Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas

Di tulisan sebelumnya, sudah aku ceritakan bahwa suatu masalah bisa dimaknai berbeda-beda, dan itu mempengaruhi emosi dan respon kita. Nah, dari sana, kita bisa menyimpulkan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung makna yang kita beri dan pengalaman kita (historical files). Dalam Neuro-Semantics, ini disebut “kebenaran internal”—kebenaran yang berbeda-beda bagi setiap orang; tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk.

Contoh kebenaran internal adalah tentang jarak. Orang desa biasanya menganggap jarak 5 kilometer itu dekat dan dengan mudah dilewati dengan jalan kaki. Tapi orang kota menilai jarak 5 kilo itu terlalu jauh dan pengennya langsung nyari kendaraan. Atau kasus lainnya, aku menganggap suhu AC 23 derajat itu sejuk dan nyaman, tapi bagi guruku, suhu 23 derajat itu membuatnya menggigil kedinginan.

Maka, kita tidak bisa menganggap persepsi kita adalah realitas yang sebenarnya. Persepsi bukan realitas; seperti halnya foto makanan di kertas menu yang tidak betul-betul sama dengan makanan aslinya. Atau seperti gambar di peta yang tidak sama dengan wilayah aslinya.

Lanjutkan membaca “Food for Thought #2: Membedakan Persepsi dan Realitas”