Urban Sketch #1

Ini adalah kumpulan lukisan-lukisanku (urban sketch/travel sketch) sepanjang perjalananku di Iran pada November tahun 2017.

Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng

Hari Sabtu kemarin, aku, Mama, dan Reza berangkat menuju Jakarta untuk melanjutkan kegiatan traveling kami yang sudah terhenti begitu lama. Kali ini, kami berencana mendatangi acara Pasar-Pasaran Temanggung sekaligus menonton launching buku teman Mamaku di Museum Nasional.

Jam 4 pagi, kami meluncur ke terminal dan menaiki bus umum ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku tertidur sangat lelap. Turun dari bus, untuk pertama kalinya kami naik busway, bus kota yang jalurnya dipisah dengan kendaraan biasa di jalanan. Perjalanan di atas busway terasa lama sekali hingga aku kembali tertidur (ha! Aku memang tidak tahan untuk tidak tidur di atas kendaraan :p)

Kami akhirnya sampai di Museum Nasional yang megah. Di bagian dalam  museum yang terbuka, sudah terlihat kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang ditemani alunan musik tradisional. Aku yang kelaparan karena belum sarapan langsung melahap hidangan khas Temanggung yang sedap sekali. Kemudian kami tiba-tiba disapa oleh sang penulis yang mengadakan acara ini, Tente Sundari Mardjuki. Setelah ngobrol sebentar, Tante Sundari memberikan kupon latihan membatik kepada Reza. Mama dan Reza dengan senang hati pergi ke tempat membatik, sedangkan aku yang lagi mager duduk saja di kursi penonton.

Lanjutkan membaca “Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng”

LWC 2015 Trip to Lombok #1

Tak ada kejutan yang lebih menghangatkan dibanding ketika ditelepon panitia LWC (Letter Writing Competition) bahwa aku adalah salah satu finalis yang akan mengikuti winner camp di Lombok. Aneh saja, aku ikut lomba menulis surat ini hanya karena iseng semata. Pengumuman yang begitu lama sejak aku mengirimkan naskah lomba hampir membuatku hilang harapan. Tapi begitulah jadinya—di suatu sore yang tenang, tiba-tiba hapeku berdering. Dan kalimat yang bergulir dari si penelepon membuat hatiku berkecamuk riang bukan main.

Jadwal perjalanan setelah itu dikirimkan lewat email. Segera sehabisnya, aku dengan semangat membuat daftar barang yang akan kubawa. Aku juga membeli koper berukuran sedang, lalu mengisinya dengan baju-baju yang kugulung rapi.
Pokoknya, hal yang kupikirkan saat itu hanyalah; this is gonna be so much fun!

6 Agustus 2015

Pagi buta, aku diantar mama menaiki bus menuju kantor Republika di Jakarta. LWC itu adalah perlombaan yang diselenggarakan oleh Republika dan PT. Pos Indonesia. Dan pembukaan acara winner camp ini akan dibuka di kantor Republika.

Sesampainya di Jakarta, kami diantar panitia ke hostel untuk beristirahat karena beberapa peserta datang kota-kota yang jauh. Ya, aku juga sempat terkejut bahwa salah satu roomie-ku adalah orang Lombok itu sendiri! Jadi, dia datang jauh-jauh ke Jakarta untuk mengikuti acara pembukaan selama semalam, lalu kembali lagi ke tempat asalnya dalam sekejap. Okay…that’s weird, hahah.

Sore hari, kami diantar kembali ke kantor Republika untuk mengunjungi berbagai ruangan di sana. Kemudian, usai maghrib, kami dikumpulkan di ruangan kecil dengan poster di bagian depan bertuliskan 2nd Letter Writing Competition 2015. Di barisan kursi depan, duduk beberapa orang penting dari kementerian pendidikan, Republika, dan PT. Pos Indonesia. Mereka satu-satu speech di depan. Kemudian…resmi dibukalah acara Letter Writing Competition ini. Hooray!

