Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri

Oleh: Yasha Levine

Diterjemahkan bebas oleh Kirana Sulaeman

Kata-kata bijak ekonomi kita yang populer menyebutkan, kapitalisme sama dengan kebebasan dan masyarakat bebas, ya kan? Tapi, jika kamu pernah mencurigai bahwa logika itu bohong belaka, maka saya merekomendasikanmu buku berjudul The Invention of Capitalism, yang ditulis oleh sejarawan ekonomi bernama Michael Perelmen. Ia pernah dibuang ke Chico State, sebuah kampus kelas bawah di pinggiran California, karena penolakannya terhadap pasar bebas. Dan Perelman telah menghabiskan waktunya selama pembuangan itu dengan hal-hal yang luar biasa bagus, yaitu menggali lebih dalam hasil karya Adam Smith dan orang sezamannya untuk menulis sejarah pembentukan kapitalisme yang isinya melampaui dongeng buatan di buku The Wealth of Nations  and langsung ke sumbernya. Buku ini membuatmu mengetahui isi kebijakan para kapitalis, ekonom, filsuf, pendeta, dan negarawan yang asli. Dan isinya itu sama sekali tidak bagus.

Satu hal yang jelas menurut catatan sejarah adalah bahwa Adam Smith dan teman-teman “laissez-faire” nya merupakan sekelompok ahli statistik yang membutuhkan kebijakan pemerintah yang brutal untuk memaksa kaum petani Inggris menjadi pekerja kapitalistik yang baik dan mau menerima upah kecil seperti budak.

Lanjutkan membaca “Pembentukan Kapitalisme: Bagaimana Kaum Petani yang Mandiri Dipaksa Menjadi Budak Industri”

Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’

Beberapa minggu yang lalu, pemimpin redaksi KabarKampus.com, Om Furqan, menawarkan agar filmku yang berjudul “Menjadi Pandu Ibuku” tentang petani Kendeng di-screening di Kafe Kaka, Bandung dan didiskusikan dengan pelajar-pelajar SMA yang tergabung dalam Future Club. Aku jadi nervous, karena aku tahu filmku ini kalah lomba tingkat SMA dan rasanya ga layak ditonton orang banyak. Tapi, atas dorongan Mama, aku pun menyiapkan diri.

Hari Jumat lalu (29/9), pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat acara, aku ngebut selesain editing film yang masih banyak kekurangan itu. Tukang bangunan mondar-mandir ngecat rumah, mama-papa bolak-balik belanja keperluan, Reza tidur karena sakit, jadi aku sendirian di ruang tamu ngutak-ngatik laptop di atas karpet, berharap film-nya turn out good dan neat. Fiuh, lumayan bikin stres, padahal jam 1 siang aku harus sudah berangkat.

Aku dan mama berangkat pakai kereta. Sesampainya di Kafe Kaka, ternyata beberapa ortu Homeschooling teman Mama sudah datang, dan beberapa teman-teman HS.

Lanjutkan membaca “Tayang Perdana Filmku: ‘Menjadi Pandu Ibuku’”

Surat untuk Pak Presiden, tentang Kendeng

Assalamualaikum.

Halo Bapak Jokowi yang aku hormati, apa kabar? Semoga Bapak selalu sehat dan kuat, supaya bisa mengurus negara ini sebaik-baiknya.

Perkenalkan, namaku Kirana. Dalam 8 bulan ke depan, aku akan mendapat KTP untuk pertama kalinya dan di pemilu 2019 aku sudah bisa memilih calon presiden mana yang akan kucoblos. Sejak kecil, aku suka menulis novel berisi dongeng-dongeng mengenai putri duyung dan kerajaan. Namun seiring aku beranjak dewasa, ketika pikiranku semakin luas dan terbuka, aku lebih suka menulis mengenai masalah-masalah sosial di Indonesia.

Bulan Januari lalu, aku mengunjungi Pegunungan Kendeng di Rembang.  Katanya, ada pabrik semen yang melakukan panambangan di sana sehingga mengancam sumber air yang mengairi sawah-sawah para petani. Aku ingin tahu, langsung dengan mataku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Lanjutkan membaca “Surat untuk Pak Presiden, tentang Kendeng”

Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi

Sudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan Kendeng.

Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang tersebut tertutupi.

Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini sebagai salah satu scene dalam filmku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi”

Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng

Hari Sabtu kemarin, aku, Mama, dan Reza berangkat menuju Jakarta untuk melanjutkan kegiatan traveling kami yang sudah terhenti begitu lama. Kali ini, kami berencana mendatangi acara Pasar-Pasaran Temanggung sekaligus menonton launching buku teman Mamaku di Museum Nasional.

Jam 4 pagi, kami meluncur ke terminal dan menaiki bus umum ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku tertidur sangat lelap. Turun dari bus, untuk pertama kalinya kami naik busway, bus kota yang jalurnya dipisah dengan kendaraan biasa di jalanan. Perjalanan di atas busway terasa lama sekali hingga aku kembali tertidur (ha! Aku memang tidak tahan untuk tidak tidur di atas kendaraan :p)

Kami akhirnya sampai di Museum Nasional yang megah. Di bagian dalam  museum yang terbuka, sudah terlihat kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang ditemani alunan musik tradisional. Aku yang kelaparan karena belum sarapan langsung melahap hidangan khas Temanggung yang sedap sekali. Kemudian kami tiba-tiba disapa oleh sang penulis yang mengadakan acara ini, Tente Sundari Mardjuki. Setelah ngobrol sebentar, Tante Sundari memberikan kupon latihan membatik kepada Reza. Mama dan Reza dengan senang hati pergi ke tempat membatik, sedangkan aku yang lagi mager duduk saja di kursi penonton.

Lanjutkan membaca “Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng”