Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?

Aku menulis ini ketika sedang menunggu hasil SBMPTN. Ada suatu perasaan yang tipikal dalam momen-momen seperti ini: ketika kita merasa masa depan begitu redup dan kita mencoba meraba-raba apa yang terjadi kalau keinginan tidak tercapai. Apa yang terjadi jika aku tidak masuk jurusan impian padahal aku sudah kerja keras belajar? Akankah aku dianggap gagal dalam hidup, pecundang, bodoh, not good enough, ga beruntung? Perasaan seperti ini sudah sering banget kualami, terutama karena aku sering ikut lomba (dan… ga menang hehe) dan berbagai macam tes akademis, di mana aku selalu stres memikirkan hasilnya. Akankah aku menang? Akankah aku lulus? Akankah nilaiku bagus? Kalau engga gimana? Mampus gue kalau gagal! Aku yakin perasaan ini universal—semua orang hampir pasti pernah mengalaminya. Ini adalah perasaan yang berbahaya karena bisa berujung ke depresi.

Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah ide yang muncul di kepalaku yang aku kira bisa menjawab persoalan ini, yaitu tentang pentingnya membedakan mimpi dan ekspektasi. (Peringatan: definisi-definisi atas kedua kata ini adalah hasil interpretasiku; bukan definisi KBBI).

Aku menyadari bahwa sejak aku bisa membedakan keduanya dan memilih salah satu yang lebih baik, aku menjadi lebih santai dalam memikirkan masa depan, tantangan-tantangan, dan cita-citaku. Selain itu, aku bisa menghindari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. And I encourage you to give this some thought.

Lanjutkan membaca “Tentang Mimpi dan Ekspektasi: Apa Bedanya?”

Iklan

Food For Thought #3: Utak-Utik Makna Kesulitan, Kegagalan, Masalah

Sekarang mari kita utak-atik makna atas kegagalan, kesulitan, dan masalah, lalu kita buktikan bahwa semua istilah-istilah negatif ini sebenarnya sangat ambigu dan pada akhirnya bukan lagi hal yang negatif.

Apa sih makna kegagalan? Kegagalan itu artinya sesederhana “rencana saya yang gagal”, bukan “saya yang gagal”.  Maka solusinya juga sederhana: cari rencana lain.

Jadi gini, misalnya aku gagal masuk universitas yang kuinginkan. Nah yang gagal itu rencanaku masuk ke univ itu, bukan diriku. Artinya aku perlu mencari rencana lain, misalnya mendaftar di univ lain, atau ikut bimbel dan ujian lagi di tahun berikutnya. Kalau rencana itu gagal juga? Ya cari rencana lain lagi, minta saran dari orang-orang yang sudah berhasil, dan bekerja keras.

Lagipula, kegagalan itu berkah. Rasa sakit kita sebenarnya merupakan titik pengembangan diri supaya lebih kuat dari sebelumnya. Semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan.

Lanjutkan membaca “Food For Thought #3: Utak-Utik Makna Kesulitan, Kegagalan, Masalah”

A Little Note from TOSS Idea

 I was actually not really interested in attending motivational events, unlike my mom. It is inspiring, of course, but somehow I thought such event was not really helpful and effective in improving my life in the long term. But then I thought maybe it was because I hadn’t found the appropriate one yet, until someday I joined a public speaking class (which is also a motivational event) that coached by Om Prasetya M. Brata and Pakde Prie GS. That was like a turning point in my life in general, eventhough the topic was simply about how to speak well in front of people and to elevate writing skill to a whole new level (and I forgot to post anything about this cuz I’m a horrible procrastinator yuhu! *high-fiving my fellow procs).

And just two days ago, I attended an event called TOSS Idea. Basically, there were 21 speakers with variety of expertises sharing ideas dan knowledges (all in english), each for 10 minutes. I wasn’t afraid that I might not understand their speaking, because as long as it’s not in british and indian accent, it’s all right (you know, I don’t understand a word in Harry Potter films without reading the sub).

The event was held in Intitut Francais Indonesia that located inside the Embassy of France. The auditorium of the event was relatively small but really nice and comfy. The audio and stage lighting system was also seem professional and fancy.

By the way, I’m not gonna review all the speeches (there were 21 of them duh). I’m just gonna write some of the ideas that I personally relate to and inspire me the most.

Lanjutkan membaca “A Little Note from TOSS Idea”

Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan

Awal pekan lalu, aku diundang oleh Tante Sundari Mardjuki (penulis novel Genduk, keren lho!) untuk menghadiri media gathering dalam acara promosi lagu kolaborasi Raisa dan Isyana. Saat aku dapat kabar itu dari Mama, tentu saja, seperti sewajarnya, aku melontarkan ungkapan kebahagiaan; Alhamdulillah! Selama ini kedua penyanyi ini hanya bisa kulihat lewat layar hape, komputer, dan spanduk-spanduk yang berkibaran di pinggir jalan raya Bandung. Suara mereka pun hanya bisa kudengar lewat speaker hape, komputer, dan cafe-cafe. Aku sendiri tidak pernah mendambakan untuk dapat bertemu langsung dengan mereka, tapi ketika datang kesempatan seperti ini, kenapa tidak?

Maka pada siang hari aku dan Mama berangkat ke hotel Crowne Plaza di Jalan Lembong, karena sesuai yang tertera di poster undangan, acara dimulai jam tiga di hotel tersebut. Setibanya di sana, ternyata para tamu media belum datang. Baru sekitar jam 4, orang-orang berkumpul di ruang hotel yang setengah terbuka. Aku cepat-cepat duduk di kursi paling depan. Di sana aku berkenalan dengan salah satu wartawan dari Kompas. Dia bertanya padaku dari media apa, dan kujawab saja blogger. Selain itu, ada juga wartawan Sindo, Republika, majalah Glam, dan lain sebagainya.

Lanjutkan membaca “Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan”