Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita

Kemarin, aku dan Mama mengikuti acara nonton bareng (lagi), yaitu film Jakarta Unfair di acara Literasi Kebangsaan, Bandung. Kami sampai di lokasi pemutaran  film  (Gedung Indonesia Menggugat) jam setengah empat sore, namun acara belum dimulai. Di sana terdapat banyak stand buku, jadi aku membeli buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis karya David Harvey. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol bareng teman-teman Mama. Kami bicara tentang penggusuran, buku-buku klasik, dan lainnya.

Mengenai film Jakarta Unfair, ini adalah film dokumenter tentang penggusuran yang mengambil perspektif pure dari para korban penggusuran. Aku sebenarnya sudah menonton filmnya (yang baru kelar 80%) di limited screening di kantor Watchdoc saat aku masih magang di sana. Saat itu didatangkan para akademisi dan jurnalis untuk mengkritisi kekurangan film tersebut. Nah, kali ini, aku mau menonton hasilnya setelah jadi 100%.
jakarta-unfair
Sekitar jam setengah 5, acara pun akhirnya dimulai. Film ini dibuka dengan suasana kehidupan masyarakat di beberapa titik penggusuran di Jakarta (yang kuingat hanyalah Bukit Duri, Kampung Dadap, Kalijodo, dan Pasar Ikan). Mereka kebanyakan beraktivitas sebagai nelayan dan pedagang di pasar. Ketika pemerintah menggusur tempat tinggal mereka, mereka terpaksa pindah ke rusun yang jaraknya berkilo-kilo meter dari tempat kerja asli mereka.

Pemindahan ke rusun sendiri mengandung banyak masalah.  Pertama, pemerintah berjanji untuk memberikan gerobak gratis agar masyarakat yang pindah ke rusun bisa bekerja. Tapi menurut pengakuan seorang bapak dari Pasar Ikan, ia membeli gerobak sendiri dan berjualan nasi goreng dengan pemasukan sangat sedikit—jauh jika dibandingkan pekerjaan sebelumnya di kampung. Di saat yang sama, tinggal di rusun ternyata tidak gratis. Setelah tiga bulan tinggal, mereka harus membayar sewa. Jika tak juga membayar, rumah mereka akan disegel. Hal itu jelas-jelas tidak adil, melihat kondisi finansial penduduk rusun yang tak mumpuni.

Lanjutkan membaca “Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita”

Bandung Merawat Ingatan #2: Melawan Politik Ingatan

Nah, setelah pemutaran film, tiba acara diskusi dengan tiga narasumber bernama Herry Sutresna (Ucok Homicide), Zen RS, dan Aldo Fernando Nasir. Ditemani angin sepoi-sepoi Bandung dan desahan daun-daun pohon yang menaungi para peserta acara, ketiga narasumber itu memberikan berbagai ucapan mencerahkan yang menurutku keren banget.
img20160909210104
Munir itu dibunuh dua kali, kata seorang narasumber. Pertama dengan cara diracun dalam perjalanan ke Amsterdam, dan kedua dengan cara ingin dilupakan. Bapak presiden SBY tidak mau mengumumkan hasil usutan TPF, padahal ia satu-satunya yang berwenang mengungkap konspirasi di belakang pembunuhan Munir.

Mengingat Munir seharusnya melampaui sekedar mengenang seorang tokoh, tapi juga sebuah pokok permasalahan. Mengingat Munir tidak boleh sekedar seperti mengelap album tua, namun juga dengan memahami sebuah konteks—yaitu melawan retorika pembangunan. Munir itu kan kerjaannya adalah memperjuangkan rakyat kecil yang digilas dan dikorbankan demi pembangunan negara. Jadi diskursus tentang relokasi yang lagi heboh sekarang-sekarang ini sebenarnya bukan hal yang baru. Memahami kematian Munir membuat kita mengaktualisasi masa lalu, dan dengan itu kita bisa lolos dengan berhala-berhala politik yang selama ini diagung-agungkan masyarakat *smirk.

