Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat

Hari Minggu tanggal 10 Desember, aku mengikuti seminar berjudul “Implikasi Filosofis dalam Kultur Digital” yang diselenggarakan UNPAR. Awalnya, tujuanku ikut seminar ini karena salah satu pembicaranya Prof. Bambang Sugiharto, seorang dosen filsafat yang keren banget dan pernah aku review pengajarannya di blog ini.

Peserta seminar ini ternyata ramai. Kursi-kursi yang berjejer dan berbaris panjang penuh oleh orang-orang dengan berbagai latar belakan; laki, perempuan, tua, muda, cewek berjilbab, tidak berjilbab, guru, dan mahasiswa dari berbagai uni di dalam dan luar Bandung. Hal ini membuatku tersadar tentang banyaknya orang yang tertarik dengan ilmu filsafat.

Para pembicara yang mengisi acara ini ada 5 orang: Prof. Bambang, Stephanus Djunatan (dosen filsafat) dan istrinya, Lidya Mutiara Dewi, lalu Herman Y. Sutarto (engineer dari ITB) dan Yasraf A. Piliang (filsuf dan pemikir kebudayaan). Penjelasan mereka tentu tak bisa aku rangkum semuanya di sini, karena terlalu panjang (jadi males), atau kadang terlalu ribet sehingga aku ga mampu menjabarkannya di sini.

Prof. Bambang ternyata jadi pembicara pertama, dan aku sangat bersemangat melihat sosoknya yang hanya berjarak satu baris kursi di depanku (biasanya aku lihat dia di layar komputer). Hal yang dia sampaikan pun sangat menarik untukku.

Jadi seperti yang kita tahu, di zaman modern ini hidup kita begitu dipenuhi dengan teknologi. Apa-apa urusan dan masalah kita, larinya ke teknologi, karena begitu pintar dan hebatnya dia.

Kata Prof. Bambang, manusia menciptakan teknologi pada dasarnya untuk merekayasa mental, kesadaran, dan pikiran manusia sendiri. Di dalam kultur teknologi/digital yang kita alami sekarang, otak manusia dianggap sebagai hardware dari tubuh yang bisa diterjemahkan ke dalam kode/simbol algoritma. Makanya, semua aktivitas kita (yang berasal dari otak) bisa diformalisasi ke dalam hukum matematis yang prediktif. Sama seperti fisika yang mampu merinci hukum eksternal alam semesta, para ilmuwan pun kelak akan mampu merinci hukum internal pikiran manusia dan kemudian merekayasanya dengan cara tertentu.

Lanjutkan membaca “Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat”