Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery

Setelah satu tahun yang penuh (well, not literally) dengan latihan, les, diskusi, tes di depan guru di tempat kursusku Swaraharmony, akhirnya pada bulan Maret ini aku ikut ujian ABRSM kelas akhir, yaitu grade 8. ABRSM adalah ujian musik bersertifikat internasional, dan instrumen yang kumainkan untuk ujian ini adalah biola. Aku sendiri sebelumnya tidak menyangka bahwa persiapan ujian ini akan seberat, sepusing, dan secapek ini. Karena, musik, seperti halnya ilmu-ilmu lain, butuh pemahaman dan kemampuan berpikir ‘beyond’ jika sudah menanjak ke kelas profesional.

Satu hal yang disalahpahami olehku sebelumnya (dan orang-orang awam lainnya) adalah bahwa bermain musik hanyalah soal bermain nada dan irama tertentu dengan benar. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, musik itu pada dasarnya media penyampaian cerita dan pesan lewat suara. Sama seperti penyampaian cerita di novel (lewat kata-kata), atau lukisan (lewat garis dan warna-warna).

Sepanjang sejarah, orang-orang menciptakan dan memainkan musik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dulu, para budak di Amerika menyanyikan lagu ketika mereka dipaksa bekerja di perkebunan yang panas. Lagu-lagu tersebut memberikan mereka harapan bahwa suatu hari mereka akan bangkit melawan penindasan.

Di negara tertentu, ketika terjadi krisis, para musisi daerah memainkan lagu untuk mengkritik pemerintah, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan aspirasi mereka yang tak terdengar. Ingat Iwan Fals? Yes, that’s what he did ketika negara kita terkena krisis ekonomi di era Seoharto.

Lanjutkan membaca “Ujian ABRSM, And Some Powerful Lessons I Learned On Music Mastery”

Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan

Awal pekan lalu, aku diundang oleh Tante Sundari Mardjuki (penulis novel Genduk, keren lho!) untuk menghadiri media gathering dalam acara promosi lagu kolaborasi Raisa dan Isyana. Saat aku dapat kabar itu dari Mama, tentu saja, seperti sewajarnya, aku melontarkan ungkapan kebahagiaan; Alhamdulillah! Selama ini kedua penyanyi ini hanya bisa kulihat lewat layar hape, komputer, dan spanduk-spanduk yang berkibaran di pinggir jalan raya Bandung. Suara mereka pun hanya bisa kudengar lewat speaker hape, komputer, dan cafe-cafe. Aku sendiri tidak pernah mendambakan untuk dapat bertemu langsung dengan mereka, tapi ketika datang kesempatan seperti ini, kenapa tidak?

Maka pada siang hari aku dan Mama berangkat ke hotel Crowne Plaza di Jalan Lembong, karena sesuai yang tertera di poster undangan, acara dimulai jam tiga di hotel tersebut. Setibanya di sana, ternyata para tamu media belum datang. Baru sekitar jam 4, orang-orang berkumpul di ruang hotel yang setengah terbuka. Aku cepat-cepat duduk di kursi paling depan. Di sana aku berkenalan dengan salah satu wartawan dari Kompas. Dia bertanya padaku dari media apa, dan kujawab saja blogger. Selain itu, ada juga wartawan Sindo, Republika, majalah Glam, dan lain sebagainya.

Lanjutkan membaca “Bertemu Raisa dan Isyana: Memetik Hikmah tentang Persatuan”

My Thoughts About Classical Music

“Om juga suka musik klasik,” kata om-ku. Ia duduk santai di sebelahku sambil menyilangkan kaki.

Aku tersenyum. Akhirnya ada juga yang punya selera musik denganku selain guru-guru musikku di tempat kursus.

Saat itu aku sedang duduk di kursi tamu, di pernikahan sepupuku. Di tengah hiruk-pikuk tamu-tamu undangan yang sedang menyalami pengantin, terdengar lagu dangdut yang memekakkan telinga. Penyanyi dangdut di atas panggung itu memakai baju mini yang membuat risih. Ia bergoyang seronok, begitu norak dan memalukan.

Om melanjutkan bicaranya. “Musik klasik itu hanya bisa dinikmati orang-orang kelas atas, orang-orang kota. Kalau di desa atau kampung, ga ada tuh, yang bakal suka. Kayak di sini, nih.” Om menatap ke panggung.

