Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery

Setelah satu tahun yang penuh (well, not literally) dengan latihan, les, diskusi, tes di depan guru di tempat kursusku Swaraharmony, akhirnya pada bulan Maret ini aku ikut ujian ABRSM kelas akhir, yaitu grade 8. ABRSM adalah ujian musik bersertifikat internasional, dan instrumen yang kumainkan untuk ujian ini adalah biola. Aku sendiri sebelumnya tidak menyangka bahwa persiapan ujian ini akan seberat, sepusing, dan secapek ini. Karena, musik, seperti halnya ilmu-ilmu lain, butuh pemahaman dan kemampuan berpikir ‘beyond’ jika sudah menanjak ke kelas profesional.

Satu hal yang disalahpahami olehku sebelumnya (dan orang-orang awam lainnya) adalah bahwa bermain musik hanyalah soal bermain nada dan irama tertentu dengan benar. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, musik itu pada dasarnya media penyampaian cerita dan pesan lewat suara. Sama seperti penyampaian cerita di novel (lewat kata-kata), atau lukisan (lewat garis dan warna-warna).

Sepanjang sejarah, orang-orang menciptakan dan memainkan musik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dulu, para budak di Amerika menyanyikan lagu ketika mereka dipaksa bekerja di perkebunan yang panas. Lagu-lagu tersebut memberikan mereka harapan bahwa suatu hari mereka akan bangkit melawan penindasan.

Di negara tertentu, ketika terjadi krisis, para musisi daerah memainkan lagu untuk mengkritik pemerintah, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan aspirasi mereka yang tak terdengar. Ingat Iwan Fals? Yes, that’s what he did ketika negara kita terkena krisis ekonomi di era Seoharto.

Lanjutkan membaca “Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery”

My Thoughts About Classical Music

“Om juga suka musik klasik,” kata om-ku. Ia duduk santai di sebelahku sambil menyilangkan kaki.

Aku tersenyum. Akhirnya ada juga yang punya selera musik denganku selain guru-guru musikku di tempat kursus.

Saat itu aku sedang duduk di kursi tamu, di pernikahan sepupuku. Di tengah hiruk-pikuk tamu-tamu undangan yang sedang menyalami pengantin, terdengar lagu dangdut yang memekakkan telinga. Penyanyi dangdut di atas panggung itu memakai baju mini yang membuat risih. Ia bergoyang seronok, begitu norak dan memalukan.

Om melanjutkan bicaranya. “Musik klasik itu hanya bisa dinikmati orang-orang kelas atas, orang-orang kota. Kalau di desa atau kampung, ga ada tuh, yang bakal suka. Kayak di sini, nih.” Om menatap ke panggung.

Ya, pernikahan sepupuku ini memang agak di perkampungan, dengan adat dan budaya yang masih dipakai di kehidupan masyarakatnya.

Sekejap, aku merasa ada yang salah. Masalah musik ini, sebenarnya sejak sebelumnya selalu mengusik pikiranku. Apa yang membuatku suka musik klasik? Apakah karena gengsi, karena musik klasik umumnya dinikmati orang-orang elit? Yang penontonnya memakai jas berdasi dengan sepatu mengkilap dan para wanitanya memakai gaun elegan?

Ketika pertamakali aku belajar di tempat kursus di Bandung, aku diberi buku partitur kumpulan lagu klasik. Aku langsung jatuh cinta dengan lagu-lagunya–terutama lagu ciptaan J.S.Bach–tanpa ada rasa ‘gengsi dan keren’ dalam diriku. Lalu aku keranjingan menonton video  konser-konser klasik di youtube. Jumlah pencipta lagu favoritku bertambah banyak; Antonio Vivaldi, Paganini, Dvorak, Pechelbel, Seitz, Brahms, Schubert, Wieniawski.

music

Ada beberapa alasan mengapa aku suka musik klasik. Pertama, lagu klasik itu banyak sekali yang sulit dimainkan dan butuh teknik yang bagitu tinggi. Makanya saat aku mendengar lagu Vivaldi atau Wieniawski yang bertempo cepat, dalam hati aku berterik ‘WOW!’. Aku suka membayangkan kalau suatu hari nanti bisa memainkan lagu-lagu itu, dan itu sangat menyenangkan. Kedua, ada satu pola nada yang membuatku langsung merasa, ‘nah, ini lagu yang bagus itu!’. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan pola tersebut, namun yang pasti,  pola nada itu banyak sekali terdapat di lagu klasik. Ketiga, penonton konser lagu klasik itu selalu menonton dengan khusyuk dan diam, tidak seperti konser lagu dangdut, pop, atau rock yang penontonnya cenderung berdiri, melompat-lompat, berteriak-teriak, atau ikut bernyanyi.

S0, menurut papaku, aku itu termasuk orang yang ‘art for art’; ‘seni untuk seni’. Aku memainkan dan mendengar lagu klasik benar-benar karena menyukai musik itu.

art

Tapi, akhir-akhir ini, ketika aku mendengar lagu klasik, aku selalu merasa kalau aku seharusnya tidak mendengarnya.

Kenapa bisa seperti itu? Aku sempat bertanya-tanya.

Aku berpikir. Lalu aku menemukan bahwa diriku semacam takut terkena dampak globalisasi dari budaya Eropa. Ya, globalisasi. Westernisasi. Aku takut rasa nasionalisme-ku berkurang, lalu aku menjadikan musik Eropa menjadi segalanya, kemudian perlahan-lahan mulai meninggalkan musik khas tanah airku sendiri. Haha… alasan yang nyentrik. Tapi bagitulah kata hatiku.

Mungkin pikiran ini muncul gara-gara membaca sebuah komentar di youtube di sebuah video pemain biola korea yang memainkan lagu Tarantella-nya Wieniawski. Komentar itu dari orang bule, bisa dilihat dari nama user-nya. Dia menulis–tentu saja dalam bahasa Inggris–“Mengapa orang Asia ini memainkan lagu-lagu Eropa? Mainkan saja lagu dari negaramu sendiri,”

Oke, itu terdengar rasis. Seharusnya aku abaikan saja komentar seperti itu. Tapi nyatanya, kata-kata tersebut terus melekat di pikiranku dan membuatku tidak nyaman lagi mendengar lagu klasik. Di satu sisi, aku membela diri sebagai orang Asia, “Ya, kan, tidak ada aturan bahwa tidak boleh memainkan lagu dari ras lain,”. Di sisi lain, aku juga merasa bersalah, kenapa aku terpaku dengan musik klasik ini? Kenapa aku tidak menoleh sedikit ke musik Indonesia?

Tetapi kemudian, aku baru mengerti satu alasan yang membuatku harus belajar klasik. Lagu-lagu klasik yang membutuhkan skill tinggi, jika sudah dipelajari, akan mempermudah memainkan lagu-lagu bergenre lain; pop, jazz, musik tradisional Indonesia, dan apapun.

Begitulah. Those are my thoughts.

*Referensi gambar:

-www.artforart.at

-www.hellostage.com