Review Buku “Indonesia: Archipelago of Fear”

edisi bahasa Indonesia
edisi bahasa Indonesia

Jakarta is coming’, ujar pihak sayap kanan pada pendukung Allende di Chile. ‘Jakarta’ dianggap sebagai ancaman, peringatan, dan hasil yang tak terelakkan dan menakutkan bagi setiap bangsa yang berani berkembang dengan sistem mereka sendiri

Papaku menyebutnya buku Dementor (makhluk fiktif di cerita Harry Potter yang menghisap segala harapan dan kebahagiaan). Yah, setelah membaca buku ini aku memang merasa seakan tidak ada harapan lagi melihat Indonesia menjadi negara maju. Negeri ini mempunyai kekayaan yang begitu besar, tapi hanya bisa dirasakan segelintir orang. Andre Vltchek, sang penulis, dengan detil menjelaskan data-data tentang kesenjangan sosial yang mewarnai lika-liku bangsa ini. Para pengusaha berlomba-lomba membangun gedung-gedung mewah, sementara tepat disampingnya terdapat perkumuhan reyot yang menyedihkan.

kesenjangan

Di tahun 1976, Richard Nixon menggambarkan Indonesia sebagai ‘jajahan perang terbesar di wilayah Asia Tenggara’. Belanda dan Jepang datang menjajah negara ini untuk mengambil kekayaan alamnya yang luar biasa berlimpah. Tahun 1945 Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, tapi kemerdekaan itu sebenarnya tidak ada, bahkan hingga hari ini.

Para pejabat dan kaum elit menjual kekayaan bangsa ini ke pihak asing. Contohnya saja PT.Freeport McMoran, perusahaan pertambangan Amerika yang dibiarkan saja menggerus emas-emas di Papua, sementara orang-orang pribumi hanya menjadi buruh bergaji rendah. Hutan-hutan Kalimantan pun makin habis, diganti dengan perkebunan sawit. Aku sempat bertanya kenapa orang-orang menolak industri kelapa sawit ini, padahal kelapa sawit tetap saja tumbuhan. Tapi setelah browsing sana-sini, katanya kelapa sawit itu bukan spesies tanaman hutan. Kelapa sawit akan sangat merugikan jika ditanam sebagai bagian dari ekosistem hutan karena sifatnya yang intensif menggunakan sumber daya, sehingga mengancam keseimbangan ekologis alam.

Setelah membaca ini aku tertarik menonton film dokumenter “The Act of Killing” yang disutradai Joshua Oppenheimer, seorang lulusan Harvard di bidang filmmaking. Film ini menceritakan para pembunuh PKI tahun 1965-66 yang dengan bangganya menceritakan dirinya yang dulu pernah mencekik orang-orang yang dituduh PKI dengan kawat. Tokoh utamanya, Anwar Kongo, seorang yang konon sudah membunuh lebih dari 1000 orang, sampai sekarang belum dijatuhi hukuman oleh pemerintah dan bahkan menjadi orang yang dihormati.

Aku merinding menonton film ini. Merinding melihat keadaan moral dan sosial masayarakat Indonesia saat ini.

Overall, menurutku Andre Vltchek memang penulis yang hebat. Dia mampu membeberkan satu persatu masalah-masalah bangsa ini dengan data-data yang banyak namun akurat. Dia sampai berkeliling Indonesia melewati jalur darat untuk mewancarai penduduk tentang masalah sosial yang mereka rasakan. Suatu saat aku ingin bisa seperti dia.

Sebagai penutup, aku mau mengutip satu paragraf di bab terakhir dalam buku ini:

Sejak awal, ada dua alasan utama mengapa saya ingin menulis buku ini. Saya ingin memperingatkan dunia tentang apa yang bisa terjadi pada sebuah negara miskin yang dipaksa untuk menjalani mimpi buruk sistem fasis yang disertai dengan sistem kapitalis yang tidak terkendali. Alasan lainnya adalah emosional: Saya merasa sedih melihat puluhan juta orang hidup tanpa aspirasi atau mimpi yang lebih tinggi. Saya merasa sedih melihat kepulauan yang dulu indah sekali dan sekarang hanya menjadi kepulauan yang sudah gundul dan hasil tambangnya habis dibawa keluar negeri, penuh dengan tumpahan bahan kimia, pedesaan yang kotor dan miskin, serta kota-kota yang walaupun besar tapi tidak layak untuk ditinggali.