Semua masalah di Indonesia itu konteksnya adalah menghalangi Orde Baru yang memaksa meluapkan segala hal yang tradisional dan digantikan dengan kemodernan. Munir itu dianggap menghalangi organisme Orde Baru, ia mengadvokasi korban-korban yang ditendang.

Lanjutkan membaca “Bandung Merawat Ingatan #2: Melawan Politik Ingatan”

Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir

Jumat lalu, aku dan Mama mengikuti acara Bandung Merawat Ingatan, acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka memperingati 12 tahun kematian Munir. Acaranya bertempat di Cafe Kaka Jalan Tirtayasa 49 Bandung, yang rada susah dicari, baik oleh supir taksi yang mengantar kami dan Papaku yang menjemput dengan mobil.

Kami tiba di lokasi acara pada jam 5 sore dan menemukan halaman cafe tersebut sudah penuh dengan anak-anak muda berkaos hitam, rambut berantakan dan sedang asik menonton penampilan musik rock. Jujur saja, aku agak takut. Sama takutnya dengan ketika aku mengikuti pemutaran film Rayuan Pulau Palsu di tempat ngumpul kelompok Anarkonesia (anarki cuy!) Jiwaku yang interovert ini tidak akan pernah cocok bergaul dengan mereka. Tapi mereka ternyata orangnya baik-baik kok, tidak segarang aksesoris mereka, haha…

Pemutaran Film

Acara di mulai jam setengah 7. Film pertama berjudul Bunga Dibakar karya Ratrikala Bhre Aditya, sedangkan yang kedua berjudul Cerita Tentang Cak Munir yang digarap oleh Hariwi. Sebelum ini, aku sudah punya cukup gambaran tentang Munir dan kisah kematiannya dari film dokumenter yang dibuat oleh orang Australia. Sedangkan kedua film yang diputar malam itu lebih fokus membahas tentang kehidupan sehari-hari Munir sebagai seorang aktivis papan atas di Indonesia.

“Munir: Dibunuh Karena Benar”

Munir. Aku takjub mendengar begitu banyak pujian yang ia dapatkan selama bertahun-tahun setelah ia tiada. Sejak kecil, Munir adalah seorang yang sangat kritis dan berani, bahkan di hadapan temannya yang tubuhnya lebih besar darinya dan gurunya di sekolah. Kata kakak kandungnya, Munir suka berkata, “kalau ga bener, ya kasih tau, jangan diem.”

Lanjutkan membaca “Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir”

Menulis Itu Susah Atau Mudah?

Selama ini, terutama dalam pelatihan atau talkshow tentang kepenulisan yang kuisi, sering kudengar pertanyaan-pertanyaan seperti, “menulis itu susah ga, sih?” , “gimana caranya menulis?” dan “gimana ceritanya kamu bisa jadi seorang penulis?”

Pertanyaan seperti itu biasanya kujawab pendek saja karena pertama, waktunya terbatas, dan kedua, aku bukan orang yang bisa menjelaskan secara detil apa yang ada di pikiranku lewat lisan dan di depan banyak orang. Maklum, isi pikiranku itu lumayan njlimet seperti labirin tanpa pintu keluar. Untuk itulah aku pikir aku perlu menulis, agar semua yang ingin aku sampaikan, tersampaikan dengan baik kepada orang-orang.

“Menulis itu susah ga, sih?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab as simple as “ya” atau “tidak” karena relatif  (sungguh, aku ga suka dengan konsep kerelatifan karena membuatku bingung menjawab banyak pertanyaan.)
Lanjutkan membaca “Menulis Itu Susah Atau Mudah?”

Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK

Sebulan yang lalu, Mama datang padaku dengan berita mengagetkan. Ada undangan untukku agar menjadi pembicara tentang kepenulisan di Festival Anak Jujur yang diselenggarakan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Wah, aku merasa tidak pantas menjadi pembicara di event besar seperti ini karena sebenarnya aku sudah lama tidak menerbitkan buku. Seketika aku merasa nervous setengah mati. Aku berharap semoga semuanya akan berjalan dengan lancar.

