What happens when we don’t care about having a career

As I finished my high school diploma and getting ready to pursue a bachelor’s degree in political science, I encounter quite a large number of people in my age being abudantly worried and confused of which college major is worth to choose and eventually choose certain major based on job prospects. While I understand where this consternation comes from, given the fact that we need to earn a decent income to live comfortably and to survive in this crazy world, I’d argue that this mindset is not best one to embrace, at least for me.

For one thing, choosing a college major based on future job outlook tends to be quite stressful. Pursuing fancy majors and therefore having ‘respected’ jobs and good money, the idea that the society dictated us to have, is what I think as one of the reason to why depression has surged to epidemic levels in recent decades as it has impacted millions of people. In the midst of complexities of modern life, with all its pressure, many people see life as a showroom, where your job and status define your worth as human being. I see this as a societal/psychological challenge we have to tackle for the better future.

Lanjutkan membaca “What happens when we don’t care about having a career”

Iklan

An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime”

There was this ineffable, weird, ambiguous, and hazy sensation that I’ve been experiencing for the past 5 years, probably it was after puberty hit me, and I definitely thought myself insane as I was quite sure that nobody would feel this particular sensation like I was. This strange temporary sensation enters my mind whenever I went traveling and having to see a row of great mountains of Alborz, the tropical landscape in Lombok, watching the vast night sky from my house’s attic window and million of stars that are moving at a million miles a day, huge skyscrapers in a city or whenever I’m watching some cinematic nature videos that’s showing the splendid and grandeur of god’s creations that beyond all the possibility of calculation or imitation. I get this feeling even more tensely when I think of the galaxies in our universe, how it can be so huge to the point where humans didn’t discover all of it yet.

It made me feel that my existence, human activities and interaction, are so insignificant as all of this big things around us would keep turning, moving, and existing even without us here.

Lanjutkan membaca “An Abstract Feeling and Sensation: “The Sublime””

Food For Thought #1: Neuro-Semantics

Tulisan di blog ini memang ngalor-ngidul. Aku ingat tulisan pertamaku betopik psikologi remaja. Lalu tiba-tiba loncat ke matematika, seni, sains, jurnalisme, politik, jurnal jalan-jalan, review buku,  filsafat, dan musik. Dan sekarang, aku menulis satu topik yang baru lagi: Neuro-Semantics. Jadi, tanggal 7 April lalu, aku ikut acara pelatihan Neuro-Semantics++ (plus plus). Instruktur (coach)-nya bernama Prasetya M. Brata. Semuanya materinya deep dan memprovokasi pikiran. Saking banyaknya yang kupelajari selama dua hari pelatihan, aku sampai kepayahan untuk menuangkannya ke dalam tulisan ini secara sistematis. Karena itu, aku akan membuat tulisan berseri tentang topik ini, yaitu Seri Food For Thought.

Jujur saja, memahami ilmu Neuro-Semantics itu betul-betul mengubah cara pikirku terhadap segala masalah di kehidupanku sehari-hari. Hidup itu terasa lebih ringan. Tapi, tentu saja tidak semua materi sudah bisa kuinternalisasi, karena semuanya butuh latihan. Jadi, aku harap tulisan ini selain membantu para pembaca sekalian, dapat juga menjadi pengingat buatku agar memaksimalkan pengaplikasian ilmu-ilmu ini dalam hidupku sendiri.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #1: Neuro-Semantics”

Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery

Setelah satu tahun yang penuh (well, not literally) dengan latihan, les, diskusi, tes di depan guru di tempat kursusku Swaraharmony, akhirnya pada bulan Maret ini aku ikut ujian ABRSM kelas akhir, yaitu grade 8. ABRSM adalah ujian musik bersertifikat internasional, dan instrumen yang kumainkan untuk ujian ini adalah biola. Aku sendiri sebelumnya tidak menyangka bahwa persiapan ujian ini akan seberat, sepusing, dan secapek ini. Karena, musik, seperti halnya ilmu-ilmu lain, butuh pemahaman dan kemampuan berpikir ‘beyond’ jika sudah menanjak ke kelas profesional.

Satu hal yang disalahpahami olehku sebelumnya (dan orang-orang awam lainnya) adalah bahwa bermain musik hanyalah soal bermain nada dan irama tertentu dengan benar. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, musik itu pada dasarnya media penyampaian cerita dan pesan lewat suara. Sama seperti penyampaian cerita di novel (lewat kata-kata), atau lukisan (lewat garis dan warna-warna).

Sepanjang sejarah, orang-orang menciptakan dan memainkan musik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dulu, para budak di Amerika menyanyikan lagu ketika mereka dipaksa bekerja di perkebunan yang panas. Lagu-lagu tersebut memberikan mereka harapan bahwa suatu hari mereka akan bangkit melawan penindasan.

