Urban Sketch #1

Ini adalah kumpulan lukisan-lukisanku (urban sketch/travel sketch) sepanjang perjalananku di Iran pada November tahun 2017.

Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan

Tanggal 26 Agustus-2 September kemarin, aku dan sekeluarga akhirnya berkesempatan merayakan Idul Adha di rumah nenekku di Padang setelah sekian lama. Karena perayaan Idul Adha hanya sehari saja, maka sisa waktu kami di sana akan dihabiskan dengan menjelajahi tempat yang belum kami kunjungi sebelumnya. Mama pun sejak jauh hari sudah meriset destinasi anti-mainstream yang terlihat menarik di gugel imej. Semua rencana perjalanan aku serahkan saja ke Mama, ‘cause she’s the captain.

Keberangkatan kami dari Bandung ke Padang dipenuhi drama; ketinggalan barang penting di rumah, lalu kena marah Mama, lalu kena delay pesawat. Di bandara Seokarno-Hatta yang menyebalkan itu (karena AC-nya sejak jaman dahulu kala ga pernah ada/kerasa), kami terpaksa menunggu sejam dari jadwal semula setelah mbak-mbak informasinya dengan tenang mengumumkan keterlambatan pesawat. Semua penumpang di ruang tunggu serentak ber-huuuu seperti paduan suara. Lalu petugas bandara di sana langsung dikerubungi, diomeli, ditunjuk-tunjuk. Bule-bule mulai kelihatan resah, sampe ada yang duduk di lantai dan bengong.

Lanjutkan membaca “Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan”

Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi

Sudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan Kendeng.

Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang tersebut tertutupi.

Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini sebagai salah satu scene dalam filmku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi”

Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng

Hari Sabtu kemarin, aku, Mama, dan Reza berangkat menuju Jakarta untuk melanjutkan kegiatan traveling kami yang sudah terhenti begitu lama. Kali ini, kami berencana mendatangi acara Pasar-Pasaran Temanggung sekaligus menonton launching buku teman Mamaku di Museum Nasional.

Jam 4 pagi, kami meluncur ke terminal dan menaiki bus umum ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku tertidur sangat lelap. Turun dari bus, untuk pertama kalinya kami naik busway, bus kota yang jalurnya dipisah dengan kendaraan biasa di jalanan. Perjalanan di atas busway terasa lama sekali hingga aku kembali tertidur (ha! Aku memang tidak tahan untuk tidak tidur di atas kendaraan :p)

Kami akhirnya sampai di Museum Nasional yang megah. Di bagian dalam  museum yang terbuka, sudah terlihat kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang ditemani alunan musik tradisional. Aku yang kelaparan karena belum sarapan langsung melahap hidangan khas Temanggung yang sedap sekali. Kemudian kami tiba-tiba disapa oleh sang penulis yang mengadakan acara ini, Tente Sundari Mardjuki. Setelah ngobrol sebentar, Tante Sundari memberikan kupon latihan membatik kepada Reza. Mama dan Reza dengan senang hati pergi ke tempat membatik, sedangkan aku yang lagi mager duduk saja di kursi penonton.

Lanjutkan membaca “Traveling to Jakarta: Menyelami Kisah Genduk dan Petani Kendeng”

Ciletuh Geopark : Pengalaman Off-Road yang Mendebarkan

Ceritanya, aku masih belum move on dari kekalahan lomba menulis kemarin. Tapi untung saja, Mamaku sudah jauh hari merencanakan perjalanan wisata ke  Ciletuh Geopark, Sukabumi bersama aku dan adikku. Jadi aku engga sedih-sedih amat, heheh…

Jam 10 pagi kami diantar Papa sampai ke terminal Leuwipanjang, kemudian menaiki bis AC ke Sukabumi. Perjalanan terasa lama sekali, apalagi kursi busnya berjarak sempit satu sama lain, membuat kakiku pegal-pegal. Jam 15 barulah kami sampai di terminal Sukabumi. Naik angkot sebentar, kemudian kami sampai di rumah Pak Dedi, EO tur ke Ciletuh. Rumahnya menyediakan homestay dan juga menjadi basecamp untuk komunitas anak muda backpacker.