Hari Pertama, 7 Agustus 2015

Matahari tampak belum menggeliat, namun kami semua sudah di dalam bus menuju bandara Soekarno-Hatta. Semua peserta memakai kaos seragam LWC yang berwarna hitam dan berlengan oranye. Aku sempat protes kenapa kaosnya harus warna hitam, karena warna hitam itu cepat menyerap panas, sedangkan aku sudah tahu Lombok itu berhawa panas. Yah, tapi bagaimana lagi, begitulah adanya.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan guncangan keras di tengah serbuan terik matahari. Aku menghela napas lega. Hello Lombok!

Pemandu kami, Om Saipul namanya, menyapa kami di bandara dengan pakaian tradisional Lombok. Di bus menuju tempat makan, Om Saipul menjelaskan satu persatu detil pakaian yang dikenakannya. Topi hitam yang melingkari kepalanya mempunyai filosofi tentang Tuhan Tunggal. Lipatan kecil di dahi menandakan sifat kesatria para pria Lombok. Sarung bermotif tradisional yang bernama dodot digunakan untuk menyelipkan keris di belakang baju.

Akhirnya kami sampai di rumah makan. Perutku sudah lapar bukan main. Kulihat di sana disediakan berbagai macam menu khas Lombok. Ada Plecing Kangkung, yang terbuat dari kankung rebus, toge, dan sambal tomat. Juga ada ayam taliwang, ikan bakar, sup dan lainnya. Dan ternyata… oh tidak… semuanya pedas-pedas! Peluh mengucur semakin deras saja di dahiku. 😀

Jpeg
Pedaaas!!!

Segera setelah itu, kami langsung cabut ke Desa Sade, desa yang masih diduduki suku asli Lombok bernama Sasak. Di sana, kami langsung disuguhi alunan musik tradisional. Kulihat, alat-alat yang dimainkan persis sama dengan gamelan, musik Sunda. Tapi ritmiknya cenderung mengikuti gaya Bali.

Kemudian, datanglah dua penari lelaki yang membawa gendang. Mereka menari sambil menabuh gendang yang menggantung di depan perut. Tarian bernama Gendang Beleq ini katanya adalah tarian perang suku Sasak. Musik yang menyertainya pun mengandung kebijakan dan kepahlawanan. Setelah itu, dua orang pria bertelanjang dada maju dan bertarung dengan rotan dan perisai dari kulit kerbau. Kami semua menjerit ketika salah satu pria berhasil memukul lawannya dengan dentaman rotan. Tentu saja itu bohong-bohongan, tapi tetap saja kelihatan ngeri, hehe…

Jpeg

Seorang pemandu lantas mengajak kami masuk ke dalam desa. Hal pertama yang kulihat adalah orang-orang pribumi yang berdagang di depan rumah mereka. Ada gelang, selendang, baju, juga batu akik. Baju dan selendang tenunan semuanya dibuat asli di tangan para wanita Sasak. Harganya murah sekali, jauh lebih murah dibanding di toko-toko oleh-oleh di kota.

Jpeg
cantik-cantik!

Kakak pemandu kemudian menjelaskan satu-persatu tentang Desa Sade berserta adat-adatnya. Kisahnya menarik dan lucu sekali. Aku sampai tertawa terkekeh-kekeh dibuatnya. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #1”

Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau

Sudah tiga bulan yang lalu Mamaku membooking tiket untuk berwisata di Bosscha, tempat peneropongan bintang yang terletak di Lembang. Kami membeli sembilan tiket. Empat untuk keluargaku, satu untuk Enin (yang aku ajak jalan-jalan juga ke Floating Market), dua untuk sepupuku, dan dua lagi buat teman-temannya. Tak lupa kami membawa makan malam sendiri-sendiri, mengingat wisata bintangnya baru berakhir sekitar jam 8 malam.