Di negara tertentu, ketika terjadi krisis, para musisi daerah memainkan lagu untuk mengkritik pemerintah, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan aspirasi mereka yang tak terdengar. Ingat Iwan Fals? Yes, that’s what he did ketika negara kita terkena krisis ekonomi di era Seoharto.

Lanjutkan membaca “Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery”

Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

Beberapa minggu yang lalu, pemimpin redaksi KabarKampus.com, Om Furqan, menawarkan agar filmku yang berjudul “Menjadi Pandu Ibuku” tentang petani Kendeng di-screening di Kafe Kaka, Bandung dan didiskusikan dengan pelajar-pelajar SMA yang tergabung dalam Future Club. Aku jadi nervous, karena aku tahu filmku ini kalah lomba tingkat SMA dan rasanya ga layak ditonton orang banyak. Tapi, atas dorongan Mama, aku pun menyiapkan diri.

Hari Jumat lalu (29/9), pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat acara, aku ngebut selesain editing film yang masih banyak kekurangan itu. Tukang bangunan mondar-mandir ngecat rumah, mama-papa bolak-balik belanja keperluan, Reza tidur karena sakit, jadi aku sendirian di ruang tamu ngutak-ngatik laptop di atas karpet, berharap film-nya turn out good dan neat. Fiuh, lumayan bikin stres, padahal jam 1 siang aku harus sudah berangkat.

Aku dan mama berangkat pakai kereta. Sesampainya di Kafe Kaka, ternyata beberapa ortu Homeschooling teman Mama sudah datang, dan beberapa teman-teman HS.

Lanjutkan membaca “Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’”

A Little Note from TOSS Idea

 I was actually not really interested in attending motivational events, unlike my mom. It is inspiring, of course, but somehow I thought such event was not really helpful and effective in improving my life in the long term. But then I thought maybe it was because I hadn’t found the appropriate one yet, until someday I joined a public speaking class (which is also a motivational event) that coached by Om Prasetya M. Brata and Pakde Prie GS. That was like a turning point in my life in general, eventhough the topic was simply about how to speak well in front of people and to elevate writing skill to a whole new level (and I forgot to post anything about this cuz I’m a horrible procrastinator yuhu! *high-fiving my fellow procs).

And just two days ago, I attended an event called TOSS Idea. Basically, there were 21 speakers with variety of expertises sharing ideas dan knowledges (all in english), each for 10 minutes. I wasn’t afraid that I might not understand their speaking, because as long as it’s not in british and indian accent, it’s all right (you know, I don’t understand a word in Harry Potter films without reading the sub).

The event was held in Intitut Francais Indonesia that located inside the Embassy of France. The auditorium of the event was relatively small but really nice and comfy. The audio and stage lighting system was also seem professional and fancy.

By the way, I’m not gonna review all the speeches (there were 21 of them duh). I’m just gonna write some of the ideas that I personally relate to and inspire me the most.

Lanjutkan membaca “A Little Note from TOSS Idea”

Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan

Awal pekan lalu, aku diundang oleh Tante Sundari Mardjuki (penulis novel Genduk, keren lho!) untuk menghadiri media gathering dalam acara promosi lagu kolaborasi Raisa dan Isyana. Saat aku dapat kabar itu dari Mama, tentu saja, seperti sewajarnya, aku melontarkan ungkapan kebahagiaan; Alhamdulillah! Selama ini kedua penyanyi ini hanya bisa kulihat lewat layar hape, komputer, dan spanduk-spanduk yang berkibaran di pinggir jalan raya Bandung. Suara mereka pun hanya bisa kudengar lewat speaker hape, komputer, dan cafe-cafe. Aku sendiri tidak pernah mendambakan untuk dapat bertemu langsung dengan mereka, tapi ketika datang kesempatan seperti ini, kenapa tidak?

Maka pada siang hari aku dan Mama berangkat ke hotel Crowne Plaza di Jalan Lembong, karena sesuai yang tertera di poster undangan, acara dimulai jam tiga di hotel tersebut. Setibanya di sana, ternyata para tamu media belum datang. Baru sekitar jam 4, orang-orang berkumpul di ruang hotel yang setengah terbuka. Aku cepat-cepat duduk di kursi paling depan. Di sana aku berkenalan dengan salah satu wartawan dari Kompas. Dia bertanya padaku dari media apa, dan kujawab saja blogger. Selain itu, ada juga wartawan Sindo, Republika, majalah Glam, dan lain sebagainya.

Lanjutkan membaca “Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan”