Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan

Tanggal 26 Agustus-2 September kemarin, aku dan sekeluarga akhirnya berkesempatan merayakan Idul Adha di rumah nenekku di Padang setelah sekian lama. Karena perayaan Idul Adha hanya sehari saja, maka sisa waktu kami di sana akan dihabiskan dengan menjelajahi tempat yang belum kami kunjungi sebelumnya. Mama pun sejak jauh hari sudah meriset destinasi anti-mainstream yang terlihat menarik di gugel imej. Semua rencana perjalanan aku serahkan saja ke Mama, ‘cause she’s the captain.

Keberangkatan kami dari Bandung ke Padang dipenuhi drama; ketinggalan barang penting di rumah, lalu kena marah Mama, lalu kena delay pesawat. Di bandara Seokarno-Hatta yang menyebalkan itu (karena AC-nya sejak jaman dahulu kala ga pernah ada/kerasa), kami terpaksa menunggu sejam dari jadwal semula setelah mbak-mbak informasinya dengan tenang mengumumkan keterlambatan pesawat. Semua penumpang di ruang tunggu serentak ber-huuuu seperti paduan suara. Lalu petugas bandara di sana langsung dikerubungi, diomeli, ditunjuk-tunjuk. Bule-bule mulai kelihatan resah, sampe ada yang duduk di lantai dan bengong.

Lanjutkan membaca “Traveling to Padang: Pantai-Pantai yang Rupawan”

Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi

Sudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan Kendeng.

Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang tersebut tertutupi.

Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini sebagai salah satu scene dalam filmku.

Lanjutkan membaca “Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi”

LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan

Hari Ketiga, 9 Agustus 2015

Aku menghela napas berkali-kali. Hari ini hari perlombaan! Kata kakak panitia, kami harus menuliskan kembali pengalaman kemi selama dua hari terakhir di Lombok dalam bentuk surat. Sebenarnya, malam sebelumnya aku sudah menyiapkan semua yang kuperlukan untuk lomba. Data-data tentang budaya Lombok dan wisata alamnya yang kuperoleh sepanjang perjalanan kemarin telah kukumpulkan dengan bentuk Mind Map.

Ketika sarapan, temanku bertanya dengan gelisah, “Nanti lombanya gimana ya? Aku ga punya ide bagaimana cara menuliskannya supaya bagus,”

Sebelum perlombaan, panitia telah mengundang tiga orang terkenal  dalam dunia kepenulisan untuk sharing ilmu mereka ke para peserta.

Jam 9 pagi, Kak Gina S. Noer maju ke depan untuk mengajarkan proses menulis skenario film. Kak Gina ini kan, yang membuat skenario film Ayat-Ayat Cinta! Wuhu… Aku senang bisa belajar banyak darinya.

JpegLWC1LWC2

Berikutnya, datanglah Tere Liye ke dalam ruangan. Dialah yang kutunggu-tunggu! Penulis buku Hafalan Sholat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah ini adalah salah satu penulis sukses di Indonesia. Karya-karyanya dibuat film layar lebar. Dan sekarang dia berdiri tepat di hadapanku! Yah, meskipun aku bukan pengagum berat buku-bukunya, tapi tetap saja aku merasa beruntung. 😀

Kak Tere kemudian memberi pelatihan menulis kepada kami. Pertama ia memberi tahu betapa pentingnya kami mencari sudut pandang yang spesial untuk menulis cerita. Untuk melatih poin ini, Kak Tere meminta kami menuliskan satu paragraf dengan kata ‘hitam’. Sebagian besar dari kami, termasuk aku, langsung menuliskan tentang ‘malam’, karena malam dan hitam itu memang berhubungan erat satu sama lain.

“Pada dasarnya, ide itu sama. Tapi yang membuatnya spesial adalah ketika penulis mencari sudut pandang yang spesial,” tutur Kak Tere.

Poin kedua, Kak Tere berkata bahwa penulis itu harus punya amunisi yang cukup untuk menyelesaikan cerita. Amunisi yang dimaksud itu semacam kapasitas pengetahuan. Untuk bisa mendapatkannya, penulis harus banyak-banyak baca buku, majalah, internet. Kak Tere kemudian meminta kami menyebutkan 15 sinonim dari kata ‘sebal’. Dan ia terkejut karena kami ternyata bisa menyebutkan semuanya dalam waktu singkat. “Saya terlalu underestimate. Sudah berkali-kali saya memberi pelatihan, tapi kalian yang pertama berhasil merampungkan 15 kata ini.”

Iya dong, Kak… hehehe.

kak Tere
kak Tere

Kak Tere memberikan beberapa poin lagi mengenai masalah mood, bagaimana mengawali cerita, juga pentingnya pantang menyerah untuk mengirimkan karya ke penerbit. Kalau penerbit pertama menolak naskah kita, kirim lagi ke penerbit yang lain.

Pelatihan selesai. Setelah break, kami harus kembali lagi ke ruang pelatihan untuk memulai lomba. Panitia membagikan empat lembar kertas folio ke seluruh peserta. Kami boleh menulis di mana saja, tapi harus tetap di dalam hotel. Aku memilih menulis di pojok ruangan supaya lebih fokus (ketahuan diriku penyendiri :D).