Jam dua siang, kami sudah bersiap-siap dan berangkat. Kami memang harus berada di disana jam 5 sore. Siang itu di dalam mobil cerah sekali. Tapi pas keluar dari tol, tiba-tiba hujan rontok dari langit. Kami semua sempat cemas. Kalau mendung berarti bintang-bintangnya tidak bisa kelihatan, dong? Enin-ku yang sholehah banget langsung menyuruh kami untuk membaca surat Al-Fatihah 21 kali supaya hujannya berhenti.

Sampai di tempat tujuan, langit masih mendung dan sedikit gerimis. Angin Lembang berlayar ke sekelilingku, merantai tulang-tulangku dalam kecamuk beku. Ah, kenapa aku lupa bawa jaket? Aku meringis kedinginan.

Jpeg

Di wilayah Bosscha ini, aku melihat banyak mahasiswa yang menjadi petugas yang menyiapkan teropong kecil dan yang besar. Mereka juga dengan murah hati memberitahu tempat-tempat teleskop yang ada, serta memberi penjelasan-penjelasan tentang asal-usul teleskop itu.

Teleskop pertama yang kami kunjungi adalah teleskop Bamberg untuk meneropong bulan. Kata kakak mahasiswa berjilbab, teleskop itu dipesan dari Jerman lalu dirakit di Indonesia. Sayang saat itu kami tidak bisa mengintip ke teleskop, karena awan gendut yang dengan tenangnya menghalangi bulan.

Jpeg

Teleskop kedua adalah teleskop surya. Nah, karena hari itu sudah sore dan matahari sudah tidak ada lagi, kami hanya diajak jalan-jalan melihat-lihat foto penjelasan tentang matahari di dalam ruangan teleskop itu.

Jpeg

Akhirnya waktu menunjuk angka 6. Kami langsung pergi ke teleskop ke tiga (di gedung Kupel) dan yang terbesar yaitu teleskop Zeiss. Teleskop itu berada di dalam kubah yang besar, yang terasa familiar karena sering kulihat di foto-foto. Masuk ke sana, aku bisa melihat teleskop raksasa yang menggantung di langit-langit kubah. Ada seorang bapak-bapak yang berdiri di samping teleksop itu dan berdiri di atas panggung besi berbentuk bulat yang dipagari. Para pengunjung disuruh berdiri di sisi-sisi panggung itu. Lalu bapak itu mulai menjelaskan tentang astronomi dan cara kerja teropong Zeiss secara umum.

Jpeg

Lanjutkan membaca “Trip to Bosscha: Harmoni Langit yang Memukau”

Terdampar Ceria di Floating Market Lembang

Nenekku datang ke rumahku jauh-jauh dari Jatiwangi. Well, namanya juga nenek, pastilah suka ikut-ikutan cucu-cucunya kemanapun. Hanya melihat cucunya saja beliau sudah senang, apalagi ikut jalan-jalan. Jadilah kami sekeluarga mengajak Enin (nenek dalam bahasa Sunda) berwisata ke Taman Kupu-Kupu Cihanjuang.

Tempatnya ternyata susah dicari. Papan namanya kecil sekali sehingga kami tak sadar melewatinya. Ketika sudah sampai, gerbangnya tertutup tapi tak dikunci. Mamaku turun dan mengecek tempat satpam di dekat gerbang. Tak ada siapa-siapa. Mobil kami berseluncur saja ke dalam. Di dalam sana banyak bunyi-bunyian binatang khas hutan. Bangunan kanan-kiri kosong, ringkih, dan berdebu. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Sepi. Seperti kota tua yang terlupa. Dan, tidak ada satu pun kupu-kupu di sana.

“Tempatnya sudah tutup sejak setahun lalu!” kata seorang bapak berjaket hitam.

Kami semua di dalam mobil melongo. Kok tidak ada pemberitahuan apapun di internet?

“Oh, begitu. Jadi di sekitar sini ada tempat wisata apa saja yang bisa dikunjungi?” tanya Papaku.