Setelah itu, kami beristirahat sebentar di kamar di lantai atas. Sehabis maghrib, kami pergi ke sebuah restoran untuk makan malam dan ketemu rombongan dari Jakarta. Pak Dedi juga datang, beliau akan mem-briefing peserta tur dan memperkenalkan kawasan Ciletuh Geopark. Pak Dedi memperlihatkan foto-foto dahsyat Ciletuh..indaaah banget, bikin aku pingin segera ke sana. Ini salah satu fotonya (diambil dari Google+ Geopark Ciletuh)

dedi suhendra

Lanjutkan membaca “Ciletuh Geopark : Pengalaman Off-Road yang Mendebarkan”

Traveling to Lombok, Again!

Sebenarnya, tiga bulan sebelumnya aku sudah jalan-jalan ke Lombok beserta teman-teman finalis LWC 2015. Namun kali ini aku mengunjungi Lombok bersama keluargaku. Dari Bali, kami pergi ke pelabuhan Bangsal, dianter oleh Om Idrus. Mama beli tiket, untuk 6 orang totalnya Rp243rb. Setelah setengah jam menunggu, datanglah kapal yang cukup besar, yang akan membawa kami menuju pulau Lombok.

Perjalanan cukup lama. Seru juga naik kapal ferry ini. Ruang tunggunya luas dan nyaman, ada AC-nya. Adikku Reza dengan antusias jalan-jalan keliling kapal. Dia bilang, “Serasa mimpi!” hehe.. ini pertama kalinya kami naik kapal (dulu waktu aku bayi pernah sih, naik kapal ferry). Kami sampai di Pelabuhan Lembar sekitar jam 1 siang. Panasnya terik banget. Setelah sholat (akhirnya di sini kami dengan mudah menemui masjid&mushola!), kami dijemput oleh teman Papa & Mama. Dengan menaiki mobil, kami menuju pelabuhan Bangsal (karena tujuan kami adalah pulau Gili Trawangan, jadi harus naik kapal kecil lagi).

Di perjalanan kami melewati pantai Senggigi yang panjang dan indaaaah sekali. Dan tiba-tiba ingatanku kembali sewaktu tiga bulan yang lalu di dalam bus bersama 28 finalis LWC melewati pantai Senggigi ini juga menuju Gili Trawangan. Ah, flashback

Sampai Bangsal, kami naik kapal lagi selama beberapa menit ke Gili Trawangan. Tiketnya @19.500. Sesampainya di sana, sama seperti pengalamanku sebelumnya, kami menemui banyak orang bule. Pengunjung bule yang datang lebih banyak dari orang lokal. Kami berkeliling sebentar untuk mencari homestay murah, nyaman, dan tak begitu jauh dari pelabuhan, karena banyaknya tas yang kami bawa. Akhirnya ketemu, harganya 250.000 per-malam (itu setelah ditawar papaku; katanya sih saat musim liburan, harga normalnya 500rb). Dari pelabuhan, belok ke kanan, jalan sedikit. Namanya Pondok Wildan. Begitu masuk, aku langsung suka. Kamarnya nyaman, ada AC, dan kamar mandinya didesain seperti taman; ada tanaman dan batu-batu telur di lantainya. Dan kami pun beristirahat untuk mempersiapkan energi untuk kegiatan esok hari.

Snorkeling!

Pagi-pagi kami sudah bangun. Mama sudah membeli tiket snorkeling untuk kami ber-6 seharga Rp. 90.000 per orang (itu setelah ditawar, hehe). Dan kami harus sudah di berkumpul di kapal jam 10 pagi. Namun sebelum itu, kami menyewa sepeda dan berjalan-jalan dahulu di sekeliling gili. Sepanjang jalan yang kami lewati dipenuhi penginapan, homestay, dan restoran. Nenekku ternyata juga bisa naik sepeda, lho, hehehe.

