Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas

Di tulisan sebelumnya, sudah aku ceritakan bahwa suatu masalah bisa dimaknai berbeda-beda, dan itu mempengaruhi emosi dan respon kita. Nah, dari sana, kita bisa menyimpulkan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung makna yang kita beri dan pengalaman kita (historical files). Dalam Neuro-Semantics, ini disebut “kebenaran internal”—kebenaran yang berbeda-beda bagi setiap orang; tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk.

Contoh kebenaran internal adalah tentang jarak. Orang desa biasanya menganggap jarak 5 kilometer itu dekat dan dengan mudah dilewati dengan jalan kaki. Tapi orang kota menilai jarak 5 kilo itu terlalu jauh dan pengennya langsung nyari kendaraan. Atau kasus lainnya, aku menganggap suhu AC 23 derajat itu sejuk dan nyaman, tapi bagi guruku, suhu 23 derajat itu membuatnya menggigil kedinginan.

Maka, kita tidak bisa menganggap persepsi kita adalah realitas yang sebenarnya. Persepsi bukan realitas; seperti halnya foto makanan di kertas menu yang tidak betul-betul sama dengan makanan aslinya. Atau seperti gambar di peta yang tidak sama dengan wilayah aslinya.

Lanjutkan membaca “Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas”

Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat

Hari Minggu tanggal 10 Desember, aku mengikuti seminar berjudul “Implikasi Filosofis dalam Kultur Digital” yang diselenggarakan UNPAR. Awalnya, tujuanku ikut seminar ini karena salah satu pembicaranya Prof. Bambang Sugiharto, seorang dosen filsafat yang keren banget dan pernah aku review pengajarannya di blog ini.

Peserta seminar ini ternyata ramai. Kursi-kursi yang berjejer dan berbaris panjang penuh oleh orang-orang dengan berbagai latar belakan; laki, perempuan, tua, muda, cewek berjilbab, tidak berjilbab, guru, dan mahasiswa dari berbagai uni di dalam dan luar Bandung. Hal ini membuatku tersadar tentang banyaknya orang yang tertarik dengan ilmu filsafat.

Para pembicara yang mengisi acara ini ada 5 orang: Prof. Bambang, Stephanus Djunatan (dosen filsafat) dan istrinya, Lidya Mutiara Dewi, lalu Herman Y. Sutarto (engineer dari ITB) dan Yasraf A. Piliang (filsuf dan pemikir kebudayaan). Penjelasan mereka tentu tak bisa aku rangkum semuanya di sini, karena terlalu panjang (jadi males), atau kadang terlalu ribet sehingga aku ga mampu menjabarkannya di sini.

Prof. Bambang ternyata jadi pembicara pertama, dan aku sangat bersemangat melihat sosoknya yang hanya berjarak satu baris kursi di depanku (biasanya aku lihat dia di layar komputer). Hal yang dia sampaikan pun sangat menarik untukku.

Jadi seperti yang kita tahu, di zaman modern ini hidup kita begitu dipenuhi dengan teknologi. Apa-apa urusan dan masalah kita, larinya ke teknologi, karena begitu pintar dan hebatnya dia.

Kata Prof. Bambang, manusia menciptakan teknologi pada dasarnya untuk merekayasa mental, kesadaran, dan pikiran manusia sendiri. Di dalam kultur teknologi/digital yang kita alami sekarang, otak manusia dianggap sebagai hardware dari tubuh yang bisa diterjemahkan ke dalam kode/simbol algoritma. Makanya, semua aktivitas kita (yang berasal dari otak) bisa diformalisasi ke dalam hukum matematis yang prediktif. Sama seperti fisika yang mampu merinci hukum eksternal alam semesta, para ilmuwan pun kelak akan mampu merinci hukum internal pikiran manusia dan kemudian merekayasanya dengan cara tertentu.