Di hari-H, aku sekeluarga berangkat ke Jakarta menaiki mobil. Papaku memang kebetulan menjadi pembicara juga di sebuah seminar namun di lokasi yang berjauhan. Setelah Papa sampai di tempat seminarnya, aku, Mama, dan Reza memesan Grab Car dan meluncur ke Ancol, lokasi Festival Anak Jujur itu.

Sebelumnya, kami sudah diberi name tag khusus yang membuat kami tidak perlu membayar untuk masuk Ancol. Sesampainya di lokasi, yaitu di kawasan Geopark, aku melihat ratusan anak-anak kecil berkeliaran didampingi ibu-ibu dan panitia acara. Kami bahkan sempat melihat ketua KPK, Agus Rahardjo, keluar dari gedung dikelilingi para wartawan. Memasuki gedung utama, terlihat sebuah stage dan deretan kursi di depannya. Di sekitar kursi-kursi tersebut terdapat berbagai permainan anak kecil yang dijaga oleh kakak-kakak panitia.

Namun ternyata lokasi acara yang akan aku isi ada di lantai atas. Di sana terlihat beberapa zona kegiatan. Zona yang nanti kuisi adalah Zona Literasi. Namun karena acaranya masih lama, zona-zona tersebut masih kosong, hanya ada kakak-kakak panitia yang mondar-mandir mempersiapkan acara.

Lanjutkan membaca “Menjadi Pembicara di Festival Anak Jujur KPK”

Merenungi Suriah

21 Mei 2016

Hari ini aku excited karena aku untuk pertama kalinya aku akan mengunjungi UI lalu akan menonton Mamaku berbicara tentang Suriah. Pagi buta, aku dan Mama berangkat menuju Cileunyi, mengejar bus yang ke Jakarta. Sesampainya di sana kami dijemput Papaku dengan mobil, lalu kami ke tempat Mamaku mengajar. Mama langsung ngajar karena sudah telat, aku dan Papa sarapan di warung makan dekat sana, sambil mengobrol tentang pertunjukkan biolaku minggu lalu dan kelas teori ABRSM grade 6 yang aku ikuti.

Jam 10 aku dan Papa meluncur ke UI. Aku terkagum-kagum ketika memasuki universitas paling terkenal se-Indonesia ini. Pasti keren kalau aku bisa menjadi salah satu mahasiswanya. Tapi, masalahnya, karena ini di Jakarta, jadi hawanya panas sekali. Ah, sepertinya lebih nyaman kuliah di UNPAD, hahah…

Awalnya aku ingin ikut forum dimana Papaku jadi pembicara. Tapi setelah melihat ruangannya kecil dan isinya orang dewasa semua, jadi aku memilih tidur dan mendengar lagu saja di dalam mobil.

Selesai acara, kami menjemput Mama dan pergi menuju ke sebuah lembaga para frater (calon pastor). Di jalan sempat macet karena hujan sangat lebat, sehingga kami telat 10 menit. Mamaku sudah gelisah karena dia tidak suka telat menghadiri acara.

Lanjutkan membaca “Merenungi Suriah”

Kirana On ‘Seleksi Universitas’

11-13 Mei 2016

Aku bangun pagi-pagi dengan perasaan masih kecewa dengan ujian kemarin karena aku tidak bisa mengerjakannya dengan maksimal. Kemarin malam, setelah makan roti bakar dan lemon tea di cafe, aku dan Mama naik angkot ke stasiun Cikudapateh. Kami menunggu selama setengah jam di stasiun dan memulai percakapan tentang rencana pendidikanku ke depan.

