. Ternyata bahasanya susah sekali! Kata-kata yang dipilih—mungkin karena sastra jaman dulu begitu—sangat tidak biasa dan membuat dahi merengut berkali-kali. Bab pertama ceritanya membuat ngantuk, tapi semakin lama terasa semakin seru. Dan, setelah buku ini habis kubaca, kupastikan buku ini masuk salah satu buku favorit di rakku.
bumi-manusia
“Memang begitu kehidupan kolonial di mana saja; Asia, Afrika, Amerika, Australia. Semua yang tidak Eropa, lebih-lebih tidak kolonial, diinjak, ditertawakan, dihina, hanya untuk berpamer tentang keunggulan Eropa dan keperkasaan kolonial, dalam segala hal—juga kejahilannya. Kau sendiri juga jangan lupa Minke, mereka yang merintis ke Hindia ini—mereka hanya petualang dan orang tidak laku di Eropa sana. Di sini mereka berlagak seperti Eropa. Sampah itu.

Mengapa aku suka buku ini? Karena semua yang diceritakan didalamnya membuat gemas. Tentang bagaimana di jaman kolonial itu kehormatan pribumi Hindia dijatuhkan. Hukum sewenang-wenang. Mengambil gadis pribumi seenaknya untuk dinikahi, atau sekedar pemuas birahi. Semuanya membuatku gerah, seriously.

Tokoh utama dalam buku ini secara umum ada dua; Minke–anak seorang bupati pribumi yang bersekolah di sekolah Belanda, dan Nyai Ontosoroh–seorang istri totok Belanda dan pengusaha pribumi yang berkeperibadian kuat. Anak Nyai, Annelies Mellema namanya, dikisahkan jatuh cinta dan menikah dengan Minke. Namun karena suatu masalah, Annelies dipaksa pergi ke Belanda—meninggalkan ibu dan suaminya.

Bagian paling seru di buku ini adalah bagian akhir-akhir—kisah bagaimana Minke dan Nyai Ontosoroh berjuang di pengadilan untuk mencegah Annelies dibawa ke Belanda. Minke yang walaupun pribumi namun pintar, berjuang dengan menulis artikel di koran untuk melawan pengadilan Belanda. Namun apa yang dikehendaki penjajah untuk menjatuhkan pribumi tetap terjadi. Semua tuduhan kejahatan yang dilemparkan ke Minke dan Nyai dipertahankan, seberapa kali pun keduanya menyangkal dan memberikan bukti.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

(kata-kata penutup yang hangat, menurutku)

Pram dengan serunya memaparkan bagaimana sebenarnya Eropa itu sama seperti ras-ras lain; tak lebih tinggi, tak lebih rendah. Orang Eropa yang merasa totok 100 % tidak pernah tahu berapa banyak darah Asia yang mengalir dalam tubuhnya. Banyak ilmu dari Eropa yang berasal dari Asia juga. Angka-angka yang digunakan mereka berasal dari Arab. Begitu juga dengan nol, yang berasal dari filsafat India.

Bagian yang paling aku suka dari kalimat-kalimat ‘nyikut’ Pram adalah tentang pemakaian nama keluarga, ketika waktu itu Minke sering direndahkan karena tak punya nama keluarga;

“Jauh sebelum Eropa beradab, bangsa Yahudi dan Cina atelah menggunakan nama marga. Adanya hubungan dengan bangsa-bangsa lain yang menyebabkan Eropa tahu pentingnya nama keluarga…Kalau pribumi tak punya nama keluarga, memang karena mereka tidak atau belum membutuhkan, dan itu tidak berarti hina. Kalau Nederland tak punya Prambanan dan Borobudur, jelas pada jamannya Jawa lebih maju daripada Nederland….”

Meski begitu, Pram juga memberikan pendapat mengkritik perihal mengapa pribumi tidak juga merdeka dari cengkeraman Eropa. Orang pribumi jaman itu sedang membutuhkan pemimpin yang merintis perlawanan, tapi mereka hanya suka berputar-putar, menunggu, merindukan, bukan mencari dan melahirkan. Agaknya hal ini masih juga terulang di masa sekarang. Semua orang tahu Indonesia masa kini masih dijajah—meski bukan dengan senjata, namun dalam hal ekonomi. Tapi masyarakat adem-ayem saja. Ya, memang, ada perlawanan, tapi kecil-kecilan dan dalam sekejap langsung teredam gaungnya.
Lanjutkan membaca “Review Buku “Bumi Manusia””

Roadshow KKPK: Speak Confidently in Public

“Halo, perkenalkan namaku Kirana. ”

Itu kalimat pembuka yang selalu kuucap saat Roadshow KKPK. Ya, sejak umur 10 tahun, aku sudah beberapa kali jadi pembicara di Roadshow KKPK. Bahkan walau aku sudah tercatat sebagai alumni KKPK, aku masih saja diundang roadshow ke berbagai sekolah di Bandung. Selama roadshow itulah aku bertemu anak-anak seumuran atau lebih muda dariku dengan berbagai macam karakter. Kadang-kadang dalam satu sekolah itu anak-anaknya diem dan pemalu banget, ada yang ribut banget, ada yang suka melucu selama acara, atau suka teriak ”cie, cie…” kalau ada anak lelaki yang bertanya tentang kepenulisan kepadaku. Mereka semua menyenangkan dan yang pasti selalu antusias dengan acara ini.

Apa yang kulakukan selama roadshow? Ya, tentu saja memperkenalkan diriku, buku-buku yang sudah diterbitkan, dan tips-tips menulis untuk mereka yang berniat mengirimkan naskahnya ke Mizan. Semua pembicaraanku ini hanya menghabiskan waktu sepuluh menit. Selebihnya diisi dengan sesi tanya-jawab, games, dan kadang-kadang latihan menulis selama 10 menit. Yang membuat lucu adalah, ketika di sesi tanya-jawab, umumnya anak-anak ini tidak ada yang mau mengangkat tangan untuk bertanya. Dari gerak-gerik mereka, aku tahu mereka ini gatel pengen nanya, tapi malu. Kemudian setelah kakak MC bilang bahwa yang bertanya bakal di kasih buku gratis, semuanya malah ngangkat tangan, bahkan saling berebut supaya ditunjuk. 😀

By the way, acara roadshow ini aku jadikan kesempatan unutuk mempromosikan buku-bukuku, terutama buku yang baru kuterbitkan. Juga biasanya menjadi motivasiku unutuk menerbitkan buku selanjutnya, karena suka ada yang bertanya, “Kak Kirana sudah nerbitin buku Fantasteen belum?” Dan jawabanku selalu “Belum..” 😦

IMG_20141028_094101
aku (kanan) roadshow di Rumah Buku
Jpeg
Aku (kiri) di SMP Asih Putera

Roadshow KKPK ini benar-benar membantuku untuk speak confidently in public. Jujur saja, aku sejak kecil memang pemalu banget. Ngomong di depan satu orang saja malu, apalagi di depan BIG CROWD sekolah berisi anak-anak kecil. Pertama kali aku diundang roadshow, aku kaget dan panik banget saat tahu bahwa aku satu-satunya penulis yang bicara (maksudnya ga ada penulis lain yang diundang). Waktu aku bicara pun, suaraku sangat kecil sampai harus diulangi lagi oleh kakak MC. Namun waktu berlalu, jam terbangku bicara di depan orang makin banyak, aku berpikir bahwa takut bicara di depan orang itu sebenarnya hal yang lucu. Semakin kita ga yakin sama diri sendiri, gimana orang lain mau yakin sama apa yang kita bicarakan?

Selama ini, aku bicara selalu di depan anak-anak kecil. Aku ingin punya kesempatan bicara di depan orang dewasa, dan mungkin sekalian dalam bahasa inggris (karena kelihatan keren, haha…). Tentunya bicara di depan orang dewasa itu lebih susah daripada di depan anak kecil. Orang dewasa lebih kritis dengan apa yang kita bicarakan. Konsep pembicaraan kita juga harus kuat agar ngena dan nyambung dengan mereka.

Bicara di depan orang dewasa berarti aku harus menjadi orang hebat dahulu. Orang hebat yang menginspirasi mereka lewat speech-ku.

 Lantas, I ask myself, kapankah aku menjadi orang yang hebat?