Lanjutkan membaca “Memahami Kultur Digital dari Pandangan Filsafat”

Filsafat #2: Ilmu Dalam Pandangan Filsuf Yunani Kuno

Jadi, dalam postinganku sebelumnya, aku sudah menjelaskan bahwa manusia itu berpikir dengan dua cara; mitos dan logos. Cara berpikir yang benar tentu saja dengan logos, karena pemakaian akal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Nah, cara berpikir dengan logos itu punya berbagai tingkatan. Ada yang berpikir biasa saja, hanya di permukaan, seperti bagaimana caranya mendapat makanan dan kesenangan. Ada yang berpikir lebih dalam lagi seperti belajar keras untuk masuk universitas atau berpikir untuk mendapat jabatan kerja lebih tinggi. Namun ada manusia yang berpikir dengan sangat mendalam, yang terus mempertanyakan segala hal, dan itulah yang disebut filsafat. Sejarah mencatat bahwa Yunani adalah tempat munculnya orang-orang yang sangat terkenal di bidang filsafat. Di antaranya, Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Socrates, yang disebut Bapak filosofi Barat adalah anak dari seorang pemahat patung batu. Dia sering berkeliling ke masyarakat untuk berdiskusi masalah filsafat, namun tak pernah meninggalkan karya tulis apapun. Ilmu-ilmunya akhirnya ditulis oleh muridnya, Plato.

Menurutnya, pengetahuan sejati (episteme) harus berbeda dengan pendapat/keyakinan pribadi dan mesti bersifat universal. Kedua, semua hal yang ada di dunia adalah tampilan semu dari ide universal (ide universal adalah ide yang secara umum disetujui atau diketahui oleh hampir semua orang di dunia. Misal ide tentang figur ibu yang merawat anak hingga dewasa, atau matahari terbit dari timur). Proses mendapat ilmu itu ada tiga tahap; dialektika (berpikir, bertanya-jawab di kepala sendiri juga bisa dibilang dialektika), abstraksi (proses memisahkan/mendapat pengertian melalui penyaringan terhadap gelaja/peristiwa), kemudian terakhir ditemukanlah ide universal.

Socrates mengakhiri hidupnya dengan pahit. Ia dipaksa meminum racun setelah dituduh merusak generasi muda akibat pemikirannya*.

Plato, sebagai filsuf besar penerus Socrates, pernah mengeluarkan Teori Emanasi tentang ketuhanan yang menurutku menarik. Menurut dia, Tuhan itu bukan sosok, tapi mirip matahari yang memancarkan sinarnya dan menciptakan alam semesta. Jadi alam semesta itu adalah pantulan dari Dia, pancaran dari Dia, dan mengandung unsur Dia. Konsep ini terdengar begitu magis dan misterius, sehingga banyak orang yang menyukainya untuk memahami keberadaan Tuhan.

Setelah Plato, filsuf besar yang muncul adalah Aristoteles. Anak dari seorang tabib King Amyntas of Macedon** ini mengeluarkan pemikiran yang melahirkan kepastian pengetahuan, yang melahirkan inovasi IPTEK di era modern. Berbeda dengan pandangan gurunya, Plato, dia berpendapat isi/esensi realitas ada di realitas itu sendiri yang bisa dicapai melalui abstraksi. Kedua, pengetahuan bukan sekedar ‘tahu bahwa’, melainkan ‘tahu mengapa’ (explanotary power). Konsep ini melahirkan sensibilitas baru bagi sains modern di kemudian hari. Di masa dialah terjadinya sistemasi nalar umum, adanya logika formal (aneka bentuk silogisme) yang hitam-putih, anti kontradiksi, dan benar-benar memburu hal-hal yang bersifat kepastian. Namun cara ini memang tidak bisa melihat aneka bentuk misteri dalam hidup yang lebih dalam.

filsuf
Plato (left) and Aristotle (right), a detail of The School of Athens, a fresco by Raphael. Aristotle gestures to the earth, representing his belief in knowledge through empirical observation and experience, while holding a copy of his Nicomachean Ethics in his hand. Plato holds his Timaeus and gestures to the heavens, representing his belief in The Forms***

Menurut Aristoteles, untuk melihat realitas kita bisa mengidentifikasi penyebabnya. Pertama adalah penyebab material; yang menyebabkan sesuatu menjadi sesuatu adalah karena bahannya, materialnya. Kursi menjadi kursi karena bahannya kayu, atau plastik. Kedua, penyebab formal; ide ‘kursi’—sebagai tempat duduk—menyebabkan kursi menjadi kursi, bukan ‘gelas’ atau ‘meja’. Ketiga, tujuan/teleologis; karena kita membutuhkan sesuatu untuk duduk, meka lahirlah kursi. Karena kita memerlukan suatu wadah untuk minum, maka dibuatlah gelas.