“Ke Floating Market saja, Pak. Tinggal lurus ke atas ke arah Lembang. Jaraknya paling 4 kilo meter lagi,”

Mobil kami putar balik keluar. Setelah 4 kilo meter berjalan menanjak, kami tak menemukan tanda-tanda tempat wisata apapun. Papaku bertanya ke warga setempat.

“Masih 7 kilo meter lagi,”

7 meter kemudian juga tak ada apapun.

Orang berikutnya menjawab,”10 kilo meter lagi.”

Oke. This is confusing!

Papaku akhirnya menyuruhku searching alamat tempat itu di internet. Floating Market tersebut ternyata berada di Jalan Grand Hotel Lembang yang lumayan jauh dari Taman Kupu-Kupu.

Kami akhirnya sampai di tempat tujuan 40 menit kemudian. Parkir mobilnya sangat luas dan kami harus membayar 15.000 per orang untuk parkir dan tiket masuk. Tiket itu bisa ditukar di dalam dengan minuman di dalam sana.

Masuk ke dalam, kami disuguhi taman-taman cantik dan saung tradisional. Ada kolam luas yang di atasnya terapung kapal-kapal yang bisa disewa pengunjung. Kami menyewa sampan kecil yang didayung petugas dan berlayar sampai seberang.

Jpeg

Rombongan kami berjalan mengikuti jalan setapak dan sampai ke wilayah Floating Market itu sendiri. Ada banyak penjual makanan yang duduk di atas sampan yang terikat di daratan. Orang-orang berlalu-lalang melewati berbagai makanan yang membuat air lur menetes. Nah, untuk pembayaran, kami tidak diperbolahkan membayar dengan uang cash ke pedagang. Uang harus ditukarkan dulu dengan koin plastik di kios penukaran uang lalu baru boleh membeli makanan. Di samping jajaran sampan pedagang itu, ada banyak meja dan kursi. Namun karena hari itu pengunjungnya ramai, tidak semua orang dapat tempat duduk.

Lanjutkan membaca “Terdampar Ceria di Floating Market Lembang”

Trip to Jakarta: Tempat-Tempat Bersejarah yang Memikat

Tak ada kejutan yang mencengangkan dibanding pengumuman bahwa aku diundang di High-Scorer Concert ABRSM. Senangnya bukan main. Aku pun, tiga bulan sebelum hari-H konser, sudah membeli dress warna punch yang cantik. Jilbab sewarna kubeli juga waktu jalan-jalan ke Jogja. Pokoknya konsernya akan sangat istimewa.

Karena tempat konsernya di Jakarta, kami sekeluarga dan Tante Rika akan sekalian jalan-jalan di tempat wisata dekat-dekat sana. Konsernya tanggal 3 Mei, kami berangkat sehari sebelumnya. Berhubung jalan-jalannya ala backpacker, kami menginap di hotel murah saja, namanya Hotel Borobudur Bungur. Hotelnya not bad-lah, setidaknya ada AC dan bathtub.

Setelah semua barang-barang di simpan di kamar, kami langsung meluncur ke Kota Tua. Tempat itu sering aku dengar sebagai salah satu tempat wisata terkenal di Jakarta. Makanya di sana aku melihat banyak turis dari luar negeri. Penjual makanan bertebaran di mana-mana di sekitar kompleks itu. Di tengah cuaca panas yang menusuk, aku melihat beberapa patung tentara yang bergerak! Ohaha… ternyata itu bukan patung, tapi orang yang berpura-pura menjadi patung. Kulit mereka dicat sewarna dengan kostum mereka sehingga terlihat seperti patung. Untuk berfoto dengan mereka tidak ada ketetapan harga, kita bisa membayar seikhlasnya saja.

