Bandung Merawat Ingatan #2: Melawan Politik Ingatan

Nah, setelah pemutaran film, tiba acara diskusi dengan tiga narasumber bernama Herry Sutresna (Ucok Homicide), Zen RS, dan Aldo Fernando Nasir. Ditemani angin sepoi-sepoi Bandung dan desahan daun-daun pohon yang menaungi para peserta acara, ketiga narasumber itu memberikan berbagai ucapan mencerahkan yang menurutku keren banget.
img20160909210104
Munir itu dibunuh dua kali, kata seorang narasumber. Pertama dengan cara diracun dalam perjalanan ke Amsterdam, dan kedua dengan cara ingin dilupakan. Bapak presiden SBY tidak mau mengumumkan hasil usutan TPF, padahal ia satu-satunya yang berwenang mengungkap konspirasi di belakang pembunuhan Munir.

Mengingat Munir seharusnya melampaui sekedar mengenang seorang tokoh, tapi juga sebuah pokok permasalahan. Mengingat Munir tidak boleh sekedar seperti mengelap album tua, namun juga dengan memahami sebuah konteks—yaitu melawan retorika pembangunan. Munir itu kan kerjaannya adalah memperjuangkan rakyat kecil yang digilas dan dikorbankan demi pembangunan negara. Jadi diskursus tentang relokasi yang lagi heboh sekarang-sekarang ini sebenarnya bukan hal yang baru. Memahami kematian Munir membuat kita mengaktualisasi masa lalu, dan dengan itu kita bisa lolos dengan berhala-berhala politik yang selama ini diagung-agungkan masyarakat *smirk.

Semua masalah di Indonesia itu konteksnya adalah menghalangi Orde Baru yang memaksa meluapkan segala hal yang tradisional dan digantikan dengan kemodernan. Munir itu dianggap menghalangi organisme Orde Baru, ia mengadvokasi korban-korban yang ditendang.

Lanjutkan membaca “Bandung Merawat Ingatan #2: Melawan Politik Ingatan”

Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir

Jumat lalu, aku dan Mama mengikuti acara Bandung Merawat Ingatan, acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka memperingati 12 tahun kematian Munir. Acaranya bertempat di Cafe Kaka Jalan Tirtayasa 49 Bandung, yang rada susah dicari, baik oleh supir taksi yang mengantar kami dan Papaku yang menjemput dengan mobil.

Kami tiba di lokasi acara pada jam 5 sore dan menemukan halaman cafe tersebut sudah penuh dengan anak-anak muda berkaos hitam, rambut berantakan dan sedang asik menonton penampilan musik rock. Jujur saja, aku agak takut. Sama takutnya dengan ketika aku mengikuti pemutaran film Rayuan Pulau Palsu di tempat ngumpul kelompok Anarkonesia (anarki cuy!) Jiwaku yang interovert ini tidak akan pernah cocok bergaul dengan mereka. Tapi mereka ternyata orangnya baik-baik kok, tidak segarang aksesoris mereka, haha…

Pemutaran Film

Acara di mulai jam setengah 7. Film pertama berjudul Bunga Dibakar karya Ratrikala Bhre Aditya, sedangkan yang kedua berjudul Cerita Tentang Cak Munir yang digarap oleh Hariwi. Sebelum ini, aku sudah punya cukup gambaran tentang Munir dan kisah kematiannya dari film dokumenter yang dibuat oleh orang Australia. Sedangkan kedua film yang diputar malam itu lebih fokus membahas tentang kehidupan sehari-hari Munir sebagai seorang aktivis papan atas di Indonesia.

“Munir: Dibunuh Karena Benar”

Munir. Aku takjub mendengar begitu banyak pujian yang ia dapatkan selama bertahun-tahun setelah ia tiada. Sejak kecil, Munir adalah seorang yang sangat kritis dan berani, bahkan di hadapan temannya yang tubuhnya lebih besar darinya dan gurunya di sekolah. Kata kakak kandungnya, Munir suka berkata, “kalau ga bener, ya kasih tau, jangan diem.”

Lanjutkan membaca “Bandung Merawat Ingatan #1: Meresapi Jejak Perjuangan Munir”