Ya, sampai sekarang ini aku masih ragu-ragu dengan pendidikan yang ingin aku tempuh. Seminggu yang lalu Mamaku ikut seminar tentang pendidikan. Dari seminar itu Mamaku mendapat beberapa poin penting tentang tujuan karir anak didik; pertama adalah menjadi entrepreneur—pebisnis,  jualan. Kedua adalah pekerjaan profesional, yakitu pekerjaan yang tidak perlu ijazah sekolah, seperti musisi dan penulis. Ketiga adalah akademisi—pekerjaan yang butuh ijazah setinggi-tingginya, seperti dokter dan dosen.

Nah, masalahnya, aku tuh tertarik pada tiga bidang yang berbeda; musisi, penulis, dan filsafat/HI. Musisi dan penulis masuk bagian profesional, sedangkan filsafat/HI masuknya ke pekerjaan akademisi. Kalau aku memilih pekerjaan profesional, meskipun memang tidak butuh ijazah, namun memang lebih baik ambil kuliah di luar negeri. Sedangkan kalau mau jadi akademisi, aku ikuti saja jalan Mama dan Papaku dengan kuliah di Indonesia.

Lanjutkan membaca “Kirana On ‘Seleksi Universitas’”

Pengalaman Ujian Paket B

9-11 Mei 2016.

Hari Rabu kemarin adalah hari terakhir ujian paket B dalam rangkaian 3 hari ujian yang betul-betul melelahkan. Sudah tiga tahun aku tidak mengerjakan ujian apapun di rumah, dan demi mendapat ijazah SMP, aku terpaksa duduk di kelas di sebuah sekolah dasar di Bandung dan mengisi 90 sampai 100 soal dalam 4 jam. That was insane. Kepalaku seperti dipelintir sampai benyek. Kalau mengerjakannya sambil leyeh-leyeh di lantai dan makan snack seperti yang biasa aku lakukan kalau belajar di rumah, aku rasa keadaanya ga akan separah itu.

Hari pertama, pelajaran yang diujiankan itu Bahasa Indonesia dan PKN. Aku udah pede jadi ga belajar sama sekali sebelumnya. Dari 2 jam yang diberikan untuk mengerjakan setiap pelajaran, aku dan anak-anak lain dari komunitas HS Pewaris Bangsa sudah selesai dalam waktu hampir setengahnya. Di waktu luang, karena tidak boleh buka hape, aku menulis ide-ide cerpen untuk ARKI 2016 di kertas soal yang kosong. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat peka terhadap kejadian sekitar dan mudah mendapat ide-ide baru yang menarik. Tapi kemudian, si Ibu pengawas ujian melarang kami mencorat-coret kertas. Jadilah kami semua melamun saja sepanjang sisa waktu.

Lanjutkan membaca “Pengalaman Ujian Paket B”

Surat Untuk Diriku di Umur 45 Tahun

Bandung, Indonesia, 28 Februari 2016.

Untuk aku yang telah menjadi dewasa.
Di manapun kamu berada

Salam.

Halo, dirimu yang sedang menatap cermin, melihat rambut yang satu persatu memutih dan guratan di dahi yang satu persatu terlukis. Halo, dirimu yang telah melampui 4 dekade, terbang dengan kencang tanpa tahu cara beristirahat, lalu tahu-tahu tiba di suatu titik ketika engkau terkejut, betapa banyak hal yang telah kaulewati selama bertahun-tahun namun rasanya seperti baru sekejap mata saja. Halo, dirimu yang mungkin telah berada di puncak karir, ketika impian-impian masa kecil sudah tercicip, dan telah merasakan pengalaman hidup yang membuatmu matang untuk meneruskan perjalanan.

Halo, kamu di sana, apa kabar? Semuanya berjalan baik-baik sajakah? Aku sampaikan suratku ini dari masa lalumu. Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga jika kamu kehilangan arah melewati jalan yang telah kau buat di masa lalumu; untuk mengingatkan tentang tujuan-tujuan hidupmu di masa muda. Aku khawatir kamu melupakan apa yang seharusnya kau pegang teguh sampai akhir hayatmu, karena—seperti yang kau alami selama ini—dunia ini penuh dengan bisikan-bisikan jahat. Setiap detik dalam hidupmu ada di antara dua kemungkinan; apakah mau berbuat buruk atau memilih yang tidak. Aku harap kamu tidak pernah mencoba-coba pilihan pertama, apalagi yang besar akibatnya terhadap kemanusiaan.