Plato dan Aristoteles juga mempunyai pandangan berbeda terkait penciptaaan karya seni dan sastra. Plato menganggap bahwa karya seni berada di bawah kenyataan karena hanya merupakan tiruan dari apa yang ada di dalam benak atau pikiran manusia. Sedangkan Aristoteles menganggap karya seni justru berada di atas kenyataan.

Plato berpendapat ide yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Ide ini hanya dapat diketahui melalui rasio, dan tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan pancaindra. Segala macam upaya untuk membuat apa yang ada di “alam ide” ini menjadi sesuatu yang bersifat empiris (bisa dilihat, didengar, dibaca, dll) adalah bentuk perendahan terhadap ide itu sendiri. Ide estetis (atau imajinasi) tentang wanita yang sangat cantik, misalnya, akan menjadi rusak jika ada seniman yang mencoba membuatkan patung atas wanita cantik itu, atau ada sastrawan yang membuatkan puisi terkait kecantikan wanita yang ada di alam ide itu. Atau coba aku tanya teman-teman yang mengagumi buku Harry Potter seperti diriku. Dulu ketika membaca buku itu, imajinasi kita terhadap sihir dan tokoh-tokoh di sana pasti liar dan tanpa batas. Namun ketika menonton film-nya, mungkin ada diantara penonton yang merasa sedikit kecewa, karena penggambaran visual yang tersaji tidak sekeren imajinasi kita sebelumnya.

Karena itulah, Plato dikenal sebagai filsuf yang memandang rendah para seniman dan sastrawan. Baginya, seorang tukang pembuat meja lebih berharga dibandingkan seorang seniman pembuat patung, karena pembuat meja tidak melakukan “penjajahan estetis” terhadap ide sebuah benda bernama meja.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan tidak semata-mata menjiplak kenyataan, tetapi melakukan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Aristoteles meyakini bahwa karya sastra adalah suatu ungkapan mengenai “universalia” atau konsep yang tadinya masih bersifat umum. Dari sisi inilah maka Aristoteles dikenal sangat menghargai seniman dan sastrawan. Dia tentunya memandang seniman dan sastrawan jauh lebih berharga dibandingkan para tukang batu dan kayu.

Nah, begitulah kira-kira tulisanku untuk filsafat bagian kedua. Part berikutnya akan diposting secepatnya. Stay tuned!

* https://id.wikipedia.org/wiki/Socrates
**https://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
***https://en.wikipedia.org/wiki/Plato

Filsafat #1: Mitos dan Logos

Alright, kali ini yang aku tuliskan agak berat. Kemarin baru saja menonton video filsafat yang diajari oleh professor Indonesia yang pernah kuliah di Italia. And it was interesting. Keinginanku untuk kuliah di filsafat makin menjadi-jadi. Tapi, seperti yang kuduga, karena filsafat yang diajarkan adalah filsafat Barat, jadi -setelah diskusi dengan papaku– aku menemukan beberapa kesalahan fatal tentang sudut pandangnya terhadap agama; agama Islam tepatnya.
filsafat
Pada abad ke 6, ketika globalisasi belum ada, di seluruh dunia (especially di Yunani) simultaneously terjadi pergantian cara berpikir dari ‘mitos’ menjadi ‘logos’.

Cara berpikir mitos mempunyai beberapa ciri, yaitu imagerial; yang bertitik tumpu pada image, citra, atau bentuk. Misalnya di legenda tangkuban perahu, orang-orang jaman dulu melihat sebuah gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik, kemudian mereka buatlah cerita yang berkorelasi dengan itu, sehingga terciptalah legenda tangkuban perahu. Ciri kedua, yaitu persepsi yang undifferentiated; semua hal diperlakukan sama dengan manusia; bisa diajak bicara, diminta pertolongan, dan sebagainya. Maka itulah jaman dahulu terdapat adat-adat seperti tarian hujan (hujan dianggap bisa mendengar manusia) atau minta rezeki dari pohon (pohon yang sebenarnya benda mati dipercayai bisa memberi). Ciri ketiga, yaitu kultur lisan (ciri favorit saya); di mana orang-orang memaknai suatu kata dari efek imajinatif/auranya, bukan makna otentik dari kata itu sendiri. Sebagai contoh, ada gedung-gedung di Indonesia yang dinamai, misalnya Manala Swanabakti. Ada artinyakah? Tidak. Namun kata itu memang punya kesan greatness dan mirip kata sansakerta yang terkesan tua dan elegan.

