Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri

Oleh: Yasha Levine

Diterjemahkan bebas oleh Kirana Sulaeman

Kata-kata bijak ekonomi kita yang populer menyebutkan, kapitalisme sama dengan kebebasan dan masyarakat bebas, ya kan? Tapi, jika kamu pernah mencurigai bahwa logika itu bohong belaka, maka saya merekomendasikanmu buku berjudul The Invention of Capitalism, yang ditulis oleh sejarawan ekonomi bernama Michael Perelmen. Ia pernah dibuang ke Chico State, sebuah kampus kelas bawah di pinggiran California, karena penolakannya terhadap pasar bebas. Dan Perelman telah menghabiskan waktunya selama pembuangan itu dengan hal-hal yang luar biasa bagus, yaitu menggali lebih dalam hasil karya Adam Smith dan orang sezamannya untuk menulis sejarah pembentukan kapitalisme yang isinya melampaui dongeng buatan di buku The Wealth of Nations  and langsung ke sumbernya. Buku ini membuatmu mengetahui isi kebijakan para kapitalis, ekonom, filsuf, pendeta, dan negarawan yang asli. Dan isinya itu sama sekali tidak bagus.

Satu hal yang jelas menurut catatan sejarah adalah bahwa Adam Smith dan teman-teman “laissez-faire” nya merupakan sekelompok ahli statistik yang membutuhkan kebijakan pemerintah yang brutal untuk memaksa kaum petani Inggris menjadi pekerja kapitalistik yang baik dan mau menerima upah kecil seperti budak.

Lanjutkan membaca “Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri”

Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita

Kemarin, aku dan Mama mengikuti acara nonton bareng (lagi), yaitu film Jakarta Unfair di acara Literasi Kebangsaan, Bandung. Kami sampai di lokasi pemutaran  film  (Gedung Indonesia Menggugat) jam setengah empat sore, namun acara belum dimulai. Di sana terdapat banyak stand buku, jadi aku membeli buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis karya David Harvey. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol bareng teman-teman Mama. Kami bicara tentang penggusuran, buku-buku klasik, dan lainnya.

Mengenai film Jakarta Unfair, ini adalah film dokumenter tentang penggusuran yang mengambil perspektif pure dari para korban penggusuran. Aku sebenarnya sudah menonton filmnya (yang baru kelar 80%) di limited screening di kantor Watchdoc saat aku masih magang di sana. Saat itu didatangkan para akademisi dan jurnalis untuk mengkritisi kekurangan film tersebut. Nah, kali ini, aku mau menonton hasilnya setelah jadi 100%.
jakarta-unfair
Sekitar jam setengah 5, acara pun akhirnya dimulai. Film ini dibuka dengan suasana kehidupan masyarakat di beberapa titik penggusuran di Jakarta (yang kuingat hanyalah Bukit Duri, Kampung Dadap, Kalijodo, dan Pasar Ikan). Mereka kebanyakan beraktivitas sebagai nelayan dan pedagang di pasar. Ketika pemerintah menggusur tempat tinggal mereka, mereka terpaksa pindah ke rusun yang jaraknya berkilo-kilo meter dari tempat kerja asli mereka.

Pemindahan ke rusun sendiri mengandung banyak masalah.  Pertama, pemerintah berjanji untuk memberikan gerobak gratis agar masyarakat yang pindah ke rusun bisa bekerja. Tapi menurut pengakuan seorang bapak dari Pasar Ikan, ia membeli gerobak sendiri dan berjualan nasi goreng dengan pemasukan sangat sedikit—jauh jika dibandingkan pekerjaan sebelumnya di kampung. Di saat yang sama, tinggal di rusun ternyata tidak gratis. Setelah tiga bulan tinggal, mereka harus membayar sewa. Jika tak juga membayar, rumah mereka akan disegel. Hal itu jelas-jelas tidak adil, melihat kondisi finansial penduduk rusun yang tak mumpuni.

Lanjutkan membaca “Pekan Literasi Kebangsaan: Kapitalisme dan Penggusuran di Sekitar Kita”