Ya, aku berharap begitu.

Surat ini kutulis 30 tahun lalu dari tahunmu di sana. Aku sedang membayangkan bagaimana rupa kamu dan apa saja yang kamu pikirkan dan kerjakan. Pastinya mirip dengan orangtuaku di sini, karena mereka sekarang berumur 40-an. Dan sebenarnya, ayahku baru saja memperlihatkanku sebuah puisi terkenal dari Saadi Shirazi, seorang sastrawan Persia di Abad Pertengahan. Puisi itu membuatku jadi ingin menulis surat ini untukmu.

Anak-anak Adam adalah bagian-bagian dari dari keseluruhan
Karena mereka dibuat dengan inti yang sama
Jika satu bagian tersakiti
Maka yang lain akan merasakan kesakitan yang sama.
Jika kamu tidak bersimpati terhadap kesakitan orang lain
Maka jangan sebut dirimu manusia!”

Puisi ini membuatku berkontemplasi tentang kehidupan. Manusia itu sesungguhnya adalah satu. Setiap kali aku melukai orang lain, aku melukai diriku sendiri. Itulah sebabnya aku sedih melihat peperangan yang terjadi jauh di seberang laut, karena anak-anak yang orangtuanya meninggal adalah diriku; rumah-rumah yang hancur oleh bom adalah rumahku; darah yang mengucur akibat tembakan pistol adalah darahku. Dan sebaliknya, mengapa aku bahagia setiap kali menolong orang? Karena orang yang ditolong itu adalah diriku; orang yang kuperjuangkan hak-haknya adalah aku.

Puisi itu membuatku berimajinasi ke masa tuaku, yaitu kamu. Aku bertanya-tanya apa saja yang kau lakukan di sana. Aku yakin kamu teguh untuk selalu berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain, karena itulah asas dasar yang telah kaupelajari dari agama dan orangtuamu sejak kecil. Tapi itu tidak cukup, karena seperti kata orang bijak, kita juga harus mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh orang lain dan mendorong orang lain untuk berbuat baik juga.

Di tahun ini, aku bertemu seorang jurnalis yang telah mengelilingi dunia untuk merekam ketidakadilan yang terjadi terus-menerus di setiap sudut bumi, kau ingat bukan? Jurnalis itu dengan gigih membela orang-orang kecil yang haknya telah direnggut sewenang-sewenang di Indonesia, menolong anak-anak seumurku yang kelaparan dan kehausan di Afrika, mengabarkan berbagai pembantaian di Timur Tengah, serta membela orang-orang yang suara jeritan dan tangisnya tak pernah didengar publik di banyak tempat.

Bertemu dengannya, aku menyadari bahwa orang-orang yang menderita di dunia ini jauh lebih banyak dari yang kutahu dan yang disebarkan di media. Kesengsaraan mereka lebih menyakitkan dari yang kubayangkan. Dan ada hegemoni global yang mengatur semua tindak kekerasan itu; namun tidak ada yang bisa menepisnya.

Mengetahui itu semua membuatku sakit. Mengetahui bahwa hanya segelintir orang yang peduli untuk menyuarakan jeritan tolong mereka membuatku ingin melakukan sesuatu.

Bertemu dengannya, hidupku seakan berubah. Aku yang dulu bertanya-tanya apa arti dan tujuan hidupku, pada saat itu betul-betul mengerti semuanya.

Aku percaya bahwa hidup dengan motivasi uang dan gelar adalah hidup yang kering. Aku tidak akan bahagia selamanya dengan keduanya. Maka aku percaya, satu-satunya cara untuk membuat hidupku—dan kamu di sana—bermakna adalah dengan mencegah kejahatan yang terjadi terhadap sesama manusia; dan dengan begitu kamu bisa membahagiakan orang lain, juga dirimu sendiri.