Jpeg

Lanjutkan membaca “Traveling to Lombok, Again!”

Traveling to Bali

Awalnya perjalanan ini direncanakan bulan Agustus (dan telah disiapkan Mama beberapa bulan sebelumnya). Namun karena mendadak ada kabar bahwa aku lolos final lomba menulis LWC 2015, lalu ortuku dapat undangan ikut konferensi internasional di Teheran, dan tanteku tiba-tiba ikut training di Michigan, maka trip ke Bali-Lombok diundur sampai bulan Oktober. Kami pergi berombongan dengan 6 anggota, aku, mama, papa, adikku, tanteku, dan nenekku.

Kami pergi pagi-pagi sekali menaiki mobil ke bandara Husein Sastranegara. Sesudah check-in, ternyata ada kabar pesawat untuk ke Bali tertahan di Medan karena kabut asap. Jadilah ratusan penumpang terlantar di bandara. Karena kursi-kursi sudah penuh, banyak yang duduk berjam-jam di lantai (termasuk aku, hiks…). Tapi akhirnya setelah menunggu sampai bosan, kami dipanggil juga untuk naik pesawat.

Kami sampai di Denpasar ketika mentari hampir tenggelam. Di bandara sudah menunggu teman Mamaku, Om Idrus dan Tante Naida, yang akan menampung kami di rumahnya selama 3 malam. Aku berkenalan dengan anaknya, namanya Sundus. Dalam sekejap kami berdua tenggelam dalam percakapan khas remaja (hehe) sampai-sampai tak sadar sudah sampai di restoran di pantai Jimbaran untuk makan malam. Meja-meja makan tersusun di atas pasir pantai dengan lilin-lilin yang bersinar redup untuk menyinari tempat ini. Angin malam dan suara ombak berdesir halus. Setelah pelayan menyediakan semua makanan, kami menyantapnya dengan puas. Ada ikan bakar, udang, serta macam-macam sambal. Tapi yang menjadi favoritku adalah es kelapa muda. Dagingnya tebal dan airnya manis tanpa dicampur gula.

Jpeg

Santapan habis, kami langsung ke rumah om Idrus. Aku dan Sundus ngobrol terus, nggak habis-habis, seru sih. Malah akhirnya aku tidur di kamar Sundus yang full pinky itu. Adikku curhat di blognya kalau dia jadi kesepian karena aku ngobrol terus sama Sundus. Hehe, maaf ya Reza!

Hari Pertama

Jam 8 pagi, kami sudah bersiap di dalam mobil rental. Papaku yang akan menyetir hari ini dengan bantuan google map. Pertama-tama, kami pergi ke Ubud Monkey Forest. Di gerbang masuk Monkey Forest, aku membaca peraturan yang harus diikuti. Pertama, jangan memakai perhiasan berlebihan dan barang plastik, karena rawan direbut oleh-oleh monyet-monyet yang berkeliaran bebas di sini. Lalu, jika ada monyet yang tiba-tiba naik ke badan kita, jangan ketakutan. Lemparkan saja makanan mereka ke tanah, nanti monyet itu akan pergi. Benar saja, ada monyet yang tiba-tiba merebut air mineral kemasan yang dibawa mamaku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Bali”

Backpacker to Esfahan

Bulan Agustus yang lalu, aku dan keluargaku jalan-jalan ke Iran. Di antara kota-kota yang kami kunjungi, yang paling bikin aku terkesan adalah Isfahan. Ini kisah perjalananku ke Esfahan (= Isfahan).
***

Saat itu langit Teheran masih remang-remang. Aku dan keluargaku keluar dari apartemen tempat kami menginap (rumahnya temen Papaku) sambil menggendong ransel. Kami lalu naik taksi ke terminal bus.

