Cara Menyembuhkan Hati yang Sakit dan Terluka

Aku berasumsi kamu membaca tulisan ini karena sedang sedih, kesal, marah, bingung, benci, malu, capek, sampe pengen mati aja. Mungkin perasaan itu muncul begitu saja, atau kamu baru mengalami hal yang buruk. Mungkin kamu baru diputusin cowok (aku ga pro-pacaran btw), direndahin sama teman sendiri, dikhianati, digoblog-goblogin, diejek, dapet physical abuse dari orang terdekat, melihat anggota keluarga terbaring sakit (karena virus corona, mungkin?), atau capek sama tugas kuliah yang numpuk ga kelar-kelar karena WFH. Aku akan menyebut semua emosi negatif ini sebagai ‘rasa sakit dan terluka’, karena ia bikin hati kita ciut, lemah, dan seperti ditusuk sesuatu. Maka, kali ini aku mau memperkenalkanmu sebuah teknik agar terbebas dari rasa ini.

Sumber: Medium

Lanjutkan membaca “Cara Menyembuhkan Hati yang Sakit dan Terluka”

Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?

Banyak dari kita (bahkan orang yang sudah dewasa) kebingungan tentang tujuan hidup di dunia. Buatku, tujuan hidup itu beda sama cita-cita. Cita-cita itu lebih ke profesi, sedangkan tujuan hidup adalah esensi dan motivasi dalam hidup—sesuatu yang membuat hidup kita lebih bermakna. Kadang ada orang yang sudah sukses, mapan, punya duit banyak, tapi kebingungan apa esensi dari hidupnya, dan dia pun hidup dalam kegundahan. Jadi, buat apa sih kita hidup?

Untuk memahaminya, kita harus tahu apa sifat istimewa kita sebagai manusia, seperti yang dijelaskan oleh Neuro-Semantics. Apa sih, yang membedakan kita dari binatang?

Lanjutkan membaca “Food for Thought #7 (end): Untuk apa kita hidup?”

Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami

Aku punya seorang teman yang memelihara kucing. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa temanku ini mengurusi kucingnya dengan dedikasi sebegitu rupa. Tiga kali sehari harus diberi makan, dibuang kotorannya, dimandikan, harus membersihkan sofa-sofa dari bulu-bulunya, dan menghabiskan uang banyak untuk perawatan. Kok dia bisa tahan dengan segala keribetan itu hanya untuk seekor kucing?

Ternyata jawabannya adalah, temanku ini sayang sama kucingnya dan memahaminya secara seutuhnya. Mereka tahu bahwa agar si kucing nyaman, harus diberi makan setiap jam sekian. Agar di kucing sehat, harus dimandikan setiap sekian hari. Agar si kucing tidak poop sembarangan, harus dilatih dengan benar sejak kecil, dan sebagainya.

Dulu, saat temanku ini memutuskan untuk memelihara kucing, di saat itu dia sudah mengizinkan dirinya untuk menghadapi konsekuensi apapun dalam pemeliharaan si kucing.

Jadi, aku pun berkaca ke diri sendiri. Aku sering sekali memutuskan untuk mencapai sesuatu, tapi aku tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memahami dan menerima konsekuensi untuk mencapai hal itu.

Semua cita-cita kita, tujuan-tujuan, target, keinginan, memiliki konsekuensinya sendiri. Mau jadi dokter? Konsekuensinya harus masuk kuliah kedokteran, belajar 4-6 tahun di sana, harus mengikuti pendidikan profesi, dapat tugas jaga malam, awalnya dapat pemasukan di bawah gaji buruh, lalu mungkin ada pengabdian masyarakat, dll.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #6: Kekuatan Menerima dan Memahami”