Ya, pernikahan sepupuku ini memang agak di perkampungan, dengan adat dan budaya yang masih dipakai di kehidupan masyarakatnya.

Sekejap, aku merasa ada yang salah. Masalah musik ini, sebenarnya sejak sebelumnya selalu mengusik pikiranku. Apa yang membuatku suka musik klasik? Apakah karena gengsi, karena musik klasik umumnya dinikmati orang-orang elit? Yang penontonnya memakai jas berdasi dengan sepatu mengkilap dan para wanitanya memakai gaun elegan?

Ketika pertamakali aku belajar di tempat kursus di Bandung, aku diberi buku partitur kumpulan lagu klasik. Aku langsung jatuh cinta dengan lagu-lagunya–terutama lagu ciptaan J.S.Bach–tanpa ada rasa ‘gengsi dan keren’ dalam diriku. Lalu aku keranjingan menonton video  konser-konser klasik di youtube. Jumlah pencipta lagu favoritku bertambah banyak; Antonio Vivaldi, Paganini, Dvorak, Pechelbel, Seitz, Brahms, Schubert, Wieniawski.

music

Ada beberapa alasan mengapa aku suka musik klasik. Pertama, lagu klasik itu banyak sekali yang sulit dimainkan dan butuh teknik yang bagitu tinggi. Makanya saat aku mendengar lagu Vivaldi atau Wieniawski yang bertempo cepat, dalam hati aku berterik ‘WOW!’. Aku suka membayangkan kalau suatu hari nanti bisa memainkan lagu-lagu itu, dan itu sangat menyenangkan. Kedua, ada satu pola nada yang membuatku langsung merasa, ‘nah, ini lagu yang bagus itu!’. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan pola tersebut, namun yang pasti,  pola nada itu banyak sekali terdapat di lagu klasik. Ketiga, penonton konser lagu klasik itu selalu menonton dengan khusyuk dan diam, tidak seperti konser lagu dangdut, pop, atau rock yang penontonnya cenderung berdiri, melompat-lompat, berteriak-teriak, atau ikut bernyanyi.

S0, menurut papaku, aku itu termasuk orang yang ‘art for art’; ‘seni untuk seni’. Aku memainkan dan mendengar lagu klasik benar-benar karena menyukai musik itu.

art

Tapi, akhir-akhir ini, ketika aku mendengar lagu klasik, aku selalu merasa kalau aku seharusnya tidak mendengarnya.

Kenapa bisa seperti itu? Aku sempat bertanya-tanya.

Aku berpikir. Lalu aku menemukan bahwa diriku semacam takut terkena dampak globalisasi dari budaya Eropa. Ya, globalisasi. Westernisasi. Aku takut rasa nasionalisme-ku berkurang, lalu aku menjadikan musik Eropa menjadi segalanya, kemudian perlahan-lahan mulai meninggalkan musik khas tanah airku sendiri. Haha… alasan yang nyentrik. Tapi bagitulah kata hatiku.

Mungkin pikiran ini muncul gara-gara membaca sebuah komentar di youtube di sebuah video pemain biola korea yang memainkan lagu Tarantella-nya Wieniawski. Komentar itu dari orang bule, bisa dilihat dari nama user-nya. Dia menulis–tentu saja dalam bahasa Inggris–“Mengapa orang Asia ini memainkan lagu-lagu Eropa? Mainkan saja lagu dari negaramu sendiri,”

Oke, itu terdengar rasis. Seharusnya aku abaikan saja komentar seperti itu. Tapi nyatanya, kata-kata tersebut terus melekat di pikiranku dan membuatku tidak nyaman lagi mendengar lagu klasik. Di satu sisi, aku membela diri sebagai orang Asia, “Ya, kan, tidak ada aturan bahwa tidak boleh memainkan lagu dari ras lain,”. Di sisi lain, aku juga merasa bersalah, kenapa aku terpaku dengan musik klasik ini? Kenapa aku tidak menoleh sedikit ke musik Indonesia?

Tetapi kemudian, aku baru mengerti satu alasan yang membuatku harus belajar klasik. Lagu-lagu klasik yang membutuhkan skill tinggi, jika sudah dipelajari, akan mempermudah memainkan lagu-lagu bergenre lain; pop, jazz, musik tradisional Indonesia, dan apapun.

Begitulah. Those are my thoughts.