Seusai sholat subuh di terminal, kami sekeluarga memilih bus paling murah, sekitar 50 ribu rupiah (tapi tetap nyaman dan pake AC, plus disediakan kue, jus, dan air dingin gratis). Yeah, kami memulai backpacker trip kami ke kota yang dijuluki “setengah keindahan dunia” : ISFAHAN.

Bus ekonomi itu melaju kencang melewati jalanan Tehran yang sepi menuju kota tujuan, Isfahan. Rasanya saat itu kami duduk lama sekali. Kucek jam, ternyata kami sudah berjalan lebih dari lima jam! Uh, ternyata jarak Teheran-Isfahan jauh lebih lama dari yang kukira. Tepat jam 12 siang, ketika matahari pas di atas ubun-ubun, kami turun dari bus dan cepat-cepat mencari taksi. Ketika itu di Iran sedang musim panas. Dan panas yang menerpa sungguh sangat menusuk. Yang bikin kesal adalah, taksi-taksi di sini tidak pernah menyalakan AC nya karena mesin mobil mereka katanya akan cepat panas. Alhasil mereka hanya mau membuka jendela dan angin panas pun menampar-nampar pipiku. Hwaaa..!

Pertama-tama, kami mau mencari hotel dulu agar tak terbebani oleh ransel-ransel yang lumayan berat ini. Mamaku ngasal aja, minta ke sopir taksi supaya diantar ke istana Chehel Sotoun. Pikir Mama, yang penting cari tempat teduh dulu, lalu makan, baru cari hotel. Istana pasti kan teduh, hehe.

Benar saja, kami diturunkan di Meidan Imam Hasan (Imam Hasan Square), tak jauh dari Istana Chehel Sotoun. Di sana banyak pohon-pohon besar dan teduh sekali. Kami lalu berjalan kaki, mencari-cari restoran. Akhirnya di sebuah gang, ketemu restoran tradisional Isfahan, menyajikan briyani dan minuman asem terbuat dari yoghurt. Hm, enak juga!

Setelah perut kenyang, kami lalu bertanya ke penduduk setempat di mana losmen yang paling dekat dari situ. Kami akhirnya menemukan losmen yang relatif murah, persis di seputar Imam Hasan Square itu. Sepertinya ini losmen khusus buat backpacker, soalnya sederhana dan kamarnya luas berisi 6 kasur. Papaku yang merasa tak enak badan memilih beristirahat di losmen. Aku, Mama, dan Reza kemudian pergi menuju tempat wisata.

Tujuan pertama adalah Gereja Vank atau Saint Joseph of Arimathea. Kami naik bis kota, haltenya tepat di depan losmen, bayar sekitar 15.000 rupiah bertiga. Di jalan aku melihat berbagai gedung kuno yang indah. Kota Isfahan rapi dan indah sekali.

Turun bis, kami makan es krim dulu. Enak banget makan es krim di tengah panas menyengat begini. Lalu, jalan kaki mencari-cari Gereja Vank. Setelah nanya-nanya orang di jalan, akhirnya ketemu juga. Letaknya di perkampungan Armenia.

gereja vank
gereja vank

Lanjutkan membaca “Backpacker to Esfahan”

LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan

Hari Ketiga, 9 Agustus 2015

Aku menghela napas berkali-kali. Hari ini hari perlombaan! Kata kakak panitia, kami harus menuliskan kembali pengalaman kemi selama dua hari terakhir di Lombok dalam bentuk surat. Sebenarnya, malam sebelumnya aku sudah menyiapkan semua yang kuperlukan untuk lomba. Data-data tentang budaya Lombok dan wisata alamnya yang kuperoleh sepanjang perjalanan kemarin telah kukumpulkan dengan bentuk Mind Map.

Ketika sarapan, temanku bertanya dengan gelisah, “Nanti lombanya gimana ya? Aku ga punya ide bagaimana cara menuliskannya supaya bagus,”

Sebelum perlombaan, panitia telah mengundang tiga orang terkenal  dalam dunia kepenulisan untuk sharing ilmu mereka ke para peserta.