Di sisi-sisi lapangan luas yang penuh dengan pedagang-pedagang itu, ada rumah-rumah tua yang berjejer. Di dalamnya ada banyak museum menarik. Pertama kami masuk Museum Sejarah Jakarta. Aku melihat berbagai benda kuno dan foto sejarah pada masa penjajahan Belanda. Yang membuatku tercengang, di tempat ini ada penjara wanita, tempat di mana Cut Nyak Dien dijatuhi hukuman karena melawan VOC. Penjara itu ada di bawah tanah, kecil,  gelap dan becek. Sungguh kuat pahlawan wanita Indonesia satu ini.

Jpeg

Museum berikutnya adalah Museum Wayang. Adikku antusias sekali masuk ke museum ini karena dia memang suka wayang. Aku yang dulu tak begitu tertarik, di museum ini baru menyadari bahwa wayang itu (khususnya wayang kulit) sangat artistik dan klasik. I like it.

Lanjutkan membaca “Trip to Jakarta: Tempat-Tempat Bersejarah yang Memikat”

Trip to Jogja #3: Kelezatan Kuliner yang Menggoda

Malamnya, ditemani sepi yang menenangkan, kami disuguhi ikan bakar, sambal kecap, dan lalapan di rumah Tante Arum. Kami duduk di luar ruangan dengan alas tikar. Tapi aku tak lama makan di sana, karena aku mendapati ada belalang di bawah kakiku! Huaaa…!

Jpeg

Dengan perut kenyang penuh kepuasan, aku tertidur lelap, tak sabar menunggu hari esok.

19 April 2015

Tujuan pertama untuk hari ini–hari terakhir trip bersama MB–adalah Danau Embung. Kami bangun sangat pagi agar bisa melihat sunrise di danau itu. Di perjalanan dengan elf yang jalannnya banyak menanjak, aku bisa melihat batu-batu purba yang suka diteliti ilmuwan geologi.

Sampai ke tempat tujuan, aku merasa kedinginan. Di dataran tinggi seperti ini tiba-tiba ada hujan rintik-rintik yang tak terduga. Awan di atasku pun begitu abu-abu dan tebal. Tak ada harapan bisa melihat sunrise. Okelah, tidak apa-apa. Lagipula pemandangan di sini pun masih terlihat indah tanpa adanya matahari. Ada batu besar (bukan, itu bukan batu. Mungkin semacam gunung yang terjadi erosi terus menerus sehingga terlihat seperti batu?) yang begitu menakjubkan. Aku jadi ingat film Avatar ketika sedang berperang melawan pesawat tempur. Tempat pertempuran itu terjadi di tengah batu-batu purba yang indah seperti di tempat ini.

Kami kemudian berjalan kaki menuju danaunnya yang terletak agak di atas. Kami menaiki tangga selama beberapa menit dan sampai ke sana.

Lanjutkan membaca “Trip to Jogja #3: Kelezatan Kuliner yang Menggoda”

Trip to Jogja #2: Menengok Pesona Pantai Nan Cantik

Matahari surut perlahan-lahan. Bayang senja menarik bintang yang bermunculan satu-satu. Elf kami bergerak pulang dari Panti Asuhan Rumah Sejahtera menuju tempat menginap kami di Gunung Kidul. Sampai di sana, aku melihat rumah berhalaman luas yang berdampingan dengan masjid kecil. Rumah tersebut sudah tua, suka disebut rumah Limasan–rumah tradisional Jawa. Kami semua masuk dan menyimpan koper dan barang-barang lain di dalam rumah.

Setelah sholat, aku melihat makanan sudah tersedia di atas meja. Ada nasi putih dan nasi yang terbuat dari beras hitam. Aku memilih mencicipi nasi beras hitam itu dengan ayam, urab, dan juga sambal. Hmm… sedapnya! Tante Arum, pemilik rumah tersebut yang memasak masakan ini memang jago!