Manusia kemudian mulai menyadari bahwa segala sesuatu itu haruslah logis dan masuk akal, karena pemakaian akal itu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Maka terbentuklah cara berpikir logos. Ciri logos yang pertama adalah konsep yang menjadi pilar dan makna yang denotatif (dipastikan); makna haruslah tunggal, tidak seperti mitos yang mempunyai kecenderuangan bermakna banyak. Makanya dalam sains, definisi kata itu sangat penting. Ciri kedua, presisi yang spesifik (differentiated). Semua hal harus dipilah. Manusia adalah manusia. Benda mati adalah benda mati. Tidak boleh disamakan. Ciri ketiga, kultur baca-tulis. Manusia menyadari bahwa memori mereka terbatas. Maka dengan menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan, ide-ide dan ilmu mereka bisa bertahan lama.

Dari kedua penjelasan di atas, pendeknya, logos maunya ‘menjelaskan’, sedangkan mitos itu ‘melukiskan/menyentuhkan pada kesadaran’. Logos itu bentuknya pasti, sedangkan mitos itu misteri; masalah dalam mitos yang deep dan misterius tak bisa diselesaikan segampang logos yang bisa dihitung dan dipastikan. Logos dipakai dengan nalar, sedangkan mitos dengan hati. Logos itu yang menjadikan pesawat yang beratnya berton-ton bisa terbang, sedangkan mitos itu tentang mengapa manusia bisa bahagia mendengar musik yang indah dan senang melihat lukisan rupawan.

Hal yang ingin aku kritisi dari pernyataan professor itu adalah mengenai agama. Dia bilang, agama adalah mitos. Dalam arti, agama hanya bisa dirasakan oleh hati, bukan oleh akal. Benarkah begitu? Benarkah agama memang benar-benar tidak masuk nalar? Ya, kelihatannya begitu, ya kan? Tuhan, malaikat, surga, dan neraka itu tidak kelihatan. Kita percaya hal-hal karena semata-mata ‘kata orang, ustad, orangtua’. Well, harus aku tekankan di sini bahwa sesuatu yg logos itu tidak harus empiris. Kesalahan utama orang-orang Barat adalah meyakini bahwa semua hal itu ada kalau kelihatan, terdengar, tercium, teraba. Padahal tidak begitu.

Bayangkan kalau kamu sedang ada di dalam hutan, lalu kamu melihat jejak kaki harimau di jalan setapak yang kamu lalui. Apa yang kamu lakukan? Pastinya segera keluar dari hutan itu, karena kamu tahu ada harimau di hutan itu. Tapi darimana kamu tahu? Apa kamu melihat sosok harimau itu di depan mata? Tidak. Kamu melihat jejak dan tanda-tandanya.
Ilustrasi lain. Lebih sederhana dari sebelumnya. Kamu melihat ada asap membumbung tinggi dari kejauhan. Kamu tahu kalau sedang terjadi kebakaran. Bukan karena kamu melihat apinya, namun kamu melihat tandanya.

Begitu juga tentang keberadaan Tuhan. Kamu tak bisa melihat wujud-Nya (kamu tidak akan kuat, obviously.) tapi kamu bisa melihat segala jejak-jejak dan tanda-tanda-Nya di alam semesta. Pernahkah kamu membayangkan bagaiman bisa bumi, tata surya, dan milyaran galaksi yang ada bisa bergerak sendirinya dengan ketepatan yang sangat rinci, yang jika terjadi kesalahan sedikit saja, semuanya akan berantakan? Bagaimana bisa burung yang mempunyai otak sekecil itu bisa terbang, berlayar, berimigrasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa diberitahu dan diajari? Bagaimana bisa kita, manusia, bisa terbentuk di rahim ibu, dari satu sel berkembang menjadi jutaan? Sama sekali tidak logos kalau kita bilang semuanya terjadi dengan sendirinya. Harus ada tangan tak terlihat yang merancang semuanya, dan menjaga milyaran sistem yang menakjubkan ini untuk terus bekerja sampai waktu yang ditentukan.

It’s starting to make sense, isn’t it?

to be continued. Stay tuned for my next post!