Jam 9 pagi, Kak Gina S. Noer maju ke depan untuk mengajarkan proses menulis skenario film. Kak Gina ini kan, yang membuat skenario film Ayat-Ayat Cinta! Wuhu… Aku senang bisa belajar banyak darinya.

JpegLWC1LWC2

Berikutnya, datanglah Tere Liye ke dalam ruangan. Dialah yang kutunggu-tunggu! Penulis buku Hafalan Sholat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah ini adalah salah satu penulis sukses di Indonesia. Karya-karyanya dibuat film layar lebar. Dan sekarang dia berdiri tepat di hadapanku! Yah, meskipun aku bukan pengagum berat buku-bukunya, tapi tetap saja aku merasa beruntung. 😀

Kak Tere kemudian memberi pelatihan menulis kepada kami. Pertama ia memberi tahu betapa pentingnya kami mencari sudut pandang yang spesial untuk menulis cerita. Untuk melatih poin ini, Kak Tere meminta kami menuliskan satu paragraf dengan kata ‘hitam’. Sebagian besar dari kami, termasuk aku, langsung menuliskan tentang ‘malam’, karena malam dan hitam itu memang berhubungan erat satu sama lain.

“Pada dasarnya, ide itu sama. Tapi yang membuatnya spesial adalah ketika penulis mencari sudut pandang yang spesial,” tutur Kak Tere.

Poin kedua, Kak Tere berkata bahwa penulis itu harus punya amunisi yang cukup untuk menyelesaikan cerita. Amunisi yang dimaksud itu semacam kapasitas pengetahuan. Untuk bisa mendapatkannya, penulis harus banyak-banyak baca buku, majalah, internet. Kak Tere kemudian meminta kami menyebutkan 15 sinonim dari kata ‘sebal’. Dan ia terkejut karena kami ternyata bisa menyebutkan semuanya dalam waktu singkat. “Saya terlalu underestimate. Sudah berkali-kali saya memberi pelatihan, tapi kalian yang pertama berhasil merampungkan 15 kata ini.”

Iya dong, Kak… hehehe.

kak Tere
kak Tere

Kak Tere memberikan beberapa poin lagi mengenai masalah mood, bagaimana mengawali cerita, juga pentingnya pantang menyerah untuk mengirimkan karya ke penerbit. Kalau penerbit pertama menolak naskah kita, kirim lagi ke penerbit yang lain.

Pelatihan selesai. Setelah break, kami harus kembali lagi ke ruang pelatihan untuk memulai lomba. Panitia membagikan empat lembar kertas folio ke seluruh peserta. Kami boleh menulis di mana saja, tapi harus tetap di dalam hotel. Aku memilih menulis di pojok ruangan supaya lebih fokus (ketahuan diriku penyendiri :D).

Di saat penting seperti ini, tiba-tiba datang masalah. Pulpenku hilang! Aku akhirnya terpaksa memakai pulpen lain yang tidak enak dipakai. Akhirnya, tulisan tanganku jadi kelihatan berantakan. Padahal kata kakak panitia, juri juga akan menilai tulisan tangan kami. Duh, Kiranaaa… kamu ceroboh sekali!

Dua jam berlalu. Lomba selesai. Aku menghela napas getir. Temanku berkali-kali bilang bahwa tulisan tanganku baik-baik saja, tapi tetap saja aku merasa gundah.

Acara selanjutnya adalah motivasi menulis dengan Habiburrahman El-Shirazy. Namun insiden pulpen itu terus melekat di kepalaku, membuatku tidak fokus lagi mendengar tutur Kak Habiburrahman.