*Referensi gambar:

-www.artforart.at

-www.hellostage.com

Musik

Beberapa minggu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa aku diundang tampil di acara High-Scorer Concert ABRSM bulan Mei nanti. Hatiku senang bukan main. Persiapanku yang berat disertai malam-malam gelisahku yang terus memikirkan hari ujian, terbayar dengan kabar gembira ini.

ABRSM (Associated Board of The Royal Schools of Music) adalah lembaga ujian musik bersertifikat internasional. Aku ikut ujian bergengsi tersebut pada bulan September 2014,untuk pertama kalinya  setelah 4 tahun kursus biola. Guru biolaku, Eya Grimonia, mempercayaiku untuk langsung ikut grade 3. Karena biaya pendaftarannya yang mahal, sayang kalau tidak lulus. Makanya aku latihan dan mempersiapkan diri setahun sebelum hari-H. Materi ujian dibagi empat; scales, lists, sight reading, dan aural test. Untuk lists (lagu), secara umum aku menganggap gampang. Ritmik tidak kompleks dan tidak ada nada-nada tinggi yang butuh pergantian posisi tangan kiri. Luckily, salah satu dari tiga lagu yang diujikan ternyata pernah aku mainkan dua tahun yang lalu.

siluet

Beberapa bulan setelah ujian mendebarkan itu, daftar skor ujian ditempel di mading tempat kursus. Aku berdiri dengan kaku dan menggerakkan jariku ke daftar nama-nama peserta ujian. Jariku terhenti di namaku. 136 dari 150. Distinction. “Wow” ucapku, menghela napas lega.

Kemudian, bulan Januari 2015, aku dapat kabar konser High-Scorer itu. Lagu yang kubawakan adalah lagu ujian yang dapat skor tertinggi. Itu adalah lagu list A2; Gavotta-Corelli. Sebenarnya aku sedikit malas ikut konser ini. Konsernya bergengsi, tapi aku malah membawakan lagu sederhana seperti anak kecil. Aku ingin memainkan lagu yang ‘bergengsi’ juga, seperti lagu-lagu dari Four Season-Vivaldi.

Aku mau bercerita tentang musik. Aku pernah ikut tes Multiple Intelligences. Hasilnya, ternyata aku berbakat; 1. di bidang sosialisasi, 2. musik, 3. matematika. Dan peringkat terbawah diisi verbal dan kinestetik. Sampai sekarang pun, aku masih meragukan hasil tes tersebut. Aku adalah orang yang pendiam dan penyendiri. Jadi sangat tidak mungkin aku paling berbakat di bidang sosialisasi. Ada satu kejadian fatal yang mungkin menjadi faktor mengapa sosialisasi ditaruh di peringkat pertama. Waktu tes, penguji menanyakan padaku apakah lebih suka belajar berkelompok atau sendiri. Tiba-tiba teman-temanku masuk ke ruang tes. Aku tidak tahu kenapa penguji tersebut tidak menyuruh mereka keluar. Lalu karena merasa tidak enak dengan teman-temanku, aku menjawab belajar berkelompok. Padahal di hati kecilku, aku ingin menjawab belajar sendiri.

Aku sangat yakin, bidang yang pantas menempati urutan pertama adalah musik. Aku cinta musik. Jika aku mendengar lagu pop berlirik, hal pertama yang aku dengarkan adalah aransemennya. Ada satu pola nada yang aku sangat sukai. Dan jika pola nada itu ada di aransemen musik yang aku dengarkan, aku akan berteriak senang. Kebiasaan yang aneh.

Tak peduli di mana pun, sedang mengerjakan apa pun, tanpa sadar aku suka bersenandung. Kadang lagu yang kunyanyikan adalah buatanku sendiri. Contohnya, saat aku mengikuti tes IQ di UPI. Soal-soal matematika yang diberikan sangat banyak. Aku mengerjakan semuanya dengan kepala bertumpu di tangan kiri dan bersenandung mengikuti coretan jawaban yang kubuat. Entah kenapa nada-nada itu membuatku lebih fokus dan cepat mengerjakan soal-soal.

Aku sudah kursus biola selama 5 tahun. Motivasiku karena bertahan kursus selama ini adalah semata-mata untuk bisa memainkan lagu Paganini dan Vivaldi. Guruku akhir-akhir ini sudah percaya dengan skill-ku dan mau mengajarkan lagu Vivaldi yang sulit. Aku sangat senang.

Sekarang tinggal Paganini. Aku harus berjuang keras untuk bisa memainkan lagu-lagunya.