Sambil makan dan menyeruput teh hangat di tengah keheningan menenangkan layaknya desa, semua anggota MB kali ini mengenalkan diri masing-masing. Banyak yang menceritakan pekerjaannya sebagai pengusaha mainan, rumah makan, pembuat desain baju, dan banyak lagi. Cerita-cerita mereka benar-benar menginspirasi dan membuatku jadi ingin berbisnis juga 🙂

18 April 2015

Kami bangun pagi-pagi untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini dalam seharian kami akan menjelajahi pantai-pantai. Yang membuatku tidak sabar adalah, kami semua akan bersnorkeling! Snorkeling itu–seperti yang suka ada di TV-TV–mengapung di permukaan laut menggukan kacamata renang dan selang yang membuat kita bisa bernapas. Itu akan menjadi pengalaman yang menarik!

Lanjutkan membaca “Trip to Jogja #2: Menengok Pesona Pantai Nan Cantik”

Trip to Jogja #1: Gua Pindul yang Menawan

Mama menawarkanku dan adikku, Reza, untuk jalan-jalan bersama Muslimah Backpacker.  Muslimah Backpacker itu komunitas kaum perempuan dari seluruh Indonesia yang suka jalan-jalan. Tujuannya adalah jogja. Hal pertama yang muncul di benakku adalah, “Hah, Jogja? Kan, kita udah pernah ke sana? Paling nanti yang dikunjungi keraton, borobudur,…”

Tapi Mamaku bilang, tujuan tripnya adalah ke tempat-tempat wisata di gunung Kidul, yang ada di foto buku-buku geologi yang dibeli Mama bulan lalu. Aku langsung ingat potretan alam yang indah di kumpulan foto-foto geologi tersebut. Gua yang dialiri air, danau yang mrmantulkan cahaya sunrise matahari, batu-batu purba yang menawan, dan banyak lagi.

Dengan antusias, aku pun setuju ikut dalam trip ini.

Kemudian, Mama dan Papa segera mengurus segala pembayaran dan booking-membooking kereta api.

 17 April 2015

Kami bertiga sudah sampai di stasiun. Pengumuman kereta Malabar yang sudah siap untuk dinaiki penumpang bergaung di sekeliling stasiun. Kami segera menyeret koper dan memasuki gerbong paling belakang.

Ketika aku masuk ke dalam kereta, aku merasa agak kecewa. Kali ini, untuk pertama kalinya, aku menaiki kereta jarak jauh kelas ekonomi. Di kelas ekonomi ini, punggung kursinya keras dan ga bisa didorong ke belakang. Pramugari-pramugara juga tak menawarkan makanan sampai sini. Tak bisa dipungkiri, yang namanya beckpacker itu memang harus hemat biaya biar ga cepat kere.

Seiring perjalanan langit semakin menggelap. Teman Mama, Tante Ima, duduk di kursi dekat kami dan ngobrol sama Mama. Reza tertidur lelap di tengah goncangan kereta yang sedikit membuat pusing. Aku menyalakan MP3 di HP dan mendengarkan lagu Sarah Bareilles yang mellow.

Sembilan jam berlalu. Akhirnya kereta berhenti di stasiun Jogja yang sepi. Aku, Mama, dan Reza sholat shubuh dahulu lalu menunggu teman mama, tante Isti, yang menjemput. Kami menginap semalam di sana. Besoknya, sesuai jadwal, semua harus ada di stasiun jam 7 pagi tanggal 17 April 2015. Kalau terlambat bakal ditinggal. Tapi nyatanya elf (bis kecil yang akan membawa kami ke tempat tujuan) datang terlambat. Alhasil rombongan baru berangkat jam 8.

Tujuan pertama adalah Air Terjun Sri Getuk. Sepanjang perjalanan menuju tempat itu, kami melewati jalan yang yang menanjak dan berbelok-belok. Aku jadi teringat Cadas Pangeran yang sering kulewati kalau pergi ke rumah nenekku di Majalengka. Untungnya perjalanan kali ini aku tidak merasa pusing atau mual sedikitpun.

Lanjutkan membaca “Trip to Jogja #1: Gua Pindul yang Menawan”