LWC3
bersama kak Habiburrahman

Malam Apresiasi

Sehabis Maghrib, kami semua diantar bus menuju pendopo kantor gubernur NTB. Aku dan kedua teman sekamarku sebelumnya berdoa bersama supaya ketiga juara yang diumumkan nanti adalah kami bertiga. Meski terdengar mustahil, tapi kami tertawa saja membayangkan ada tiga piala di kamar kami nanti. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan”

LWC 2015 Trip to Lombok #2

Hari Kedua, 8 Agustus 2015

Pagi berikutnya, kamar hotelku diwarnai keributan. Aku dan kedua teman sekamarku bangun kesiangan, oh tidaaak…!

“Woy, bangun, woy! Kata Kak Syatria kan, harus ngumpul jam 7! Lihat, sekarang jam berapa?” seru temanku menyentak.

Aku melirik hape. Sudah jam setengah tujuh! (kebetulan aku emang lagi nggak sholat).

Yah, tapi nyatanya kami tidak terlambat juga. Ketika buru-buru ke ruang makan, kulihat teman-teman peserta yang lain juga baru saja datang dan mengantre mengambil makanan prasmanan. Bahkan ada juga yang baru makan tepat jam tujuh! Biasalah, jam karet… 

Akhirnya, mungkin baru jam delapan, kami masuk ke dalam bus. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi kantor pos Lombok. Sesampainya di sana, kami diminta duduk sambil mendengarkan cara PT. Pos Indonesia mengirimkan paket kiriman, tentang pekerja-pekerjanya, juga apa yang dilakukan kalau alamat yang tercantum ternyata tak dapat ditemukan. Kami juga dibawa ke ruangan penyimpanan paket, melihat truk-truk angkutan, juga kumpulan mas-mas tukang pos yang siap sedia dengan motor mereka.

Kemudian, inilah saat yang kutunggu-tunggu! Kami akan langsung cabut ke pantai paling terkenal di Lombok! Di bus menuju tempat tujuan, aku baru tersadar Om Saipul kini sudah tak memakai baju tradisional lagi. Ia berdiri di tengah bus sambil menceritakan tentang upacara adat Bau Nyale. Aku tidak terlalu mendengar kisahnya karena terlalu fokus dengan pemandangan alam di luar bus. Jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok mengingatkanku dengan daerah Cadas Pangeran kalau aku mudik ke rumah nenekku di Jatiwangi. Namun, sementara Cadas Pangeran dihantui jurang di kiri jalan, di sini yang ada adalah pantai yang eloknya bukan main.

Setelah berpuluh-puluh menit di dalam bus, kami akhirnya sampai juga di pelabuhan. Di sana ada banyak kapal berukuran sedang yang bersiap membawa pengunjung sampai ke tiga gili (bahasa Lombok-nya pulau) yang terkenal, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Namun rombongan kami hanya akan mendatangi Gili Trawangan saja memakai jet boat.

Hanya dalam hitungan menit kami sampai di Gili Trawangan. Turun dari kapal, kami melewati jembatan dulu untuk sampai ke pulau. Di bagian dalam pulau, dibuat jalanan yang diisi kios-kios rumah makan dan layanan perawatan tubuh. Dan sepanjang jalan itu, kulihat banyak sekali orang bule. Malah ada beberapa wanita half-naked yang tak malu berjalan di tengah hiruk-pikuk.

Jpeg

Kami semua akhirnya berjalan masuk ke daerah pantai. Angin laut yang berhembus kencang dengan nakalnya mengacak-acak jilbabku. Alunan ombak berbisik tenang sambil melahap pasir pantainya yang seputih susu. Laut yang terhampar berwarna biru langit berlapis hijau toska. Aih, menawan sekali tempat ini, persis seperti yang dahulu kulihat di foto-foto.

Jpeg

Jpeg
birunyaaaa!!!

Teman-temanku langsung menyerbu mendekati laut, lalu bermain dengan ceria. Beberapa yang membawa tongsis langsung selfie bersama. Aku? Tak banyak yang kulakukan. Memandangi lingkup alam yang cantik ini sembari menyentuhkan kakiku ke ombak yang datang sudah membuat hatiku senang dan damai. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #2”