Tentu saja untuk melakukan itu kau tidak harus menjadi jurnalis, seperti jurnalis yang aku temui itu. Ketika menulis surat ini, jujur saja aku belum yakin apa itu cita-citaku, karena aku punya banyak keinginan; aku ingin menjadi penulis novel, musisi, juga politikus. Aku tidak tahu apa saja yang akan terjadi dari detik ini sampai berumur 45 tahun seperti dirimu di sana. Jadi, apapun pekerjaanmu saat ini, aku harap kamu bisa menggunakan keterampilan yang kau peroleh selama 45 tahun usiamu untuk menyuarakan kemanusiaan. Jika kamu seorang musisi, aku harap kamu rajin menulis lagu-lagu berisikan perjuangan, menggubah melodi-melodi yang menyampaikan perasaan orang-orang yang haknya diselewengkan. Kalau kamu seorang politisi, aku harap kamu membuat langkah-langkah politik yang pro orang kecil, bukan menuruti keinginan pengusaha-pengusaha elit. Jika kamu seorang penulis novel, tulislah cerita-cerita yang berpesan bagi kemanusiaan, yang menggerakkan hati para pembaca untuk peduli untuk berkontribusi bagi kedamaian dunia.

Nah, suratku mendekati akhir; tapi harapanku untukmu tak akan pernah berakhir sampai waktuku bergulir menjadi waktumu dan tubuhku yang masih bugar beralih menjadi tubuhmu yang menua. Ya, aku sedikit ngeri membayangkan diriku menjadi dirimu. Tapi apa daya, waktu akan tetap berjalan, dan satu-satunya hal yang bisa membuat detik-detik yang bergegas ini berharga adalah pesan-pesan yang telah kutulis untuk dirimu.

Semoga engkau panjang umur dan sehat selalu.

Salam sayang,

Kirana, dirimu yang masih remaja.

(*tulisan ini kalah dalam kompetisi menulis surat 2016 oleh Kominfo bekerjasama dengan UPU. Kritik dan saran sangat berarti.)

Thinking About Andre, Thinking About the World

After reading Andre Vltchek’s book about Indonesia, Archipelago of Fear, I began to stalk him on social media, reading his biography on wikipedia and many of his articles about problematic countries from all around the world. What was in my head after discovered all of those stuffs, then? I was so inspired and started to think that I want to be like him. Furthermore, I felt like I’m obligated to. There are people somewhere on this earth who really needs me right now and in the future. The people who suffers, whose rights have been taken away, whose being tortured by greedy-rich people. Despite the fact that I fortunately born in a middle-income family so I can get a decent education, I surely have responsibility to help other people who can not live as lucky as I am.

Reading a bunch of his articles about Indonesia and other developing countries, I realized that being a journalist like Andre is not an easy job. Physically, it must be very tiring. But I think the most terrible thing is the mental and emotional pressures when seeing murdered, starving, and tortured people. It will be very hard to keep determined in the middle of battlefield, being chased or blacklisted by goverment. I’m just wondering what will I do in those situations; hearing screams and shouts from victims, watching the flames from burning houses, and the bombs that cracked up the whole city. I could feel the scary feeling while reading Andre’s article about the time when he met an innocent Syrian girl in a refugee camp. When he heard people shouting in the middle of the night, alone, he felt totally vulnerable. It got me imagining how horrendous journalist life is. It is really a difficult job, but eventually we have no choice. Someone has to make the real information flow to the public.

Her adorable smile makes me so sad :(
Her adorable smile makes me so sad 😦 [photo: Andre Vltchek]
Then, what does he do when facing those scary moments in those hideous places? Andre wrote, “When things get tough, I imagine a few people; men, women and children, from all corners of the world; people who touched me, who suffered immensely, and who are still most likely in distress. Their faces, their tears, even their screams, motivate me to keep working.

Lanjutkan membaca “Thinking About Andre, Thinking About the World”