Di saat penting seperti ini, tiba-tiba datang masalah. Pulpenku hilang! Aku akhirnya terpaksa memakai pulpen lain yang tidak enak dipakai. Akhirnya, tulisan tanganku jadi kelihatan berantakan. Padahal kata kakak panitia, juri juga akan menilai tulisan tangan kami. Duh, Kiranaaa… kamu ceroboh sekali!

Dua jam berlalu. Lomba selesai. Aku menghela napas getir. Temanku berkali-kali bilang bahwa tulisan tanganku baik-baik saja, tapi tetap saja aku merasa gundah.

Acara selanjutnya adalah motivasi menulis dengan Habiburrahman El-Shirazy. Namun insiden pulpen itu terus melekat di kepalaku, membuatku tidak fokus lagi mendengar tutur Kak Habiburrahman.

LWC3
bersama kak Habiburrahman

Malam Apresiasi

Sehabis Maghrib, kami semua diantar bus menuju pendopo kantor gubernur NTB. Aku dan kedua teman sekamarku sebelumnya berdoa bersama supaya ketiga juara yang diumumkan nanti adalah kami bertiga. Meski terdengar mustahil, tapi kami tertawa saja membayangkan ada tiga piala di kamar kami nanti. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #3: Hari Perlombaan”

LWC 2015 Trip to Lombok #2

Hari Kedua, 8 Agustus 2015

Pagi berikutnya, kamar hotelku diwarnai keributan. Aku dan kedua teman sekamarku bangun kesiangan, oh tidaaak…!

“Woy, bangun, woy! Kata Kak Syatria kan, harus ngumpul jam 7! Lihat, sekarang jam berapa?” seru temanku menyentak.

Aku melirik hape. Sudah jam setengah tujuh! (kebetulan aku emang lagi nggak sholat).

Yah, tapi nyatanya kami tidak terlambat juga. Ketika buru-buru ke ruang makan, kulihat teman-teman peserta yang lain juga baru saja datang dan mengantre mengambil makanan prasmanan. Bahkan ada juga yang baru makan tepat jam tujuh! Biasalah, jam karet… 

Akhirnya, mungkin baru jam delapan, kami masuk ke dalam bus. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi kantor pos Lombok. Sesampainya di sana, kami diminta duduk sambil mendengarkan cara PT. Pos Indonesia mengirimkan paket kiriman, tentang pekerja-pekerjanya, juga apa yang dilakukan kalau alamat yang tercantum ternyata tak dapat ditemukan. Kami juga dibawa ke ruangan penyimpanan paket, melihat truk-truk angkutan, juga kumpulan mas-mas tukang pos yang siap sedia dengan motor mereka.

Kemudian, inilah saat yang kutunggu-tunggu! Kami akan langsung cabut ke pantai paling terkenal di Lombok! Di bus menuju tempat tujuan, aku baru tersadar Om Saipul kini sudah tak memakai baju tradisional lagi. Ia berdiri di tengah bus sambil menceritakan tentang upacara adat Bau Nyale. Aku tidak terlalu mendengar kisahnya karena terlalu fokus dengan pemandangan alam di luar bus. Jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok mengingatkanku dengan daerah Cadas Pangeran kalau aku mudik ke rumah nenekku di Jatiwangi. Namun, sementara Cadas Pangeran dihantui jurang di kiri jalan, di sini yang ada adalah pantai yang eloknya bukan main.

Setelah berpuluh-puluh menit di dalam bus, kami akhirnya sampai juga di pelabuhan. Di sana ada banyak kapal berukuran sedang yang bersiap membawa pengunjung sampai ke tiga gili (bahasa Lombok-nya pulau) yang terkenal, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Namun rombongan kami hanya akan mendatangi Gili Trawangan saja memakai jet boat.

Hanya dalam hitungan menit kami sampai di Gili Trawangan. Turun dari kapal, kami melewati jembatan dulu untuk sampai ke pulau. Di bagian dalam pulau, dibuat jalanan yang diisi kios-kios rumah makan dan layanan perawatan tubuh. Dan sepanjang jalan itu, kulihat banyak sekali orang bule. Malah ada beberapa wanita half-naked yang tak malu berjalan di tengah hiruk-pikuk.

Jpeg

Kami semua akhirnya berjalan masuk ke daerah pantai. Angin laut yang berhembus kencang dengan nakalnya mengacak-acak jilbabku. Alunan ombak berbisik tenang sambil melahap pasir pantainya yang seputih susu. Laut yang terhampar berwarna biru langit berlapis hijau toska. Aih, menawan sekali tempat ini, persis seperti yang dahulu kulihat di foto-foto.

Jpeg

Jpeg
birunyaaaa!!!

Teman-temanku langsung menyerbu mendekati laut, lalu bermain dengan ceria. Beberapa yang membawa tongsis langsung selfie bersama. Aku? Tak banyak yang kulakukan. Memandangi lingkup alam yang cantik ini sembari menyentuhkan kakiku ke ombak yang datang sudah membuat hatiku senang dan damai. Lanjutkan membaca “LWC 2015 Trip to Lombok #2”